I'm Glad My Mom Died


Judul : I'm Glad My Mom Died

Penulis : Jennette McCurdy

Penerbit : Simon & Schuster

ISBN : 9781982185848

Tebal : 320 Halaman

Blurb :

A heartbreaking and hilarious memoir by Jennette McCurdy about her struggles as a former child actor—including eating disorders, addiction, and a complicated relationship with her overbearing mother—and how she retook control of her life.

Jennette McCurdy was six years old when she had her first acting audition. Her mother’s dream was for her only daughter to become a star, and Jennette would do anything to make her mother happy. So she went along with what Mom called “calorie restriction,” eating little and weighing herself five times a day. She endured extensive at-home makeovers while Mom chided, “Your eyelashes are invisible, okay? You think Dakota Fanning doesn’t tint hers?” She was even showered by Mom until age sixteen while sharing her diaries, email, and all her income.

In I’m Glad My Mom Died, Jennette recounts all this in unflinching detail—just as she chronicles what happens when the dream finally comes true. Cast in a new Nickelodeon series called iCarly, she is thrust into fame. Though Mom is ecstatic, emailing fan club moderators and getting on a first-name basis with the paparazzi (“Hi Gale!”), Jennette is riddled with anxiety, shame, and self-loathing, which manifest into eating disorders, addiction, and a series of unhealthy relationships. These issues only get worse when, soon after taking the lead in the iCarly spinoff Sam & Cat alongside Ariana Grande, her mother dies of cancer. Finally, after discovering therapy and quitting acting, Jennette embarks on recovery and decides for the first time in her life what she really wants.

Told with refreshing candor and dark humor, I’m Glad My Mom Died is an inspiring story of resilience, independence, and the joy of shampooing your own hair.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Yang Viral di Mamarica

Hellow Pembaca Budiman yang berbahagia. Seperti yang diketahui oleh dunia, VIRAL adalah sumber utama dari JULID. Segala hal yang viral akan menjadi sarana julid bagi siapa pun, di mana pun, kapan pun. Nah, bukan hanya di Nusantara tercinta, Impy gemar mencari hal-hal viral untuk bahan julid sampai ke negeri seberang. Alias Mamarica, Negeri Paman Sam, Murica, Muricia, atau apa pun kalian menyebutnya.

Belakangan ini, dunia pernovelan Mamarica dihebohkan dengan sebuah memoir dari seorang mantan artist cilik bernama Jennette McCurdy. Sodari Jennette ini paling terkenal dengan perannya di serial iCarly sebagai Sam Puckett. Jujurlly, aku tidak pernah menonton serial tersebut satu episode pun. Namun, aku rutin mengikuti kontroversi yang terjadi pada Sang Kreator dalam serial tersebut.

Ekhem ... yang namanya kontroversi, jelas bukan sesuatu yang bagus. Sang Kreator adalah wujud nyata dari istilah MANUSIA SAMPAH! Serius, ya! Kalau kalian mengikuti perkembangan kasusnya, kalian akan merasa seram sampai ke sum-sum. Semengerikan itulah Sang Kreator. Parahnya, Sang Kreator memang ahli dalam pekerjaannya, entah itu keuntungan atau kerugian. Dia jahat, tapi 'cerdas'.

Begitu juga dengan ibu Jennette. Wah, wah, wah ... si Emak bahkan lebih parah, karena sebagaimana seharusnya ibu melindungi anaknya, Emak Jennette malah menjadikan anaknya ladang uang. Itulah fokus utama dalam novel ini. Di mana seorang ibu pun bisa memanipulasi anaknya sedemikian rupa, bahkan menjadi sumber kesengsaraan bagi anaknya.

Untuk cover, aku suka perpaduan warna dan font secara keseluruhan. Bahkan foto Jennette yang berbahagia memegang abu kremasi sang ibu yang membuat semua ini semakin memilukan. Penuh kontroversi dan pastinya lahan julid untuk kita semua.

B. Plot

Novel dibuka dengan adegan rumah sakit, kondisi Emak (sebutan untuk ibunya Jennette. Gak usah protes!) memburuk, bahkan sampai koma. Jennette bersama ketiga saudaranya pun membisikkan masing-masing satu kalimat yang mereka yakini bisa membangunkan ibu mereka dari koma. Khusus Jennette dia mengatakan ....

"Ibu, aku sangat kurus sekarang. Berat badanku cuma 40kg."

Kalimat Jennette barusan mungkin tidak memiliki arti apa pun, tapi begitu tahu alasan mengapa Jennette mengatakan itu, hati kita akan terasa miris. Karena Emak begitu terobsesi untuk menjadikan Jennette tetap muda, dalam artian sesungguhnya, yaitu membuat tubuhnya tetap kecil, kurus, dan seperti anak-anak. Supaya apa? Supaya bisa terus di-milking sampe bulan jadi dua duong!

Nah, dari adegan itu, Jennette pun menuntun kita ke masa lalu. Latar belakang dirinya dan keluarganya, pertama kali mengikuti casting, bagaimana dia selalu ingin menyenangkan hati sang ibu yang sayangnya (atau sialnya) terjangkit kanker ganas. Kenapa aku bilang 'sialnya', karena penyakit tersebut semakin membuat si Emak menuntut ini-itu kepada anak-anaknya untuk memanipulasi mereka.

Belio selalu mengancam, atau membuat kalimat-kalimat yang seolah mengatakan "Kalau kalian gak nurut, nanti kanker Emak kambuh, terus Emak meninggal! Gimana hayoooo ...."

Di satu sisi, sebenarnya niat Emak bagus. Seperti ibu pada umumnya, belio ingin sang anak memiliki hidup yang layak. Dalam hal ini adalah menjadi artis cilik. Namun, di sisi lain yang lebih kelam. Emak melakukan hal tersebut semata-mata hanya untuk pelampiasan, sebab saat masih kecil si Emak ingin sekali menjadi artis. Namun, kedua orang tua Emak (kakek-nenek Jennette) melarang, entah apa alasannya.

Masalah lain, ada pada diri Jennette yang sebenarnya benci sekali menjadi artis. Dia tidak suka perhatian yang terlalu banyak, dia benci jadi tenar, dia bisa dibilang introvert. Namun, rasa ingin menyenangkan hati Emak membuat Jennette mau tidak mau menurut saja. Akibatnya, tentu saja ... mental Jennette pun terkikis sedikit demi sedikit.

Yah, kalian bayangkan saja, melakukan hal yang kalian benci secara rutin dan harus berpura-pura menyukainya! Ekhem ... itu terdengar seperti pekerjaanku. Tapi bedanya, dalam kasus ini Jennette masih anak-anak! Dan dia bukan hanya harus melakukan hal yang paling dia benci (akting) untuk pekerjaan, tapi juga akting pura-pura menyukainya demi sang Emak.

Kalau bagiku pribadi, Emak-nya Jennette ini bisa dibilang relate dengan emak-emak kebanyakan. Rasa ingin yang terbaik untuk sang anak, tapi terlalu memaksa sampai akhirnya malah jadi toxic. Orang tua biasanya merasa diri mereka tahu banyak hal lantaran sudah merasakan pahit-manis kehidupan. Mereka ingin sang anak begini dan begitu, supaya mungkin jangan sampai melakukan kesalahan seperti yang mereka lakukan.

Namun, mereka kadang lupa kalau setiap manusia mempunyai otak, hati, takdir, dan nasib yang berbeda. Bahkan ... harus aku akui mamake-ku pernah punya momen seperti ini, memaksakan sesuatu yang sejatinya aku benci, tapi toh kenyataannya memang berpotensi 'paling baik' untuk masa depan. Nah, bisa jadi di kemudian hari, aku bahkan kalian akan menjadi seperti Emak Jennete secara tidak sadar.

Tapi eh tetapi, rasanya level toxic Emak Jennette di sini sudah taraf akut. Belio bahkan tidak masalah anaknya mau diapain juga sama Sang Kreator, yang penting dia jadi artis cilik. Sisi toxic dan aneh si Emak juga terlihat dari caranya masih memandikan Jennette di usia 15 tahun. BARENG ABANGNYA YANG LEBIH TUA!

Kalian mungkin berpikir. "Idih udah gede kenapa gak ngelawan aja!"

Tapi seperti yang aku bilang, si Emak memang ahlinya memanipulasi. Dia bahkan bisa menangis histeris kalau ada salah satu dari anak-anaknya yang salah ngomong, atau membuatnya tidak puas. Ditambah, Jennette dan kakak-kakaknya memang anak bageur dan legowo. Mereka akan melakukan apa pun asal Emak senang, dan tidak meninggal gegara kanker.

Banyak sekali hal aneh dan menarik dari kisah masa kecil Jennette, dan semua hal aneh tersebut datangnya dari si Emak. Judul buku ini memang bisa dibilang tidak sensitif dan boleh jadi kurang ajar, tapi percayalah, kalian juga bersyukur saat akhirnya si Emak meninggal. Seperti Big Bad Villain yang akhirnya kalah, para protagonis akhirnya bisa hidup bahagia selamanya.

Eits, tapi apakah benar begitu?

Bagai buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ternyata sifat toxic nan aduhainya si Emak memang menurun dari ibunya sendiri, alias nenek Jennette. Sekali lagi, Jennette harus terjebak sama orang toxic nyebelin yang doyang mengatur-atur hidupnya. Well ... setidaknya waktu si nenek di dunia ini sudah tidak akan lama lagi, 'kan? (astagfirullahalazim!)

C. Penokohan

Jennette. Tokoh utama, sang pembawa cerita, seorang anak yang berusaha berbakti. Jennette ini anak perempuan satu-satunya, dan satu-satunya juga anak dari Emak yang berhasil menjadi artis. Benar ... bukan cuma Jennette, si Emak juga memaksa saudara-saudara Jennette untuk jadi artis. Sayangnya tidak ada yang berhasil.

Kalau dilihat dari kepribadian, Jennette ini anaknya acuh tak acuh, terlalu simpatik (terutama sama Emak), dan rada introvert. Jennette benci menjadi artis, dia benci akting. Ironisnya, dia malah harus selalu akting untuk menyenangkan hati Emak. That's sad ....

Emak. Tipikal emak toxic yang mendikte anak untuk melakukan ini dan itu dengan alasan "Emak tahu yang terbaik buat elu!". Anehnya, aku yakin semua orang bisa relate dengan orang tua masing-masing dalam hal ini. Ketika orang tua bisa jadi sangat menuntut dan tidak adil. Aku pun merasa seperti itu dengan emakku, dan mungkin aku akan mempunyai momen menjadi seperti emak Jennette juga suatu saat.

Babe. Bapake Jennette ini tipikal suami-suami takut istri. Tidak bijak, tidak mengayomi, tidak seperti kepala rumah tangga. Cuma bisa Klemar-klemer dan plonga-plongo melihat kelakuan aduhai sang istri. Lho, kenapa dari penjabaran ini aku seolah membenci Babeh. Yah ...memang si Babeh ini jadi bapak dan suami gak ada gunannya sama sekali.

Enyak & Engkong. Nenek dan kakek Jennette yang sifatnya berbanding terbalik satu sama lain. Kalau Enyak memiliki sifat manipulatif dan diktator seperti Emak, sementara Engkong kebalikannya. Belio mungkin satu-satunya orang yang berusaha melindungi Jennette, tapi untuk beberapa alasan tetap tidak berusaha lebih keras.

Sang Kreator. MANUSIA SAMPAH.

Pacar-pacar Jennette. Untuk ehem-ehem semata, yang membuat buku ini Not Save For Children.

D. Dialog

Mengikuti gaya bahasa dari novel ini, dialognya pun tergolong santai alias tidak muluk-muluk. Rasanya seperti Jennette sendiri sedang curhat kepadaku tentang kehidupannya. Kepribadian dia sangat tergambar dalam dialog novel ini. Padahal aku tidak mengenalnya, baik dari tv apa lagi dunia nyata, tapi novel ini seolah menjadi lahan bagi kita dan Jennette untuk saling berteman.

E. Gaya Bahasa

Ini pertama kalinya aku membaca novel yang benar-benar bergenre Memoir, dan rasanya seperti membaca novel biasa. Apa lagi, pembawaan Jennette yang asik dalam mendeskripsikan sesuatu. Dia menceritakan kejadian kelam, tapi diselipkan humor-humor yang akhirnya menjadi ironi. Dalam artian, di saat-saat kelam seperti itu Jennette masih sempet-sempetnye ngelawak.

Gaya bahasa buku ini juga sederhana, kadang terlalu sederhana sampai eksplisit. Ada satu kata yang diulang-ulang terus sampai aku mikir ini kagak ade padanan kata lainnya atau begimane si! Aku juga mengapresiasi cara Jennette menceritakan keburukan ibunya, tanpa benar-benar menjelek-jelekkan, atau merendahkan ibunya.

Jennette hanya menceritakan bagaimana interaksinya dengan ke-toxic-an sang ibu, lantas menyuruh kita menilai sendiri apakah hal seperti itu normal atau tidak (spoiler : TIDAK). Jennette sangat menyayangi sang ibu, bahkan di setiap ulang tahunnya, permohonan yang ia buat selalu sama : "Jangan sampai Emak meninggal tahun ini."

Daaann ... pada akhirnya sang Emak meninggal ... itu tidak terlalu buruk, bahkan malah sebuah keberuntungan. Ironi di atas ironi.

Aku menonton video Yutub yang mengatakan kalau genre Memoir bisa menjadi sangat membosankan kalau si penulis tidak bisa membawa cerita dengan baik. Dalam artian terlalu memuji diri sendiri, menceritakan cuma hal-hal baik, terlalu banyak Tell daripada Show. Namun, semua itu tidak terjadi pada Memoir ini. Jennette jelas berbakat menjadi seorang penulis, lagi pula itu memang cita-citanya sejak kecil alih-alih menjadi artis.

F. Penilaian

Cover : 3

Plot : 3

Penokohan : 4

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 2

Total : 3 Bintang

G. Penutup

Aneh rasanya setelah membaca novel ini, rasanya begitu surealistik padahal Memoir bisa disebut juga kisah nyata. Mungkin beberapa hal di dramatisir, tapi jelas semua kejadian dalam novel ini merupakan pengalaman pribadi Jennette. Kebetulan pengalaman itu tidak terlalu mengenakkan.

Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tertarik membaca novel ini. Yang jelas judulnya mengundang, kontroversi yang menaunginya juga aduhai, terutama Sang Kreator. Yah, memang hal-hal kontroversi itulah yang membuatku paling tertarik, sebagai keviralan yang menjadi bahan julid pastinya.

Pake pura-pura kagak tahu kenapa tertarik pula!

Nah, segitu saja review kali ini. Memang singkat dan terkesan berantakan, tapi pahamilah aku sudah tidak memiliki banyak waktu luang seperti dulu. Hal yang membuatku sedih karenanya (ihiks ... ihiks ...)

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)