The Adventure of Pinocchio


Judul : The Adventure of Pinocchio

Penulis : Carlo Collodi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020304663

Tebal : 208 Halaman

Blurb :

Di sebuah desa di Itali, Geppetto, seorang pengukir kayu yang sudah tua, mendapatkan potongan kayu yang tampaknya cocok dijadikan boneka tali. Tapi ketika dia mulai bekerja, terjadi keajaiban –– potongan kayu itu mulai berbicara. Setelah selesai dibentuk, si boneka tali ternyata bisa berjalan, berlari, dan makan seperti anak lelaki biasa. Oleh Geppetto, boneka tali itu dinamai Pinocchio.

Pinocchio nakal sekali, dan suka berbohong. Setiap kali dia berbohong, hidungnya bertambah panjang. Dia juga gampang termakan omongan manis, sehingga sering ditipu dan nyaris celaka. Ulahnya ini sangat menyusahkan ayahnya, namun setelah mengalami berbagai kemalangan, akhirnya Pinocchio belajar dari kesalahannya dan berusaha menjadi anak baik. Dan usahanya ini berbuah manis. Dia mendapat hadiah dari Peri cantik yang selama ini mengamatinya.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Ini Bener Dongeng Anak?

Pasti ada yang salah dengan masa kecil kalian, jika sama sekali tidak tahu siapa atau apa itu Pinocchio. Setidaknya kalian pasti bisa membayangkan apa itu Pinocchio. Boneka tali dari kayu yang sangat ingin menjadi anak laki-laki sungguhan. Jujur saja, aku sendiri belum pernah menonton film Pinocchio klasik dari Disney. Aku juga belum pernah membaca dongengnya secara keseluruhan.

Pokoknya aku cuma tahu kalau Pinocchio itu boneka kayu, udeh! My oh my, ternyata Pinocchio punya novel sendiri, dan tidak seperti Sleepy Hollow yang aku pikir novel berat ternyata malah dongeng singkat rada brekele. Kisah Pinocchio yang kuanggap cerpen singkat, justru berbentuk novel setebal dan sekompleks ini. Lagi-lagi ekspektasiku tidak sesuai kenyatan, bedanya kali ini ke sisi yang baik.

Kisah boneka kayu ini jelas dipasarkan untuk anak-anak, karena banyak pelajaran bermanfaat yang bisa diambil, nasehat-nasehat berfaedah, serta gaya bahasa yang khas dongeng. Namun ... Melihat beberapa unsur "Aduhai" di novel ini membuatku ragu kalau buku ini memang untuk anak-anak.

Rasanya masuk akal juga kalau melihat anak-anak zaman dulu lebih bar-bar dan "kuat" daripada anak zaman sekarang, kalau dongengnya aja BEGINI!

Dan apakah unsur aduhai yang kubicarakan itu? Mari kita simak sama-sama.

B. Plot

Pinocchio tadinya cuma seonggok kayu milik Mastro Cherry yang memohon untuk tidak dijadikan kaki meja. Melihat itu, Mastro Cherry pun ketakutan, lantas memberikan kayu itu kepada temannya Geppetto, yang memutuskan untuk menjadikan kayu itu boneka tali yang bisa menari. Oh, interaksi Mastro Cherry dan Geppetto saat transaksi ini sangat lucu. Dikit-dikit saling tonjok, beberapa detik kemudian langsung salam-salaman dan berpelukan.

Geppetto mengharapkan anak lelaki patuh yang bisa membantunya bekerja, tapi yang dia dapatkan malah bocah super nakal yang susah diatur. Kenakalan Pinocchio ini benar-benar membuat frustrasi, tapi di sisi lain juga polos dan memang gambaran anak kecil sesungguhnya. Gampang tertipu, gampang termakan iming-iming, tukang bohong, suka mencuri, juga malas belajar.

Selain nakal, Pinocchio juga tidak pernah belajar dari kesalahan, padahal berkali-kali dia mendapatkan hukuman dari segala perilaku buruknya. Sisi baiknya, Pinocchio memiliki hati baik dan tulus. Dia tidak malu mengakui kesalahan dan selalu meminta maaf atas kesalahannya. Itu sebabnya sebanyak apa pun kesalahan, anak nakal ini pasti mendapat kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.

Ditambah lagi, Pinocchio memiliki seorang peri yang selalu mengawasinya ke mana pun. Si peri siap membantunya di saat-saat tersulit. Di saat Pinocchio terlihat sangat menyesali kesalahannya, si peri selalu memberi kesempatan baru. Sampai akhirnya, Pinocchio benar-benar menjadi anak patuh dan peri memberinya imbalan sebagai anak laki-laki sungguhan.

Sesederhana itu, penuh pembelajaran khas dongeng klasik Disney. Tapi benarkah begitu???

Sumpah, ya ... kita harus berterima kasih kepada Disney yang menulis kembali dongeng-dongeng lama sehingga maknanya lebih ramah dan polos untuk anak-anak, karena novel ini kebalikan dari dua hal itu!

WHAT IS WRONG WITH THIS BOOK!?

Ya, aku tahu si penulis ingin menyampaikan pesan bahwa "Anak nakal, pasti dapat hukuman", tapi haruskah segelap ini? Hukuman-hukuman yang diterima Pinocchio atas kenakalannya terlalu brutal! Hampir-hampir menuju sadis.

Dia pernah sampai digantung di pohon Ek. Bukan gantung yang cuma berniat untuk iseng seperti di tangan atau kaki, tapi di leher! Gantung yang memang diniatkan untuk membvnvhnya!

Hukuman brutal lain seperti; kaki dibakar, perampokan dan perundungan, disiksa secara fisik dan mental, ditenggelamkan ke laut, bahkan di satu kesempatan Pinocchio nyaris bvnvh diri saking stresnya dengan segala beban hidup.

This book need to chill! Ini dongeng ape buku penyiksaan???

Ya, ya, ya, secara teknis Pinocchio memang terbuat dari kayu alias benda mati, tapi dia kayu yang menyerupai bocah lelaki! Dia sama sekali bukan benda mati! Dia memiliki rasa sakit, rasa takut, perasaan. Aku hampir-hampir tidak kuat setiap kali Pinocchio menangis dan memohon pengampunan ketika mendapatkan "hukuman" atas perilakunya. Meskipun dia memang pantas mendapatkannya karena nakal, but he is just a child goddamit!!!

Penulis-penulis abad ke-19 memang definisi savage! Aku tidak bisa diginiin terus!

O-ho-ho ... kalian pikir hanya itu adegan-adegan brutal sepanjang buku? Tidak, Antonio. Aku belum menyebutkan Momen Ketika (MK) Pinocchio menggigit tangan kucing sampai putus, metafora perdagangan manusia (lebih buruk ... perdagangan anak), kekerasan terhadap hewan, dan banyak sekali dialog-dialog 'mengerikan' yang seharusnya tidak boleh dibaca anak-anak.

Hmm, aku jadi heran. Bagaimana bisa generasi-generasi dulu merasa 'khawatir' dengan bacaan anak-anak zaman sekarang, di saat bacaan mereka sendiri begini!!!

Well, novel ini bagus, selayaknya dongeng klasik. But dam ... This book is horrifying! And absolutely not save for children.

C. Penokohan

Pinocchio. Dia gambaran sejati anak nakal. Gampang ditipu, gampang dirayu, dan tidak pernah berpikir panjang. Belum lagi pemalas, dan tidak suka belajar. Perkembangan tokoh Pinocchio juga sederhana, dia dapat pelajaran dan akhirnya menjadi anak baik yang patuh. Tapi sekali lagi ... Does he have to get through all this?

Geppetto. Awal kemunculan, Pacc Geppetto ini digambarkan tempramen, tapi juga gampang memaafkan. Tapi semenjak ada Pinocchio dia jadi super penyabar, bahkan tidak pernah menghukum Pinocchio. Rasanya aku menemukan ketidakkonsistenan di sini. Yah, mungkin karena dia tidak pernah ketemu itu bocah lagi semenjak dia kabur.

Peri Biru. Guardian Angel-nya Pinocchio. Penyabar dan lemah lembut, tapi juga tegas. Peri Biru tidak pernah benar-benar menyelamatkan Pinocchio dari masalah, tapi dia selalu ada untuk memastikannya aman. Jadi dia melindungi anaknya tanpa memanjakan. She is a good mother.

Rubah dan Kucing. The best robber ever!

Jangkrik. Asisten Peri Biru untuk menjaga Pinocchio. Sikapnya yang blak-blakan kadang terlalu kejam, tapi ya itu yang membuatnya unik.

Masih banyak tokoh lain yang muncul sekilas, tapi berperan besar dalam mengubah sikap dan sifat Pinocchio. Seperti temannya Sumbu Lampu, Pemakan Api yang kejam, petani, hewan-hewan, dan lain-lain. Oh iya ... logika dalam cerita ini memang abstrak. Manusia bisa berkomunikasi dengan hewan, tanaman, bahkan benda-benda. Jadi rasanya kita tidak bisa membahas itu.

D. Dialog

Seperti yang kubilang sebelumnya, dialog novel ini terkadang bisa terlalu vulgar. Bukan dalam artian kata-kata kasar, tapi kalimat-kalimat yang menyeramkan. Misalnya ancaman, ejekan, atau petuah-petuah yang terkesan seram. Akan kuberi satu contoh yang membuat mulutku melotot dan mataku menganga.

"Selamat tinggal, sampai besok. Waktu kami kembali pagi nanti, kami harap kau sudah mati dan dingin, dengan mulut menganga." Dengan kata-kata ini, mereka pun pergi.

That is the creepiest sheet i've ever read in a children's book! Apa lagi saat mengetahui konteks saat itu!

Namun, di sisi lain juga banyak dialog-dialog polos dan lucu. Saat Pinocchio membantah ucapan orang-orang dewasa, atau saat Pinocchio berusaha mengambil hati orang. Cara Peri Biru meladeni kenakalan Pinocchio juga selalu kutunggu. Aku juga kepingin punya ibu seperti dia.

E. Gaya Bahasa

Kalian bisalah membayangkan bagaimana gaya bahasa dongeng. Terkesan abstrak dan sederhana, mungkin mengimbangi imajinasi anak-anak agar mudah membayangkan segala sesuatunya. Aku juga suka kalimat-kalimat pembuka di setiap bab, membuat semakin penasaran dan rasanya tidak bisa berhenti membaca.

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 4

Penokohan : 4

Dialog : 4,5

Gaya Bahasa : 4

Total : 4 Bintang

G. Penutup

Saat menyelesaikan novel ini, hal pertama yang aku pikir adalah "Ini beneran buku anak-anak?"

Aku tahu dongeng-dongeng original zaman dulu mengandung sisi gelap, terutama dongeng tentang Putri dan Pangeran, tapi aku pikir Pinocchio tidak termasuk! Maksudku ... itu cuma cerita tentang anak nakal yang kena azab, terus tobat. Haruskah semengerikan ini?

Yah, buku ini membuatku ingin nonton film-film Disney dan membersihkan kembali otak ini dari segala kengerian. Oh, mungkin aku juga bisa membersihkan otak dengan novel Geez dan Ann 2 yang juga lagi aku baca. Tunggu review-nya, ya!

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman