Azab Seorang Nice Guy yang Gemar Yapping (Review : White Nights)
Judul : Malam-malam Putih (White Nights)
Penulis : Fyodor Dostoevsky
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : 2025 (versi ini)
ASIN : B0F77QPKLN
Tebal : 104 Halaman
Blurb :
Keduanya sepakat untuk bertemu lagi di tempat yang sama pada malam berikutnya. Seiring mereka mulai berbagi kisah hidup masing-masing, sang pemuda tak mampu menahan diri untuk jatuh cinta pada kenalannya yang baru itu.
Malam-Malam Putih adalah sebuah kisah klasik tentang kesepian seseorang di tengah kota dan kebutuhan mendesak akan kontak manusia. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1848 dan menjadi salah satu karya penting Dostoevsky di sepanjang karier kepenulisannya. Ia menciptakan penggambaran mendalam tentang kondisi manusia yang kemudian berkontribusi pada perkembangan pemikiran abad ke-20, termasuk psikoanalisis dan eksistensialisme.
A. Pembukaan
Hellow, Pembaca Budiman di seluruh jagad raya. Kita bertemu lagi setelah beberapa lama aku hanya memberi kalian rekap bulanan. Janganlah kalian marah padaku, karena sejatinya aku adalah orang paling imut nan cantik di dunia sehingga kalian tidak mungkin bisa marah. Kecuali kalau kalian tidak punya hati dan jiwa, atau malah bukan manusia sama sekali.
![]() |
| Kalian bilek .... |
Suatu hari Instagrem menunjukkan padaku sepenggal video, menampilkan seorang pria dan wanita muda di dermaga. Mereka terlihat bahagia, terutama si pria yang begitu bersemangat menyongsong masa depan bersama gadis itu. Namun, tiba-tiba gadis itu membeku, lantaran ia melihat seseorang lewat di depannya. Ternyata eh ternyata, seseorang itu memanglah kekasih yang ditunggu sekian lama oleh si gadis.
Gadis itu pun berlari menghampiri kekasihnya, menyambut dengan pelukan bahagia. Lantas bagaimana nasib pria di dermaga? Well ... si gadis berbalik pada pria itu, memeluknya sekilas, kemudian memberikan tatapan terima kasih. Seterusnya dia berjalan bersama sang kekasih menuju kegelapan malam, meninggalkan pria di dermaga dengan segala kepedihan di hati.
Video yang begitu ihiks-ihiks ... dan saat itu juga aku bertekad untuk mencari dari mana video itu berasal, maka kutemukanlah film White Nights tahun 1959. Aku juga menemukan fakta bahwa film tersebut adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Fyodor Dostoevsky terbitan tahun 1848. Ternyata, White Nights adalah novel klasik!
I love me some classics, maka tentu saja aku harus membaca bukunya sebelum menonton filmnya. Aku ingin tahu apa konteks adegan di dermaga itu, bagaimana kisah kedua insan ini dari awal kenal sampai akhirnya berpisah. Apakah kisah mereka memang tragis? Apakah mereka harusnya bersama? Apakah ini akan menjadi buku klasik kesukaanku selanjutnya?
Mari langsung saja kita tengok.
Untuk sampul ... entahlah, kenapa sampul novel versi yang kubaca tidak merepresentasikan isi kisah sama sekali? Perpaduan warna hitam dan merah, serta font resmi nan kaku begitu malah membuat sampulnya lebih identik ke tema detektif atau aksi.
Ya, ya, ya ... don't judge the book by the cover. BUT! Kalau covernya begini, akan ada dua pihak yang merasa dirugikan. Pertama, pecinta tema detektif yang kzl karena malah disajikan kisah romance menye-menye. Kedua, pecinta genre romance yang sangsi akibat disangka orang-orang sebagai pecinta genre aksi jedar-jedor.
B. Plot
Lantaran novel yang akan kita bahas kali ini adalah novel klasik, izinkanlah aku membuat disclaimer ... Aku hanyalah seorang pembaca, pembaca yang julid kalau boleh dibilang. Aku tidak punya ilmu sastra, tidak paham ilmu Filologi. Aku jelas tidak akan bisa dan tidak mau menafsirkan kenapa Shakespeare memilih warna merah untuk sempak Romeo alih-alih biru. Atau hal-hal semacam itu.
Begitu juga untuk White Nights. Sebagai klasik, Novel ini mungkin punya tafsir lain dari berbagai sisi yang menjadikannya masterpiece. Namun, aku hanya akan mengomentari kisah ini secara literal, sebagaimana si penulis menjabarkan kata demi kata di atas kertas.
Apakah review ini akan terasa dangkal? Tentu. Tapi beginilah adanya kondisi di Review Impy, aku tidak sempurna ... wajarlah manusia, bukan nabi booyyy.
Nah, White Nights menceritakan seorang pria kesepian (Sebut saja Sang Pemimpi) yang begitu mengharapkan teman atau kekasih atau siapa pun yang bisa membuatnya lebih hidup. Suatu hari, bertemulah dia dengan seorang gadis bernama Nastenka yang tengah bersedih dan diganggu oleh pria asing. Maka Sang Pemimpi menyelamatkannya, lalu mereka mulai mengobrol, saling kenal, membuat janji dan harapan.
Empat malam mereka habiskan bersama. Namun, akhir kisah ini tidak bahagia karena Nastenka bertemu kembali dengan pria yang selama ini dicintainya, dan dia jelas memilih ikut pria itu daripada Sang Pemimpi. ADEGAN YANG ADA DI INSTAGREM COY!!! Maka Sang Pemimpi pun kembali menjalani hari-harinya yang kesepian dan depresong.
![]() |
| White Nights 1959 |
Um ... bagaimana aku mengatakannya. Sebelum mengetahui konteks, aku merasa adegan perpisahan mereka sangat tragis, menyakitkan, terutama bagi Sang Pemimpi. Namun, begitu mengetahui konteks, aku malah jadi kayak ... Ya jelas lah ditinggal, mana mungkin enggak ditinggal!
Masalahnya begitu ditelaah, Sang Pemimpi ini punya sifat Nice Guy Syndrome, alias tipikal cowok yang merasa dirinya baik, tapi mereka berbuat baik karena mengharapkan sesuatu, ekhem ... "sesuatu" sebagai imbalan. Dalam kasus Sang Pemimpi, dia menyelamatkan seorang Gadis bukan karena niat tulus, melainkan kebelet punya hubungan sosial dengan perempuan, tidak peduli siapa pun.
Kebetulan Nastenka ada di tempat dan waktu yang tepat (atau tidak tepat kalau dari sudut pandang Nastenka). Mereka pun mulai mengobrol. Well ... sebenarnya "mengobrol" juga bukan kata yang tepat, karena dari awal sampe akhir cuma Sang Pemimpi yang yapping kagak kelar-kelar, sementara Nastenka cuma ketawa-ketiwi. Dan aku yakin Nastenka ketawa bukan karena Sang Pemimpi orang asik dan lucu, tapi supaya ini lakik stop yapping aje!
Serius, dua orang ini tidak punya kemistri sama sekali. Pertama, karena Sang Pemimpi yang ngoceh mulu kayak kaleng rombeng. Tidak membiarkan Nastenka membalas ocehannya barang sedetik. Di satu waktu dia malah mengomeli Nastenka cuma karena mengomentari ocehan ngalor-ngidulnya. Bahkan sampai ngancem mau ngambek kalau Nastenka berani-berani menyela ceritanya lagi.
IDIIIHHH!!! Kalo guweh jadi Nastenka, udah guweh tendang tu laki ke rawa-rawa! Maunya didengerin doang, dengerin orang nggak mao! Mending kalau ceritanya barokah, lah ini ngalor-ngidul!
Kedua ... sejak awal pertemuan, Sang Pemimpi terlihat jelas sangat tertarik pada Nastenka. Bukan karena paras atau kepribadian, tapi karena dia SANGAT BUTUH interaksi dengan wanita. Nastenka pun langsung menyadari perasaan sang Pemimpi, makanya buru-buru dia mengatakan kalau Sang Pemimpi TIDAK BOLEH mencintainya. Sebab Nastenka sedang bersedih, dan dia bersedih karena menunggu kekasihnya yang tak kunjung kembali.
Intinya jelas, Nastenka sedang bersedih merindukan kekasihnya, tetiba ni lakik nongol entah dari mana, mencari kesempatan dalam kesempitan! Tanpa memedulikan fakta bahwa Nastenka masih sangat mencintai kekasihnya dan tidak ada niat berpaling hati! Bagaimana aku bisa merasa kasihan pada Sang Pemimpi saat Nastenka dan kekasihnya bersatu dan meninggalkannya! AKU MALAH SENANG!
Narasi para pembaca terhadap novel ini adalah, "Nama Nastenka disebut sebanyak ratusan kali, tapi nama Sang Pemimpi tidak sekali pun disebut."
Dan tanggapanku adalah ... Ya jelas, dong! Orang dia doang yang kebelet kenalan, di saat Nastenka jelas-jelas lagi mau fokus jadi Sad Gorl di dermaga. Sang Pemimpi pikir karena sudah menyelamatkan Nastenka dari cowok iseng, dia berhak jadi pacarnya gitu? Sorry yee! Lagi pula, aku yakin Nastenka sebenarnya ingin menanyakan nama Sang Pemimpi, kalau saja dia kagak nyerocos mulu.
Pada akhirnya, keseluruhan novel ini cuma mengisahkan cowok Nice Guy kebelet pacaran yang gemar yapping. Kemudian mencari kesempatan dalam kesempitan pada seorang wanita yang sedang bersedih. Mengabaikan peringatan dan larangan untuk jatuh cinta dari si wanita. Akibatnya dia dapat azab kesedihan melihat Nastenka dan pacarnya balikan.
BUT!!! Sekali lagi itu adalah penafsiran dariku pribadi tentang novel White Nights. Narasi dalam novel pun tidak pernah condong ke satu tokoh. Tidak pernah menyalahkan Nastenka karena menolak, atau tidak pernah membela kelakuan Sang Pemimpi yang awikwok. Makanya, novel ini sebenarnya berakhir dengan masuk akal. Hanya saja, ekspektasi pembaca pada hubungan manusia terkadang suka tidak tahu batas.
Hanya karena sepasang manusia menghabiskan waktu bersama, bukan berarti mereka harus punya hubungan khusus. Bahkan tidak juga harus berteman. Jadi mengharapkan Nastenka dan Sang Pemimpi bersatu sebenarnya hal brekele karena memang tidak perlu, tidak pernah direncanakan untuk begitu.
C. Penokohan
Sang Pemimpi. Son ... Aku tahu kau sangat desperate memiliki hubungan sosial, terutama kepada wanita, but this not it! Yapping ngalor-ngidul kepada perempuan yang sedang berkabung dan mengharapkan orang itu jatuh cinta padamu, bukanlah cara yang tepat. Tidak peduli kau menolongnya dari orang iseng atau menolongnya dari rawa-rawa.
Impy punya pesan untuk Sang Pemimpi juga para lalaki di luar sana ... Wanita adalah pendengar yang baik, maka sebaiknya kalian para lalaki juga melakukannya. Jangan jadi model Sang Pemimpi yang cuma mau didengar seolah ingin jadi pusat perhatian, merasa dirinya paling unik, paling menderita, dan paling kesepian di dunia. Ya, pantaslah JOMBLO, auranya suram begitu!
Nastenka. Sesering apa pun media mainstream memaksaku untuk melihat Nastenka sebagai villain, aku akan tetap berada di pihaknya. Karena Nastenka adalah seorang wanita yang punya prinsip dan setia. Terlihat dari caranya membangun batasan dengan Sang Pemimpi demi menunggu kekasihnya. Namun, di sisi lain dia juga penuh empati dan gak enakan, sampai tidak bisa tegas mengusir Sang Pemimpi jauh-jauh.
Aku yakin Nastenka adalah seorang INFP, dan mungkin juga Pisces. Tidak mungkin ada orang sesabar ini menghadapi Nice Guy kalau tidak punya meteran kesabaran tinggi!
D. Dialog
Karena keseluruhan novel mengisahkan Sang Pemimpi yang gemar ngoceh, dialognya juga ikut-ikutan puitis, penuh metafora, prosa ungu, bahkan agak-agak nggak manuk akal. Kebanyakan dialog memang datang dari Sang Pemimpi yang menceritakan kisah hidup pribadinya, yang sebenarnya kagak seru-seru amat, tapi dia menyusun diksi sedemikan rupa supaya terdengar kulbet bagi Nastenka.
Nastenka di sisi lain kebanyakan haha-hihi. Sekalinya ada kesempaan cerita, dia cuma menyebutkan betapa mengekang neneknya di rumah. Cara Nastenka bercerita juga sangat berbeda dari Sang Pemimpi. Dia menyusun kata lebih singkat, padat, dan jelas sehingga tidak banyak yang bisa digali dari sana.
Untuk ukuran buku klasik, novel ini dialognya paling membosankan dan tidak punya ciri khas. Kalau dibandingkan Frankenstein atau Little Women misalnya. Kedua novel itu memberikan kesan kuno dan elegan, bahkan menggambarkan zaman saat itu berserta segala konflik di dalamnya. Namun, White Nights terkesan kayak dialog anak-anak remaja biasa di novel teenlit.
E. Gaya bahasa
Lain dari novel-novel klasik kebanyakan yang narasi lebih banyak dari dialog. White Nights ini dialognya sangat banyak, sekalipun ada narasi atau deskripsi, biasanya datang dari monolog atau isi pikiran Sang Pemimpi. Padahal sudut pandang yang diambil bukan POV1. Tapi eh tetapi, seperti yang aku bilang, narasi novel ini tidak menggiring opini.
Kita tidak dipaksa terlalu nelongso pada Sang Pemimpi, atau dipaksa menganggap Nastenka adalah cewek jahat yang menyakiti hati cowok Nice Guy. Narasi dalam novel ini adil, dan itulah hal yang paling aku hargai dari se-fruit novel.
F. Penilaian
Sampul : 2
Plot : 2
Penokohan : 1,5
Dialog : 2
Gaya Bahasa : 2
Total : 2 Bintang
G. Penutup
Okay, okay ... marilah kita sebutkan gajah di dalam ruangan! Ternyata White Nights bukan novel melainkan novela! Tapi aku sangat malas merevisi kembali semua kata novel menjadi novela pada keseluruhan review, karena aku sudah tidak punya waktu dan tenaga lagi!
"Booooo!!! Impy brekele, boooo!!!"
Lempar saja, lempar semua tomat itu! Kalian pikir aku peduli? (Aku sangat peduli).
Ekhem ... mengesampingkan semua itu, mengetahui White Nights ternyata tidak terlalu ihiks-ihiks, aku jadi ragu mau menonton adaptasi film-nya. Meskipun aku yakin visualisasi novel ini mungkin lebih barokah, karena kita bisa melihat ekspresi wajah para tokoh, dan bagaimana gaya tubuh mereka saat berinteraksi. Aku akan menonton White Nights 1959, tapi gatau kapan, h3h3 ....
Nah, segitu nulu review kali ini, memang tidak panjang dan rada julid, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, kan? (digampar). Aku akan membuat rekap bulan Mei setelah ini, karena seperti kata pepatah bijak, "Lebih baik terlambat, daripada jadi sempak."
Sampai jumpa di lain hari ^o^/























Comments
Post a Comment