The School For Good And Evil (Jilid 1)


Judul : The School For Good and Evil

Penulis : Soman Chainani

Penerbit : Bhuana Populer

ISBN : 602-249-756-6

Tebal : 580 Halaman

Rating Pribadi : 4,5 Stars

Blurb :


Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatanya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng.

Sementara itu Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya terhadap hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan. Namun ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan.

Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama pangeran tampan dan putri cantik, mempelajari Etiket Putri. Bagaimana kalau ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah ... bertahan hidup. Dalam Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Pandangan Pertama

Hai, guys, Impy di sini, untuk pertama kalinya akan mengapresiasi sebuah karya dengan memberikan review jujur yang sangat-sangat jujur. The School for Good and Evil (Jilid 1), ya ... Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, karya Soman Chainani. Aku pertama kali melihat buku ini di sebuah toko buku (ya iya lah, masa di matreal!) tepatnya di Gramedia Margonda Depok, Jawa Barat.

Buku ini terpajang begitu apik di salah satu etalase bertajuk FANTASI, yang notabene adalah tempat seorang Impy bergentayangan ketika mengunjungi toko buku. The School for Good and Evil berdiri paling depan dengan sampul bersinar-sinar akibat tersorot lampu. Perlu diketahui, aku adalah tipe pembaca dan pembeli yang menilai buku dari sampulnya.

Begitu saja, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sampul The School for Good and Evil yang menurutku sangat cantik, indah, menarik, bersinar-sinar. Dua gadis yang terpajang di sana membuatku bertanya-tanya siapa mereka, bagaimana sifat mereka, apa hubungan mereka. Ingin rasanya mengenal keduanya lebih dekat, mengetahui kisah mereka lebih dalam. Ditambah dua angsa hitam dan putih yang melambangkan kedua gadis itu, masing-masing berdiri di sebuah kastel tempat mereka tinggal.

Pertanyaan baru pun muncul. Kenapa si gadis yang berangsa hitam serta beraura jahat malah berdiri di sebelah kastel putih? Yang berarti Sekolah Kebaikan. Lalu kenapa yang berwujud bak seorang putri berdiri di kastel hitam, yang tentu saja adalah Sekolah Kejahatan? Sudah pasti, inilah buku yang akan kubeli!

B. Ngomongin Anu

Pertama membuka buku, kita sudah disuguhkan berbagai informasi singkat, jelas, dan padat tentang apa yang sebenarnya terjadi di desa Gavaldon. Kita juga langsung dikenalkan dengan dua tokoh utama Sophie dan Agatha yang selanjutnya menghabiskan hari-hari mereka di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.

Penggambaran latar dan suasana sangat terasa di sini, begitu jelas dan spesifik sampai-sampai kalian seolah benar-benar ada di sana bersama mereka, mengalami semua yang mereka alami. Setelah adegan penculikan anak-anak perempuan yang terbilang cepat, alur adegan selanjutnya berjalan sangat lamban, terlihat si penulis benar-benar ingin menimbulkan emosi dalam diri tokoh, sebisa mungkin agar para pembaca ikut merasakannya.

Bagaimana Agatha dan Sophie kebingungan, bagaimana prilaku para penghuni sekolah terhadap keduanya, bagaimana reaksi murid-murid lain terhadap posisi mereka yang 'tertukar'. Semua tergambar sangat jelas, diceritakan dengan begitu apik. Hati kita benar-benar dipermainkan oleh si penulis. (Jahat kau, Bang Soman!)

Belum lagi kemunculan Sang Pangeran labil nan bodoh ke dalam hidup Agatha dan Sophie. Bocah sok keren yang sebenarnya sedang kebingungan mencari jati diri. Mulai dari kemunculan Sang Pangeran, kalian akan dibuat dilema mati-matian, lagi-lagi perasaan kalian akan dijungkirbalikkan.

Ke mana kalian memihak? Siapa yang akan dipilih Sang Pangeran? Siapa penjahat sebenarnya dalam kisah ini? Dan apakah persahabatan Agatha dan Sophie benar-benar persahabatan yang tulus? Atau ada maksud lain yang belum terucap. ARGH!!! Aku sendiri berkali-kali mencak-mencak saat membaca cerita ini. Banyak hal yang bisa membuat kalian mencak-mencak. Sangat banyak.

Kenapa Sang Pangeran sangat bodoh? Kenapa Sang Pangeran sangat labil? Kenapa Sang Pangeran tidak terlihat seperti pangeran sungguhan? Yang begini memang bisa meneruskan takhta kerajaan? Ya ... semua hal yang membuat kalian emosi, akan datang dari Sang Pangeran. Percayalah. Seluruhnya. Dasar cowok memble!

C. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan The School For Good and Evil
  • Kisah yang sangat menarik, dieksekusi dengan sangat sempurna. Membawa para pembacanya ke dalam petualangan yang benar-benar nyata.
  • Konsistensi karakter tokoh, dibarengi dengan pengembangan sifat-sifat yang tidak terburu-buru, tapi snagat jelas perbedaannya.
  • penggambaran latar dan suasana yang sempurna, seolah kita juga berada di sana, tanpa harus berimajinasi terlalu keras.
  • Chemistry antar tokoh yang membingungkan, dalam sisi positif.
  • Gambar sampul yang indah dipandang mata, serta membuat penasaran.
  • Ilustrasi-ilustrasi menarik di dalam buku menjadi nilai bonus yang sangat besarrrr.
Kekurangan The School For Good And Evil
  • Alur yang terlalu lamban di pertengahan sampai akhir. (Meskipun semua itu bertujuan untuk mempererat hubungan antar tokoh.)
  • Terlalu banyak nama-nama tokoh bermunculan, mulai dari teman-teman, para guru, Dekan, bahkan sampai makhluk hutan. Sebenarnya bukan terlalu masalah, hanya saja kemunculan tiba-tiba yang secepat itu cukup membuat pembaca kebingungan. (Apa lagi yang tulalit macem aku.)
  • Terkadang penulis menggambarkan latar terlampau spesifik, dan malah membuat pembaca kebingungan menangkap apa maksudnya. Tahu sendiri, kan? Setiap kepala mempunyai imajinasi yang berbeda. Penulis sepertinya menginginkan pembaca membayangkan persis apa yang ada di kepalanya.
  • Yang terakhir sangat penting .....
  • TEDROS TERLALU BODOH UNTUK SEORANG PANGERAN!!!

D. Penutup

Untuk sebuah cerita fantasi, sebenarnya tema yang diangkat penulis sudah sangat mainstream. Sekolah ajaib, kerajaan, dongeng, penyihir, dan hal-hal khas fantasi lainnya. Namun, mengingat begitu apik dan kerennya penulis mengeksekusi kisah ini, aku benar-benar jatuh cinta dengan karyanya. The School for Good and Evil bagiku bukan hanya bagus di luar, tapi juga di dalam.

Saat itu aku ibarat membeli seekor kucing di dalam karung, dan ternyata aku sedang beruntung, kucing di dalam karung ternyata adalah seekor anak Cheetah! Aku senang luar biasa, sampai bermain-main dengan Cheetah-ku selama hampir 6 jam. (Ya, aku membaca buku ini selama itu, dan belum langsung selesai.)

Aku menghabiskan waktu membaca buku ini sekitar hampir 2 hari. Mengingat aku adalah tipe PeLor alias Nempel bantal langsung Molor, alias mustahil membaca sambil rebahan di kasur. Jadi sebisa mungkin aku baca buku ini sambil duduk, dan bokongku hanya mampu bertahan selama 6 jam per hari-nya. (Sehat terus ya, Bokong.)

Kabarnya, buku ini akan dibuat menjadi 6 jilid, ditambah satu buku bonus. Kabar baik sekaligus buruk, karena itu menghabiskan begitu banyak uang T_T. Karena aku jatuh cinta dengan buku ini, aku bersumpah pelaut akan melengkapkan setiap jilidnya, meskpun itu membuatku Missqueen!

Yah ... mungkin segitu dulu yang bisa aku sampaikan pada kalian semua. Sebenarnya ini benar-benar pertama kali aku membuat Blog, jika ada salah kata mohon dimaklumi *puppy eyes*

Sekian dulu dari Impy Island. Sampai jumpa di Review selanjutnya ^O^ /

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)