Waru : Mereka Merenggut Jiwa-jiwa yang Malang


Judul : Waru (Mereka Merenggut Jiwa-jiwa yang Malang)

Penulis : Aji Fauzi, Rudi Utomo, & Mahya Bil Qisti

Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 9786230037009

Tahun : 2022

Tebal : 204 Halaman

Blurb :

Karier Adrian sebagai pengusaha yang menjajal dunia politik berjalan lancar, namun berbanding terbalik dengan keadaan rumahnya. Istrinya dikurung di ruang bawah tanah karena gangguan jiwa. Putranya tengah koma setelah terlibat tragedi misterius yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Seakan belum cukup mengerikan, keluarganya mulai diteror sesosok hantu perempuan.

Tragedi tersebut membawa Adrian pada kilas balik masa lalu. Jauh sebelum mencapai kesuksesan, hidupnya pernah sangat menderita. Ketika nyaris menyerah, sebuah pertolongan muncul. Menghubungkannya pada sebuah pohon waru keramat yang ternyata tidak memberi semua kesuksesan kepada Adrian secara cuma-cuma.

Apakah kehancuran keluarganya adalah harga yang setimpal atas apa yang telah Adrian raih? Atau masih ada rahasia lain yang belum tersibak dari masa lalunya?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Horor Kok Tulisan

Hellow, hellow, wahai pembaca budiman di mana pun kalian berada. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kalian membaca novel genre horor, dan bagaimana dampaknya pada diri kalian. Apakah kalian dibawa masuk ke dalam cerita? apakah cerita di dalamnya membuat kalian takut? Atau kalian malah sudah kebal dengan hal-hal seperti itu?

Jujurlly, sejauh ini belum ada satu pun novel horor yang bisa membuatku benar-benar takut. Contohlah novel-novel karangan Risa Saraswati yang berlabel horor, tapi isi ceritanya lebih fokus ke drama. Mari bicara jujur, seringnya novel-novel ciptaan Teh Risa membuat pembaca sedih dan/atau terenyuh daripada ketakutan. Benar, ‘kan?

Begitu juga novel Kisah Tanah Jawa. Satu-satunya hal seram dari novel itu adalah ILUSTRASI di dalamnya! Mungkin juga unsur mitos relatable terhadap masyarakat, tapi sebagian besar ilustrasi! Dan janganlah kalian memintaku untuk membahas KKN di Desa Joged, sebab kita sudah melewati kesengsaraan itu bersama-sama!

Makanya, saat menemukan novel Waru di Ipusnas, aku rada skeptikal, apakah novel ini memiliki keistimewaan yang bisa dibahas? Atau malah berujung seperti novel-novel bergenre horor lain yang terasa hambar? Ternyata eh ternyata, novel Waru akan segera diadaptasi menjadi film layar lebar, walaupun untuk alasan yang tidak jelas, novel ini belum terdaftar di Goodreads (bruuh)

NAH! Mungkin akan ada hal juicy yang bisa jadi bahasan. Sekalian kalau filmnya tayang, aku tidak akan ketinggalan gosip kekinikan, seperti yang kulakukan pada KKN di Desa Joged (Telat 3 tahun coy!!!). Aku juga bisa pamer pengetahuan ke orang-orang yang menonton adaptasi filmnya tanpa membaca novelnya terlebih dahulu.

Ayolah ... kita para pembaca novel sering merasa superior saat se-fruit novel diadaptasi menjadi film! AKUI SAJA!

Masalah sampul. Um ... entah kenapa vibe yang diberikan tidak terasa horor sama sekali. Memang ada ilustrasi hutan, memang ada rumah tua, memang ada pepohonan menjulang tinggi, bulan sabit, juga suasana malam. Bahkan ada ilustrasi mata merah mengintip dari kegelapan. Tapi eh tetapi, akibat style ilustrasi yang terlalu “Unyu”, kesan horor itu tidak menonjol.

Terlalu kartunis, terlalu Fantasi, terlalu Middle Grade bahkan. Seandainya ada ilustrasi hantu wanita juga di situ. Entah sedang mengintip, atau duduk jendela rumah, atau di atas pohon, mungkin sampulnya akan lebih terasa horor daripada Fantasi.

Toh, hantu utama dalam novel ini memang sosok wanita berbaju putih-putih melati yang meneror kampung. Kenapa tidak dibuat saja sekalian? Kenapa tidak ditonjolkan? Entahlah untuk siapa pertanyaan tersebut, tapi marilah kita menuju REVIEW!

B. Plot

Cerita horor biasanya memiliki beberapa trope penokohan, atau bahasa lainnya ciri khas dari para tokoh dalam cerita. Pertama, tokoh yang selalu diganggu sayton dan percaya sayton sehingga dialah yang paling banyak merana akibat gangguan-gangguan awikwok. Sayang beribu sayang, dia tidak bisa melakukan apa-apa, sebab seluruh dunia tidak memercayainya.

Kedua, tokoh yang selalu diganggu sayton, tapi tidak percaya sayton sehingga dia selalu menyangkal gangguan-gangguan awikwok dengan membuat berbagai alasan masuk akal (Spoiler : alasannya tidak masuk akal sama sekali). Namun, tokoh tipe kedua biasanya berujung ikut percaya sayton, karena se-fruit cerita butuh yang namanya Character Development.

Ketiga, sekaligus paling brekele menurutku. Tokoh yang tidak percaya sayton, tidak pernah diganggu sayton secara langsung, dan selalu menyangkal keberadaan sayton. Padahal, orang-orang terdekatnya sudah mengalami kerugian akibat gangguan awikwok. Kerugian yang berarti; gangguan mental, cacat, bahkan MODAR!

Tokoh semodel ini biasanya melihat dengan mata kepala sendiri saat orang-orang terdekatnya ditusuk manja oleh Bu Kunti, dan masih bisa berkata, “Hantu itu hanya mitos! HANYA MITOS!!!”

Keempat, dan terakhir, tentu saja bocil anak bawang yang jadi bulan-bulanan favorit sayton, tapi tidak pernah benar-benar dibikin modar. Paling cuma sakit atau koma, atau terkena mental. Sebab membvnvh anak kecil adalah HARAM hukumnya dalam se-fruit cerita horor. DON’T YOU DARE!

Tahoo-kah kalian, keempat trope Horor barokah tersebut ada di sini, dalam satu keluarga pula!

Jadi, Waru bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang. Si Bapacc bernama Adrian, Tante bernama Anya, Anak bernama Jian, Bibi bernama Surti, dan Ibu bernama Lidya yang terpasung di besmen karena gangguan mental.

Kalian tahu lah ... Genre Horor, apa lagi tema keluarga seperti ini belum lengkap tanpa sedikit bumbu-bumbu drama rumah tangga. Konon katanya, Lidya terkena gangguan mental akibat memergoki Adrian selingkuh dengan Anya, padahal Anya adalah adik kandung Lidya sendiri (Jeng! Jeng!). Lidya pun dipasung di besmen, karena gangguan mentalnya dianggap bisa melukai diri sendiri maupun orang lain.

Lagi pula, Adrian tidak mungkin membiarkan masyarakat tahu bahwa seorang bakal calon pejabat tersohor memiliki istri yang terkena gangguan mental, itu bisa menghancurkan reputasinya. What an A-hole!

Kalau sudah ada tokoh perempuan yang dipasung, kebetulan juga warna kesukaannya putih, dan dia memakai daster putih setiap hari. Tentu saja efek seram akan hadir dari si tokoh perempuan berbaju putih yang dipasung, yekan?

Di sisi lain, kampung tempat mereka tinggal memiliki pohon waru keramat yang pantang ditebang, sebab takut kampung itu terkena kutukan. Sebagai pohon keramat, pastinya pohon itu berpenghuni, bukan cuma berpenghuni tapi juga menjadi media pesugihan.

Oh, Brother! Bukankah ini tema cerita horor yang sudah kita lihat untuk ke-45738 kalinya?

Kelogisan dalam dunia cerita ini juga terlalu amburadul, terutama dalam bidang pesugihan itu sendiri. Aku bukan ahli pesugihan atau semacamnya, tapi aku yakin seharusnya pesugihan punya semacam syarat dan ketentuan rumit sebelum bergabung. Kadang ada metode bertapa sejuta tahun, sesajen kepala kerbau tanduk sepuluh, mandi air terjun Niagara-gara, memerah susu komodo.

Intinya, harus ada fase menguji keseriusan orang yang hendak melakukan pesugihan itu, 'kan?

Di novel ini tidak demikian. Adrian cuma merana, berkeluh-kesah di bawah pohon waru angker, lantas si Setan pohon langsung memberikannya jimat barokah berupa senjata revolver. Ebuset, Sayton ape Cowboy! Begitu juga dengan suami Bi Ratih (Tokoh lainnya), yang berkeluh-kesah di bawah pohon waru, kemudian langsung mendapatkan solusi dari masalahnya.

Saat itu aku berpikir ... "Ini pohon pesugihan, ape ibu peri!"

Semua orang memohon dan meminta di situ, masalahnya langsong beres, tanpa syarat, juga tanpa kesulitan. Barangkali penulis berpikir itu bisa jadi alasan manipulasi supaya si Sayton bisa menggaet banyak korban dari orang-orang yang tanpa sadar telah terjerumus ke dalam pesugihannya.

Namun sekali lagi, sistem model begitu tidak memberikan World Building barokah pada cerita, sebab tidak adanya limitisasi(?). Hanya karena dia Iblis atau Jin atau Sayton, bukan berarti dia bisa mengabulkan SELURUH permintaan orang yang meminta pesugihan kepadanya, dong!

Seharusnya entitas gaib pun memiliki limit. Apa lagi kalau bukan digambarkan sebagai Dewa atau Tuhan.

Coba bayangkan kalau ada 50 orang semodel Adrian yang gemar berkeluh kesah di bawah pohon, dan si Sayton pasti memberikan solusi kepada mereka. Berarti, sebagai "konsekuensi" bagi orang-orang itu, Sayton yang malang ini kudu membantai 50 keluarga berserta keturunannya.

Waduh, kena tipes dah tuh Sayton job-nye banyak bener. Kalian mengerti poinku? Belum lagi kalau orang yang ikut pesugihan adalah anak ke-16 dari 16 bersaudara, serta memiliki 5 istri yang masing-masing dikaruniai 10 anak.

Sayton Pohon Waru be like : “Bjirr, kapan vacationnya guweh!”

Masalah latar pula, kadang kita dibawa skip-skip-skip cukup lama setelah satu adegan seram, kemudian cerita berlanjut ke adegan seram lainnya. Ya, aku paham maksud penulis melakukan itu, supaya tidak bertele-tele, dan harus diakui itu berhasil. Menurutku tempo cerita novel Waru cepat, meskipun alurnya sendiri rada lamban, serta penyelesaian yang terlampau buru-buru di akhir.

Sumpah ya, dari mulai flashback di akhir, sampai penyelesaian cerita, benar-benar full Adrian yang mendapatkan Plot Armor berkat jimat revolver dari Sayton Pohon Waru mbla’em-mbla’em.

Aku juga melihat beberapa review novel Waru yang menggembar-gemborkan bahwa cerita ini menyisipkan unsur politik yang relevan di dalamnya. Ekhem ... Aku wanti-wanti saja ke kalian untuk jangan berharap terlalu banyak. Satu-satunya "politik" dalam kisah ini adalah Adrian menjadi seorang pejabat kota berkat pesugihan. Udeh, gitu doang!

Namun oh nenamun, tidak afdol kiranya kalau kita tidak membicarakan juga kelebihan cerita ini. Pertama dan paling menonjol adalah gaya bahasa, jadi kita akan membahas ini lebih lanjut di segmen Gaya Bahasa. Kedua, penokohan yang sebenarnya sangat realistis, dan ini pun akan kubahas detail di segmen penokohan (digampar).

Ketiga, tenang ... tenang ... jangan dulu melempar ulekan itu ke wajah jelita ini. Poin ketiga akan kubicarakan di sini kok, h3h3.

Novel horor tentulah tidak lengkap tanpa adegan-adegan seram, dan jujur saja adegan seram di novel Waru cukup barokah. Beberapa kali bulu ketek, maksudku bulu kuduk di leher bergetar manja, plus menerawang waspada ke sekitar saat baca sendirian di kamar.

Ayolah, kita semua setuju kalau Bu Kunti merupakan salah satu ras Sayton paling menyeramkan setelah Mpok Cong. Aku menulis kalimat di atas saat sendirian di Perpus Sekolah, dan sekarang aku merindink. TOLOOONG!!!!

Adegan suster kesurupan bawa-bawa pisau bedah di rumah sakit juga sangat oke, lebih karena adegan itu mengingatkanku pada game Silent Hill yang sering aku mainkan dahulu kala. Ekhem ... saat kubilang "mainkan", arti sesungguhnya adalah sepupuku yang main, sementara aku cuma menonton, h3h3 ....

Nah, mungkin segitu saja pembahasan novel Waru. Ada semacam Plot Twist sekaligus misteri di ending novel ini, tapi aku pribadi tidak merasa tercengang. Malah kayak, "Hah?" "Apaan?" "Kok?" Lho?". Namun, itu mungkin hanya aku dan otak ukuran 3X4-ku

C. Penokohan

Tokoh-tokoh di sini boleh dibilang tipikal cerita horor, mungkin kalian bisa mengatakannya sinetron-ish. Satu keluarga yang terdiri dari Suami, Istri, Tante, Anak, dan ART. Ditambah sedikit tokoh eksternal untuk bumbu-bumbu pemahit. Namun, Mainstrean bukan berarti brekele. Sudah banyak novel yang membuktikan itu.

Penokohan novel Waru salah satunya. Meski terbilang sinetron-ish, sifat dan sikap para tokohnya sendiri masuk akal, tidak satu dimensi, tidak ngeselin, dan tidak terlalu mengambil keputusan-keputusan brekele. Nah, marilah kita bahas satu-satu.

Adrian. Trope ketiga (Bapacc ga percaya sayton). Walaupun namanya ada di blurb seolah menjadi tokoh utama, sudut pandang Adrian jarang diekspos kecuali di bagian akhir. Peran Adrian lebih ke arah Tokoh Kunci daripada Tokoh Utama, sekaligus menjadi tipikal Bapacc-Suami-Pejabat-Penting-Sibuks yang kerjaannya rapat, ke luar kota, dan mata keranjang tukang selungkih.

Bahkan sepanjang cerita aku bisa membayangkan Adrian selalu memakai kemeja plus dasi rapi plus ready to rapat ala-ala suami di sinetron. Sifatnya seperti yang sudah kita bahas di segmen Plot, A-hole, brekele, lembek, dan pengecut. Namun, aku merasa ini tidak adil untuk penokohan Adrian, sebab dia tidak diberi kesempatan untuk membela diri atau menunjukkan emosi konkret.

Dia pernah tersakity, terus ikut pesugihan, terus sukses berkat Plot Armor, terus diganggu Sayton sebagai konsekuensi pesugihan, terus menyesal, terus modar. Kayak ... polanya terlalu lurus, seolah tidak ada perlawanan cukup kuat dari dalam dirinya, tidak ada refleksi kesalahan juga. Intinya, penokohan Adrian bisa dipoles menjadi jauh lebih baik dari ini.

Anya. Trope kedua (Tante sekaligus selingkuhan). Aku mensyukuri fakta bahwa bahwa Anya bukan tipikal Bibi Genit dan/atau Ibu Tiri Jahat yang tidak punya kebaikan sama sekali. Anya memang selingkuh dengan kakak iparnya sendiri, tapi dia menyadari kesalahannya dan senantiasa merasa "berdosa".

Dia juga tulus peduli pada Jian (anak kakaknya), serta baik pada Mbok Surti yang notaben seorang IRT. Anya bahkan bersedia mengurus kakak iparnya itu kalau memang dibutuhkan. Sayang beribu sayang, Anya harus jauh-jauh dari Lidya sebab memang dialah penyebab gangguan mental yang dialami Lidya.

Mbok Surti. Trope Pertama (Langganan diganggu Sayton). Tipikal Mbok ART yang kelewat mengabdi pada keluarga Tuan dan Nyonya rumah. Dia seolah tidak memiliki keluarga selain yang dimilikinya sekarang. Mbok Surti jelas terasa seperti protagonis, sebab banyak kejadian yang mengambil sudut pandangnya, malahan beberapa kali dia berinisiatif menyelesaikan masalah.

Jian. Trope Keempat (Bocil bulan-bulanan sayton). Di mana ada bocil, di situ ada seyton. Udah tahu lah ya tipikal seperti ini, selalu teraniaya dan kena musibah, tapi jadi satu-satunya yang selamat. Namun, aku suka penggambaran Jian yang sesuai dengan usia dan latar belakangnya.

Dia anak orang kaya, manja dan menuntut ini-itu, keinginanya pun selalu dituruti. Tak jarang juga dia jadi sombong dan membully teman-teman yang kurang mampu, tepatnya kepada anak bernama Dimas. Tapi eh tetapi, di beberapa kesempatan mereka bermain bersama tanpa memikirkan status. Begitulah sejatinya bocil. Sedetik lalu mereka berteman, detik berikutnya mereka musuhan. Sesuka hati aja.

Sebenarnya protes terbesarku pada penokohan Jian adalah, tidak pernah ada momen bonding antara Jian dengan Lidya, alias ibunya yang terpasung di besmen. Jian kayak gak peduli sama sekali pada emaknya. Well, emaknya memang "menakutkan", tapi sebagai anak seharusnya ada lah rasa kangen atau sedih barang sedikit. Ini mah bablas aje!

Lidya. Ibu yang terpasung (sad emoji face)

Bi Ratih dan Dimas. Tokoh Pemahit sekaligus tumbal misteri dan'atau Plot Twist.

Bapak dan Ibu Ustad. Harus ada lah ya tokoh religius (atau kadang Mbah Dukun) di cerita semodel begini.

Hantu Pohon Waru. Busy Bee sekaligus wanita karirπŸ’…πŸ’…πŸ’…πŸ’…✨✨ (Ngurus bisness pesugihan seorang diri coy!!!)

D. Dialog

Tidak ada masalah dialog yang kutemukan pada novel Waru. Pemilihan logatnya sesuai dengan tema dan latar yang diusung. Menggunakan bahasa baku, tapi tidak kaku. Intonasi pun sebagian besar cocok dengan kondisi saat itu. Dialog santai, masuk akal. Dialog diskusi, oke. Dialog ketakutan, tidak lebay. Boleh dibilang, pemilihan dialog juga salah satu kelebihan dalam novel ini.

Lihatkan ... menyenangkan hati Impy itu sangat mudah. Cukup berikan dialog yang masuk akal, sesuai genre, sesuai dengan latar yang dibangun, sesuai dengan tema yang diusung, sesuai dengan kepribadian para tokoh, sesuai dengan usia dan mental para tokoh, intinya SESUAI!!

E. Gaya Bahasa

Ini dia segmen yang kita semua tunggu-tunggu sejak tadi! Eh, barangkali tidak demikian juga, sebab sebagian besar segmen ini akan berisi kalimat puja-puji kepada penulis atau siapa pun editor novel Waru. Dan aku paham betul kalau Pembaca Budiman Review Impy lebih suka JULID daripada komentar puja-puji.

Bay de wey ... Aku bisa mengatakan bahwa novel Waru adalah contoh nyata dari novel terbit yang benar-benar melalui tahap editing serta proof-reading. Mulai dari kepenulisan, pemilihan kata, serta sisi teknis novel Waru sangat-sangat-sangat-sangat perfekto.

Entah kesempurnaan ini datang dari sisi penulis atau editor atau keduanya, yang jelas novel Waru adalah definisi sesungguhnya dari Penyefong KBBI dan PUEBI. Tidak satu pun, dan yang aku maksud adalah TIDAK ADA SATU HAL PUN yang tidak sesuai KBBI ataupun PUEBI.

Tidak ada selingkung naskah sama sekali, baik dari segi kata, tanda baca, slang, bahkan gaya bahasa dalam dialog. Mantapsnya, meski menerapkan asas-asas KBBI dan PUEBI, untuk beberapa alasan dialog dalam novel ini tidak yang terlampau kaku.

Aku bahkan berani bilang dialog novel Waru jauh lebih natural dan enak dibaca daripada dialog dalam Serial Bumi. Padahal Serial Bumi yang seharusnya gaul nan relate bagi remaja. Ekhem ... kok malah merembet ke sana-sana, eaa!

Intinya, kalau kalian mengaku sebagai penulis Edgy Anti KBBI, anti PUEBI sekaligus penganut rumus Baku = Kaku, menganggap bahwa novel berbahasa baku atau nurut KBBI-PUEBI gak bakalan laku. Lihatlah novel Waru yang udah mau difilmakan ini. Masih mau bilang novel yang mengikuti "peraturan" gak bakalan laku di pasaran? HA-HA-HA!!!

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kekurangan dari gaya kepenulisan novel ini. Satu hal paling mengganggu dari gaya bahasa novel Waru adalah buanyak sekali eksposisi. Hal yang sudah terjadi secara Show, diulangi lagi dengan metode Tell. Misalnya begini, ada sebuah adegan barokah yang 90% mirip dalam novel ....

"Aku tidak mau main di bawah pohon Waru itu." Jian berkata dengan ekspresi takut. "Kayaknya pohon itu angker, anak-anak lain juga tidak ada yang mau main di sana."

Jian menyerukan ketakutannya terhadap pohon Waru tersebut. Bukan salahnya, pohon Waru itu memang terkenal angker dan tidak satu pun anak-anak desa berani bermain di bawahnya.

Wahai penulis, kita bukan anak TK! Maksudku ... kenapa sesuatu harus diulang dua kali kalau di penjelasan pertama juga semuanya sudah beres?

Hmmm, mungkin penulis punya rumus gaya bahasa baru. Alih-alih Show don't Tell, mereka malah membuat Show AND Tell.

F. Penilaian

Cover : 2,5

Plot : 1,5

Penokohan : 2

Dialog : 2,5

Gaya Bahasa : 3

Total : 2,5 Bintang

G. Penutup

Secara keseluruhan, Waru adalah novel konkret, jelas jauh lebih bagus daripada KKN di Desa Joged dari segi Gaya Bahasa, tapi tidak juga memberi keunikan dari segi plot. Jujur, aku heran kenapa novel ini difilmkan. Premis dan tema yang diusung terlalu pasaran, sudah ada puluhan kalau bukan ratusan film-film horor dengan tema seperti ini.

Keluarga bermasalah, ada yang dipasung, ada setan, ada pohon angker, ada pesugihan, ada pembunuhan, ada dendam, ada tumbal-menumbal. ALAMAAAKKK!!! Iya kita udah paham kalau pesugihan itu buruk, bersekutu dengan sayton itu buruk, dan ada konsekuensi besarrr. KITA PAHAM!!!

Tidak perlu ada satu film full berdurasi 2 jam lagi tentang tema itu lah, plisss!!!

Yah, marilah kita jangan menilai sebelum melihat secara langsong. Versi novel sudah kita lihat, nyatanya tidak menghadirkan kelebihan apa pun dalam segi plot. Walaupun kepenulisannya bagus, tapi di film tidak mungkin kepenulisan itu terpakai. Meskipun dialog oke, tetapi dialog semodel ini tetap aneh kalau dilisankan.

Well ... well ... well ... marilah untuk urusan film kita serahkan pada ahlinya, yaitu Cine Crib. Segitu dulu review novel Waru. Sampai jumpa lagi ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman