The School for Good and Evil #5 (Kristal Waktu)

Sampul versi lama (yang guweh mau!)

Judul : The School for Good and Evil #5 : Kristal Waktu

Penulis : Soman Chainani

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

ISBN : 9780062695208

Tebal : 624 Halaman

Blurb :

Kali ini kisah berfokus pada Camelot. Takhta Tedros, sebagai anak Arthur, dipertaruhkan! Tak ada yang menyangka bahwa Tedros mempunyai saudara. Rhian. Itulah namanya. Rhian merebut hak Kerajaan Camelot dan mengeklaim bahwa ialah yang berhak menjadi raja di Camelot. Perseteruan ini memancing pertumpahan darah.

Tedros disebut sebagai pengkhianat dan diburu layaknya penjahat. Agatha berhasil meloloskan diri. Ia selamat. Namun selain terpisah dengan Tedros, ia pun terpisah dengan Sophie. Dengan harga dirinya sebagai seorang putri, ia berjuang untuk menyelamatkan Tedros. Dengan kasih sayang sebagai seorang sahabat, ia harus juga harus menyelamatkan Sophie.

Sophie yang berusaha menjadi Baik, memutuskan menghadapi Rhian. Namun, itu malah menjadi boomerang baginya. Ia menjadi tahanan Rhian. Dengan licik, Rhian menyebut Sophie adalah ratunya. Agar semua rencananya berjalan dengan baik. Semuanya memiliki tujuan. Semuanya ingin akhir yang sesuai dengan keinginannya masing-masing. Nasib Storian dipertaruhkan. Bagaimana nasib mereka?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Empat Tahun Penantian

Aku ingat masa-masa SGE 4 terbit, saat di mana BIP begitu menggembar-gemborkan penerbitannya sampai membuat sovenir berupa gantungan kunci dan totebag. Aku juga ingat saat The Ever Never Handbook terbit, sekali lagi BIP menggembar-gemborkan penerbitannya selama beberapa minggu. Namun, setelah itu ....

KOSONG!!!

Tidak ada kabar berita dari seri novel ini sama sekali, tidak ada foto, sneak-peak, bahkan tidak janji-janji manis. Aku mengira BIP melakukan hal sama seperti yang dilakukan Gramedia kepadaku pada serial The Sisters Grimm. Aku pikir mereka akan berhenti menerbitkan seri novel ini selama-lamanya.. Hatiku jelas hancur berkeping-keping.

Sampai suatu hari aku menemukan versi terjemahan Bahasa Indonesianya TANPA DISENGAJA! Ternyata novel ke-5 sudah diterbitkan oleh BIP sejak Maret. Aku baru tahu di bulan Agustus. Wow banget, 'kan? WOW BANGET! Lima bulan penuh aku terlambat, tapi itu bukan salahku sama sekali!!!

Apakah BIP Menggembar-gemborkan penerbitan novel ke-5? TIDAK SAMA SEKALI! Postingan menyerempet pun tidak ada, padahal aku sudah follow Instagram mereka, aku sudah menyalakan notifikasi, Instagram BIP sudah aku prioritaskan cuma demi mendapatkan update terbaru dari seri SGE. Nyatanya? Aku terlambat LIMA BULAN!!!

Lebih parah lagi ... MEREKA MENGGANTI SELURUH MODEL SAMPULNYA!!! Thanks A LOT BIP!!!

Bukannya aku berpikir sampul novel versi BIP jelek atau versi lama lebih bagus. Masalahnya sekarang aku tidak bisa memajang buku yang seragam dalam lemari. Visualnya akan berantakan! Bahkan Pacc Tere 'tell' Liye konsisten dengan sampul-sampul bukunya! (dan memang itu satu-satunya sisi positif dari serial Bumi-nya Pacc TtL)

Shame, shame on you, BIP! Ya ... aku tidak akan pernah memaafkan penerbit BIP untuk ini.

Nah, barangkali itu saja julid tentang novel SGE - Kristal Waktu, sebab isi novelnya akan penuh pujian-pujianku pada novel ini, pada Om Soman Chainani, dan pada seri yang mungkin ada di peringkat dua dalam list pribadi sebagai serial novel fantasi terbaik sepanjang masa, setelah The Sisters Grimm tentunya.

B. Plot

Camelot dalam bahaya, Storian dalam bahaya, Sekolah Kebaikan dan Kejahatan dalam bahaya. Singa dan Ular bersatu untuk merebut takhta Camelot dari Tedros, membuat berbagai propaganda supaya seluruh Kerajaan Hutan menentang Tedros. Pertanyaannya, bagaimana bisa? Rhian mengaku dirinya adalah anak pertama Arthur yang artinya dia adalah kakak Tedros.

Rhian tidak perlu susah-payah membuktikan dirinya anak Arthur, sebab Excalibur baru bisa dicabut dari batu olehnya, dan Excalibur tidak bisa dibohongi. Itu sebabnya tugas Agatha dan teman-teman mencari tahu kebenaran tentang Rhian sebagai putra pertama Arthur.

Mulanya aku berpikir ini sangat biasa terjadi, maksudku Arthur adalah raja di zaman abad pertengahan, dan kita semua tahu bagaimana sifat raja di abad pertengahan. Mereka berkembang biak dengan siapa saja! Nyatanya, situasi tidak sesederhana itu. Arthur mempunyai satu-dua alasan yang membuat kehadiran Rhian seharusnya mustahil.

Di sisi lain, Sophie lagi-lagi menjadi idaman pihak jahat, tentu saja karena dia adalah jahat murni. Namun, jahat murni pun tidak bisa menerima orang asing yang muncul tiba-tiba, dan hendak mengambil takhta yang bukan miliknya. Apa lagi Tedros adalah temannya sekaligus orang yang pernah dicintainya. Sophie pun melawan dengan caranya sendiri.

Sementara Agatha juga punya perlawanan sendiri sebagai satu-satunya orang yang selamat dari incaran Rhian. Menjadi pemimpin anak-anak kelas satu di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan demi menyelamatkan tim petualangnya yang ditawan di Camelot. Belum lagi, mempertahankan sekolah dari orang-orang jahat.

Hal yang menarik dari novel ini adalah tidak ada tokoh yang dangkal. Protagonis dan Antagonis bukan berarti baik dan jahat. Meskipun tema novel ini secara harfiah memang Baik dan Jahat, tapi masing-masing tokoh punya tujuan dan kepercayaan sendiri sehingga yang dirasa baik bisa jadi jahat, dan yang dirasa jahat malah sebenarnya baik.

Contohlah perbedaan cara Agatha dan Sophie dalam menyelesaikan masalah. Tujuan mereka sama, tapi Sophie lebih ahli memanipulasi, sementara Agatha lebih bertindak lurus seperti pahlawan. Akhirnya, terjadi perpecahan lagi antara mereka, sebab Agatha dan Tedros salah kira Sophie benar-benar ada di pihak Rhian, padahal Sophie hanya berpura-pura supaya dapat kepercayaan.

Serius, penokohan Sophie di sini sangat bagus. Kecerdasan dan kelicikannya menonjol, dia percaya diri, dia badass, dan tidak lagi menye-menye seperti pertama datang ke sekolah mengidam-idamkan pangeran tampan. Sophie bisa jadi Ratu sejati kalau dia tidak terlalu egois dan bukan lulusan Sekolah Kejahatan.

Bahkan tokoh seperti Rhian pada akhirnya tidak jadi mengesalkan, padahal dia jelas-jelas Antagonis. Dia jahat pada tokoh-tokoh protagonis, dan seharusnya kita sebagai pembaca membencinya. Namun, sekali lagi ini kelebihan Om Soman yang tidak pernah terpaku pada Antagonis = Jahat, Protagonis = Baik. Semua punya tujuan, semua punya alasan. Bagi satu sisi alasan ini masuk akal, padahal mungkin bagi sisi lain tidak.

Twist novel ini juga benar-benar smooth, dalam artian tidak terlalu ditekankan bahwa itulah Twist-nya. Saatnya Twist itu terjadi, ya terjadi aja gitu ... gak perlu diundur-undur atau sok ditahan-tahan sampai menjelang akhir supaya pembaca kageat maksimal. Jatuhnya malah maksa, yakan?

Dengan Twist seperti ini, Om Soman pun punya ruang untuk membuat twist-twist lain yang SELALU BERHASIL!!! Kenapa orang ini begitu barokah dalam membuat twist sederhana yang berhasil! Serius, ya ... setiap kali ada pertanyaan yang aku pikir jawabannya bakal diundur-undur terus, nyatanya pertanyaan itu cepat terjawab, dan tau-tau twist datang dari hal lain.

Ini bisa menjadi tips bagi kita semua. Tidak perlu memaksakan Twist, apa lagi mengundur-undur Twist itu sampai akhir demi membuat pembaca kaget maksimal. Kalau Twist bagus dan masuk akal, pembaca akan tetap kaget, tidak peduli di mana pun Twist itu berada.

Satu hal yang membuatku kurang sreg tentang novel ini, seperti yang kukatakan di Pesbukk. Pov yang berganti-ganti dan tidak konsisten. Aku bisa memaafkan sudut pandang yang berubah dari masing-masing tokoh, asalkan jangan sudut pandang untuk gaya bahasa. Kalau sudah POV3 terus pakai sampai tamat, jangan tiba-tiba berubah POV1 tanpa alasan.

Memang tidak separah novel Watpat, tapi jelas mengganggu, sebab rasa dari setiap sudut pandang tokoh yang seharusnya berbeda, menyesuaikan pribadi tokoh tersebut, malah jadi sama. Itu juga membuatku sadar Om Soman barangkali tidak sekeren Mbah Rick Riordan kalau soal pemakaian POV1. Makanya, pemakaian POV3 tentunya akan lebih cucok.

Novel ini diakhiri dengan Twist yang sekali lagi sederhana, tapi berhasil. Meskipun agak terasa seperti "Bersambung ...." ala-ala sinetron, aku jelas tidak sabar menunggu pertempuran terakhir Tedros dengan Rhian. Kalau benar itu memang Rhian! (Aku tidak mau terlalu banyak spoiler, karena Twist ini sangat BAROKAH!)

Benar sekali, Teman-teman ... tidak seperti penulis tersohor dalam neegeri (TL) seri The School for Good and Evil berakhir di buku ke-6 yang artinya kita cuma harus menunggu selama ... Entahlah, 100 tahun lagi barangkali untuk diterjemahkan HAHAHAHAHA!

Itu sindiran dan atau ancaman untuk kalian Penerbit BIP!!! Jangan lama-lama menerjemahkan buku barokah seperti ini duoong!

C. Penokohan

Agatha. Entah kenapa aku merasa Agatha agak melempem di sini, dia lebih banyak mengobservasi daripada bertindak. Kemampuannya tidak terlalu menonjol, dia tidak lagi menjadi otak dari segala rencana dan malah terkesan ngikut aje. Agatha lebih cenderung mengandalkan sisi terlemah kebaikannya, seperti percaya pada persahabatan, percaya cinta sejati, percaya pertolongan ibu peri.

BORIIING!!! Mana Agatha-ku yang cerdas, logis, selalu punya rencana, dan tidak pernah suka berdiam diri. Mana Agatha-ku yang tidak menye-menye, tidak suka diperintah, apa lagi merasa lemah, yang selalu punya jalan keluar dan jadi andalan semua orang? Ah, ini pasti pengaruh Tedros brekele! Agatha jadi ikut-ikutan lembek.

Sophie. Kebalikan dari Agatha, di novel ini Sophie benar-benar mmuach Cheff Kiss! Sisi paling keren dari kejahatannya keluar secara alami. Memanipulasi, memikat, menggoda, sarkasme, dan semua itu dia lakukan untuk membela kebaikan! Sophie yang dulu could never! Aku jadi bertanyea-tanyea apakah Om Soman melakukan ini secara sengaja.

Percakapan Sophie dengan semua orang menunjukan bahwa ya dia jahat, ya dia penyihir, ya dia egois. Namun, di balik semua itu ada Sophie yang menyayangi sahabat-sahabatnya terutama Agatha. Satu hal yang membuatku (dan pembaca lain) yakin Sophie tidak akan jadi pengkhianat adalah dia begitu mencintai Agatha, dan selagi Agatha mencintainya juga, Sophie masih punya alasan untuk jadi baik.

Tedros. Gak di mana, gak di mana disiksa mulu lu, Tong, Tong! Pangeran yang selalu menjadi Damsel in Distress, udah gak ketolong lagi memang si Tedros ini. Satu-satunya kelebihan dia adalah, dia berani, dan berjiwa pemimpin. Dia akan selalu maju dan siap bertarung dalam situasi sesulit apa pun, menolak menyerah sampai titik darah penghabisan.

Kekurangannya di sisi lain .... Siap-siap, ya! (tarik napas) Bodoh, sembrono, panikan, menye-menye, kepala batu, kepala panas, egois, close minded, curigaan, dan pengambil kesimpulan yang buruk. Eits, tapi janganlah kalian membenci Tedros terlalu banyak, sebab masa lalu Tedros begitu ihiks-ihiks, terutama seluruh adegan reuni dengan bapakenya.

Hort. Ayolah ... semua pembaca SGE mencintai Hort, tidak peduli ada ribuan pangeran dan raja bertebaran di seluruh novel. Hort bisa dengan mudah akrab dengan sisi kebaikan maupun kejahatan. Dia mencintai Sophie, dia juga mengandalkan Agatha. Dia jahat, tapi juga sweet dan unyu. Satu hal yang dibenci Hort melebihi apa pun di dunia. Tedros.

Trio Penyihir. MEREKA TIDAK DAPAT BANYAK SPOTLIGHT DAN AKU KESALLLLL!!! Oh, btw apakah Hester x Anadil akan menjadi nyata? Beberapa orang tidak menyukai ini, karena satu dan banyak hal. Akan tetapi, I'm all for it!

Rhian. Tumbal Plot Twist Om Soman Chainani.

Dekan Dovey. Ibu Peri Barokah.

Nicola. Shipper Sophie-Hort membenci anak ini.

D. Dialog

Aku selalu suka dialog ala terjemahan yang baku, tapi tidak kaku (Hey, that rhyme!). Terutama sekali lagi Sophie, Sophie, Sophie ... kenapa kamu mencuri semua perhatian pembaca kepada dirimu sendiri! Aku sudah bilang kalau Sophie itu manipulatif, rada genit, dan sarkas. Semua itu terlihat jelas dari dialog-dialognya.

Setiap ada bonding antar Sophie dan Rhian adalah adegan kesukaanku. Melihat cara mereka saling membenci, tapi berusaha keras untuk tampak saling mencintai. Saat sisi "jahat" Sophie keluar juga dialog-dialognya langsung terasa sassy, and I love it! Kayak ... selalu rempong sama baju, mementingkan penampilan dari apa pun, dan hal selfish lainnya.

Tedros dan Agatha di sisi lain tidak se-UwU buku-buku sebelumnya. Namun, aku sangat paham penulis melakukan itu lantaran TIDAK ADA WAKTU utnuk UwU-UwUan. Situasi sedang genting, dunia dalam bahaya, dan mereka fokus pada tujuan penyelamatan! Bayangkan kalau ini novel Watpat, entah berapa banyak adegan UwU Tedros-Agatha yang kita dapatkan alih-alih melanjutkan plot.

Marilah kita tidak melanjutkan perbandingan Apple to Kesemek ini ....

Setiap dialog masih menyentuh hati, memainkan perasaan, sesuai kepribadian, tanpa menjadi filler. Terutama Sophie bersama kharismanya sebagai jahat murni. Aku tidak mengerti bagaimana Om Soman melakukan itu semua.

E. Gaya Bahasa

Sekali lagi, perpindahan dari POV3 ke POV1 yang tiba-tiba ini membuatku kurang sreg. Lagi pula kenapa Om Soman maksa banget menunjukkan seluruh isi pikiran tokohnya, bahkan storian pun kebagian POV, yang menurutku tidak terlalu penting lah, ya ....

Di sini Om Soman tampak kewalahan mengatasi tokoh-tokohnya yang terlampau banyak sehingga satu-satunya cara yang terpikirkan adalah gonta-ganti POV. Percayalah, Om Soman ... kau tidak perlu mencoba terlalu keras supaya pembaca mencintai tokoh-tokohmu. Kami sudah mencintai mereka sejak buku pertama, dan cinta itu tidak pernah luntur.

Aku yakin ada cara lain untuk menunjukkan sudut pandang tanpa menggantinya, dan biasanya Om Soman bisa melakukan itu. Aku jadi berpikir, apakah di novel ini belio dikejar deadline atau semacamnya. Sampai tidak ada cara selain gonta-ganti POV. Belio tidak pernah melakukan ini di empat buku sebelumnya.

F. Penilaian

Sampul : 3,5 (Salahkan BIP!)

Plot : 4,5

Penokohan : 4,5

Dialog : 4,5

Gaya Bahasa : 3,5

Total : 4,5 Bintang

G. Penutup

Jujur, begitu buku ini sampai di tangan, aku takut untuk membacanya. Takut novel ini cepat habis, dan aku harus menunggu bertahun-tahun lagi untuk membaca yang berikutnya. Penantian sebelumnya empat tahun, mungkinkah akan lebih buruk dari ini? Semoga sih lebih baik. Penerbit dalam negeri tuh senang banget meng-PHP-kan pembacanya.

Tapi eh tetapi! Penantian empat tahun ini boleh kuanggap sepadan. Ayolah ... aku tidak mengikuti seri novel apa pun selain SGE dan Serial Bumi, tapi itu tidak dihitung, karena hanya fokus untuk julid. Sebenarnya aku khawatir juga kalau pada akhirnya novel ini benar-benar tamat. Seri apa lagi yang bisa membuatku jatuh cinta.

Selain The Sisters Grimm dan SGE, belum ada lagi novel yang bisa melakukannya. Percy Jackson bisa melakukannya, tapi seri itu sudah selesai sejak zaman Edo (menghadeh). Mungkinkah kalian punya rekomendasi serial novel Middle Grade?

Nah, mungkin segitu dulu pembahasan The School for Good and Evil kali ini. Aku akan masuk ke dalam gua, dan bertapa sampai novel selanjutnya terbit.

Sekian ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)