Buku-buku Bertuah (Intermezzo)

Buku-buku yang Tidak akan Kubuat Review-nya (atau mungkin Belum)

Kenapa blog review ini kadang suka gak aktif lama?

Sebenarnya aku tidak sedang kehabisan bahan bacaan. Oh, tidak sama sekali, Antonio. Persediaan bahan bacaanku mungkin sebanyak koin emas Paman Gober di lemari besinya. Akan tetapi, aku tidak bisa memberi review pada beberapa buku untuk berbagai alasan. Barang kali buku tersebut terlampau memble sampai aku tidak mampu menyelesaikannya, ada juga beberapa buku yang sangat aku cintai sehingga kalau dibikin review-nya pun cuma akan berisi pujian-pujian, atau ada pula buku-buku yang entah kenapa selalu gagal aku selesaikan padahal aku sangat ingin membuat review-nya.

Nah, oleh sebab itu aku membuat tulisan ini khusus untuk buku-buku yang mungkin tidak akan kubuat halaman review-nya sendiri untuk beberapa alasan. Namun, tidak menutup kemungkinan juga suatu hari akan kubuat lebih detail. Ditambah aku harus menulis sesuatu di blog ini selagi membaca buku untuk review baru h3h3 ....

A. The Sisters Grimm Series (1-9)


Buku Middle Grade-Fantasi pertamaku, buku yang membuatku jatuh cinta dengan menulis, buku yang menjadi inspirasi utama dalam novelku sendiri. Seri pertama The Sisters Grimm : Petualangan Detektif Dongeng pernah diterbitkan di Gramedia. Entah tahun berapa, aku sendiri lupa. Buku itu pun membuatku tersepona dan berniat mengoleksinya sampai tamat. Akan tetapi, Gramedia memutuskan untuk menghancurkan hatiku berkeping-keping dengan tidak menerjemahkan sisa bukunya.

Bertahun-tahun aku menunggu, mencari, dan berharap, tapi selama itu pula tidak ada hasil yang memuaskan, sampai akhirnya aku melupakan series tersebut. Bertahun-tahun kemudian, terima kasih untuk kecanggihan internet dan otakku yang sudah agak pinteran dikit. Aku bisa membaca Series The Sisters Grimm secara online sampai tamat. Membuat salah satu mimpi terbesarku terwujud. Memang lebay, tapi kalian akan tahu rasanya saat hal seperti ini terjadi pada diri kalian sendiri.

Buku ini sudah kubaca semua, dan buku ini tidak mengecewakanku sama sekali. Plot, konflik, tokoh, penokohan, tema, latar, nostalgia. Aku bisa menulis daftar panjang tentang segala hal yang kucintai dari seri ini, tapi aku hanya akan mengatakan satu hal. SEMPURNA. Belum pernah lagi aku menemukan novel dengan nuansa serupa, belum ada lagi novel yang berhasil mencuri hatiku seperti The Sisters Grimm melakukannya 10 tahun lalu.

Alasan mengapa buku ini tidak akan punya review-nya sendiri sudah sangat jelas. Aku terlalu mencintai buku ini, jadi besar kemungkinan isi review tersebut nantinya hanya aku memuja-muji novel masa kecilku ini, dan kalian mungkin tidak akan terlalu tertarik dengan itu.

B. Buku-buku Legendaris

Apa sih buku-buku legendaris itu? Tentu saja yang setara dengan Narnia, The Lord of The Ring, Harry Potter, dan lain-lain. Kenapa buku-buku legendaris tersebut tidak akan pernah kubuat review-nya? Tentu saja karena sudah banyak sekali review-review di luar sana yang mewakili perasaanku. Percuma saja membuatnya kalau pada akhirnya hanya mengulang tulisan orang lain dengan gaya menulisku sendiri. Memang bisa jadi berbeda, tapi intinya tetap saja sama.

Aku lebih suka mereview buku-buku yang terlalu disanjung (overrated) atau malah terlalu diremehkan (underrated). Aku juga lebih suka me-review buku-buku yang tidak terlalu populer, atau jika pendapatku berbeda dengan review-review lain di luar sana sehingga aku harus menumpahkan pendapatku sendiri kepada orang-orang. Barang kali kemudian ada yang berpendapat sama denganku dan akhirnya kami pun jodoh ... maksudku, kami pun bisa betukar pemikiran lebih jauh lagi.

C. Seri Ther Melian


Arghh!!! Bagaimana aku menggambarkan perasaanku pada buku ini. Aku ingin sekali membuat review tentang novel fantasi lokal yang identik dengan Elf ini. Akan tetapi, aku tidak pernah bisa menyelesaikannya. Selalu ada novel lain atau kegiatan lain yang membuatku menunda lagi dan lagi. Membaca ulang lagi dan lagi, sampai akhirnya bosan sendiri. Ther Melian bisa dibilang seri fantasi tersukses di Indonesia, dan mereka mengangkat tema kesukaanku! Elf dan peri dan kerajaan! Seharusnya tidak ada alasan bagiku untuk menunda-nunda buku ini!

Tentu saja, aku akan terus berusaha untuk membaca Ther Melian, lantas memberikannya review yang layak. Aku hanya belum menemukan mood yang tepat, dan setiap akan mulai berusaha dari awal, pasti ada saja gangguan. Ther Melian, sihir apa yang kau berikan kepadaku? Katakan!

D. Seri Ksatria Cahaya Everna Saga


Ah, seri ini ... kasusnya persis Ther Melian, berkali-kali mencoba membaca, berkali-kali juga gagal. Mungkin bedanya untuk seri Ksatria Cahaya aku kesulitan menyelesaikannya karena nama-nama tokoh maupun tempat dalam buku ini terlalu rumit. Katakanlah otakku memble (emang) dan aku akan kesulitan mengikuti jalan cerita, kalau nama tokoh dan tempatnya saja aku tidak ingat! Yah, memang aku belum berusaha lebih keras. Dengan segala kesibukan duniawi, serta buku-buku lain, fokus adalah hal yang nyaris mustahil.

Aku bertekad untuk mencoba membaca seri ini lagi dengan pikiran yang benar-benar rileks, dan aku akan membuat reviewnya di sini, entah kapan tapi pasti, dan semoga tidak memakan waktu terlalu lama. Kenapa? Tentu saja karena series ini kedengaran dan kelihatan sangat-sangat-sangat menarik, dan ini Epic Fantasi! World Buildingnya bahkan dibuat dengan sangat rinci selama bertahun-tahun oleh si penulis. Universe lain yang benar-benar original (Myself would never ....)

P.S : Penulisnya sangat baik hati karena membagikan karyanya secara percuma. Respect.

E. Buku-buku "Oke"

Bagaimana aku mengatakannya ya ... buku-buku oke itu bisa dikatakan yang kisahnya kurang berkesan buatku pribadi. Buku-buku yang tidak meninggalkan rasa apa pun atau tidak memberi alasan kuat untuk dibahas saat selesai membacanya. Contohnya buku-buku Risa Saraswati. Aku sudah membaca hampir semua buku beliau, tapi entah kenapa mereka semua beda-beda tipis dalam hal konflik, tema, suasana, dan lain-lainnya. Seolah tidak ada hal baru yang menarik untuk dibahas.

Jangan salah sangka dulu. Aku suka karya-karya beliau karena aku punya soft spot untuk "kisah nyata" dan "Hantu". Jadi kalau sebuah buku mengandung dua kata tersebut aku akan menyebutnya menarik. Nah, untuk buku-buku Teh Risa buatku belum cukup menarik untuk dibahas sepenuhnya dalm satu halaman khusus. Begitu juga buku-buku Raditya Dika, atau Seri My Stupid Boss. Aku suka semuanya, tapi tidak menggugah untuk dibahas. Yah, kalian tahu maksudku lah!

F. Buku-buku Populer Terbitan Watpat


Kalau kalian mengenalku baik di dunia nyata maupun sosial media maupun alam lain, kalian tahu betul bagaimana hubunganku dengan buku-buku populer terbitan Watpat. Tidak ... tidak ... aku tidak membenci buku-buku populer terbitan Watpat. Aku MENGUTUK buku-buku populer terbitan Watpat! Namun, aku punya kebiasaan buruk menyiksa diri dengan membaca buku-buku populer tersebut, dan mengejek betapa memblenya mereka. Memang kedengaran jahat dan kurang kerjaan, tapi hey! Guilty pleasure orang berbeda-beda ya! Kalian hargai itu!

Sebanyak apa pun buku-buku terbitan Watpat yang sudah kubaca, tidak akan pernah ada satu pun yang kutulis di sini. Kenapa? Satu, aku tidak pernah menamatkannya. Dua, aku sudah pernah membuatnya (Silakan liat review-ku tentang Mariposa). Tiga, kebalikan dari The Sisters Grimm, review-ku tentang buku-buku Watpat hanya akan berisi hate speech. Tidak akan, aku ulangi TIDAK AKAN mampu diriku ini menyebutkan sisi positif dari buku-buku terbitan Watpat populer, atau setidaknya yang pernah kubaca dari saran-saran masyarakat.

Semuanya Overrated pasti, konflik brekele (oh, janganlah kalian minta lebih detail lagi tentang ini, karena itu artinya aku harus bikin part khusus), penokohan memble, tema itu-itu aja, cacat logika, plot hole, dialog cringe, pemaksaan kehendak, romantisasi kekerasan, dan segala macam lainnya. AKU MUAK! Sekali pun memaksa membuat review, semua review itu isinya akan kurang lebih sama, dan aku paling malas mengulang satu poin lagi dan lagi dan lagi dan lagi.

Jadi kesimpulannya, Mariposa saja cukup. Aku tidak mau mengotori Blog indahku ini dengan sesuatu yang toxic. KECUALI, kalau suatu hari nanti, entah kapan, dan apakah itu akan terjadi. Ada satu buku Watpat yang benar-benar kusukai, yang benar-benar sesuai kriteriaku dan layak mendapatkan review pribadi. Sebelum itu ... NO. NEVER. NAH. Tapi jangan khawatir, aku masih akan selalu Update buku-buku populer Watpat, dan akan selalu menyiksa diri dengannya.

G. Penutup

Demikianlah Intermezzo dariku. Semoga ini bisa membuat kalian paham, bahwa bagiku pribadi, melakukan review pun harus pilih-pilih (ditampol).

Oh, jikalau ada di antara kalian penulis Watpat dan tersungging dengan beberapa tulisanku tentang buku-buku Watpat. Maka aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kalian harus ingat, aku mengutuk buku-buku populer terbitan Watpat, bukan penulisnya. Tentu saja penulis Watpat semuanya masih muda, kebanyakan bahkan baru terjun ke dunia menulis. Mereka akan belajar dan mereka akan menjadi lebih baik lagi, aku yakin itu. Aku sendiri pun penulis Watpat, jadi kita ada di sepatu yang sama sekarang ini! Dan aku kedengaran seperti nenek-nenek lagi.

Untuk buku-buku yang tidak mendapatkan Spotlight-nya sendiri dalam Blog-ku. Kalian jangan khawatir. Suatu saat nanti, hal itu mungkin akan terjadi. Mungkin.

Sampai jumpa di Review beneran, di kemudian hari ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman