Fantasteen : Beautiful Stranger


Judul : Fantasteen (Beautiful Stranger)

Penulis : Fida Aifiya

Penerbit : Mizan Publishing

Tahun Terbit : 2016

ISBN : 9786024201265

Tebal : 184 Halaman

Blurb :

Thariq berdiri, lalu menyimpan tangannya di pinggang. Selama beberapa detik, dia menatap Khanza dengan kelopak mata menyempit. Khanza tidak tahu apa yang ada di kepala Thariq ketika menatapnya begitu. Khanza membalas tatapan curiga Thariq dengan sorot mata penuh penentangan.

Tiga detik. Thariq masih menancapkan mata curiga kepada Khanza. Empat detik. Lima detik, Thariq tidak berkedip. Enam detik, matanya justru kian melebar. Tujuh detik, Khanza mulai merasakan keanehan. Delapan detik, angin hangat menyapu tengkuk Khanza. Sembilan detik, daun gugur beterbangan di balik jendela. Sepuluh detik, terdengar gemerencing kunci dan langkah berat petugas kebersihan dari koridor. Thariq berkedip seolah Khanza baru saja meniupkan debu menembus lensa kacamatanya.

Thariq adalah teman yang aneh. Tiba-tiba dia muncul dan tanpa diminta menawarkan keseruan. Hanya lima nomor kontak di HP Thariq: 1. Rumah, 2. Pemadam kebakaran, 3. Ambulans, 4. Polisi lokal, 5. Khanza. Ada lebih dari tujuh miliar jumlah penduduk Bumi, tapi mengapa di sana cuma ada nama Khanza?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Menjilat Ludah Tetangga (Iyuuh)

Ah, Fantasteen ... se-fruit series yang seharusnya aku cintai sepenuh hati, mengingat unsur-unsur Fantasi yang diusungnya. Namun, untuk beberapa hal malah menjadi ladang julid haqiqi bagi lapak Review Impy. Mungkin sekarang ini kalian tengah mengernyit sambil berucap, “Lhooo, katanya Impy udeh kagak mau baca Fantasteen lagi!”

Sesungguhnya, Pembaca Budiman ... hati manusia ibarat daging Krabby Patty yang mudah dibolak-balik dengan spatula. Dalam kasus Impy, daging Krabby Patty itu terbolak-balik sebanyak ribuan kali. Bahkan Neptunus sendiri menyerah dalam menangani kekonsistenan seorang Impy yang lebih tipis dari sehelai rambut dibelah seratus.

Aku tertarik membaca seri Fantasteen yang satu ini karena sampulnya (DUH!). Kalian lihat apa yang ada di sampul itu? Benar, Monster Daddy! Dan semua makhluk hidup tahu Impy menyukai hal itu. Apa lagi wujud monster di sampul terlihat seperti gabungan antara Dark Elf dan Laughing Jack, berpose keren di puncak menara dengan latar belakang bulan purnama.

YES PLEASE!

Barangkali novel ini bisa menjadi referensiku, lantaran aku juga sedang menggarap novel yang ada tokoh Monster Daddy-nya, dan sudah 5 TAHUN KAGAK TAMAT. Tapi marilah jangan membahas novel garapanku lebih jauh.

Perlu aku ingatkan novel ini terbitan 2016, jadi ... I am a bit late to the party. Namun, sekali lagi apakah itu sesuatu yang baru bagi Review Impy? Kalian tunggu saja sampai aku mereview dan menjulid novel yang terbit 500 tahun sebelum masehi!

Tanpa berlama-lama, marilah kita telusuri novel Fantasteen : Beautiful Stranger. Monster seperti apa yang akan kita temukan dalam novel ini? Apakah akan ada romantisasi sikopet? Apakah akan ada Monster Daddy ala-ala OC Keripikpasta yang bisa aku kecengin.

Let’s Gooo!!!

Spoiler : Tidak ada Monster Daddy 😔

B. Plot

Novel ini mungkin mempunyai plot paling sederhana dari seluruh novel bergenre Fantasi/Sci-Fi di dunia. Tidak ada meteor jatuh ke bumi, tidak ada artefak magis yang dicuri, tidak ada pembalasan dendam dari protagonis tersakyty, tidak ada kutukan dengan waktu terbatas, bahkan tidak ada Raja Mahadahsyat ribuan tahun berkekuatan Dewa.

Plot novel ini cuma menceritakan Khanza, seorang anak SMA (dengan segala permasalahan hidup) yang merasa bahwa salah satu teman sekolahnya bersifat dan bersikap sangat aneh. Teman itu bernama Thariq, dia genius, tapi juga tidak mengerti banyak hal, terutama tentang manusia. Dia bahkan sampai melakukan penelitian untuk mengetahui cara kerja perasaan manusia.

Sikap dan sifat Thariq yang begitu aneh membuat Khanza bertanya-tanya, apakah sebenarnya cowok itu bukan manusia? Apakah dia berasal dari planet lain? Apakah dia Alien?

And guess what ... HE IS!

Ternyata eh ternyata, Thariq berasal dari planet lain (lupak namanya, dah!), dan wujudnya pun bukan makhluk berjasad, melainkan semacam entitas cahaya. Tubuh yang Thariq gunakan sekarang sebagai manusia cuma ibarat cangkang yang bisa ditinggal sewaktu-waktu. Oh, 'cangkang' yang dimaksud novel ini adalah secara harfiah MAYAT manusia! 

Kenapa oh mengapa Thariq mendatangi bumi? Jawabannya adalah liburan. Yes ... se-simple itu. Thariq tidak punya tujuan khusus datang ke Bumi, selain liburan dan membuat ensiklopedia tentang manusia. Bahkan kalau dikatakan dia jatuh cinta pada Khanza, tidak benar juga. Sebab, Thariq legowo aja pas disuruh pulang ke planetnya, tanpa berpikir dua kali tentang Khanza.

Entah konflik yang terlampau simple itu termasuk kekurangan atau kelebihan, tapi aku merasa novel ini jadi Antiklimaks di banyak bagian karena hal tersebut. Segala misteri yang dibangun, terjawab dengan mudah. Segala konflik yang berpotensi jadi uwow, berujung selesai gitu aja.

Selain masalah dalam Antiklimaks itu, aku juga ingin membahas betapa tidak nyambungnya komponen novel ini antara Sampul, Blurb, dan Isi novel secara keseluruhan. Pertama, sampul novelnya menunjukkan sosok monster yang berpose keren berlatar belakang bulan purnama. Nyatanya, sosok itu tidak pernah muncul barang sepersepuluh mili detik.

Alih-alih, kita diceritakan tentang Khanza yang mempunyai teman cowow alias crush alias frienemies bernama Thariq yang ternyata seorang Alien. ALIEN??? So we got ZERO MONSTER DADDY?! Itu jelas kekecewaan yang subjektif, karena I WANT MY MONSTER DADDY DI SAMPUL SEKARANG JUGA!

Aku tidak akan kiciwa kalau penulis menceritakan wujud asli Thariq sebagai Alien adalah gambaran monster di sampul. Walaupun tidak menjadi pembahasan utama, kita jadi tahu kolerasi antara sampul dengan isi, tapi TIDAK. Wujud asli Alien menurut buku ini adalah entitas cahaya. CAHAYA? Katakan di mana korelasinya dengan sampul?

Aku curiga sampul novel ini ketuker sama project novel Fantasteen lain yang memang mengangkat tema monster. Mengingat novel Fantasteen sangat banyak jumlahnya, barangkali Tim Penerbit jadi mabok. Bisa saja di luar sana ada novel Fantasteen bertema monster haus darah yang sampulnya UFO bercahaya (bruuh).

Kedua, judul “Beautiful Stranger” juga tidak begitu nyambung dalam konteks cerita. Arti Stranger tuh apa, sih? Orang Asing, ‘kan? Orang Asing dalam artian orang yang tidak, atau belum kita kenal sebelumnya. Namun, penulis mengartikan Stranger di sini sebagai Orang Asing alias Orang Luar Angkasa alias Alien.

Aku tidak yakin itu penafsiran yang benar .... Bisa jadi memang benar, cuma aku nya aja yang sensi, h3h3! Atau (lagi), barangkali Penulis mengartikan Stranger di sini sebagai Orang Aneh (Strange = Aneh). Sebab Khanza sering kali mengatakan kalau Thariq ini orang bersifat dan sikap paling aneh yang pernah dia kenal.

Padahal steatment itu juga kurang benar. Kenyataannya sifat dan sikap Thariq tidak aneh-aneh banget, selain dia selalu kebingungan tentang perasaan manusia. Dia bahkan populer, genius, bisa dibilang kesayangan guru. Um ... bukankah itu kebalikan dari aneh? Aku bisa jadi salah, sih (0,01% kemungkinan salah).

Ketiga, Blurb yang ClickBait! Coba kalian baca Blurb di atas. Dari situ, jelas menunjukkan kalau Thariq adalah orang asing super aneh yang cuma punya lima kontak dalam HP-nya. Lantas, apa harapan pembaca dari janji-janji tersebut? Tentu saja, jawaban dari kenapa Thariq cuma punya lima kontak di HP? Kenapa dia bisa seaneh itu? Bagaimana Khanza bisa berurusan dengan orang seperti dia, dan seperti apa konklusinya.

Ternyata eh ternyata, segala hal dalam blurb hanyalah cuplikan adegan sepele di Bab awal. Alasan kenapa Thariq cuma punya lima nomor HP, termasuk nomor Khanza juga sangat Antiklimaks, yaitu Thariq cuma mau menyimpan nomor-nomor penting. Khusus Khanza, mungkin karena Thariq menyukainya?

Tapi sekali lagi, Thariq tidak digambarkan cukup menyukai Khanza atau menganggap Khanza istimewa sampai menyimpan nomornya. Untuk selanjutnya lima nomor 'penting' itu juga tidak punya andil apa-apa dalam cerita, selain untuk chattingan menye-menye UwU ala anak esema kasmaran (khusus nomor Khanza).

Novel ini juga rada bermasalah dalam menceritakan konteks, khususnya latar belakang para tokoh. Mungkin aku akan jelaskan lebih banyak di segmen Gaya Bahasa, tapi aku akan memberi satu contoh. Di Blurb, kita sudah diwanti-wanti akan bertemu tokoh bernama Khanza dan Thariq.

Namun, Bab prolog malah fokus sama cowow bernama Ken. Aku pun bertanyea-tanyea, Who the heel is Ken? Walaupun, pada akhirnya kita tahu kalau Ken itu sahabat sejati bangetnya Khanza, tapi menurutku penulis kurang berhasil memperkenalkan hubungan mereka di awal maupun sepanjang cerita, tidak ada satu pun tanda kalau Khanza punya sahabat bernama Ken, dan kita harus peduli padanya.

Jadi saat tiba-tiba Khanza nyebur empang buat menyelamatkan orang tenggelam, dan ternyata orang tenggelam itu adalah Ken, alias sahabat sejati banget Khanza, aku tidak bisa ikut merana bersama Khanza. Lagi-lagi, kayak denger berita aja ... aku cukup bersimpati, tapi cuma sebatas itu.

Bayangkan ada orang yang cerita ke kalian ....

Heyy, aku ada cerita tentang dua sejoli namanya Khanza dan Thariq. Mereka super UwU dan cocok buanget, Khanza yang pemberani dan not like other gorl, sementara Thariq gantenk, genius, dan Alien. Mereka saling suka, tapi tidak bisa saling memiliki karena beda planet (sad emoji moment).

Kamu pasti bakal penasaran, apakah nantinya mereka bisa bersama? Bisa mengikhlaskan? Bisa saling memiliki? Atau malah saling melupakan? Kamu pasti bakal penasaran, soalnya kisah mereka tuh aduhai banget!!!

....

....

....

Oh iya, Khanza punya sahabat sejati banget namanya Ken.

Jangan salah, aku suka dinamika tokoh-tokoh di sini. Interaksi mereka oke, dialog-dialog mereka masuk akal. Namun, aku berharap penulis memberi kita konteks yang lebih banyak, sebelum benar-benar membuat kita peduli akan sesuatu.

Contoh konteks samar yang bagus dalam novel ini adalah masalah orang tua Khanza, aku sangat suka perkenalan mereka, juga konflik mereka yang diceritakan perlahan, sebelum sampai di konflik utama. Walaupun, ending masalah itu sendiri rada Antiklimaks seperti konflik-konflik lain dalam novel ini.

To be fair ... ketebalan novel ini sangat terbatas sehingga konflik sebagus apa pun pasti berakhir terburu-buru, lebih parah lagi Antiklimaks. Aku yakin, seandainya novel ini diberi lebih banyak waktu, lebih banyak lembar untuk perkembangan segala aspek, hasilnya pasti jauh lebih oke. Y'know, bahkan tanpa perlu mengubah konflik utama super sederhana.

Terkadang pembaca tidak butuh konflik super duper keren nan rumit bikin otak jungkir balik. Konflik sedernaha dengan eksekusi aduhai juga mampu menciptakan novel masterpiece. Novel ini sudah punya komponen-komponen untuk jadi masterpiece. Sayang beribu sayang, jumlah halaman yang bahkan tidak sampai 200 membuat segala konfliknya gagal bersinar.

Kalau mau jujur ... (bisik-bisik) Novel ini lebih berhasil mengangkat tema Sci-Fi planet-planetan daripada TTL. Sssttt! Jangan bilang-bilang ke belio! Biar aku sendiri yang bilang, h3h3 ....

Hal-hal kecil yang Wadidaw lainnya dalam novel ini ....

Ken diceritakan sebagai anak merana yang seluruh keluarganya cuek sampai-sampai dia harus tinggal bersama kakeknya yang LUMPUH dan TIDAK PEDULI kepada cucunya. Aku kapital, karena itu adalah kata kunci. Saat Ken masuk rumah sakit pasca kecebur empang, Khanza maksa banget membuat pembaca sedih dengan nasib Ken yang punya kakek tapi tidak pedulian, tidak pernah jenguk cucunya.

HEY!!! Si Kakek LUMPUH, loooh!!! Barangkali bukannya beliau tidak peduli, atau tidak mau jenguk, melainkan emang dia KAGAK BISA!!! Aku tidak tahu apa arti "lumpuh" yang dimaksud penulis, tapi apa pun itu si kakek tidak seharusnya dinistakan! Dia mungkin malah orang yang paling butuh perhatian dari orang lain.

Jadi Khanza dan Ken seharusnya bisa stop menjadi Little Beech, dan mulai hormat kepada orang tua! Aku tidak percaya penulis membuat kalimat-kalimat menyalahkan begitu, di saat dia tahu persis bagaimana kondisi si Kakek yang dia buat LUMPUH! Dan Khanza digambarkan bersimpati tinggi? GET OUT!

Di satu kesempatan Khanza dan Thariq saling debat kenapa HP Thariq bisa ada dalam tas Ken. Lantas terjadilag percakapan seperti ini ....

(Adegan di bawah 90,01% persis di cerita)

"Ken mesti curry HP guweh, tuh," kata Thariq.

"Gak, layau ... Ken kan orangnya unyu. Gak mungkin dia begicu!" bantah Khanza.

"Loh, tapi dia mengambil barang guweh tanpa izin!!!!" Thariq sewot.

"Asal lo tau, yach! Mengambil barang orang tanpa izin itu belum tentu mencurry!"

Well, great news for you, Khanza. IT IS!!! WHAT ELSE COULD IT BE???

Satu lagi ... ada momen di mana Khanza harus membongkar identitas Thariq pada beberapa orang agar dia tidak kena masalah, karena membawa obat aneh. Tentu saja orang-orang ini tidak percaya. Kalian mau tahu bagaimana cara Khanza meyakinkan mereka?

Dia melempar banyak barang ke arah Thariq, untuk kemudian Thariq tangkap semua barnag itu dengan kecepatan super-sonic. Dan selanjutnya semua orang pun percaya. Itu akan jadi adegan yang keren kalau saja kagaK TIBA-TIBA NONGOL DI SITU!!! Gak pernah ada yang tahu kalau Thariq punya kekuatan Kung Fu Hustle begitu, bahkan Khanza!

Kenapa ujug-ujug Khanza lempar barang, dan kenapa Thariq bisa nangkep? Apa itu cuma tebakan beruntung? Apakah Khanza dan Thariq sudah dapat wejangan dari penulis? Kok ya kagak di spill dulu ke pembaca? Apa lagi rahasia yang mereka sembunyikan dari pembaca?

Pliss, satu lagi!!! Di akhir ... saat Thariq harus pulang ke planetnya, dia bilang ke Khanza kalau nanti jasad manusia yang dia pakai akan dihancurkan sehingga tidak meninggalkan jejak apa pun di Bumi. Well, kalian pasti berpikir seperti aku. Manajemen planet Thariq akan melakukan sesuatu pada jasad itu, mungkin dihancurkan kremasi, mungkin pakai leser keren, intinya teknologi canggih.

Nyatanya, jasad manusia Thariq dilempar dari atas tower sampai hancur berkeping-keping. Literally DIHANCURKAN! Itu sangat narsistik kalau boleh kubilang, sebab dia membuat heboh satu kota. Jadi alih-alih "tidak meninggalkan jejak" Thariq malah meninggalkan trauma di kepala banyak orang. CONGRATULATION MY DUDE!

Baiklah cukup! Aku kelar membahas plot!

C. Penokohan

Khanza. Hubunganku bersama Khanza selama membaca novel ini bisa dibilang Love-Hate, sebab Khanza punya beberapa indikasi sebagai Not Like Other Gorl, merasa dirinya paling beda dan quirky. Dalam beberapa kesempatan dia juga bertingkah seperti tokoh Ann dalam novel Geez dan Ann, yang merasa cupu-merana-kesepian padahal punya TUJUH TEMEN AKRAB!!!

Well, teman Khanza tidak sebanyak Ann, tapi dia punya Ken. Saat berita Khanza nyebur empang buat menyelamatkan Ken viral pun, ada beberapa teman sekolah yang merasa bersyukur Khanza selamat, memujinya sebagai pahlawan, bahkan sampai memeluknya. Memang tidak disebut teman secara harfiah dalam narasi, tapi untuk membuat seseorang peduli sampai memberi pelukan itu berarti mereka sudah sama-sama nyaman.

Terus, si Khanza ini teh katanya cerdas, tapi dia butuh waktu sangat luamaaa untuk sadar kalau Thariq bukan manusia, padahal tanda-tandanya udah diteblokin ke muka dia! Oke, Khanza mungkin tidak akan menebak Thariq sebagai Alien sejak awal karena itu mustahil dalam konteks realistis di dunia novel ini.

Namun, Khanza juga tidak menaruh curiga atau waspada sedikit pun saat Thariq mengajaknya ke mana-mana, bahkan ke rumahnya, padahal tingkah Thariq seringkali mengadi-ngadi, dan Khanza menyadari sifat mengadi-ngadi itu!!!

Bahkan saat Ken memperingatkan Khanza kalau Thariq mungkin bukan orang baik, sebab dia rada aneh dan mengadi-ngadi. Si Khanza malah sewot!!!

Khanza be like : "Eh, Elo gak usah sok tau deh! Dia itu gantenk, cerdas, dan baiq hati. Terus kenapa kalaw dia punya obat-obatan terlarang dan bertingkah aneh. Gak ngaruh layau!"

Tapi disamping semua itu, aku suka ke-sassy-an Khanza di beberapa adegan. Cara Khanza menghadapi problem di rumahnya pun masuk akal. Aku percaya itulah reaksi anak SMA saat menghadapi masalah-masalah serupa. Tidak terlalu drama, tapi tidak juga terlalu cuek. Khanza juga menunjukkan kalau dirinya Girl Boss yang mandiri.

Hanya saja, aku akan lebih bahagia kalau Khanza tidak terang-terangan membuat quotes. "I don't need a man, I need donuts and six million dollars".

Darling ... first of all, what do you know about man or six million dollars? You are a CHILD! Kedua ... kalimat itu jelas self insert dari penulis, sebab belio juga menulis quotes Girl Boss itu di blurb.

Thariq. Jujur saja, kupikir awalnya Thariq dan Khanza tidak saling kenal. Sebab itulah judul bukunya Beautiful STRANGER! Lantas semakin lama hubungan mereka terjalin, saling mengenal sambil membangun kenangan. Saat hubungan terjalin, terkuaklah bahwa Thariq bukan manusia, melainkan Monster Daddy. Itu konflik yang kuharapkan!

Ternyata eh ternyata mereka malah sudah cukup akrab (sudah kenal selama enam bulan kalau tidak salah) sampai Khanza mau mengerjakan tugas-tugas Thariq. Penokohan Thariq juga lumayan berantakan. Dikit-dikit dia digambarkan aneh dan misterius, tapi detik berikutnya dibilang keren dan populer.

Udah dibilang keren dan populer, tapi dibikin sikapnya kecanduan HP, bahkan ke mana-mana dengan kepala tertunduk melihat HP. Mohon maap nih ... tapi bukannya itu lebih ke ciri-ciri seorang pecundang! Alasan kenapa Thariq kecanduan HP juga lagi-lagi sangat Antiklimaks.

Aku pikir dia selalu melihat HP, karena itu alat komunikasi dengan planetnya, perantara sebuah misi penting, atau mungkin sesederhana alat penerjemah bahasa manusia. Itu bakal sangat keren dan masuk akal ke cerita, bukan! I'm gonna give this book fakkin 5 stars!

But noooo ... Thariq selalu melihat HP karena tidak mau ciwi-ciwi menyapanya, sebab dia sangat gantenk, tapi dia tidak suka jadi pusat perhatian. Jadi dia membuat image, "Aku hanya bicara kalau aku ingin bicara. Jangan ajak aku bicara kalaw aku lagi tidak ingin bicara ...."

GO BACK TO YOUR PLANET, LOSER!

Tapi di sisi lain juga aku suka satu sisi konsistenn dalam penokohan Thariq yang memang tidak mengerti perasaan manusia. Dia tertarik pada Khanza, tapi itu jelas bukan cinta. Dia tidak merasakan simpati atau empati saat melakukan hal-hal buruk pada Ken. Pertanyaan-pertanyaannya tentang sifat manusia juga masuk akal, tidak terlalu kentara dibuat-buat.

Ken. Cowok 5L (Lemah, Lesu, Loyo, Lunglai, Laper) sahabat Khanza yang sangat depresong sampai-sampai semua orang yakin 100% kalau dia bvnvh dyry saat nyebur ke sungai. Maksudku ... kenapa semua orang di sini sudah pasti-yakin-ho'oh banget kalau Ken nyemplung empang gara-gara bvnvh dyry?

Padahal jelas-jelas Ken bilang bahwa dia tidak ingat apa pun. Dia bisa saja terpeleset, atau nyungsep, atau dijorogin ODGJ (Thariq). Tapi semua orang langsung yakin kalau itu percobaan bvnvh dyry cuma karena Ken terkenal emo dan depresi. Ini sangat aneh, dan membuatku kesal sama semua tokoh.

Sekali lagi tentang Antiklimaks pada novel ini. Di awal cerita, ada konflik HP Thariq hilang sehingga dia jadi kebakaran jenggot. Ternyata eh ternyata, Khanza menemukan HP itu di tas Ken ketika menyelamatkannya dari empang. Tentu saja Khanza dan Pembaca bertanyea-tanyea kenapa HP Thariq bisa ada di Ken.

Aku pun sebagai Pembaca Budiman berpikir. Apakah diam-diam Ken juga berasal dari planet lain? Dan dia berusaha melakukan sesuatu kepada Thariq? Mungkin Ken berasal dari planet yang bermusuhan dengan planet asal Thariq. Itu juga kedengaran seperti konflik yang keren. Intinya, ada alasan berfaedah kenapa Ken mengambil HP Thariq, yakan?

KAGAK!!!

Jadi Ken mengambil HP Thariq karena dia memang punya hasrat untuk isengin Thariq sejak awal kenal, tapi tidak berani melakukannya. Sampai kemudian Thariq memberikan Pil Astronot pada Ken sehingga dia jadi mampu melakukan hasrat terdalamnya, yaitu isengin Thariq, terus nyeburin diri ke empang.

HAH???? Jujurlly, saat alasan pengambilan HP itu terkuak, di kepalaku langsung terdengar sound effect di bawah ini ....

Ken itu sebenarnya berpotensi jadi tokoh favoritku, lantaran sifatnya yang soft dan vibe yang kiyuut. Interaksinya dengan Khanza juga mampu membuatku percaya kalau mereka cuma sekadar sahabat tanpa ada perasaan lebih satu sama lain. I respecc that.

Orang Tua Khanza. Aku paling suka cara penulis menggambarkan dinamika mereka. Cara mereka menyembunyikan masalah di depan Khanza, alasan kenapa hubungan mereka tidak berhasil, tanggapan Ibu Khanza pada masalahnya, kasih sayang canggung yang ditunjukkan si bapake pada Khanza. Porsi mereka di sini juga pas.

Barangkali penyelesaian masalah Antiklimaks saja yang bikin aku kurang sreg. Juga kenapa tiba-tiba Si Mamake bisa langsung jadi bestie dengan Khanza setelah Bapake pergi dari rumah. Padahal selama ini si Mamake digambarkan sebagai Bussiness Woman yang sibuk, tegas, canggung, tidak pernah puas, dan rada judes. Seandainya hubungan ibu dan anak seperti itu diperdalam dan dilakukan perlahan, pasti jadi oke banget.

D. Dialog

Aku tidak menulis catatan apa pun yang mengarah pada dialog (selain beberapa tanggapan wadidaw yang sudah kutulis di segmen sebelumnya), sebab kelebihan novel Fantasteen kali ini memang dialognya. Tidak cringe, tidak canggung, tidak Out of Character, tidak juga terasa ping-pong (Timbal balik bicara tanpa makna).

Satu kekurangan dialog novel ini mungkin penjelasan dialog yang sering tertukar antara Sarkasme dan Sinisme. Seperti yang kita semua duga, sebagai Girl Boss Khanza sering bersikap judes plus gengsi-gengsi gitu ke Thariq sehingga dialog-dialog julid keluar dari mulutnya.

Nah, penulis sering menyebutkan dialog-dialog itu sebagai Sarkasme, padahal lebih tepat kalau menyebutnya Sinisme.

E. Gaya Bahasa

Inilah segmen yang kutunggu-tunggu pembuatannya dari tadi! Sebab novel ini punya cukup banyak masalah dalam Gaya Bahasa dan World Building. Aku bahkan bingung memulainya dari mana! Marilah pertama-tama kita bicarakan pasal sudut pandang.

Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga serba tahu. Kelebihan sudut pandang ini adalah penulis bebas menunjukan emosi serta tanggapan masing-masing tokoh pada suatu adegan/kejadian. Namun oh nenamun, novel ini rada bermasalah dalam pergantian fokus antar tokoh.

Misalnya di halaman 20, ada adegan Khanza yang lompat ke empang untuk menyelamatkan orang tenggelam. Sampai detik itu, kita belum tahu bahwa yang tenggelam adalah Ken. Eh, tapi fokus cerita malah langsung menyorot Ken, padahal dari fokus Khanza saja belum selesai.

"Ransel ungu bunga-bunganya menghantam trotoar. Khanza pun terjun ke bawah. Ke sungai itu. Di bawah air, mata Ken hampir terpejam. Udara di hidungnya sudah keluar semua ...."

Lihat betapa kasar transisi fokus cerita dari Khanza ke Ken? Akan lebih baik kalau penulis terus fokus dulu pada Khanza, sebab dialah yang tengah melakukan aksi saat itu. Misalnya begini ....

"Khanza pun terjun ke bawah. Ke sungai itu. Di dalam air, Khanza berusaha menarik tangan Ken yang lebih terlihat seperti boneka kain. Kakinya menendang-nendang berusaha kembali ke permukaan, membawa beban yang lebih berat. Begitu kepalanya muncul bersama kepala Ken, orang-orang pun bersorak."

Nah, itu lebih baik, 'kan? Barulah setelahnya, sudut pandang fokus Ken bisa diceritakan pasca kejadian, atau sekalian saja buat adegan fokus Ken itu di prolog. Jadi penulis bisa mengulang satu kejadian sama, tapi dari dua sudut pandang yang beda. Itu akan lebih rapi, lebih smooth.

Fokus yang tiba-tiba berganti seperti itu terulang beberapa kali, dan cukup mengganggu, sebab aku merasa urusanku dengan tokoh satu belum beres. Eh, malah fokus cerita langsung loncat ke tokoh lain.

Kedua, penulis sering memakai kiasan-kiasan aneh atau quotes-quotes yang tidak pada tempatnya. Seperti misalnya quotes Girl Boss "I don't need a man bla bla bla ...." Kemudian ada juga "Sebotol saus tomat tumpah ke pipi Khanza. Memerah." saat menjabarkan Khanza yang tersipu-sipu

HEH!!! Kalo sebotol saus tomat tumpah ke pipi lo, itu namanya bukan memerah tersipu-sipu lagi, tapi belepotan! Gimane si maksudnye!!!

Tanpa konteks yang jelas juga tiba-tiba penulis menyerukan kekhawatirannya tentang etika dan kepekaan yang menjadi masalah kronis di kalangan remaja. Ekhem ... bukan berarti itu salah, minimnya etika dan kepekaan pada remaja memang menjadi masalah umum, tapi mbok ya kasih konteks kenapa ujug-ujug dia mengangkat masalah tersebut!

Toh, sepanjang cerita tidak ada murid yang berperilaku seperti trope Bad Buoy Watpat. Anak-anak dalam novel ini tergolong berbudi baik. Jadi kalau penulis tiba-tiba membuat quotes seperti itu, rasanya kayak gak masuk, gak relate pada konflik cerita ini. Kayak cuma asal masukin aja.

Hal-hal tanpa konteks atau di luar konteks seperti itu menjadi masalah besar dalam novel ini. Memasukkan hal-hal random, dan memaksa kita peduli, padahal konteks aje kagak dikasih. Misalnya, saat Ken diduga hilang ingatan. Ujug-ujug, Khansa menunjukkan gantungan kunci Unicorn yang dia beli dua hari lalu di toko depan sekolah.

Lah, aku sebagai pembaca tentu saja bingung. Seolah aku ikut nongkrong bareng Khanza dan Ken, tapi mereka punya rahasia sendiri-sendiri dan aku tidak boleh tahu. Seakan mereka ngomong ke aku, "Loh tuh, gak di ajak!"

Terus lagi, di satu narasi kita dijejelin info bahwa Khanza sangat sering mendapatkan dorongan untuk melakukan hal nekat. Ya, dia mengalami dorongan itu sekali saat berusaha menyelamatkan Ken dari empang. Namun, narasi mengatakan seolah kita sering menyaksikan Khanza bertindak nekat begitu.

Darling, where???

Sebenarnya aku rada bingung juga penjelasanku di atas itu masuk akal atau tidak untuk kalian. Satu-satunya cara memahaminya adalah kalian juga baca novel ini, dan katakan padaku apakah kalian menemukan detail-detail kecil yang super aneh selama cerita berlangsung.

Hmm ... mungkin itu juga korelasi antara judul dan buku. Bahwa banyak sekali hal-hal yang STRANGE selama proses bacanya.

F. Penilaian

Sampul : 2 (Clickbait 😡)

Plot : 2

Penokohan : 2

Dialog : 2,5

Gaya Bahasa : 2

Total : 2 Bintang

G. Penutup

Aku heran ya sama Tim Fantasteen. Apakah Tim Fantasteen pikir karena seseorang masih berusia remaja, mereka tidak mampu meng-handle cerita yang konfliknya rumit? Atau halamannya tebal? Atau amanatnya tersirat? Atau perkembangan tokohnya tidak instan? Kenapa kalian menyepelekan remaja?

Kalian pikir bagaimana ketebalan Harry Potter? Percy Jackson? House of Secret? Bagaimana rumitnya cerita-cerita tersebut? Betapa keren perkembangan tokohnya? World Building-nya. Lihat betapa banyak penggemar cerita-cerita tersebut, dan betapa besar pengaruhnya pada masa kecil seseorang, bahkan sampai dewasa. Sampai akhirnya seri-seri tersebut melegenda.

Terlebih lagi novel-novel yang kusebut di atas awalnya tergolong Middle Grade, yang artinya lebih piyik dari anak remaja. Masa iya seri Fantasteen ogah-ogahan menebalkan sedikit saja buku-bukunya? Masa iya remaja-remaja Indonesia dikasih makanan pembuka ringan terus. Main Course nya duong sesekali!!!

Well, tapi dibandingkan Fantasteen sebelumnya, ini mungkin yang paling baik. Tokoh-tokohnya likeable, cuma yang lain-lainnya saja wadidaw. Bay de wey, aku mungkin akan mereview beberapa Fantasteen lagi dalam beberapa waktu ke depan. Murid-murid pada donasi Fantasteen, Coy!!!

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Ily

Omen #1

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)