Lo Langganan Bobo, Lo Punya Kuasa!


A. MKKB (Masa Kecil Kurang Bobo)

Siapa yang tidak mengenal majalah Bobo. Konon, anak-anak tempo doeloe belum afdol menjadi anak-anak kalau tidak tahu eksistensi Majalah Bobo sama sekali. Ibaratnya, mereka brojol langsung gede gitu (digampar). Tapi eh tetapi, meskipun legendaris rasanya cuma anak-anak dengan privilese yang mampu berlangganan majalah Bobo.

Maksudku ... keluargaku bisa dibilang berkecukupan, tapi tidak sampai cukup menyisihkan uang untuk berlangganan majalah Bobo, atau bahkan membeli eceran. Kenapa? Tentu saja karena keluarga besarku lebih senang mengoleksi buku Hidayah dan majalah Misteri daripada majalah Bobo (bruuh).

Bay de wey, majalah Bobo terbit pertama kali pada tanggal 14 April 1973, itu berarti Majalah Bobo lebih tua beberapa bulan dari mamake Impy! WOW! Ternyata eh ternyata juga, majalan Bobo itu aslinya majalah anak asal Belanda.

Yah, seperti yang kita ketahui Belanda dan Indonesia memiliki kenangan UwU selama literally 3,5 ABAD! Tentu saja beberapa hal dari negara kita terpengaruh oleh Belanda. Namun, marilah kita simpan sejarah UwU Indonesia dan Belanda untuk pembahasan lain.

Oleh sebab itu, tokoh-tokoh seperti Bobo sekeluarga serta Nirmala & Oki sejatinya bukanlah karakter asli Indonesia. Bahkan Nirmala dan Oki sebenarnya bernama Wanda dan Puck, sementara nama-nama seperti Coreng, Cimut, Upik juga nama-nama yang dibuat untuk kepentingan adaptasi.

Konten-konten awal Majalah Bobo seperti cerpen dan dongeng pun awalnya juga hasil terjemahan cerita rakyat Belanda. Sampai suatu hari pihak Indonesia berpikir, “Bentar, dah ... perasaan negara kita punya banyak penulis dongeng dan cerpen anak yang barokah. Ngapain kita malah nerjemahin dongeng dan cerpen dari Mantan! Sorry, ye!”

Maka Majalah Bobo Indonesia pun mulai memproduksi kisah-kisah barokah dari penulis dalam negeri. Komik, Cerpen, Dongeng, Fabel, Kuis, dan segala macam lainnya. Tidak tanggung-tanggung Majalah Bobo di Indonesia bertahan selama 50 tahun. Maka demi merayakan 50 tahun kesuksesan, majalah Bobo menerbitkan edisi khusus kumpulan cerpen dan dongeng.

DAN AKU IKUT PO-NYA, HUAHAHAHAHA!

Ini adalah pertama kali seorang Impy Island mengikuti PO dan ikut ke-hype-an masyarakat. Maksudku, sebagai pengidap Syndrome Not Like Other Gorl, biasanya aku membeli sesuatu yang hype setelah lewat dua sampai tiga tahun kemudian, alias pas udeh BASI. Namun, tidak kali ini, Romano! Aku benar-benar ikut PO dan menunggu selama SEBULAN LEBIH!

It’s worth it, tho ... Cerpen, terutama Dongeng adalah salah satu tema kesukaanku dalam se-fruit karya. Jadi aku adalah orang paling tepat untuk membicarakan Majalah Bobo edisi kali ini. Nah, tanpa banyak berkata-kata lagi, marilah kita bahas isi dari majalah edisi khusus ini.

B. Keistimewaan Cerpen dan Dongeng Bobo

THE VISUAL!!!

My oh my, betapa cantiknya sampul buku ini. Warna dasar merah berpadu bingkai dan pemilihan font berwarna emas yang semuanya di-emboss terlihat sangat klasik. Ilustrasi cucu bersimpuh di pangkuan nenek, memberi kesan kalau ini memanglah dongeng yang pastinya akan dibacakan lagi dan lagi oleh generasi tua kepada generasi muda.

Membuka halaman pertama aku langsung merinding, karena tahu keseluruhan buku akan berisi segala hal yang paling aku cintai dari sebuah buku. Ilustrasi, dongeng, gaya bahasa, suasana dan latar. Intinya, CANTIK, keseluruhan buku adalah definisi CANTIK sesungguhnya. Ilustrasi di setiap cerpennya pun jangan ditanya lagi.

Ilustrasi-ilustrasi model begini membawaku kembali ke zaman SD, saat aku mengebet seluruh buku paket pelajaran Bahasa Indonesia demi menemukan cerpen bergambar. Apa lagi, cerpen-cerpen ini campuran dari tahun 1980-an sampai 2003. Referensi dalam cerpen-cerpen ini menghantam dua generasi sekaligus dengan martil Nostalgia. Aku dan Mamake (ya, belio juga ikut baca).


Ilustrasi Vektor Who?

One of my favourite style

Walaupun, beberapa ilustrasi terlihat agak menyeramkan untuk anak-anak, bahkan akan menjadi rada SUS bagi orang dewasa. Misalnya di cerpen berjudul “Berilah yang Bagus”, anak-anak di gambar itu terlihat seperti mereka tengah high, kalau kalian mengerti maksudku ....

These kids are ON SOMETHING!

Beneran Buat Anak-anak

Satu hal yang sering para penulis lupakan saat membuat cerpen anak, yaitu cepren tersebut akan dibaca oleh anak-anak! Dan saat penulis membuat sesuatu untuk anak-anak, pastikan anak-anak mengerti apa yang penulis suguhkan dari segi cerita, tokoh, dan dialog.

Cerita tidak perlu muluk-muluk, tokoh tidak perlu terlalu kompleks, dan dialog tidak perlu nyastra abiez. Namun, yang paling penting dalam cerpen anak sejatinya adalah AMANAT. Waduh, penulis Edgy Anti-amanat tidak akan suka fakta ini, xixixi. Tapi toh penulis Edgy Anti-amanat rasanya tidak tertarik juga membuat cerita anak. Kita harus bersyukur karenanya!

Tapi serius, bahkan dalam membuat cerita anak, hal paling awal yang harus dipikirkan penulis adalah amanat apa yang ingin disampaikan. Baru dari amanat itu buatlah cerita relevan yang menjurus ke sana. Amanat-amanat yang disampaikan pun sederhana saja, misalnya; jangan berbohong, jadilah anak penurut, jaga kebersihan, hormati orang tua, dan hal-hal wholesome lainnya.

Para penulis cerpen di majalah Bobo berhasil melakukan itu semua. Saking ringannya cerpen dan dongeng di majalah ini, ada satu cerpen yang menceritakan seorang anak mengirim surat. Dia sudah menunggu balasan cukup lama, tapi akhirnya surat itu malah kembali ke rumahnya. Ternyata eh ternyata, dia menulis alamat rumahnya sendiri alih-alih menulis alamat penerima.

Amanat cerpen itu adalah, “Telitilah sebelum melakukan suatu hal”, udeh gitu doang! Dan memang seharusnya begitu doang. Hey, ini majalah anak-anak. Apa yang kita para manusia seperempat abad harapkan? Pengembangan karakter? Plot Twist? Protagonis vs Antagonis? Ke laut aje!

Realistis

Aku cukup terkejut beberapa cerpen di sini punya tema atau ending yang terbilang gelap. Ya ... memang bukan gelap ukuran remaja apa lagi orang dewasa, tapi untuk anak-anak konten yang seperti itu rasanya agak sedikit nyes di hati, entah dalam sisi positif atau negatif tergantung sudut pandang yang baca.

Misalnya di cerpen berjudul “Maaf, Mbok”, bercerita tentang seorang anak yang tidak menyukai ART barunya karena dianggap memiliki niat jahat. Anak itu kemudian berusaha menyingkirkan si ART, dengan cara menjebak, menuduh tanpa bukti, bahkan cenderung fitnah. Walaupun di akhir si anak menyesal saat si ART sudah pulang kampung, padahal terbukti tidak bersalah.

But, dam ... cara anak itu mencapai kesadaran, sampai akhirnya menyesali perbuatan, tergolong ekstrem menurutku. Agak-agak disturbing aku dibuatnya. Namun, aku juga merasa senang, karena buku ini tidak selalu berisi sunshine and rainbow mentang-mentang target bacanya anak-anak.

Tentu saja, belajar dari kesalahan dan penyesalan juga amanat penting untuk anak-anak. Cerpen itu juga menjadi bukti bahwa anak-anak tidak selalu unyu dan UwU, mereka punya sisi gelap, dan bisa menjadi penyebab dari masalah beberapa orang.

Tema dan Ending yang rada awikwok juga ada pada cerpen “Topi” serta “Hitam dan Putih”. Satu cerpen mengandung isu rasisme, sementara satu cerpen lagi mengandung lansia meninggal dunia. Jadi ... apakah ini rada kontradiksi dengan poin sebelumnya, bahwa cerpen ini memang dikhususkan untuk anak-anak?

TENTU TIDAK! Sepertinya kita semua setuju, “untuk anak-anak” bukan berarti cerita harus selalu happy-happy-happy. Bumbu-bumbu disturbing dan gelap bisa dimasukkan ke cerita anak, hanya saja porsinya harus sedikit, penyampaiannya harus samar, dan tentu saja harus selalu ada amanat setelahnya.

Kadio si Penghuni Gigi

Nah, kali ini aku akan membahas satu cerpen secara spesifik. Kerana oh kerana, kalian tidak akan siap dengan konten yang diangkat cerpen tersebut. Aku pun sampai tercengang saking tidak siapnya, padahal usiaku sudah seperempat abad. Bayangkan anak-anak saat membaca cerpen ini! Atau jangan-jangan bocil justru tidak akan terpengaruh, sebab mereka bocil?

Anyways! Cerpen ini bercerita tentang nenek-nenek bijak di sebuah desa. Si nenek ini bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Suatu hari, ada seorang bapak membawa anaknya yang sakit gigi ke nenek tersebut. Sayangnya, si Nenek belum tahu apa penyebab sakit gigi sehingga dia tidak bisa menyembuhkannya.

Di lain tempat, raksasa baik hati di desa itu juga sedang sakit gigi (gak usah heran kenapa ada raksasa, ini segmen Dongeng!). Si nenek pun mendatangi raksasa itu untuk melihat giginya, mencari tahu apa penyebab sakit gigi supaya bisa menyembuhkan si raksasa sekaligus anak dari bapak tadi. Berkat tubuh raksasa yang sangat besar, Nenek bisa masuk ke mulutnya untuk memeriksa gigi lebih dekat.

Nah, dari sinilah ke-awikwok-an cerita dimulai. Pertama, masuk ke mulut raksasa yang sedang sakit gigi? THAT IS DISGUSTANG! Kedua, penulis menjelaskan secara detail (terlalu detail malahan) bagaimana rupa makhluk yang membuat gigi si raksasa sakit. Namanya Kadio, makhluk seperti kelabang, berkaki tajam dan berbulu lebat, matanya merah menonjol, dan capitnya tajam.

THAT IS SCARY AS FUKK!

I love Giants, but Giants with sakit gigi? Heel nah!

Bukan cuma itu! Penulis juga menjelaskan kalau makhluk kadio itu tidak berjumlah satu, tidak cuma dua, tidak tiga, tapi berjumlah banyak, dan berkerumun di gigi raksasa yang kotor, menggerogoti gigi itu hingga berlubang. STAAAPPP!!! Itu menjijikkan, bikin geli, bikin merinding, bikin ngilu, bikin trypophobia, atau apa pun sebuatannya.

Nightmare fuel!

Konten dongeng wadidaw itu dilengkapi ilustrasi yang boleh dibilang terlalu realistik sampai malah berujung seram. Jujurlly, aku di usia 8 tahun akan langsung gosok gigi 10 kali sehari setelah membaca cerpen ini. Dan semua yang aku sebutkan di atas tentang cerpen Kadio si Penghuni Gigi bukanlah hal negatif.

Malahan, kontent “disturbing” yang disuguhkan cerpen ini bisa jadi semakin membuat anak-anak menangkap amanat yang ingin disampaikan, yaitu ‘Jagalah kebersihan gigi’. Maksudku ... beberapa anak memang harus ditakut-takutin dulu kan supaya mau menurut. Cerpen inilah salah satu contoh parenting tipe disturbing dalam bentuk tulisan.

C. Harapan-harapan

Sebelumnya harus aku wanti-wanti kalau Bobo edisi Cerpen dan Dongeng ini PERFEKTO. Aku suka segala hal tentang buku ini, aku bahkan membawanya ke mana-mana selama hampir seminggu, hanya untuk memamerkannya kepada orang-orang. Bahkan ... aku mungkin tidak rela mendonasikannya ke Perpustakaan Sekolah, hehe. THIS IS MINE!!!

Tapi eh tetapi, bukan berarti aku tidak punya catatan tentang hal-hal yang aku harapkan dari majalah edisi ini supaya bisa lebih barokah lagi. Ayolah, seorang Impy tanpa keluhan? Apa jadinya dunia ini! Maka dari itu, berikut harapan-harapanku kepada Bobo Edisi Dongeng dan Cerpen supaya bisa lebih barokah (Di mataku doang sih, h3h3 ....)

Seandainya lebih banyak Dongeng.

Buku ini memiliki 50 cerita, tapi pembagian antara Cerpen dan Dongeng tidak seimbang, alias tidak 25-25 melainkan 27-23 dengan lebih banyak Cerpen daripada Dongeng. Ya, memang cuma selisih sedikit, tapi sebagai pencinta dongeng rasaya aku merasa kemalingan.

Beberapa dongeng pun tidak memiliki vibe dongeng dalam ceritanya, hanya seperti cerpen yang tokoh-tokohnya bukan manusia. Secara teknis itu memang tergolong cerpen, lebih tepatnya fabel, tapi kayak ... cuma tempelan aja gitu loooh.

“Tadi katanye buat bocil kagak usah muluk-muluk!!!”

IYA! IYA! AKU PAHAM! Maksudku, kalau ada dongeng semodel Une dan Hembo (yang mana menjadi salah satu dongeng favoritku di sini) harusnya bisa lebih banyak lagi dongeng-dogeng dengan tema serupa. Kalaupun mengambil tema fabel, minimal kayak si kancil yang konfliknya absurd, tapi juga sesuai dengan kepribadian hewan-hewan yang diangkat.

Contoh Kelinci dan Kura-kura lomba lari. Itu seharusnya mustahil karena semua tahu kelinci pasti menang, sebab kelinci terkenal cepat sementara kura-kura terkenal lamban. Nah, konfliknya adalah Kelinci cepat tapi menyepelekan, sedangkan kura-kura lambat tapi pantang menyerah sehingga akhirnya kura-kura yang memenangkan lomba lari itu.

Kisah semodel itu yang kuharapkan dari fabel, selain cerita konkret, ada juga sifat-sifat yang katakanlah “hewani” dari para tokohnya, karena mereka memang hewan. Kalau fabel di majalah Bobo ini, para hewannya terlalu dimanusiakan gitu.

Semoga kalian mengerti maksudku, kalau tidak aku akan terlihat bodoh. Secantik Dewi Yunani, tapi bodoh.

ANYWAYS!!!

Seandainya Penulis Lebih Beragam

Coba tebak berapa banyak penulis yang terlibat dalam pengumpulan 50 Cerpen dan Dongeng dalam buku ini. Benar ... mereka berjumlah enam orang. ENAM ORANG DARI 50 CERITA! O-ho-ho, itu belum bagian terbaiknya. Kontribusi dari masing-masing penulis sangat jauh dari kata seimbang.

Kalau kuhitung, Vanda Parengkuan berkontribusi paling banyak dengan jumlah 21 Cerita, diikuti Lena. D berjumlah 14, Widya Suwarna 10, Anita Ratnayati 2, dan paling sedikit CIS serta V. Wisniwardhana yang masing-masing menyumbang 1 cerita.

Are you telling me ... selama 50 tahun penerbangan, Majalah Bobo hanya mempunyai enam penulis Cerpen dan Dongeng? Itu tidak kedengaran benar sama sekali. Udah begitu Majalah Bobo jelas-jelas pilih kasih dengan menjadikan Vanda Parengkuan dan Lena. D sebagai kontributor cerita terbanyak.

Memang, Majalah Bobo bilang kalau ini adalah kumpulan Cerpen dan Dongeng TERBAIK yang mereka punya, tapi affah iyah dari puluhan tahun “Cerita terbaik” kalian cuma berasal dari penulis yang itu-itu lagi? Rasanya sejak zaman dulu orang awam bisa menyumbang cerpen melalui tahap seleksi, jadi seharusnya penulis Bobo lebih beragam, dong.

Pantas saja dari awal aku merasa cerita-cerita di majalah ini punya banyak kemiripan satu sama lain. Dari gaya bahasa dan tema yang diangkat lebih tepatnya. Mungkin karena penulisnya sebagian besar sama. Aku sih berharapnya penulis yang berkontribusi dalam buku ini lebih banyak, jadi gaya cerita yang diangkat juga lebih beragam.

D. Penutup

Seperti yang kalian lihat, tidak banyak hal yang kubicarakan dalam review kali ini, sebab aku suka-sekali-banget sama bukunya. Dari segi sampul, sampai isi, sampai ilustrasi, sampai jenis kertas, sampai vibe keseluruhan. Keluhan-keluhan pun datangnya lebih dari selera daripada sisi objektif.

Aku juga senang pada akhirnya bisa merasakan ikut PO tanpa menjadi Not Like Other Gorl. Buku ini jelas worth the hype, dan aku sangat sedih tidak membeli Majalah Bobo Edisi 50 tahun kemarin. Barangkali aku aka membelinya setelah ini, hype-nya juga belum terlalu luntur yakan.

Nah, segitu dulu pembahasan Majalah Bobo Edisi Cerpen dan Dongeng. Untuk selanjutnya, marilah kita berharap ada review yang benar-benar barokah. Aku membaca cukup banyak buku selama beberapa minggu terakhir, tapi tidak ada yang cukup menarik untuk dibahas.

(Menjerit dalam keimutan)

Sampai jumpa pada kesempatan lain ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman