Impy's April Reading Recap
Tema Bulan April : "Alamak Banyaknyooo"
Okay, Pembaca Budiman, plot twist macam apa ini! Setelah kemarin pesimis pada jumlah buku yang semakin sedikit dibaca setiap bulannya, siapa sangka di bulan April aku malah bisa membaca SEPULUH buku! Whaaattt? M. Night Shyamalan pun tidak bisa membuat plot twist se-ngaget ini!
Well, meskipun sebagian besar buku yang kubaca adalah serial Toko Jajanan Zenitendo yang setiap bukunya cuma berisi 180 halaman. Tapi jumlah halaman per buku tidak penting! Yang paling penting adalah target baca buku tahunan Goodreads bisa tercapai! (digampar).
Awal April benar-benar berat bagiku dan hobi membacaku. Sekolah tempatku bekerja akan mengadakan ujian kelulusan untuk kelas 12 yang juga dipantau oleh pengawas dari pusat. Persiapan untuk ujian itu sekitar seminggu, ujiannya sendiri berlangsung selama seminggu, dan selama periode itu, aku tidak sanggup menyentuh buku sekali pun.
Hubunganku dengan buku-buku di lemari sudah begitu buruk sampai harus dibantu oleh konseling pasangan antara buku dan manusia. Makanya kalau kalian lihat Reading Journal pribadiku (aku akan memamerkan ini dalam waktu dekat, h3h3), warna abu-abu mendominasi tanggal 1 sampai 10, baru kemudian warna-warni cerah kembali muncul pada tanggal 15 ke atas.
Keputusan untuk membaca serial Toko Jajanan Ajaib Zenitendo sebenarnya cukup barokah demi mengejar ketertinggalan di awal April. Mungkin kalian berpikir, "Ternyatah Impy adalah tipe pembaca yang rela melakukan apa pun bahkan hal kothor nan tidak fantasstt demi target baca tahunannya di Goodreads tercapai."
MEMANG!!! Aku bahkan akan menjadikan komposisi sampo yang kubaca saat BAB ke dalam Goodreads kalau memang ada!
Namun, daripada membicarakan apa saja yang Impy baca saat BAB, sebaiknya kita bahas buku-buku yang Impy baca di bulan April, sekaligus menentukan buku mana yang layak mendapatkan gelar Best Book of the Month! Bulan ini variasinya tidak begitu beragam, tapi bisa kalian lihat dari rating kalau buku-buku bulan April sangat memuaskan.
Mari kita mulai saja!!!
1. Seribu Wajah Ayah
Penulis : Nurun Ala
Penerbit : Gramedia Widiasara Indonesia
Tahun Terbit : 2020
Tebal : 144 halaman
Rating : 2,5 bintang
Kisah seorang anak yang baru saja ditinggal oleh sang ayah. Dalam suasana duka, anak itu menemukan album foto sang ayah dan mulai memutar kembali kenangan lama ketika sang ayah masih hidup. Masa muda, kisah cita bersama sang istri, bagaimana sang istri meninggal saat melahirkan.
Bersama itu, datanglah penyesalan sang anak atas segala keputusan yang diambilnya ketika sang ayah masih hidup. Terutama pilihannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri daripada kembali ke rumah. Akibat hal itulah, sang ayah yang sudah lama sakit-sakitan pun semakin stres sampai akhirnya meninggal. Begitulah kiranya garis besar dari novel Seribu Wajah Ayah.
Begini, Pembaca Budiman, aku harus wanti-wanti pada kalian ... hubungan Impy dengan Papa Impy tidak begitu mengesankan. Dalam artian, Papa Impy bisa saja ditelan Megalodon detik ini juga dan aku masih tidak akan peduli. Jadi, apa pun tujuan novel ini untuk membuatku sedih tidak akan relate dengan kehidupan pribadiku.
Meskipun begitu, permulaan novel ini berhasil membuatku ihiks-ihiks, terutama melihat bagaimana sang ayah begitu mencintai istrinya dan begitu tabah merelakan rasa duka cita kepada sang istri demi hidup berbahagia bersama anaknya. Dalam menjaga anaknya pun, sang ayah melakukan tugas dengan sangat baik. Berwibawa, lembut, dan penasihat yang baik.
Problem novel ini, yang membuatku memberikan bintang 2,5 padahal tadinya 4 bintang, adalah pesan pasif-agresif yang seolah menyalahkan tokoh utama (sang anak) sebagai penyebab kepergian sang ayah. Lebih parah, novel ini memakai POV2, artinya pembaca diposisikan sebagai tokoh utama sehingga guilt-tripping-nya semakin terang-terangan.
Masalahnya ... Sang ayah selalu menggembar-gemborkan kalimat "Cinta berarti merelakan", selalu mengajarkan anaknya untuk terus berjuang menggapai mimpi, bekerja keras, jangan kalah pada halang-rintang. Tapi eh tetapi, begitu sang anak ingin menerapkan nasihat tersebut, sang ayah malah playing victim!
Ayah be like : "Kejarlah mimpimu sampai ke negeri Zimbabwe, Nak. Ayah akan selalu mendukungmu apa pun yang terjadi!"
Also ayah : "Lho, lho, lho ... koq kamu malah pengen ke London meniti pendidikan dan karir, bukannya pulang ke rumah dan ngurusin ayah yang sudah tua nan renta!!! Well ... guess I'm ded now. AND IT'S ALL YOUR FAULT!"
Hal brekele tidak sampai di situ. Sang Ayah sakit-sakitan akibat usia, tapi tidak pernah mau bilang ke anaknya. Melarang siapa pun untuk memberitahu anaknya dengan alasan tidak ingin membuat khawatir. Di sisi lain ... Si Ayah mau anaknya inisiatif pulang, ingin anaknya tahu dia sakit, tanpa mau memberitahu. Giliran si anak gak ngerti, dia kesel sendiri.
Mohon maap, nih ... Ente seorang bapak, ape stereotipikal pacar anti komunikasi, tapi ngasih-ngasih kode absurd supaya dingertiin? Giliran anak lu mau meniti karir, alih-alih pulang ngurusin elu yang sakit. Karena dia kagak tau elu lagi sakit, itupun karena elu KAGAK NGASIH TAU. Elu malah kesel dan stress sendiri, sampe akhirnya meninggal.
Terus giliran elu meninggal, semua orang nyalahin anak elu, karena kagak ngurusin bapaknya yang sakit-sakitan dan malah milih karir. Padahal anak lu juga kagak tau kalo elu sakit, dan dia cuma NGIKUTIN NASEHAT ELU UNTUK MERAIH MIMPI SETINGGI MUNGKIN!
You can't make this sheet up! Aku tidak mau dan tidak terima disalahkan scara sepihak seperti ini! This book be like ... Heh bapak lo mokad gara-gara elo, tuh! GUWEH KAN KAGAK TAU!!!
2. Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Penulis : Dian Purnomo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2023
Tebal : 288 halaman
Rating : 4 bintang
Ini mungkin buku paling spesial bagiku di bulan April, sebab jarang sekali aku membaca buku bertema perjuangan, tapi bukan berlatar fantasi. Buku ini hampir terasa seperti non-fiksi, karena memakai foto-foto dokumentasi asli kejadian sebagai ilustrasi. Menggambarkan perjuangan dan solidaritas dari daerah yang begitu mencintai alamnya, yaitu Sangihe.
Buku ini didominasi banyak narasi, yang mungkin tidak disukai beberapa orang, tapi buku ini jauh dari kata membosankan. Setiap konflik, setiap deskripsi, setiap dialog, mempunyai pesona yang membuatnya autentik serta mendebarkan. Adegan demi adegan begitu menggambarkan perjuangan pantang menyerah.
Tokoh utama kita di sini merupakan seorang perempuan bernama Mirah. Dia seorang feminis, tentu saja dia mandiri, pemberani, dan lantang. Mirah bekerja sebagai wartawan, dan kasus paling menarik baginya adalah Sangihe yang tanah dan lautnya hendak dicuri oleh pertambangan ilegal. Well ... mereka menolak disebut ilegal sebab mereka memiliki surat resmi, tapi kita semua tahu apa yang mereka inginkan.
Sebagai tokoh utama dan menggunakan POV1, Mirah lebih banyak jadi pengamat, tapi dia adalah pencerita yang baik. Rasanya aku akan selalu peduli dengan apa yang Mirah ceritakan, baik hal serius maupun hal paling sepele. Akan selalu mendukungnya, serta teman-temannya, dan seluruh masyarakat Sangihe. Mereka semua pahlawan.
Buku ini jelas mengangkat isu perpolitikan, terutama betapa tamaknya korporat, betapa bobroknya hukum, serta betapa penuh manipulasinya media massa. Buku ini juga mengangkat tema feminisme, sebab dalam perjuangan masyarakat Sangihe, bukan cuma laki-laki yang berjuang, melainkan juga perempuan. Dan masing-masing gender punya tugas tersendiri sehingga membuat mereka setara. Itulah feminisme yang sesungguhnya.
Aku jelas merekomendasikan buku ini pada Pembaca Budiman sekalian. Percayalah, kalian bukan cuma mendapatkan kisah perjuangan masyarakat dalam menjaga tanah kelahiran mereka. Tapi juga romansa, persahabatan, kekeluargaan, bahkan ada sisi mistis mendebarkan juga.
3. Tentang Kita yang Tak Mengerti Makna Sia-sia
Penulis : Pradnya Paramitha
Penerbit : GetBooks
Tahun Terbit : 2021
Tebal : 510 halaman
Rating : 3 bintang
Okay, but ... Impy membaca buku setebal 500++ halaman hanya dalam kurun waktu tiga hari? That tells something!
Impy di usia remaja nan belia, hal itu mungkin biasa saja, tapi Impy di usia seperempat abad lebih? Itu adalah sebuah pencapaian. Nah, hal itu bisa berarti dua kemungkinan. Pertama, bukunya sangat brekele sampai aku harus skip-skip-skip. Kedua, bukunya buwagus buwanget sehingga membuatku susah berhenti baca. Jawabannya adalah ....
Yang kedua (JENG JENG) (TOWEWEWEW) (TRALALELO TRALALA).
Kalian pasti bertanyea-tanyea, "Memang sebagus apa novel ini samai seorang Impy bisa menyelesaikannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya?"
Well to the well, well, well. Ini adalah novel dewasa. Tokohnya sudah berusia dewasa, konflik yang diangkat dewasa, dan ada adegan hot-hot-hot yang juga sangat dewasa (cihuyyy). Seringkali novel dewasa dengan adegan dewasa membuatku ilfill. Jangan salah, aku bukannya aseksual, tapi ketika seseorang bilang cinta saat "bercinta", rasanya pengakuan cinta itu jadi tidak tulus.
Pengakuan tersebut kayak terkontaminasi oleh nafsu. Apa lagi, disaat kedua tokohnya belum terikat pernikahan. Yes, I'm old fashion like that! Sayang beribu sayang, novel ini memang menceritakan tentang hubungan teramat sangat modern antara dua tokoh sejoli. Mabuk, clubbing, bobo bareng, dan hubungan mama-papa sebelum jadi mama-papa adalah hal lumrah terjadi dalam novel ini.
Sebenarnya, hal itu bukan masalah kalau latar tempat di luar negeri. Tapi eh tetapi, budaya seperti itu di negara seperti ini, dengan pembaca seperti aku? ck-ck-ck ... rasanya aku siap bertransformasi menjadi tetangga julid nan gemar menghakimi kawala muda di sekitar sambil berkata. "Anak zaman sekarang ...."
BUT!!! Percayakah kalian kalau novel ini tidak membuat Illfeel sama sekali. Mungkin karena penokohan dewasa, dialog juga sangat mempengaruhi kemistri antar tokoh. Latar belakang masing-masing tokoh sangat masuk akal sehingga kita bisa menerima alasan kenapa mereka terkesan begitu ... modren. Hey, aku terdengar seperti nenek-nenek kalau membicarakan ini!
Satu-satunya alasan kenapa novel ini mendapatkan 3 bintang adalah betapa penulis begitu memaksakan kedua tokoh utamanya bersatu, padahal ending akan lebih masuk akal dan memuaskan kalau dibiarkan begitu saja, alias mereka berpisah di akhir. Lah ini kagak!
Si penulis sampe repot-repot bikin epilog hampir satu novela mencangkup tokoh cewek menikah dan punya anak, terus nggak lama kemudian suami si cewek meninggal sehingga tokoh utama cowok bisa lanjot PDKT ronde dua ke tokoh cewek, sampai mereka bertiga akhirnya bersatu membangun keluarga harmonis. Bruuh. Get out of here!!!
Like ... alih-alih wholesome, kesanya kayak maksa gak sih? Mungkin cuma aku yang berpikiran kalau itu terasa maksa, bodo amat!
4. Serial Toko Jajanan Ajaib Zenitendo (Buku 1 sampai 7)
Penulis : Reiko Hiroshima
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2013 - 2017
Tebal : 160 - 180 halaman
Rating : Rata-rata 4 bintang
OMG!!! Akhirnya aku kesampaian membaca serial Toko Jajanan Zenitendo meskipun cuma sampai 7 (aslinya sampai 10++). Sampul buku ini sangat memanjakan mata, penuh tapi tidak keramean, paduan warnanya juga aduhai. Memang sampul buku inilah yang membuatku tertarik baca, h3h3 ...
Kisahnya sendiri berbentuk kumpulan cerpen, coba kalian bayangkan Doraemon versi lebih serius. Menceritakan sebuah toko jajanan ajaib yang hanya bisa diakses oleh orang-orang terpilih, lantaran setiap jajanan yang ada di toko itu bisa mengabulkan keinginan. Eits, dengan syarat dan ketentuan pastinya, dan kalau kalian tidak menurut maka jajanan itu malah akan menjadi bumerang.
Meskipun berbentuk kumpulan cerita, ada satu hal yang menjadi benang merah antar kisah ini, yaitu persaingan antar toko jajanan. Benar, Zenitendo bukan satu-satunya toko jajanan ajaib di dunia ini, melainkan satu dari banyak toko-toko ajaib yang mempunyai peraturan dan sistem bayar masing-masing. Saingan utama Zenitendo saat ini adalah Tatarimedo.
Beniko selaku pemilik Zenitendo, harus kuat-kuat menghalau serangan dari Yodomi si Pemilik Tatarimedo. Parahnya, pihak Tatarimedo mendapatkan bala bantuan dari pemilik toko lain dengan iming-iming imbalan jajanan mutakhir. Konflik ini sebenarnya lebih ke selingan, karena cerita sesungguhnya ada di para pembeli jajanan tersebut.
Biasanya pembeli terpilih memakai jajanan ajaib sesuai kepribadian mereka, efek jajanan itu pun tergantung dari bagaimana mereka menyikapi aturan. Ada yang berakhir sukses, ada pula yang berahir buruk, dan yang aku masksud buruk di sini adalah KEMATIAN! Beniko dari Zenitendo menyerahkan keputusan sepenuhnya pada pembeli, jika mereka baik, jajanan akan berefek baik. Kalau mereka jahat ... jajanan itu bisa lebih jahat.
Nah, Tatarimedo di sisi lain, jajanan dari sana 90% berefek negatif, sebab itu memang yang Yodomi inginkan. Kegagalan para pembeli sehingga dia bisa mengambil jiwa mereka sebagai bayaran. Konflik antar kedua toko ini sangat seru, sebab masing-masing punya cara untuk memikat pelanggan. Also ... Yodomi jelas asik sendiri menghadapi Beniko yang memang cuma niat berjualan, tanpa bersaing.
Tadinya aku ragu pada cerpen-cerpen di buku ini yang tergolong banyak. Aku takut semakin lama, cerpennya akan semakin membosankan dengan struktur berulang. Surprisingly ... cerpennya sangat beragam, konflik yang di angkat bervariasi, dan efek jajanan pada para pembeli itu sangat kreatif. Terkadang ada lanjutan cerita dari pembeli yang sudah dewasa. Atau ada yang terobsesi mencari Zenitendo untuk balas dendam atau alasan lain.
This book is great! Dan semakin meyakinkanku bahwa Sastra Jepang juga tak kalah bervariasi dari Sastra Barat. Ada yang brekele, ada pula yang barokah. Sejatinya kita hanya harus menemukan buku yang tepat. Dan sekarang ini aku menemukan buku yang tepat.
Buku Terbaik Bulan Ini
Siapa sangka, buku-buku yang kubaca di bulan April bukan cuma banyak, tapi juga sangat memuaskan. Aku membaca genre baru dengan tema yang bermacam-macam. Aku juga membaca dan menyukai novel sastra asia, khususnya Jepang, setelah kemarin Kucing Penyelamat Buku teramat sangat awikwok sampai aku mau lompat ke rawa-rawa.
Setelah pertimbangan yang gak terlalu panjang, gelar Novel Terbaik di bulan April adalah Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut.
YEEEYY SELAMAT!!!
Selain seru, novel ini juga membuka mataku pada wilayah yang problemnya tidak terlalu dilirik oleh media massa, padahal masalah yang mereka hadapi sama besar kalau tidak lebih parah dari yang dialami kota-kota besar. Melihat wilayah-wilayah itu merasa terkhianati oleh bangsa sendiri dan menginginkan kemerdekaan membuatku begitu sedih.
Aku merekomendasikan novel Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut kepada para Pembaca Budiman untuk bisa lebih awas pada masalah-masalah di wilayah yang lebih kecil. Kita harus mengetahui bahwa masih banyak problem di luar sana yang patut kita beri perhatian lebih.
Nah, segitu dulu rekap kali ini ... semoga bulan depan buku yang kubaca bisa lebih banyak dan bervariasi daripada ini. Sampai jumpa di hari lain ^o^/
.png)
























Comments
Post a Comment