Gak Pernah Nemu Fantasi Secampur-aduk Ini! (Review Scylla's Way : The Way I Find My Brother)


Judul : Scylla's Way (The Way I Find My Brother)

Penulis : Belpoin

Penerbit : Haeba Group

Tahun Terbit : 2022

ISBN : 9786235750347

Tebal : 530 halaman

Blurb :

Sepuluh tahun lalu, Ethan pergi berlayar, meninggalkan sang adik, Arienne. Ia membuat janji, bersumpah akan kembali. Namun, janji tersebut hanyalah omong kosong. Ethan tak pernah kembali, seolah-olah ditelan samudra, tenggelam bersama kebenaran yang dirahasiakan semesta.

Kini, sang adik telah tumbuh. Rasa rindu tak dapat lagi dibendung. Ia nekat mengarungi samudra demi mencari keberadaan kakaknya. Namun, di tengah badai menerjang tekad, ia selalu dihubungkan oleh orang-orang aneh yang menemaninya dalam perjalanan. Mereka diam-diam menyimpan latar belakang yang memilukan.

Hari demi hari, jarak antara dia dan kakaknya pun semakin terkikis. Perlahan langkahnya membuka bagian dari kebenaran lain yang terkubur dalam-dalam. Perjalanan penuh tantangan yang tak pernah dibayangkan, bertaruh nyawa di setiap ancaman, pula berkunjung ke pulau-pulau baru dan bertemu dengan makhluk-makhluk unik, serta segala rintangan dan halangan, terus menerjangnya.

Akankah Arienne dan krunya mendapat berkah, atau malah mendapat murka? Lantas, pada akhirnya, akankah gadis itu berhasil menemukan sang kakak?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Nyobain Novel Instagrem

Ahoyy, Pembaca Budiman! Bertemu lagi dengan tukang review kesayangan kalian, Impy Island. Di resolusi tahun 2026 kemarin aku sempat bilang mau mencoba novel yang sering aku temukan di Instagrem. Novel-novel yang tidak begitu populer secara komersial, bahkan beberapa self-publish. Namun, biasanya itulah novel-novel unik dan lebih "Berani", lantaran tidak terikat oleh peraturan ketat dari penerbit mayor.

Namun oh nenamun, kalian tahu apa pendapatku tentang novel "Berani" yang terbit secara self-publish? Kebebasan bisa mencelakaimu! Sebagian besar novel Self-Publish tidak berisi apa pun kecuali konten hot-hot-hot. Makanya aku melakukan seleksi ketat pada novel-novel Intstagrem yang akan kubeli, menyesuaikan selera serta kriteria pribadi. Maka terpilihlah beberapa novel yang (anehnya) semua berasal dari Haeba Group Publishing.

Salah satunya adalah novel yang akan kita bahas hari ini, Scylla's Way : The Way I Find My Brother. Novel Fantasi-Petualangan bertema bajak laut.

Jujur saja, tadinya aku ragu karena di mataku novel bertema kelautan tidak begitu menarik, tetapi melihat jumlah halaman 500++, sementara aku sangat DESPERATE untuk memiliki novel tebal dalam lemari, jadi aku tetap memilih Scylla's Way. Lagi pula, tema yang diangkat adalah pencarian seorang adik terhadap kakaknya yang hilang setelah berlayar 10 tahun lalu. Siblings' love is right in my alley!

Sampul novel ini sebenarnya sangat bagus dengan palet warna dominan biru yang menggambarkan laut lepas. Ilustrasi kapal juga sesuai tema. Aku cuma kurang suka penempatan font serta bingkai emas di sekeliling sisi, terkesan berantakan. Resolusi gambar secara keseluruhan juga agak buram, hampir seperti novel bajakan.

Untungnya font judul dibuat timbul sehingga kita tahu kalau ini BUKAN novel bajakan! Lagi pula aku membeli novel ini langsung di akun penerbit Haeba Group. Mungkin lain waktu penerbit bisa memilih gambar dengan resolusi tinggi, entahlah apakah aku terlihat seperti paham percetakan di mata kalian?

Tanpa banyak basa-basi, mari langsung saja kita bahas novel Instagrem coba-coba ini!!!

B. Plot

Begini, Pembaca Budiman, aku punya kabar yang kurang mengenakkan bahwa Scylla's Way ternyata novel terbitan Watpat (Memekik dramatis).

Ekhem, itu bukan berarti semua novel terbitan Watpat pasti jeleq. Sejatinya, bukan penulis Watpat yang menghasilkan novel brekele, melainkan penerbit yang asal menerbitkan cerita berdasarkan jumlah pembaca tanpa melihat kualitas; itulah yang menghasilkan novel Watpat brekele. Sedangkan Scylla's Way bisa dibilang terbit dengan kerja keras sepenuh hati. Terlihat dari plot secara keseluruhan yang cukup jelas.

Fokus utama Scylla's Way adalah pencarian seorang adik (Arienne) akan kakaknya (Ethan) yang tidak pulang berlayar setelah berpamitan 10 tahun lalu. Fokus ceritanya konsisten, meskipun rintangan alias subkonflik dalam perjalanan tersebut sering terpecah terlalu jauh melenceng dari konflik utama, sampai aku berpikir akan lebih baik kalau subkonflik sebanyak itu dialihkan ke sekuel. Kita bahas ini lebih lanjut nanti ....

Penokohan serta dialog para tokoh juga surprisingly enjoyable. Dialog mendominasi di beberapa tempat seperti layaknya novel-novel Watpat lain di luar sana, tapi untungnya dialog-dialog tersebut bukan yang cringe. Malahan dialog-dialog itu membantu membangun kemistri para tokoh, menunjukkan kepribadian mereka, serta menunjukkan emosi di saat yang tepat.

Penokohan cukup konsisten; kepribadian tokoh digambarkan dengan perbuatan serta keputusan yang mereka ambil sepanjang cerita, bukannya dijabarkan satu per satu, tapi ujungnya penjabaran tersebut berbeda 180 derajat dengan kepribadian si tokoh dalam cerita. Intinya, saat aku bilang kaget, aku benar-benar KAGET, karena ini sangat langka terjadi dalam novel terbitan Watpat!

Nah, selesai membicarakan yang bagus-bagus, sekarang beralih pada problem utamaku dari novel Scylla's Way, yaitu world building. It's all over the place, jadi mari kita bahas satu per satu.

Pertama, aku punya satu pertanyaan untuk penulis. WHERE ARE THE GIRLIES??? Percayalah, saat aku bilang novel ini terasa seperti Reverse Harem, sebab dari sekian banyak tokoh, hanya ada satu Tokoh Utama Perempuan, dan itu adalah Arienne, si protagonis utama. Setiap kali kita bertemu tokoh penting dalam cerita yang pasti ikut dalam petualangan, alias menjadi kru kapal, tokoh itu pasti laki-laki.

Jake si bandit, Juward si Navigator, North si Yeti, Demian si Bangsawan Terbuang, Pierre Anak Poseidon, Carsein si Penunggang naga, dan tentu saja Ethan kakak Arienne. Belum lagi tokoh-tokoh sampingan yang juga sebagian besar laki-laki. Sekali pun ada tokoh perempuan, dia cuma hadir satu-dua kali sebagai musuh dan/atau orang yang sudah meninggal. Apa ini Icylandar 2.0 atau semacamnya?

Sebanyak apa pun pembaca (alias aku) menyukai tokoh cowok tamvan nan rupawan, aku tidak mau dikelilingi oleh mereka 24/7. Aku jadi merasa Arienne (atau penulis) adalah tipikal Pick Me yang mendambakan dikelilingi cowok-cowok supaya mendapatkan validasi. Padahal ada banyak skenario yang hanya bisa Arienne diskusikan dengan sesama gendernya, dan itu akan menjadi adegan girls to girls yang manis. Sayang sekali, semua itu tidak terjadi.

Kemudian, alur cerita dalam novel ini sangat terburu-buru. Dari awal kepergian Ethan sampai tekad Arienne untuk mencari sang kakak 10 tahun kemudian, hanya terjadi pada dua bab pendek. Kalian pasti bisa membayangkan seberapa pendeknya bab di Watpat. Aku belum cukup mengenal Ethan maupun Arienne untuk peduli pada mereka atau percaya mereka benar-benar saling menyayangi selain fakta bahwa mereka kakak-beradik.

Keputusan Arienne untuk berlayar mencari sang kakak pun kurang diberi building. Tiba-tiba aja dia memutuskan untuk berlayar karena sudah sangat merindukan kakaknya, plus bapaknya yang abusive hendak menjualnya. Maka jalanlah dia tanpa ilmu kelautan apa pun, bahkan Arienne digambarkan mabuk laut serta tidak bisa berenang. Be fakkin for real, Darling.

Kenapa tidak membangun kisah itu sejak Arienne kecil? Di tahun kedua atau ketiga, sang kakak tidak kembali. Arienne mulai terobsesi pada laut, membaca banyak buku tentang kelautan, belajar navigasi, bahkan mungkin diam-diam menabung untuk membeli kapal sendiri. Semua demi menjemput sang kakak yang sudah lama tidak kembali.

Dengan segala building tersebut, saat akhirnya Arienne benar-benar pergi berlayar, momen itu akan terasa lebih memuaskan. Daripada cuma dibantu kejadian tiba-tiba berkah akibat tuntutan plot. Tiba-tiba Arienne mau pergi mencari sang kakak, tiba-tiba ketemu Jake si bandit, tiba-tiba mencuri kapal, tiba-tiba ketemu Juward sebagai navigator, tiba-tiba bergini, tiba-tiba begitu. Di mana sebab dan akibat yang berkorelasi? TIDAK ADA!

Sebelumnya aku mengatakan subkonflik sering melenceng jauh. Itu karena tokoh dalam novel ini sangat banyak dan SEMUA MAU PUNYA RAHASIA!!! Like, guys, let's chill for a second. Ada tujuh tokoh, dan semua tokoh punya latar belakang rumit. North dengan latar belakang yeti, Juward yang ternyata siren, Demian dengan segala problem keluarganya, Carsein yang punya mommy issue. It's A LOT!

Memang konflik-konflik tersebut dalam satu dan dua hal ada hubungannya dengan pencarian Ethan. Itu yang membuatku mengapresiasi fokus konflik utama dalam novel ini. Namun, eksekusi dari setiap subkonflik terlalu cepat; belum sempat mendalami satu masalah, tiba-tiba masalah sudah selesai, dan mereka lanjut ke masalah lain. Setiap subkonflik sangat menarik untuk diperdalam, tapi kita kehabisan waktu!

Seharusnya subkonflik tersebut fokus pada Ethan, toh dia adalah tokoh kunci. Namun, Info tentang Ethan tidak jauh dari, "Ethan pernah ke sini.", "Ethan pernah melakukan ini dan itu." "Ethan pernah bilang begini-begitu." Tapi selanjutnya, masalah lain membuat info tentang Ethan itu tidak berarti apa pun, alias redup dan dilupakan. Aku bahkan lupa pada Ethan kalau novel ini tidak mengingatkannya lagi setelah subkonflik selesai.

Padahal aku paham apa yang mau dilakukan penulis. Dia ingin membuat Ethan misterius, bahkan terlihat jahat dari segala info yang mereka temukan sepanjang Subkonflik. Ethan menghancurkan lembah Siren. Ethan egois karena pergi menemui Odysseus sendirian. Reputasi Ethan cukup negatif dari bajak laut yang mereka temui di jalan. Itu ide yang sangat bagus, dan aku akan senang kalau eksekusinya barokah.

Aku berharap ada adegan Arienne kecewa, berpikir bahwa kakak yang selama ini dia banggakan dan rindukan ternyata orang jahat. Aku ingin adegan Arienne mengingat masa lalu bersama sang kakak, bagaimana sang kakak adalah pahlawan di matanya, lantas bertanya-tanya apa yang terjadi sampai dia berubah sedemikian rupa. Aku ingin melihat Arienne marah, denial, bahkan meninggalkan kru kapalnya demi membuktikan bahwa sang kakak bukan orang jahat.

5 bintang akan kuberikan tanpa berpikir dua kali kalau semua itu benar-benar terjadi. 5 BINTANG I SAY!!! Sekali lagi ... sayangnya semua itu tidak terjadi.

Arienne sering kali melempem dalam kisahnya sendiri, sebab penulis terlalu fokus membangun subkonflik dari tokoh lain. Setiap kali mendapatkan info tentang kakaknya, tanggapan Arienne cuma ... yaudah aje gitu. Atau "Nyok kita samperin tempat yang pernah didatengin abang guweh." Kayak ... HELOOWWW tanggapanmu pada info bahwa kemungkinan kakakmu adalah orang jahat tuh gimana???

Makanya, saat Arienne akhirnya bertemu Ethan, aku tidak merasakan apa yang seharusnya aku rasakan. Padahal kalau eksekusi sepanjang cerita sesuai harapan, air mata berlian seorang Impy jelas akan menetes disuguhi adegan pertemuan adik dan kakak yang berpisah lama. Tapi karena sepanjang cerita narasi batin Arienne tidak digali, latar belakang Ethan juga tidak pernah diperdalam, aku malah tidak merasakan apa pun.

Last but unfortunately the least ... TEMPAT MACAM APA INI???

Jadi gini ... hanya karena genre se-fruit novel adalah Fantasi, bukan berarti kita memasukkan segala unsur magis ke dalam satu tempat. Iya, dong? Aku ... benar-benar tidak bisa menebak latar tempat dan zaman dari novel ini. Gaya bahasa serta nuansa keseluruhan menunjukkan bahwa kita ada di abad pertengahan ala-ala Pirates of the Caribbean gitu, yakan.

Aku masih bisa memaklumi makhluk mitologi seperti Kraken, Siren, dan Naga, meskipun naga itu agak-agak out of context, tapi bodo amat lah ya … tapi kemudian kita juga disuguhi North si Pengendali Es. Okay, I guess ... latar belakangnya jelas, sih. Tapi kemudian ada juga Warlock, Wizard, dan Witch di sini! Dalam titik ini aku mengernyit. Tapi selanjutnya kita malah dikasih tokoh Pierre si Demigod!

SEORANG DEMIGOD??? YANG BENAR SAJA!!! Aku pikir kita sudah beradab di sini, dan konsep "dewa" benar-benar tinggal kepercayaan tanpa benar-benar ada andil! Siapa sangka mereka masih bisa membuat anak dengan manusia! Belum lagi nama tempat yang bernuansa Romawi, Yunani, Eropa, dan juga Nordik. Aku ... kebingungan, tolong seseorang ambilkan aku es teh dingin (digampar).

Well, secara keseluruhan, novel ini tidak buruk. Percayalah, kalian akan tahu arti "buruk" saat menemukan novel yang tepat, tapi Scylla's Way bukanlah salah satunya. Novel ini diakhiri dengan To Be Continued, tapi menurutku kisah ini saja sudah menyelesaikan konflik utama, jadi apa pun yang penulis buat selanjutnya aku tidak kudu-mesti-harus membelinya. Namun, aku akan mempertimbangkan.

C. Penokohan

Arienne. Gorl ... you are a wasted potential! Aku merasa Arienne tidak cukup mendapatkan keadilan, sebab katakan padaku kenapa kepribadian dan perannya paling melempem, padahal dia adalah protagonis utama. Arienne adalah pemimpin kapal, tapi dia lebih sering menjadi sosok ibu daripada pemimpin. Sebab kru kapalnya semua laki-laki, dan semua kekanak-kanakkan, dan butuh bimbingan Arienne secara harfiah.

Arienne tidak pernah menunjukkan narasi batin, tidak pernah berbagi apa yang ada dalam pikirannya, dan penulis pun tidak memberikan kesempatan tersebut, karena terlalu fokus memperdalam latar belakang tokoh lain. Konflik Arienne adalah menemukan kakaknya. That's it! Dan aku benar-benar menyayangkan hal tersebut.

Jake. Orang pertama yang bergabung dalam kru kapal Arienne, tapi seperti sang kapten, posisi Jake sebagai tokoh utama kedua malah paling melempem. Dia bahkan tidak memiliki pendalaman karakter selain bandit yang dicari di setiap daerah. Padahal aku sangat menyukai tokoh Jake. Dia berpotensi menjadi second in command. Dia paling peduli pada Arienne dan terlihat paling tulus.

Kepribadian lain yang penulis kasih padanya adalah dia sangat ingin dekat dan menjadi bestie dengan Juward, meskipun keinginan itu tidak terbalaskan. Maka bersiaplah dengan begitu banyak adegan bromance yang rada SUS bagi beberapa orang, tapi aku pribadi tidak punya masalah dengan itu.

Juward. Navigator dalam grup yang sebenarnya tidak melakukan tugas dengan baik juga. Aku berani bilang kalau Juward adalah tokoh kesayangan penulis, sebab subkonfliknya paling komplit serta narasi batinnya paling banyak, bahkan lebih banyak dari Arienne, can you imagine?

North. Pangeran Es, pengendali es, anak Yeti, sering menjadi jalan keluar saat teman-temannya terlibat dalam masalah. Sering diperlakukan seperti anak kecil oleh semua orang, dan aku rasa itu cukup UwU, lantaran sesuai dengan latar belakangnya yang terisolasi dari manusia sehingga perkembangan otaknya agak kureng.

Demian. Bangsawan yang tanah kelahirannya begitu messy, tapi mohon maaf, lahir dan batin aku sama sekali tidak peduli pada konflik anak ini. Posisinya dalam kapal pun tidak begitu penting.

Pierre. Anak Dewa

Carsein. Penunggang Naga dengan Mommy Issue.

Ethan. Kakak yang hilang dan ketemu.

D. Dialog

Ini pertama kalinya aku menemukan novel Watpat yang dialognya cocok dengan seleraku. Tipikal fantasi terjemahan yang tokohnya seumuran, bertemu karena takdir, dan berusaha akrab satu sama lain. Tidak kaku, tidak cringe, bahkan beberapa jokes membuatku senyum-senyum.

Aku paling suka interaksi antara Jake dan Juward. Bagaimana Jake begitu keukeuh pengin berteman dengan Juward yang selalu menanggapinya dengan kesal. Aku yakin beberapa orang akan menganggap interaksi mereka SUS, karena menurut standar beberapa orang, sesama cowok itu MUSTAHIL berteman, kecuali mereka menyimpang.

Tolong jangan dengarkan pendapat LOLOT tersebut, Pembaca Budiman!

Seperti yang kukatakan tadi, porsi dialog kadang mendominasi, tapi aku tidak keberatan karena dialognya membuat kita bisa mengenal para tokoh lebih dalam. Sebenarnya aku lebih mengharapkan dialog UwU antara Arienne dengan Love Interest-nya (aku pilih Jake, h3h3 ...) Namun, di sisi lain aku juga menghargai penulis tidak terlalu mementingkan Romance jika memang tidak dibutuhkan.

E. Gaya Bahasa.

Kita menggunakan POV3 serba tahu sehingga fokus cerita kadang berpindah ke beberapa tokoh sesuai konflik yang sedang berjalan. Ini menjadi faktor utama kenapa porsi andil Arienne begitu sedikit, karena meskipun tokoh utama, subkonflik tokoh lain suka mengambil alih dan menutupi sinar Arienne sebagai protagonis.

Aku sudah membahas detail di segmen plot tentang World Building, jadi di sini hanya penambahan nitpick sedikit-sedikit. Aku tidak begitu paham kenapa Arienne dan rombongannya menyebut diri mereka Bajak Laut, sebab mereka bukan Bajak Laut. Mereka lebih cocok disebut Explorer, karena tidak satu pun dari mereka punya misi untuk membajak, kecuali mungkin Jake.

Also… mentang-mentang mereka menyebut diri sebagai "Bajak laut" bukan berarti mereka harus menggunakan mariam lontar di segala pertempuran, bahkan pertempuran di darat! Pakai senjata lain supaya lebih bervariasi sehingga worldbuilding-nya lebih terasa! Nah, itulah tadi nitpick tambahan dari segi worldbuilding.

Terakhir ... tata letak novel secara keseluruhan rap, meskipun ada beberapa typo, serta tanda baca yang absen di beberapa kata. Tidak mengganggu, tapi noticeable. Mungkin ke depannya pihak editor dan proofreader bisa lebih teliti lagi.

(Bicara begitu seolah dirinya sendiri teliti, cuihh!!)

F. Penilaian

Sampul : 3

Plot : 2,5

Penokohan : 3

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 2,5

Total : 2,8 Bintang

G. Penutup

Ah… akhirnya aku membaca novel estetik dari Instagrem, rasanya ini bukan pengalaman yang membuat kapok, dan aku siap membeli novel lain dari penerbit Haeba Group, karena ternyata isinya tidak terlalu buruk. Sayang beribu sayang, novel ini belum tercantum di Goodreads sehingga aku tidak bisa memasukkannya ke dalam target baca tahun 2026.

WHY NEPTUNE WHYYY!!!

Anyways! Scylla's Way menjadi review novel pertama dan terakhir di bulan Februari sebelum aku membuat Reading Recap February. Jujurlly, buku-buku yang aku baca di bulan Februari tidak ada yang menarik, jadi aku memang memutuskan untuk tidak membuat review full dan hanya membuat recap. Siapa sangka kemudian aku bertemu novel Scylla's Way, dan akhirnya punya sesuatu untuk dibahas!

Nah, sekian dulu dariku. Ingat di bulan puasa yang indah ini, hindarilah menjulid dan perbanyak ibadah. Selepas maghrib barulah kita lanjut menjulid, karena sejatinya menjulid adalah kebutuhan primer (dilempar dari kapal)

Sampai jumpa di review berikutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Impy Hendak Pensiun dari Serial Bumi!? (Review : Hana Tara Hata)

Novel "Pamungkas" Serial Bumi? Affah Iyah? (Review : Aldebaran Bagian 1)

Buku yang Sempurna ... Kata Orang-orang (Review : Laut Bercerita)

Gajah Mada? More Like Gajah Duduk! (Review : MADA)

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

1001 Tips Ngeselin Ala Pacc TL (Review : Ily)