Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)


Judul : The Trials of Apollo

Penulis : Rick Riordan

Tahun Terbit : 2017-2020

Tebal : Rata-rata 300-400 halaman

Pakem Tak Tertulis POV1

Ingatkah kalian semua, ketika aku bilang menggunakan POV1 boleh menjadi Hit or Miss, bahkan cukup sulit, sebab penerapan yang harus lebih personal ke tokoh utama sekaligus diusahakan relate kepada pembaca. Mbah Rick Riordan merupakan salah satu dari penulis yang berhasil mengeksekusi POV1 dengan sempurna, lewat serial novel Percy Jackson and The Olympians.

Nah, apa yang membuat serial Percy Jackson adalah salah satu dari contoh penggunaan POV1 yang berhasil? Tentu saja karena Mbah Riordan menerapkan pakem-pakem tidak tertulis dalam menggunakan POV1. Pakem-pakem tak tertulis itu mencangkup ....
  • Para Tokoh Utama likable
  • Fokus memperdalam kisah Tokoh Utama (narator)
  • Konflik relate
  • Kemistri barokah antar para tokoh, terutama tiga tokoh utama Percy, Annabeth, dan Grover
Well ... pakem-pakem itu memang aku susun sendiri dari analisis novel-novel POV1 yang aku sukai. Biasanya fokus pada internal tokoh utama, serta cara tokoh utama melihat dunia. Jadi, seperti yang sering kukatakan tentang POV1 "Tokoh Utama adalah Koentji!"

Tapi eh tetapi, tahookah kalian kalau di novel The Trials of Apollo, Mbah Riordan menyepak semua pakem tak tertulis itu? Benar ... pakem yang capek-capek aku jadikan patokan untuk POV1 barokah malah belio lupakan sama sekali. Aku bukannya kesal, karena Mbah Riordan tidak memakai pakem buatanku.

Aku kesal karena meskipun belio tidak menerapkan pakem yang kubuat, novel yang belio hasilkan tetap Masterpiece!!! Itu tentunya kontradiksi dengan kepercayaanku selama menganalisis POV1, dan aku tidak suka disebut kontradiksi! Karena aku wanita, dan wanita selalu BENAR!!!

Bercanda ya, h3h3 ....

Akan kujelaskan lebih lanjut, bagaimana cara Mbah Rick Riordan melanggar semua pakem dalam menulis POV1, dan tetap bagus. Bersama The Trials of Apollo sebagai contoh. Karena belio adalah bukti nyata bahwa melanggar pakem (peraturan) tidak selamanya menjadi hal buruk. (Kecuali melanggar norma dan tata tertib tertulis, kalau itu kalian namanya EEEVVVVIILLLLL!)


A. Tokoh Utama Likeable (Affah Iyah?)

Tokoh Utama dalam seri Trials of Apollo tentu saja Dewa Apollo. Penggemar Mitologi, terutama Mitologi Yunani pasti sudah hafal dengan ciri khas kepribadian Dewa Apollo sang Dewa Matahri. Narsistik, egois, merasa dirinya paling tinggi, sombong, nafsu birahi tinggi, dan seringnya emosional.

Kebanyakan sifat brekele, 'kan? Memang, memang ... Dewa Apollo juga punya sifat terpuji (lebih tepatnya MERASA dirinya melakukan hal terpuji), dan fakta bahwa dia adalah pengendali matahari membuatnya masih layak disebut Dewa. Tapi tetap saja sifat terpuji itu kalah talak kalau dibanding sifat brekelenya.

Hal utama yang membuat Apollo tetap digemari padahal sifatnya brekele adalah wajah yang super-duper-ultra-ekstra tamvan. Seperti saat penulis Watpat menjabarkan "Tamvan bak Dewa Yunani" Dewa Apollo-lah yang mereka maksud. Ibarat kata pepatah bijak, 'Lo Gud Luking, Lo Punya Kuasa'.

Namun, dalam novel Trials of Apollo, di mana sang Dewa dihukum oleh bapakenya dengan cara diturunkan paksa ke Bumi sebagai manusia biasa, Apollo tidak membawa serta ketampanan fisik itu. Alih-alih dia berwujud laki-laki berwajah standar bernama Lester. Tapi (lagi) dia jelas membawa sifat kedewaan yang brekele.

Jadi bisa kalian bayangkan betapa ngeselinnya seorang cowok bermuka standar seperti Lester, tapi membawa sifat narsistik, egois, sombong, dan lain-lain milik Dewa Apollo. Sangat ngeselin dan mintak digampar, 'kan???


Sifat brekele itu juga tergambarkan dengan baik memakai teknik show, jadi bisa kalian bayangkan sendiri betapa seringnya aku memutar bola mata akibat tingkah laku si Lester dan/atau Apollo di awal-awal novel.

Lantas, bagaimana mungkin Mbah Rick Riordan bisa membuatku menyukai Apollo, atau setidaknya memaklumi sifatnya?

Behold!!! PENOKOHAN!!!

Penokohan mencangkup latar belakang, pengembangan karakter, dan konflik batin si tokoh. Kalau ketiganya dijabarkan dengan baik, maka sejelek apa pun sifat tokoh utama, pembaca masih bisa merasakan simpati untuknya. Dan bagiku pribadi, penokohan Apollo di sini sudah cukup membuatku bersimpati.

Cara Apollo mempelajari sifat-sifat baik manusia, dan berusaha menerapkannya. Hubungan Apollo dengan anak-anaknya di kemah. Cara Apollo berjuang melindungi orang-orang yang disayangi. Ingatan masa lalu akan orang-orang yang dicintainya. Penyesalan Apollo untuk segala keburukan di masa lalu saat menjadi Dewa.

Intinya, sebagai manusia Apollo mempelajari banyak hal sehingga penokohannya pun berkembang ke sisi yang lebih baik. Perkembangan itu pun cukup untuk membuat pembaca bersimpati. Sifat buruk Apollo memang masih ada, dan tetap menyebalkan, tapi setidaknya ada beberapa tindakan yang membuat sifat-sifat brekele itu bisa dimaklumi.

B. Kemistri Barokah Antar Tokoh (Affah Iyah?)

Jadi, di novel ini Apollo punya teman seperjalanan bernama Meg. Anak perempuan belasteran dengan gaya nyentrik yang diberkahi kekuatan serta kemujuran dari ibunya, Dewi Demeter. Apakah sebagai mentor dan murid, Apollo dan Meg saling menghormati? Menyayangi satu sama lain? Mendiskusikan segala hal bersama sehingga mencapai satu tujuan konkret?

TIDAK!!!

They hate each other's guts! Apollo tidak suka diperintah, apa lagi oleh bocah ingusan seperti Meg. Sedangkan Meg membenci sifat brekele kedewaan Apollo. Mereka menjadi teman seperjalanan pun karena terpaksa, alias dipaksa. Meg memproklamirkan bahwa Apollo adalah pelayannya cuma karena iseng, dan Apollo terpaksa menurut sebab itu memang tugasnya di Bumi.

Setelah itu hubungan mereka jadi rumit, kepribadian yang berbandik terbalik, sering miss-komunikasi, tidak menyetujui banyak hal, Meg bertingkah sesukanya, Apollo ingin bertingkah sesukanya, tapi tidak bisa. Bahkan Meg pernah mengkhianati Apollo, dan Apollo pernah beberapa kali hendak membiarkan Meg mati.

Lantas, bagaimana Mbah Riordan tetap bisa membuat pembaca peduli pada hubungan Apollo dan Meg yang seperti Tom and Jerry itu?

Benar sekali, belio membuat mereka terikat sebagai Majikan dan Pelayan, di mana Apollo tidak bisa melepaskan diri dari Meg, kecuali Meg yang melepaskan ikatan tersebut. Sedangkan Meg tidak berniat melakukan itu untuk beberapa alasan.

Dengan adanya keterpaksaan semacam itu, keduanya pun harus selalu bersama dalam setiap perjalanan. Dan ketika dua orang dipaksa menghabiskan waktu terlalu lama bersama-sama, mereka akan saling menyayangi atau saling membunuh. Nah, kedua hal itu terjadi pada Apollo dan Meg sehingga hubungan mereka berubah menjadi Love-Hate Relationship.

Apollo dan Meg be Like ....

Mereka akan bertengkar atau adu mulut, dan kita sebagai pembaca mengerti konflik antar keduanya, melihat latar belakang mereka masing-masing. Di sisi lain kita menunggu-nunggu saat di mana mereka santai dan bicara dari hati ke hati. Mereka bertengkar terlalu banyak, sampai ketika mereka bermanis-manis, perasaan yang tersampaikan justru lebih mengena kepada pembaca.

C. Fokus Memperdalam Kisah Tokoh Utama (Affah Iyah?)

Kalau kuperhatikan, The Trials of Apollo ini lebih mendalami masa lalu dan latar belakang Meg daripada Apollo sendiri. Alasan kenapa Apolo dihukum turun ke bumi memang tidak terlalu jelas di awal cerita, tapi jujur saja itu bukan masalah yang terlalu bikin penasaran.

Maksukdu, heloooow, dia Dewa dengan sifat dan sikap brekele, mungkin dia melakukan hal-hal brekele di suatu tempat sehingga membuat bapakenya marah. Apollo sendiri mengakui kalau ini kali ketiga dia diturunkan ke Bumi sehingga dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Dia hanya kesal kenapa kekuatan Dewatanya ikut diambil, padahal kekuatan Dewata itulah yang paling dia butuhkan. Meg di sisi lain adalah orang asing dalam kasus ini, alias tokoh baru yang memang semua orang ingin tahu dari mana asalnya, dan apa ceritanya.

Menurutku itu juga keputusan yang sangat bagus. Tentu saja kalau pembaca mau mengetahui latar belakang serta cerita masa lalu Dewa Apollo, mereka bisa buka Wikipediah atau Website sejarah lain. . Namun, di sini Apollo lebih banyak berperan sebagai narator yang mengobservasi kisah Meg.

Bukan berarti Apollo tidak punya kisahnya sendiri. Sebagai Dewa, Apollo jelas bertanggung jawab terhadap semua masalah yang terjadi di Bumi. Terutama tentang Oracle dan Kaisar-kaisar Romawi. Namun, selebihnya kisah masa lalu Meg yang berperan menjadi kunci dari semua masalah Apollo.

D. Konflik yang Reletable (Affah Iyah?)

Dewa yang jatuh ke Bumi? Manusia bangsa mana yang bisa relate dengan kejadian tersebut? Aku jelas tidak bisa relate sebab aku pribadi bukan Dewa yang jatuh ke Bumi, melainkan Bidadari yang jatuh ke Bumi (digampar).

Kalau premis utama saja sudah mustahil bisa relate dengan makhluk hidup mana pun, dari mana lagi sisi relate itu bisa disampaikan? Kalian tidak perlu khawatir, De Genero. Sebab Mbah Riordan tahu persis apa yang harus dilakukan pada novelnya supaya pembaca bisa relate bahkan saat disuguhkan konflik yang paling fantasi sekalipun.

Sisi relate yang Mbah Rick Riordan buat sejatinya sederhana, tapi juga tricky untuk dieksekusi. Misalnya penyesalan, simpati dan empati manusia sekaligus sifat-sifat terburuk manusia, konsekuensi dari masalah yang dibuat, kediktatoran orang-orang dengan jabatan tinggi, penyalahgunaan kuasa, dan lain-lain.

Intinya, meski novel ini fantasi, pesan yang ingin disampaikan adalah kemanusiaan. Entah dari sisi baik, maupun sisi tergelap. Itulah yang Apollo pelajari dari hukumannya di Bumi kali ini, itulah juga pelajaran yang bisa pembaca ambil.

Penutup

Jujurlly, aku lebih mencintai serial Percy daripada Apollo, sebab aku lebih suka Kemistri UwU antar Trio Percy, Annabeth, dan Grover, daripada kemistri bak Tom and Jerry ala Apollo dan Meg. Namun, bukan berarti serial ini gagal sebagai novel yang juga mengangkat POV1 sebagai sudut pandang. Novel ini tetap Masterpiece, tentu saja karena ini novel seorang Mbah Rick Riordan!

Pelanggaran pakem-pakem POV1 di atas pun tidak mengurangi kualitas novel sama sekali, atau malah memang pelanggaran pakem-pakem itu yang membuat novel The Trials of Apollo ini Masterpiece. Apa pu itu, novel ini tetap mengajarkan kita satu hal ...

Kuasai dulu sebuah bidang sebelum meengimprovisasi.

Kalau penulis sudah lihai membuat POV1 dengan mengikuti pakem-pakem yang ada, maka menyimpang dari pakem itu tidak akan menjadi hal buruk. Menyimpang dalam artian improvisasi, modifikasi, bahkan membuat pakem baru atau pakem tambahan.

Jangan sampai, penulis belum memahami pakem utama dalam pemakaian POV1, tapi sudah berani-beraninya menyimpang. Cerita yang diciptakan bukannya masterpice seperti novel Mbah Rick Riordan, tapi malah brekele dan memble seperti sifat Apollo saat masih jadi Dewa Matahari.

Baiqlah, mungkin segitu dulu pembahasan kali ini. Ingat pesan-pesan Impy ... jangan makan tulang ayam tanpa dikunyah, karena dapat mengakibatkan tersedak.

Sekian dulu dariku, semoga kita bertemu di postingan berikutnya (yang berisi julid) ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman