Belajar Menggunakan POV1 dari Mbah Rick Riordan (Review Percy Jackson and The Olympians)


Judul : Percy Jackson and The Olympians

Penulis : Rick Riordan

Tahun Terbit : 2005-2009

Tebal : Rata-rata 300-500 halaman

Iya, Guweh Ngalah!

Pembaca Budiman ... pernahkah kalian direkomendasikan sebuah novel. Kalian tahu novel itu dicintai hampir semua orang, kalian tahu novel itu mempunyai unsur-unsur yang pasti juga kalian cintai. Pokoknya kalian yakin novel itu bakal luar biasa. Tapi eh tetapi, untuk beberapa alasan (yang brekele) kalian belum juga berminat membacanya. Itulah yang terjadi padaku dengan serial Percy Jackson.

Alasan-alasan brekele tersebut mencangkup; Pemakaian sudut pandang orang pertama (POV1), Syndrome Reverse Psychology, alias semakin orang menyuruh baca malah semakin ogah baca, serta hilangnya ketertarikan pribadiku pada segala hal mencangkup Dewa-Dewi dari kepercayaan mana pun. (Aku harus memainkan ulang God of War untuk yang satu ini).

Sebenarnya pemakaian POV1-lah alasan paling utama kenapa aku tidak berminat membaca novel ini.

Bagaimana ya ... penggunaan POV1 bisa jadi hit or miss, penuh risiko, bahkan sangat sulit. Sayangnya POV1 malah lebih sering digunakan oleh penulis pemula, karena dianggap paling simple sehingga banyak novel-novel pertama dari penulis-penulis baru yang menggunakan POV ini. Walhasil, penggunaan POV1 sering kali tidak maksimal, tentu saja akibat kurangnya pengalaman dan latihan.

Bukan berarti penulis pemula yang memakai POV1 “pasti jelek”. Penulis kondang pun tidak luput dari risiko pemakaian POV1 yang kurang efektif. Sekali lagi, itu semua karena POV1 dianggap paling simple, padahal kenyataannya tidak. Nah, akibat dianggap lebih simple, penulis jadi tidak memikirkan detail-detail kecil dari penggunaan POV1 yang menjadikannya istimewa.

Maka dari itu, daripada hanya mereview seri Percy Jackson (yang mana pasti berisi pujian-pujian karena aku sangat mencintainya), mari kita bahas serba-serbi POV1, dan menggunakan Percy Jackson karya Mbah Rick Riordan sebagai contoh penggunaan POV1 yang berhasil.

I just wanted to sound smart, h3h3 ....

POV1 dan Keistimewaannya

POV alias Point of View alias Sudut Pandang terdiri dari tiga jenis. Sudut pandang orang pertama (POV1), sudut pandang Orang kedua (POV2), dan sudut pandang orang ketiga (POV3). Masing-masing sudut pandang mempunyai sub-teknik lain yang tidak akan kubahas sekarang, sebab khusus di sini aku hanya ingin membahas sudut pandang orang pertama alias POV1.

Apakah saja yang harus diperhatikan saat menerapkan POV1 dalam cerita brekele kelean? (digampar). Mari kita tengok beberapa tips. Ekhem ... kalau memang ini bisa dibilang tips. Tentu saja, kita akan menggunakan seri Percy Jackson sebagai contoh pemakaian POV1 yang berhasil dan patut ditiru.

1. Lebih Personal dan Relatable

POV1 menggunakan kata ganti ‘Aku’ untuk si tokoh utama, sebab segala hal yang terjadi di dalam kisah memang dilihat dari kaca mata tokoh tersebut. ‘Aku’ juga menjadi kata ganti yang kita (para pembaca) gunakan untuk menyebut diri sendiri. Termasuk juga ‘Guweh’, ‘Aing’, ‘Eyke’, ‘Ane’, dan lain sebagainya.

Intinya ... kita secara tidak sadar akan melihat diri sendiri dalam diri si tokoh utama. Atau setidak-tidaknya, kita sebagai pembaca otomatis bersimpati lebih banyak kepada tokoh utama daripada tokoh lain. Nah, bagaimana pembaca bisa bersimpati atau melihat diri lewat tokoh utama kalau pembaca tidak mengenal si tokoh utama dengan baik. Benar, ‘kan?

Itulah hal paling utama yang harus dilakukan penulis saat memakai POV1. Perkenalkan dulu tokoh utama secara detail. Sifatnya, kesehariannya, interaksinya dengan orang lain, perannya, motivasinya. SEMUANYA harus dimengerti oleh pembaca sebelum memperkenalkan hal-hal lain.

Itulah yang dilakukan Rick Riordan dalam seri Percy Jackson. Sepanjang novel pertama, kita diajak fokus mengenal siapa Percy, bagaimana sifatnya, siapa orang tuanya, apa kesulitannya, siapa teman-temannya, siapa musuhnya. Segala hal tentang pribadi Percy yang nantinya akan terus ada dan berpengaruh pada konflik cerita maupun konflik batin si Percy saat menghadapi segala hal

Intinya, POV1 adalah teknik penyampaian cerita yang mengedepankan BATIN dan PENOKOHAN tokoh utama. Tidak perlu fokus menjeaskan World Building, tidak perlu memperkenalkan tokoh-tokoh lain, tidak perlu menjelaskan secara detail segala hal yang terjadi. BUT ... ceritakan semua itu lewat sudut pandang tokoh utama, ceritakan bagaimana karakter si tokoh saat dihadapi berbagai kondisi.

Dahulukan tokoh kalian daripada sekelilingnya. Itulah sejatinya POV1.

2. Ketidaktahuan dan Keterbatasan

Hal utama lain yang harus diperhatikan pada penggunaan POV1 adalah Ketidaktahuan dan Keterbatasan. Seperti yang dibahas poin pertama, POV1 hanya mengambil sudut pandang satu orang alias si tokoh utama, ibaratkan diri kita sendiri. MUSTAHIL kita tahu isi hati atau pikiran orang lain, ‘kan? Itulah yang harus penulis ingat saat menggunakan POV1.

Jangan sampai ada hal yang disebut “Kebocoran POV”. Alias, hal-hal di mana tokoh utama mengetahui sesuatu padahal seharusnya tidak tahu karena tokoh itu tidak ada di tempat kejadian untuk menyaksikan langsung.

Di novel Percy Jackson, ada saat-saat Percy dan teman-teman mengetahui rencana musuh atau mengetahui isi pikiran masing-masing padahal mereka tidak berinteraksi secara langsung. Namun, itu ada alasannya.

Sebagai anak setengah dewa, Percy dan teman-temannya sering kali mendapatkan mimpi buruk, atau semacam Lucid Dream di mana mereka menyaksikan sesuatu di luar kesadaran mereka. Itu bisa jadi masa depan atau masa lalu. Mimpi-mimpi itu nantinya menjadi tanda atau bocoran rencana musuh sehingga mereka bisa mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui.

3. Misteri berdasarkan Ketidaktahuan dan Keterbatasan

Masih melanjutkan poin kedua, misteri dan twist pada penggunaan POV1 bisa dibilang tricky. Di satu sisi sangat mudah membuat misteri dan twist lewat POV1, sebab pengetahuan tokoh utama yang terbatas. Misteri bisa datang dari kecurigaan tokoh terhadap segala hal disekelilingnya.

Di sisi lain, akibat misteri bisa datang dari mana saja, semakin sulit membuat clue atau foreshadow yang benar-benar diniatkan untuk twist lebih besar. Novel Percy Jackson adalah contoh penyisipan misteri-mesteri dengan sangat baik.

Percy sebagai narator tidak pernah terlalu mendorong-dorong pembaca untuk mencurigai sesuatu. Semua misteri ada karena Percy mencurigai sesuatu, dan biasanya yang dicurigai Percy tidak sama dengan kecurigaan pembaca.

Akibat perbedaan kecurigaan Percy dan pembaca itulah twist yang lebih besar bisa terbangun. Itu semua tersampaikan berkat narasi batin si Percy yang sesuai dengan penokohannya. Maka itulah yang akan kita bahas selanjutnya.

4. Narasi Batin yang Sesuai Kepribadian Tokoh

Ini ada hubungannya dengan teknik Show don't Tell, lagi-lagi ... Dalam pemakaian POV1, pantang hukumnya tokoh utama menjabarkan personality atau fisiknya sendiri, kerana pada akhirnya akan terkesan arogan atau pick me.

"Aku anak perempuan yang terbilang cantik dengan rambut halus dan panjang. Mataku indah berwarna abu-abu monkey, serta bibir merah meronah yang membuatku jadi idaman semua orang."

Atau

"Hidupku sebagai anak buangan memang menyedihkan. Tidak ada yang menyukaiku, ucapanku selalu membuat mereka stress dan gila. Tidak ada yang mau jadi temanku. Seluruh dunia membenciku."

Narasi-narasi di atas membuatku ingin berkata "Affah iyah???". Maksudku ... siapa yang bilang kau cantik? siapa yang bilang rambutmu halus, atau matamu indah, atau semua orang pasti mengidam-idamkan dirimu? 

Siapa bilang semua orang membencimu? Siapa bilang semua orang jadi stres dan gila saat bicara padamu? Siapa yang mengkonfirmasi kalau seluruh dunia membencimu? Intinya, BUKTINYA MANA? Lebih parah lagi kalau penjabaran tersebut ternyata tidak sesuai dengan tindak-tanduk si tokoh sepanjang cerita.

Yang katanya dibenci semua orang, ternyata diam-diam ditaksir semua tokoh cakep dalam cerita. Yang mengaku cupu ternyata temennya ada 100 di seluruh penjuru dunia, sangat mudah berteman dengan siapa saja. Yang katanya baik hati ternyata ngeselin nauzubilah.

Kecuali tokoh tersebut memang memiliki sifat narsistik seperti Apollo di seri novel Mbah Rick Riordan lain (kita bahas novel ini di hari lain). Tidak ada justifikasi dari si tokoh untuk mengatakan segala hal positif atau negatif tentang dirinya sendiri. Ingat sekali lagi mantra ini. SHOW IT DON'T TELL IT!
 
Di novel Percy Jackson ... si Percy pernah membicarakan dirinya sendiri, tapi itu lebih ke sisi diagnosis. Misalnya dia memiliki ADHD atau dia Impulsif. Itu adalah diagnosa yang sudah pasti ada dalam dirinya. Perilaku Percy sepanjang cerita pun demikian. Dia kesulitan fokus dalam beberapa hal akibat ADHD-nya, dia lebih sering bertindak duluan daripada berpikir akibat sifat Impulsif-nya.

Kepribadian Percy sesuai dengan apa yang dia jabarkan. Di sisi lain, kepribadian internalnya bisa kita lihat dan simpulkan sendiri dari perilaku serta pilihan yang dibuatnya sepanjang cerita.

5. Tokoh Utama adalah Koentji

Dalam POV1 Tokoh Utama adalah penentu bagus atau tidaknya sebuah novel. Kalau tokoh utama likeable otomatis novel tersebut bagus, sedangkan kalau tokoh utama brekele ya wasalam ....

Lain dari POV3 yang setiap tokohnya dijabarkan sesuai kemauan penulis, lantas pembaca bisa memilih tokoh mana yang ingin mereka sukai. Di POV1 penulis menjabarkan tokohnya sesuai kemauan dan kepribadian si tokoh utama sehingga penulis HARUS membuat pembaca mencintai tokoh utama sebelum tokoh lain.

Mencintai dalam hal ini bukan berarti si tokoh harus jadi malaikat dari syurga yang memiliki segala sifat bagus. Mencintai yang dimaksud adalah pembaca bisa MENGERTI dan BERSIMPATI pada tokoh utama. Kalian ingin membuat tokoh utama bersifat jahat, ya buatlah ... Asalkan buat juga pembaca memahami mengapa dia bisa seperti itu.

Sayangnya di novel Percy Jackson, si Percy memang sweet dan pengertian. Ayolah ... sangat sulit untuk tidak menyukai Percy. Dia supel, baik hati, ramah, dan bisa akrab dengan siapa saja. Namun, bukan berarti Percy selalu baik dan goody-goody-two-shoes. Dia sering kali menghakimi orang lain saat pertama bertemu dan terlalu cepat berasumsi.

Meskipun dia bersikap baik pada Tyson di novel kedua, dia juga agak tidak suka mengakui Tyson sebagai adik tirinya. Butuh waktu lama bagi Percy untuk benar-benar menerima Tyson sepenuhnya tanpa merasa risi. Itulah yang kumaksud kepribadin tokoh yang berhasil.

Bukan karena si tokoh digambarkan baik, maka dia selalu baik pada segala hal. Ada masanya tokoh utama harus membenci atau tidak menyukai sesuatu untuk beberapa alasan, atau bahkan tanpa alasan sama sekali.

Kalian juga pasti pernah membenci sesuatu atau seseorang padahal sesuatu atau seseorang itu tidak pernah mencari masalah pada kalian, bahkan boleh dibilang baik. Kalian membencinya tanpa alasan apa pun. Nah ... buatlah tokoh kalian mempunyai momen-momen tersebut.

6. Konsisten Konsisten Konsisten

Saat penulis memilih POV1 artinya penulis sudah siap mengambil risiko keterbatasan. Apa yang dimaksud risiko keterbatasan? Tentu saja ... JANGAN GONTA-GANTI SUDUT PANDANG SETIAP SATU BAB!!!

Di satu bab mengambil POV1 Ucup, lalu bab selanjutnya POV1 Siti, terus selanjutnya POV1 Author. What the heel is POV Author anyway?

Ingatlah bahwa esensi dari POV1 memanglah keterbatasan dan pendalaman dari penokohan si tokoh utama. Kalau pada akhirnya sudut pandang tokoh diganti-ganti dengan alasan supaya pembaca tahu isi pikiran semua tokoh, apa gunanya kalian memakai POV1 sejak awal?

Kenapa tidak gunakan POV3 saja sekalian?

Aku tegaskan sekali lagi, POV1 tidaklah mudah, POV1 memiliki berbagai risiko yang hanya bisa diemban oleh penulis berpengalaman. Apakah saja risiko-risiko menggunakan POV1? Di antaranya adalah sebagai berikut ....
  • Keterbatasan
  • Kebocoran POV
  • Pengulangan kata
  • Kurangnya menonjolnya narasi batin
  • Tidak terasa relate pada pembaca
  • Tokoh utama unlikeable
Novel Percy Jackson adalah contoh sempurna dari penggunaan POV1 yang penuh risiko, sebab Mbah Rick Riordan bisa menangani risiko-risiko tersebut dengan sangat baik. Tidak pernah ada bocor POV, tidak pernah bergonta-ganti sudut pandang, si tokoh utama (Percy) bisa dicintai sekaligus relate dengan pembaca, narasi batin yang sesuai kepribadian tokoh.

PERECTION itulah gambaran singkat dari penggunaan POV1 pada novel ini. Jadi aku akan merekomendasikan Percy Jackson kepada para penulis yang ingin mempelajari atau menggunakan POV1 sebagai sudut pandang dalam novel kalian.

Penutup

Kalian mungkin bertanyea-tanyea kenapa aku berhenti tertarik pada novel yang memakai POV1. Itu karena banyak penulis yang terjerumus ke dalam risiko-risiko saat menggunakan POV1. Sudut pandang berganti-ganti, narasi batin yang hambar, tokoh utama tidak relate. Aku jadi agak skeptikal pada novel-novel POV1.

Namun, semua berubah saat aku membaca seri Percy Jackson. Segala hal dan risiko dalam penggunaan POV1 dieksekusi dengan begitu indahnya, sampai harapanku pada POV1 kembali besar, dan mungkin aku tidak akan terlalu skeptis lagi pada pemakaian POV1.

Jadi ... apakah kalian sudah membaca Percy Jackson, atau malah masih sok-sok menjadi Not like Other Gorl sepertiku?

Pesanku adalah JANGAN!!! CEPAT BACA PERCY JACKSON AND THE OLYMPIANS SEKARANG!!!

Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya ^o^/ 

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman