7 Prajurit Bapak


Judul : 7 Prajurit Bapak

Penulis : Wulan Nurmalia

Penerbit : Mediakita

Tahun Terbit : 2022

ISBN : 9789797946432

Tebal : 440 Halaman

Blurb :

Sebuah cerita keseharian 7 orang anak dari seorang bapak pensiunan tentara. Mereka memiliki mimpi dan tujuan hidup masing-masing. Namun, mimpi mereka itu sering kali mendapat cibiran karena dianggap tidak melanjutkan budaya turun-temurun keluarga yang semua anak lelakinya menjadi tentara.

Yoga—si anak tengah—yang sedari kecil dianggap tidak memiliki bakat apa pun, memantapkan mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Namun, mimpinya itu sering kali direndahkan, termasuk oleh keluarganya sendiri. Di saat Yoga merasa putus asa dengan mimpinya, dia bertemu dengan Lia. Seorang gadis introvert yang mampu membangkitkan semangat Yoga untuk mewujudkan mimpinya itu.

Saat suasana sedang hangat-hangatnya, seseorang dari masa lalu Bapak datang dan berusaha mencelakai keluarga Bapak. Situasi menjadi semakin rumit ketika Yoga mengetahui bahwa Lia ada hubungannya dengan masa lalu Bapak itu. Semakin Yoga berusaha untuk membela Lia, semakin banyak pula orang-orang yang tersakiti.

Yoga dihadapkan pada pilihan: keluarganya yang selalu ada untuknya, atau Lia yang membuatnya kuat untuk melanjutkan mimpinya?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Hari-hari Sebagai Pustakawan HOT-HOT-HOT

Hellow Pembaca yang cantik dan tamvan bak Dewa-Dewi Yunani. Marilah kita buka review ini dengan life update. Dan jangan katakan padaku jempol kalian berencana menekan tombol silang saat ini!!!

Perpustakaan sekolah tempatku bekerja semakin makmur dan jaya dengan banyaknya sumbangan buku dari siswa maupun guru belakangan ini. Mulai dari novel sampai ensiklopedia, buku fresh sampai yang sudah kekuningan, tebal bak bantal sampai setipis piring. Pokoknya tinggal pilih.

Walhasil, semakin banyak murid yang senang nongkrong di perpustakaan setiap harinya. Alias, semakin sibuklah diriku ini bahkan hanya untuk curi waktu buat baca buku! Ya ... beberapa orang ke perpus memang cuma numpang ngadem, tapi dengan ngadem itu mereka pun bete dan mulai mengebet-ngebet buku sampai akhirnya mulai membaca.

Aku tidak mau terang-terangan bilang kalau semua itu berkat kerja kerasku, but if the shoe fit, might as well bought a cardigan! (kibas poni). Tapi serius ... sejak kapan anak-anak ini punya koleksi novel yang tak disangka tak diduga? Maksudku, sebentar-sebentar nyumbang buku Watpat, selanjutnya nyumbang buku filosofi, terus nyumbang buku resep masak.

Berkat mereka aku punya buku-buku yang sangat ingin kubaca untuk alasan julid, tapi ogah beli, sebab yang bener aje! Rugi, dong! Salah satunya novel ini. Ekhem ... sebenarnya novel ini tidak pernah jadi incaran julid secara spesfik, aku cuma merasa judulnya agak Watpat-ish.

Maksudku ... 7 Prajurit Bapak. Ditambah cover yang menunjukkan ilustrasi tujuh cowow yang boleh dibilang tamvan bak Dewa Yunani. TUJUH? Harapanku cuma satu. Ya, Gusti ... tolong pastikan kalau novel ini bukan tipikal harem macam 5 Prince yang secara harfiah telah membuatku trauma lahir-batin akibat konten yang awikwok!

Bay de wei, untuk covernya sendiri aku sukak, walaupun bukan yang suka bingit. Seperti yang kalian tahu, sampul novel dengan banyak tokoh selalu membuatku penasaran. Apa lagi sudah ketahuan kalau mereka bersaudara. Bagaimana kisah mereka, seperti apa sifat mereka, sedekat apa hubungan mereka. Barangkali, aspek itu yang menjadikan buku ini stand out daripada yang lain.

Nah, tanpa berlama-lama lagi! Ayo kita membaca buku 7 Prajurit Bapak.

B. Plot

Pertama marilah kita ucapkan syukur kepada Neptunus, lantaran kisah dalam novel 7 Prajurit Bapak bukan tentang Harem! Tidak ada 7 cowok setamvan Dewa Yunani mengejar satu cewek secantik bidadari yang polos-imut-lucu-unyu. Tidak ada pemaksaan kehendak, tidak ada Rapee Jokes, tidak ada romantisasi kriminal. Tidak ada hal-hal berbau Petis menjijqan!!!


Kisah dalam novel ini benar-benar menceritakan 7 bersaudara di mana bapak mereka adalah veteran TNI sehingga kehidupan sehari-hari mereka agak berbeda dari keluarga lain. Kedisiplinan, latihan fisik setiap pagi, dan berbicara dengan aksen prajurit adalah rutin bagi keluarga ini.

Novel ini juga mengingatkanku pada film indonesia berjudul Operation Wedding yang diperankan Yuki Kato dan Adipati Dolken, bedanya peran protagonisnya di-reverse gitu. Dan aku membuat perbandingan tersebut bukan dalam konotasi negatif sama sekali!

Btw, film Operation Wedding rilis tahun 2013??? Seingatku lebih lama dari itu! Rasanya aku nonton film Operation Wedding pertama kali saat masih SD kelas 6 yang artinya sekitar 2009-2010. Entahlah ... di usia seperempat abad ini otak sudah sedikit oblak, bukan?

KEMBALI KE TOPIK!!!

Itu jelas kelebihan yang signifikan, karena ekspektasiku sudah serendah ruang bawah tanah Vulkanus sebelumnya. Hmm ... barangkali ini bisa jadi tips dan trik dalam mereview novel. Buat ekspektasi serendah-rendahnya sehingga jika novel itu benar-benar jelek kita sudah siap. Sedangkan kalau novel itu teryata bagus, kita akan sangat bahagia. Seperti aku saat ini.

Eits, meskipun begitu ... apakah novel ini otomatis menjadi materpiece. O-ho-ho, tentu saja belum, Rodriguez. Ada beberapa aspek yang membuat novel ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dalam artian, aku paham maksud penulis, paham arah ceritanya mau dibawa ke mana, tapi eksekusinya sangat kurang.

Mari kita tengok ....

Bercerita tentang seorang veteran bernama Pacc Cahyo yang mempunyai tujuh anak laki-laki. Banyak tentara berharap mempunyai anak lelaki demi menjadi penerus sebagai TNI, yakan? Bapak tentara = Anak tentara = Cucu Tentara = Cicit Tentara = Canggah Tentara. Itu ibarat hukum alam yang sudah ditulis sejak zaman Edo.

Itu artinya Pacc Cahyo beruntung punya tujuh anak lelaki, kerana semua bisa jadi Tentara dan hidup bahagia selama-lamanya hingga 7 turunan. Benar, 'kan?

SALAH!!!

Tidak satu pun anak Pacc Cahyo tertarik menjadi penerus sang bapak. Dava si sulung lebih suka jadi pelaut, Rendi anak kedua badannya kecil dan unyu sehingga si Bapacc udah pesimis duluan dia bisa jadi tentara. Raga malah kepingin jadi pulici a.k.a musuh bebuyutan TNI. Yoga, tokoh utama kita, kepincut dunia kepenulisan Watpat (eyuuhh). Iqbal, si paling lemah-lembut kepengin jadi dokter.

Rai dan Putra yang masih sekolah menjadi satu-satunya harapan Pacc Cahyo untuk menjadi penerus. Namun, mereka berdua tidak juga menunjukkan ketertarikan ke dunia tentara-tentaraan secara signifikan. Hal tersebut menjadi salah satu konflik, sebab keluarga besar Pacc Cahyo menganggap belio gagal mendidik anak. Alias, anak-anaknya gagal "sukses".

Sebenarnya, Pacc Cahyo orang tua yang pengertian, tidak pernah terlalu memaksa anak-anaknya menjadi TNI. Malahan, belio membebaskan anak-anaknya menjadi apa pun yang mereka mau. Ya, Pacc Cahyo memang berharap ada satu anaknya yang menjadi TNI, tapi kalau tidak ada pun tidak masalah ... jadi aku tidak terlalu mengerti kenapa Raga (anak kedua yang jadi pulici) harus mabok-mabokan dan depresong, karena "tuntutan" sang ayah.

Heloooow ... ayahmu tidak pernah terlalu menuntut apa-apa darimu! Belio memang tidak setuju Raga jadi pulici pada awalnya, tapi toh akhirnya semua legowo. Itulah yang aku maksud dengan "Aku paham maksud penulis, tapi eksekusinya brekele". Seandainya Pacc Cahyo memang bapak yang keras dan banyak nuntut, mungkin adegan itu akan berhasil.

Contoh lain adalah saat konflik Pacc Cahyo ditabrak mobil oleh musuh masa lalunya, tapi kemudian malah divonis kena paru-paru akut, lantas (SPOILER ALERT) meninggal karenanya. Itu alasan yang masuk akal, tapi di sisi lain juga tidak ... Pertama, tidak pernah ada hint kalau Pacc Cahyo punya penyakit paru-paru akut sepanjang novel.

Misalnya, buatlah adegan belio batuk-batuk, atau buatlah belio sesak napas saat melakukan lari pagi rutin, buatlah belio menasehati anak-anaknya untuk jangan merokok. Intinya buatlah building barokah sehingga pay off nya jadi masuk akal dan kena. Kalau tiba-tiba aja si Bapacc ketabrak mobil, tapi yang jadi masalah malah penyakit paru-paru akut, kan jadi tidak koheren!

Udah gitu, saat akhirnya si Bapacc meninggal dan anak-anaknya melabrak pelaku. Ada salah satu dari mereka yang mengeluarkan argumen cukup kocag. "Bisa-bisanya lo melakukan itu pada bapak gue! Dia masuh punya 7 orang anak yang harus dilihat masa depannya!!!"

Honey ... secara teknis dia sudah melihat masa depan kalian. Toh, sebagian besar dari kalian sudah dewasa. Paling-paling cuma dua anak yang masih belum ketahuan arah hidupnya. BUT!!! Aku menurunkan kadar julid ini, karena mungkin yang dimaksud "masa depan" oleh mereka adalah, punya anak-istri, cucu, dan cicit.

Marilah kita berpaling dari konflik Bapacc Cahyo, dan beralih ke konflik romansa yang dijanjikan Blurb. Sebab novel Teenlit tanpa Romansa ibarat ... gak tau dah ibarat apaan!

Diceritakn, Yoga (tokoh utama kita) cinca maci pada seorang cewek bernama Lia. Sebab berkat Lia, Yoga memiliki semangat untuk melanjutkan mimpi sebagai penulis. Aku tentu penasaran dengan cara apa Lia menyemangati Yoga, kejadian apa yang membuat hubungan mereka dekat, dan seberapa besar pengaruh Lia pada mimpi Yoga.

Namun, alih-alih adegan mengharukan yang membuat kemistri Yoga dan Lia terbangun, penulis malah merangkum segala alasan mengapa Lia menjadi penyemangat Yoga. Tidak ada adegan UwU, tidak ada percakapan dari hati ke hati, tidak ada kedekatan yang terhubung seiring waktu berjalan. Yoga sudah diceritakan bucin pada Lia sejak halaman pertama!

Apakah gerangan alasan Yoga ngebucin Lia? Aku akan menceritakann kembali adegan tersebut pada kalian. Berikut ini adalah reka adegan versi Impy yang 95,025% mirip aslinya.

(Ceritanya Yoga ngobrol bareng Lia, dan mereka mulai nostalgia)

Yoga : Dahulu kala, ibu guru menyuruh kita menyebutkan mimpi di depan kelas. Lalu aku bilang pengin jadi penulis. Semua orang tertawa dan merendahkan, tapi cuma kamu yang tidak, Lia. Saat itu kamu justru mengangkat dua jempol sambil bilang 'bagus', lalu bilang, 'Aku doain semoga mimpimu tercapai, ya.' Kamu ingat itu Lia?

Lia : Kagak.

Yoga : Setelah itu, hanya kamulah penyemangatku untuk mengejar cita-cita.

Lia : Oh.

Seseorang tolong belikan aku obat tetes mata berisi air zam-zam!

Maksudku ... memang kebaikan kecil kadang bisa membekas bagi seseorang, tapi Lia bahkan tidak ingat pernah memuji mimpi Yoga! Yang artinya dia cuma basa-basi-busuk pada Yoga saat itu, dan tidak sungguhan percaya pada mimpi Yoga. Mungkin sebenarnya Lia juga pengen ngetawain, tapi nelongso aje sama muka memble Yoga makanya dia bilang bagus awokawok!

Lebih parah lagi, setelah itu tidak ada satu adegan pun yang membuat kita sebagai pembaca percaya dan mendukung hubungan dua sejoli ini. Tidak ada adegan Yoga mengejar mimpinya, dan Lia ada di sana sebagai support. Tidak ada adegan Yoga lelah mengejar mimpi, dan Lia ada di sana untuk menyemangati kembali.

Tidak ada KEMISTRI antar kedua tokoh yang seharusnya saling mencintai ini sehingga apa pun konflik mereka, seberat apa pun cobaan mereka, aku sebagai pembaca tidak bisa ikutan relate! Ditambah personaliti Lia yang bisa kusebut ... A Beech! (Kita bahas ini nanti).

Mungkin penulis memang bermaksud begitu. Membuat Yoga bucin pada Lia, padahal perasaan itu tidak berbalas. Namun, kalau diperhatikan lagi, penulis memang menginginkan pembaca percaya kalau dua orang ini saling mencintai. Terbukti dari kalimat-kalimat puitis serta adegan-adegan batin Lia maupun Yoga.

Katakan bagaimana aku bisa mendukung mereka, disaat mereka tidak memberi apa pun supaya aku mendukung mereka!!!

Mungkin itu saja keluhan terbesarku untuk segmen Plot. Tentu saja di akhir cerita akan ada Plot Twist yang membagongkan, tapi juga kurang nendank, dan terasa dipaksakan. Sekali lagi ... secara teoritis aku paham kenapa penulis membuat keputusan itu, tapi eksekusinya saja yang tidak saling mengait sehingga rancangan tidak menyatu dengan hasil.

Namun oh nenamun, menyingkirkan semua keluhan di atas, segala tragedi dalam keluarga Pacc Cahyo sebenarnya betulan seru dan menegangkan. Bukan masalah kecil yang dibesar-besarkan, tapi benar-benar masalah besar yang datang di saat tak terduga. Reaksi para tokoh dalam menanggapi setiap tragedi itu pun masuk akal.

Dari mulai konflik Pacc Cahyo dengan musuh dari masa lalunya, hubungan Yoga dan Lia yang tidak direstui, serta tanggapan orang tua masing-masing pihak pada hubungan itu. Krisis anak-anak sulung setelah kehilangan sosok ayah, hubungan kakak-beradik, dilema antar keluarga dan asmara.

Pokoknya, selain dialog-dialog kocag yang tentu saja masih aku skip-skip-skip, aku sangat terikat pada tragedi keluarga ini. Memang terkesan kayak, "Bused, ni keluarga kagak ada diemnye. Tiap hari masalah mulu!!!" Tapi memang harus begitu, 'kan? Untuk apa ada cerita tentang keluarga ini kalau hidup mereka adem-ayem?

Seperti kata novel Peter Pan, "Kalau Tuan dan Nyonya Darling sampai tepat waktu, itu akan jadi akhir bahagia untuk mereka, tapi tidak akan ada cerita untuk kita."

Apakah ... aku menyukai cerita Watpat-ish ini dengan segala kekurangannya? We don't know, Guys ... We, don't know ....

C. Penokohan

Yoga. Anak kuliahan bucin ke cewek berkelakukan bobrok yang tidak peduli sama sekali padanya. Well, well, well ... harus aku akui cukup menyegarkan melihat sudut pandang cowok bucin ke cewek bobrok, sebab biasanya cewek-lah yang selalu digambarkan bucin ke cowok bobrok. Meskipun keduanya tetap trope brekele.

Yoga selalu bilang kalau passion-nya adalah menulis, meskipun dia cuma menyongsong dunia kepenulisan Watpat (eyuuuh). Namun, TIDAK SATU KALI PUN ada adegan yang benar-benar menunjukkan kalau Yoga mempunyai passion sebagai penulis. Seringnya, Yoga cuma bilang kalo dia pengin jadi penulis terkenal, tanpa menunjukkan bukti konkret.

Hal itu tentunya membuatku tidak percaya. Toh, kerjaan si Yoga sepanjang buku cuma ngebucin dan merana disuruh menjauhi Lia. Parahnya ... passion kepenulisan yang semu itu tiba-tiba menjadi sangat penting di akhir cerita, dan memaksa pembaca untuk peduli, padahal dari awal pembaca tidak diperkenalkan lebih jauh pada mimpi Yoga itu.

Yah ... setidaknya kepribadian Yoga tidak terlalu mengesalkan. Sebagai anak tengah, menurutku dia UwU kepada adik-adiknya, berkepala dingin menangani kakak-kakaknya. Intinya, kepribadiannya masih masuk akal, kalau saja penulis tidak menggembar-gemborkan Yoga sebagai anak nyastra, when in reality he is NOT!!!

Aku juga suka cara Yoga membela dirinya ketika Lia menuduh macam-macam. Meskipun bucin, Yoga tidak selalu bertutur kata halus nan lembut kepada Lia, hanya karena dia perempuan. Di saat harus bicara tegas, dia bisa melakukannya. Dan semua dia lakukan tanpa mengeluarkan pemaksaan kehedak, apa lagi rapee jokes, "Diyem ataw guweh ciyum" (muntaber).

Lia. Gini, ya ... ada tokoh cewek ngeselin karena trope Pick Me, atau Not Like Other Gorl, atau Mary Sue. Ketiganya buruk, dan semua pembaca setuju akan hal itu. Namun, sengeselin apa pun trope di atas, setidaknya mereka tidak merugikan tokoh lain, bahkan sering menjadi plot armor yang positif. Nah, Lia di sisi lain!!!

How do I explain this beech! Dia tidak peduli sama sekali pada Yoga, meskipun penulis memaksa pembaca percaya kalau Lia juga 'mencintai' Yoga. PRETT! Lia katanya teh introvert, tapi dia memacari cowok paling populer di kampus (Dika) supaya tahu rasanya punya banyak teman (padahal ujungnya kagak ngaruh juga ke cerita).

Saat Yoga meminta penjelasan, alias cemburu buta, Lia malah playing victim. Bilang bahwa, dia sebenernya cinca maci sama Yoga, tapi terpaksa pacaran sama Dika supaya bisa jadi populer, dan normal, dan tidak introvert lagi. Mohon maap, itu bukan introvert namanya, tapi NARSISTIK!

Belum lagi di depan Yoga dia membanggakan Dika, tapi di depan Dika dia membanggakan Yoga. Literally muka dua, supaya apa? NO REASON, SHE'S JUST LIKE BEING A BEECH!

Pasif-agresif juga jadi archtype-nya Lia. Udah tau Yoga cemburu sama Dika, udah janji juga kalau dia hanya mencincai Yoga seorang, tapi ke mane-mane sama si Dika melulu si anjim. Kayak kagak ade orang laen di dunia ini! Ngebentak-bentak Yoga, karena bersifat beda dan menjauhinya, di saat BAPAK DIA NGEBVNVH BAPAK YOGA!

Lia tahu keluarga Yoga membencinya, Lia tahu Yoga akan memilih keluarganya dibanding apa pun, Lia juga tahu Yoga terpaksa menjauhinya akibat konflik si si Bapacc dengan Bapacc Lia. Tapi ini manusia balik lagi, balik lagi sambil nangis dan merana, bertanya kenapa Yoga tidak seperti dulu? Apakah Yoga tidak mencintainya lagi? Apakah Yoga sudah tidak memedulikannya?

Frankly, My Dear ... kalok gua jadi Yoga, disuruh pilih antara elu sama nenek lampir juga gua pilih nenek lampir tanpa pikir 0,25 kali!

Aku heran, penulis ingin aku menyukai tokoh ini, atau malah membencinya? Dan aku juga heran kenapa Yoga masih menyukai makhluk ini, padahal secara teoritis tidak ada, aku ulangi TIDAK ADA sisi positif Lia untuk Yoga pribadi, selain mungkin cantik, dan fakta bahwa Lia tidak mengejek impiannya zaman dahulu kala.

Para Sulung (Dava, Rendi, Raga, Iqbal). Selain dialog-dialog kocag khas Watpat yang mereka lontarkan, aku tidak punya masalah pada tokoh-tokoh kakak di sini. Mereka menghadapi sesuatu sebagaimana mestinya, layaknya orang dewasa, bukannya Om-om mental bocah lima taon (lirik Noir).

Cara mereka menanggapi omongan miring sang paman yang merendahkan keluarganya juga oke, cara mereka melindungi adik-adiknya sesuai harapanku pada novel bertema keluarga. Aku pribadi paling suka saat Dava menghadapi krisis dalam diri, mengingat dia adalah kepala keluarga baru mulai sekarang, tapi merasa dirinya tidak layak.

Kuwa-kuwi mataku sedikit mengeluarkan cairan pada momen tersebut. Bekoz, sebagai sesama anak sulung itu sangat relate.

Para Bungsu (Rei dan Putra). Peran mereka di sini tidak sebanyak tokoh-tokoh yang lebih tua, dan itu masuk akal sebab mereka masih anak-anak, tidak sepatutnya terlalu ikut campur ke masalah orang dewasa. Dan, menjadikan salah satu dari mereka sebagai 'korban konflik' menurutku adalah keputusan bagus.

Kalau tidak bisa dijadikan Hero dalam cerita, jadikan tokoh bungsu sebagai Victim supaya ada adegan ihiks-ihiks untuk Hero. Itulah motto yang entah dari mana datangnya, h3h3 ....

Ibu Cahyo. Ibunya 7 Prajurit. Perannya di sini sekali lagi harus kusebut 'masuk akal'. Seperti ketika si Ibu paling melarang hubungan Yoga dan Lia, itu masuk akal karena emosi dalam dirinya pasti tidak stabil, dan dia jelas mencari siapa pun yang bisa disalahkan atas meninggalnya sang suami.

Rasnoto. Mafia yang terang-terangan dan bangga banget memproklamirkan dirinya mafia. Yah ... seluruh kejadian dengan Rasnoto dan keluarganya meskipun masuk akal, tapi eksekusinya terlalu terang-terangan sehingga malah jadi agak kocak, tbh ....

D. Dialog

Kalian ingat saat aku bilang ekspektasiku tentang novel ini sudah serendah ruang bawah tanah Vulkanus? Tentu saja yang aku maksud adalah dialog yang pasti dipenuhi jokes cringe, ping-pong, serta tentu saja dump alias sampah!!!

But surprisingly, dialog dalam novel ini tidak buruk sama sekali. Memang masih ada dialog-dialog kocag antar kakak-beradik, atau dialog UwU tidak pada tempatnya setiap kali Yoga dan Lia berinteraksi. Namun, saat adegan sedang serius tokoh-tokoh di sini juga menanggapi adegan itu sengan serius.

Aku sangat senang dibuatnya. Terutama di satu pembicaraan tentang Dava si paling tua yang seharusnya sudah menikah, tapi belum ada rencana menikah, sebab masih harus fokus mengurus adik-adiknya. My judgy azz sudah memutar bola mata sambil berpikir ....

"Bakal ada percakapan cringe ala orang dewasa mental bocah lagi, nih!" sambil membayangkan adegan di novel Noir yang secara harfiah membuatku ingin mencungkil bola mata sendiri saking cringe-nya.

Ternyata eh ternyata ... itu tidak terjadi!

Emosi dalam percakapan tersebut sesuai latar suasana, dialog-dialognya sesuai dengan usia para tokoh yang memang sudah dewasa, bahkan konklusi dari percakapan itu juga ada. Apakah ini sebuah mukjizat? Atau mungkin akunya saja yang tidak boleh terlalu berburuk sangka pada novel-novel karya anak bangsa?

Ya, pasti itu alasannya ...

TAPI APA BOLEH BUAT!!!! Sudah sekian ratus kali aku dibuat menderita oleh para penulis Watpat yang tidak tahu bagaimana cara orang dewasa berinteraksi ToT.

E. Gaya Bahasa

Satu hal yang paling kentara dari gaya bahasa penulis adalah terasa betul kalau belio terinspirasi besar oleh novel Dilan-nya Om Pidi Baiq. Pertama, dari tokoh perempuan bernama Lia. Oh, bukan ... bukan karena nama tokohnya Lia. Tapi gaya bahasa Yoga setiap kali menyangkut Lia.

"Jangan khawatir, Lia."

"Bukan begitu maksud aku, Lia."

Kalau itu tidak membuktikan apa pun di mata kalian, penulis juga membuat kalimat seperti ini. "Oh, Bandung, aku mencintai satu pendudukmu." That is so Pidi Baiq dalam novel Dilan.

Namun, hal yang membuatku semakin yakin 100% bahwa penulis mencomot referensi Dilan adalah cara Yoga menyebut ibunya dengan nama "Mamahara". Kalau kalian ingat, Dilan memanggil ibunya dengan sebutan "Bundahara".

Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Hanya saja, Dilan memanggil mamanya Bundahara untuk plesetan kata Bendahara. Sebab Dilan memanggil ibunya 'Bunda', dan sering meminta duit kepadanya seperti Bendahara. Nah, sementara alasan Yoga manggil ibunya 'Mamahara' apa?

Doesn't make any sense innit???

Selain itu, gaya bahasa novel ini boleh dibilang mengalir, walaupun cara penulis memasukkan konflik sangat kasar, seolah membuat pembaca tersambar geledek. Dikit-dikit mereka lagi berdialog kocak sambil minum kopi, detik selanjutnya bapak mereka ditabrak mafia dan kena penyakit paru-paru kronis.

Like ... Give me a break!!!

F. Penilaian

Cover : 3

Plot : 2,5

Penokohan : 3

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 2

Total : 2,7 Bintang

G. Penutup

Catatan untuk diri sendiri, Don't judge the book by the ... unsur-unsur Watpat-ish nya(?)

Percayalah kalian saat kubilang semangat julidku saat membaca novel ini adalah 1000%. Dari judul, blurb, dan cover menunjukkan bahwa novel ini akan menjadi tipikal Watpat, lebih parah lagi aku menganggap novel ini akan menjadi Harem seperti 5 Prince.

Ternyata TIDAK! Boleh dibilang malah kebalikannya. Novel ini mengambil tema yang tepat, dan konsisten pada tema itu tanpa terlalu banyak menyimpang. Kalau saja beberapa aspek dieksekusi lebih baik lagi, novel ini bisa jadi sempurna di mataku.

Dengan ini aku menyatakan permintaan maafku pada penulis, karena sudah berburuk sangka pada novelnya. Untuk itu aku merekomendasikan novel ini pada kalian semua. Entah pendapat kalian akan sama denganku atau tidak, tapi yang jelas novel ini tidak akan menjadi seburuk yang kalian bayangkan.

Tapi untuk segala hal yang kukatakan untuk tokoh Lia. Aku tidak akan minta maaf, h3h3 ....

Nah, segitu dulu review di bulan puasa ini. Tahookah kalian kalau review ini aku buat selama dua bulan tanpa alasan yang jelas HAHAHAHAH (menangis)

Sampai jumpa di review berikutnya ^o^/

Comments

  1. KAAKKK IMPY \(^-^)/makasih banget sudah review novel ini wkwkwk
    Pas booming kapan hari penasaran banget, tapi mau beli takut zonk 🤣 trust issue banget aku tuh sama novel yg bau wattpad gini 🤣 selanjutnya review yg hello cello itu dong kak, kalau di perpus kak impy ada bukunya ( ^▽^)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku ini lumayan oke kok dalam segi konflik, gak seburuk yang aku pikir. Jujur aku rada trauma sama novel yang tokoh cowoknya banyak, dan malah jadi kayak novel 5 Prince dulu. Tapi ternyata ini nggak xixixi.

      Eh, kayaknya pernah ada yang donasi Hello Cello, nanti deh aku obrak-abrik rak. Kalau ketemu capcus kita baca dan julid bareng h3h3 ...

      Thank you udah baca review aku 💅❤️❤️

      Delete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Ily

Omen #1

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)