Dilan 1990 (Buku 1)


Judul : Dilan (Buku 1) : Dia adalah Dilanku tahun 1990

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit : Mizan Pustaka

ISBN : 978-602-7870-41-3

Tebal : 330 Halaman

Rating Pribadi : 4 Stars

Blurb :


"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Dilan Siapa, Sih?

Sebenarnya aku membaca buku Dilan sudah sangat lama, dan baru bisa mereview sekarang, (harus baca ulang pula biar inget lagi). Pertama mendengar nama Dilan dari orang-orang Wattpad, jaman itu aku lagi aktif-aktifnya di dunia oranye. Aku menggarap sebuah cerita berjudul "The Rugrats Theory" yang mana di dalam karya itu ada juga nama Dylan (dengan 'Y'). Ketika orang-orang membicarakan Dilan, aku pun agak GR, wah jangan-jangan mereka membicarakan Dylan-ku.

Ternyata, mereka memang sedang membicarakan Dilan-ku, tapi bukan Dylan-ku, karena Dylanku pakai 'Y' sementara Dilanku pakai 'I' (apaan si?). Wah, saat itu yang membicarakan Dilan banyak sekali, saking banyaknya aku pun tertarik untuk membacanya juga, (ini jauh sebelum jaman terrayu oleh Kupu-kupu). Apa lagi sampul Dilan bisa dibilang seleraku banget.

ILUSTRASI TOKOH!!! Ya ... untuk penulis-penulis di luar sana yang ingin menggarap buku, buatlah sampul anda semenarik mungkin, kalau bisa dengan ilustrasi tokohnya, itu sangat menarik perhatian pembaca semodel aku. Intinya ... aku suka Dilan, aku tertarik sama Dilan, meskipun menurutku blurb-nya agak-agak gimana gitu. Terlalu banyak quotes dipaksakan.

Sayangnya akibat hebohnya fenomena Dilan, banyak sekali cerita Wattpad saat itu yang memakai tokoh dengan nama Dilan, atau Dylan. DAN!!! Kesannya aku juga mengikuti tren tersebut, padahal sumpah demi tujuh lautan aku menggunakan nama Dylan tanpa tahu menahu kalau buku Dilan 1990 ada di dunia T_T.

Untuk sampul Dilan, sudah kukatakan, itu sangat menarik, font bagus, perpaduan warna oke, dan tokoh Dilan terlihat sangat natural, alias tidak diganteng-gantengin seperti kebanyakan ilustrasi buku teenlit lain. (jaman sekarang malah jelas-jelas cuma pakai model luar negeri yang di vektor). Maksudku ... hellooww, tidak ada orang Indonesia yang bertampang begitu (ada sih tapi sangat jarang sekali banget!)

Daripada kelamaan melantur, sebaiknya kita mulai saja.

B. Ngomongin Anu

Kisah dimulai dari sudut pandang seorang wanita bernama Lia alias Milea yang sedang duduk di depan komputer sambil memperkenalkan diri serta keluarganya. Lalu mulailah ia mengingat masa lalu, masa-masa SMA yang juga dikenal dengan masa-masa paling indah, masa-masa di mana ia masih kekanakkan, lalu mengenal seorang anak laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai peramal. Dialah Dilan.

Oke, dari sini aku tahu kalau ending kisah ini tidak akan happy, alias mereka tidak akan end up bersama dan bahagia selamanya. Nah, kalau ending sudah terbaca begini, apakah kisahnya masih akan bagus? Ternyata ... ya, bisa dibilang aku enjoy embaca cerita ini. Kisah ini penuh dengan adegan-adegan klise, seperti Milea anak baru, lalu dia cantik, semua orang suka, dia juga pintar, dideketin cowok nakal tapi lembut kalau sama dia, ada orang ketiga, dan semacamnya.

Namun, cara penceritaan di sini asik sekali, mengalir seperti air, karakter Dilan unik dan lucu. Om Pidi Baiq juga menceritakannya dengan ringan, tapi menyentuh lewat Milea. Cara PDKT Dilan memang sangat unik, lain daripada yang lain, cara dia bicara, cara dia bertingkah, membuat aku dengan mudah juga ikut suka. Buku ini juga cukup menunjukkan situasi jaman 90-an, seolah kita di ajak pergi ke masa lalu. Aku bisa membayangkan jaman itu di buku ini. Entahlah, tapi pembawaannya memang beda.

Diceritakan di sini Dilan menyukai Milea karena dia cantik. Itu masuk akal dan sangat jujur, memang di mana-mana orang pasti melihat fisik duluan, kan? Berbeda dari buku sebelah yang mati-matian nggak mau dibilang menilai orang dari luarnya, padahal memang begitu. (aduh julid lagi!!!) Nah, satu juga yang aku suka. Dilan punya alasan lain kenapa dia suka Milea, bukan semata-mata karena dia cantik, tapi juga karena pemikiran Milea yang modern, bisa diajak bercanda, bisa juga serius, dan asik.

Dan itu kenyataan. Kalau dilihat dari tingkah ajaib Dilan, semua cewek bisa aja anggap dia aneh, ngomong suka nggak jelas, ngasih hadiah cuma TTS yang udah di isi pula! (sumpah ini unik banget!). Cewek lain mungkin membuang hadiah itu jauh-jauh, atau menerima dengan setengah hati, tapi Milea tidak begitu, Milea malah senang dan menghargainya, ia tahu Dilan unik dan itu lah alasan utama Milea suka sama Dilan. Bukan karena fisik atau hartanya. Semuanya jelas di buku ini.

Kisah Dilan 1990 memang hanya menceritakan bagaimana perjuangan Dilan dan Milea untuk bisa bersatu, tapi itu adalah kisah singkat nan panjang yang membuat hati terenyuh, memang kebanyakan kisahnya sederhana, tapi karena cara berceritanya yang menarik, kita bisa ikut merasakan apa yang Milea rasakan. Oh, aku juga suka banget sikap Milea ke Kang Adi. Jutek, tapi tetap menghormati karena dia lebih tua! Go Milea, Go!!!

Dan adegan dengan Beni serta konfliknya ... sederhana tapi bisa membuat kita ikut bersimpati. Memang LDR itu rumit, memang salah Milea kepincut ama Dilan padahal masih punya pacar. Tapi coba lihat sikap Beni, dia itu kasar, mulutnya comberan, mainannya ngadu ke orang tua biar balikan. Aku sih nggak masalah Milea putus dengan Beni. Memang pantes, h3h3!!!

C. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan Dilan 1990
  • Gaya bercerita yang menarik.
  • Penjelasan sebab-akibat yang relevan, tidak terkesan dibuat-buat, dan memang masuk akal daripada kisah fiksi lain.
  • Setiap karakter mempunyai peran berbeda yang juga dalam porsi seimbang, beberapa memang ada yang cuma sekali dua kali muncul, tapi toh mereka memang tokoh yang kurang berpengaruh.
  • Dilan dan Milea sangat loveable, Milea bertingkah seperti seharusnya seorang anak SMA normal yang sedang mencintai seseorang. Bandel Dilan juga masih taraf wajar, memang termasuk bandel banget, tapi memang kenyataannya anak-anak laki-laki masa SMA melakukan kenakalan yang sama.
  • Kisah yang kalau dipikir-pikir rentang waktunya lumayan singkat, tapi entah kenapa semua kejadian bisa terkenang, dan membuat seolah ini adalah kisah yang panjang tanpa harus dilebih-lebihkan.
  • ILUSTRASI!!!!!
Kekurangan Dilan 1990
  • Dialog yang terkadang terlalu singkat saat bertelepon, malahan aku menemukan ada beberapa dialog yang tertukar.
  • Terlalu banyak quotes yang menurutku dipaksakan menjadi quotes.
  • Gaya bicara yang terkadang kaku. (sebenarnya aku juga nggak tahu harus memasukan ini ke kelebihan atau kekurangan)

D. Penutup

Wow ... sudah sejak lama aku tidak sebaper ini membaca cerita teenlit. Jaman-jaman SMP dulu aku snagat suka teenlit, tapi semenjak fantasi menyerang aku mulai menganggap teenlit itu genre murahan yang cengeng. Nyatanya, memang cengeng, cuma yang satu ini nggak murahan sama sekali. Beberapa adegan sangat memorable di otakku, bahkan suka kubaca ulang agar bisa merasakan baper untuk kedua kalinya.

Kabar baik, ada tiga seri Dilan yang tentunya akn kubaca semua. Padahal kalau dipikir-pikir kisah ini sangat klise, tapi aku suka banget dengan cara berceritanya. Aku suka setiap detail kecil yang dibuat penulis, terkadang kita sendiri tidak menyadarinya. Om Pidi Baiq, kau lalaki tapi kenapa bisa bikin cerita dari sudut pandang perempuan seakurat ini? Jangan-jangan ....

Oh, di banyak orang mengatakan kalau Dilan dan Milea adalah orang asli, alias ini diangkat dari kisah nyata. Aku sih percaya tidak percaya, mungkin benar, mungkin juga hanya strategi marketing, yang jelas aku suka kisah ini, aku suka buku ini, dan aku dengan senang hati menyarankannya pada orang lain.

Sepertinya sampai sini dulu review kali ini. Apakah Dilan menjadi buku teenlit favoritku? Bisa jadi, apakah aku menyesal membaca ini berdasarkan gunjingan orang-orang? Tidak sama sekali. Aku malah mau berterima kasih pada mereka karena sudah mempertemukanku dengan Dilan. Nah, sampai buku selanjutntya, aku akan mempersiapkan diri.

Sampai jumpa di review selanjutnya ^O^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)