Icylandar #3 (The Prince)


Judul : Icylandar #3 (The Prince)

Penulis : Dionvy

Penerbit : Pustaka Redemptor

ISBN : 9786029708721

Tebal : 707 Halaman

Blurb :


Terjadi keanehan-keanehan pada beberapa kota manusia. Para mata-mata Icylandar juga merasakan adanya suatu gerakan misterius yang tidak mereka kenal. Mereka seperti menghadapi suatu kekuatan baru. Tugas kalian sekarang adalah membantu para mata-mata memecahkan apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jendral Rodrigo.

“Kalau para mata-mata saja tidak sanggup memecahkan misteri ini, apalagi kami,” sahut Padris.

Sayangnya meski Padris merasa bahwa tugas itu mustahil, tetapi sang jendral utama Icylandar tetap bersikeras mengirimnya untuk pergi ke Kota Tetronella, suatu kota manusia tempat semua kejadian aneh tersebut berpusat. Hanya dengan ditemani oleh Louie, Keysuu, Ruben, serta Reiden, ia harus melakukan perjalanan panjang yang penuh petualangan. Namun sepertinya bukan petualangan seru yang akan ia dapatkan, melainkan perjalanan penuh bahaya. Semua itu semakin parah saat beredar berita bahwa telah muncul suatu sosok yang disebut Pangeran Kelima.
MENGANDUNG SPOILER (DIKIT)

A. Putih-putih Melati, Alibaba!

WE DID IT, GUYS! BUKU TIGA, YEEY!

Kita sudah 3/4 jalan menuju kebebasan haqiqi. Setelah buku empat selesai nanti, kalian jangan khawatir karena aku masih akan menyiksa diri dengan serial lain yang juga sering kita jadikan bahan julid di lapak ini. Kalian tahulah yang mana, seluruh dunia juga tahu. Jadi, tetap tunggu dan jangan pernah berpikir kalau Impy Island akan kehabisan review julid, karena sejatinya bahan julid tersebar sebanyak oksigen menyelubungi bumi.

Nah, sampul novel ketiga Icylandar! Dam, mungkin menjadi sampul favoritku dari tiga novel lain, bahkan mengalahkan buku pertama. Entah kenapa background putih bersalju terlihat sangat menenangkan. Ditambah ilustrasi dua Elf menunggangi pegasus, hutan-hutan tertutup salju, dipadu dengan font emas. Terkesan simple, tapi juga epik.

Sudah jelas, di dalam review pribadiku rating Icylandar akan selalu terbantu dari segi sampul. Bahkan sampulnya enak untuk diraba-raba (ekhem ... apakah ada hukum khusus pelicihan terhadap buku?)

Kalian para penulis di luar sana tolong jangan pernah menyepelekan sampul! Lihat sendiri betapa besar dampak sampul untuk para pembaca, atau tukang review julid yang menilai buku dari sampulnya (secara harfiah). Dan aku bukan satu-satunya orang di dunia yang punya prinsip seperti itu.

NAMUN! isi cerita tetaplah bagian paling penting dalam sebuah novel, dan sejauh ini belum ada satu konten pun dalam cerita Icylandar yang bisa membuatku jatuh hati, sebanyak aku mencintai sampulnya.

Buku satu, NYEH!

Buku dua, NYEH!

Buku tiga, tolong berikan aku sesuatu yang bisa membuatku menyukaimu. PLEASE!!!

B. Plot

Sebelumnya, mari kita ulang memori di novel kedua. Ramalan yang menentang Padris menjadi Raja Mahadahsyat. Tidak pernah dibahas lebih lanjut, dan seolah dilupakan oleh para Elf. Di novel ketiga ramalan itu jadi semakin semu, benar-benar cuma disinggung dengan satu dialog dalam konteks yang bukan fokus membahas hal tersebut. Padahal seingatku, ramalan yang bertentangan itu sama pentingnya dengan ramalan lain, kok kayak dianggap angin lewat?

Novel ini memiliki banyak adegan diskusi ngaso dan diskusi, dari diskusi jodoh, diskusi hantu, diskusi siapa yang paling hebat, dan lain-lain. Daripada mendiskusikan hal-hal brekele seperti itu, kenapa tidak mendiskusikan ramalan bertentangan yang gak jelas lagi juntrungannya? Mau di bawa ke mana itu plot? Masa ujug-ujug datang, ujug-ujug ilang, terus ujug-ujug ada lagi. Bukan begitu cara menyusun plot yang barokah!

Lanjut ke Pertemuan Padris dengan orang tua kandungnya. BEGITU DOANG! Tidak ada permainan emosi yang bikin terenyuh. Malahan kita diperkenalkan dengan tokoh yang benar-benar A-hole. Lantas bagaimana tentang Kisah masa lalu yang masih ditutup-tutupi, yang tidak ingin dialami siapa pun? Aku bahkan gak tahu mana kisah yang dimaksud saking banyaknya “Kisah Masa Lalu” di novel kedua.

Oh, iya ... Di buku kedua, menjelang akhir ada tokoh baru bernama Arthur. Dia diperkenalkan sebagai Elf “biasa-biasa saja”, tapi kita semua tahu apa yang terjadi kalau sebuah novel menjabarkan tokoh dengan kata “biasa-biasa saja”. Makanya aku yakin suatu saat dia pasti jadi sosok penting atau malah plot twist yang di ada-adain. Meskipun di buku ketiga, dia tidak berperan terlalu penting selain mendongeng, seperti biasa.

Para Elf di dunia Icylandar pada demen banget mendongeng. Heran, dah!

Jadi akan membahas apa novel ketiga, kalau di novel kedua saja tidak ada kesimpulan yang bisa diambil?

Akibat trauma sama dua novel sebelumnya, sekarang aku membaca Blurb duluan. Maka aku tahu kalau novel ini akan berfokus pada misteri Pangeran Kelima!

Benar, Anak-anakku, banyak Pangeran di dunia novel Icylandar, cukup untuk semua orang di dunia. Ada Padris dan Louie dari Icylandar, Pangeran Kematian dari Klan Deyreudolf empat biji, Jendral Rafael ternyata Pangeran juga dari Klan Patreolis. Belum lagi pangeran-pangeran lain dari Klan Elf lain. Dan sekarang ada misteri Pangeran kelima (pijet kepala). Kalo ditotal barang kali ada 100 pangeran di buku ini nantinya, macam Kurawa.

Dari Blurb kita tahu bahwa ada kekacauan di beberapa kota manusia, terutama kota Tetronella. Banyak kematian terjadi, anehnya penyebab kematian itu terlihat wajar seperti; kecelakaan, sakit, keracunan, dan lain-lain. Namun, kalau diselidiki lebih dalam, ternyata kematian itu tidak wajar sama sekali, seperti ada dalangnya, dan tiga Jendral terhormat kita menduga bahwa itu semua ulah dari Pangeran kelima.

Para mata-mata Icylandar tidak bisa menangani hal ini (booo). Akhirnya Padris DKK (Louie, Keysuu, Raiden, Ruben) dikirim ke kota tersebut untuk menyelidiki langsung.

Kenapa mereka yang di kirim, padahal mereka masih “junior” dan pasti brekele kalau berhadapan dengan Pangeran Kelima? Entahlah, katanya sih supaya Padris dan Louie mandiri, memiliki pengalaman untuk mengurus Icylandar di kemudian hari. Masalahnya, alih-alih menangani kasus, para Elf ini saat sampai di Tetronella malah ketemu sama salah satu Pangeran Kematian (Darryan) dan bukannya melakukan sesuatu mereka malah kabur, Cyn!

Ya, ya, ya ... aku tahu kalau Padris dan Louie masih “anak-anak” dan ilmunya juga masih brekele, tapi tiga panglima Keysuu, Ruben, dan Reiden bukannya digembar-gemborin hebat di buku pertama? Kok mereka jadi melempem gitu?

Ujung-ujungnya, mereka tetap harus diselamatkan oleh tiga Jendral kita yang hebat dan aduhai. Kalau begitu, kenapa bukan para Jendral yang pergi ke sana dari awal? Supaya buku ini tidak perlu menjadi 700+++ halaman berisi percakapan, dongeng, dan adegan filler yang tidak berpengaruh sama sekali ke dalam cerita!

Aku beritahu pada kalian, novel ini masih mengandung banyak filler dan info dump seperti dua novel sebelumnya. Saking banyaknya aku bahkan sudah tidak terganggu lagi. Paling cuma menghela napas panjang, sambil skip-skip-skip sampai adegan filler itu lewat. Terutama lima bab pertama yang kesannya diciptakan cuma untuk menebalkan jumlah halaman sahaja. Mencangkup adegan Festival Tiba-tiba berkah lagi, adegan dansa, dan Permainan Papan perang (duh!)

NAMUN! aku juga harus mengatakan bahwa novel ketiga ini bisa dibilang seri yang paling oke dibanding dua buku sebelumnya. Di sini akhirnya penulis tahu cara menulis Klimaks pada alur cerita. Dibanding dua pendahulunya, buku ini jelas memiliki “tujuan”. Dan meskipun eksekusinya agak brekele, setidaknya ADA.

Twist dan momen-momen terakhir juga lumayan meskipun dibawa muter-muter dulu. Aku sendiri kaget mendapati diriku enjoy baca tanpa menghela napas dan skip-skip-skip tiap lima halaman. Novel ketiga ini jelas sebuah peningkatan. Sayangnya, aku tidak bisa menjabarkan plot lebih banyak lagi, karena berpotensi mengacaukan twist di akhir.

Nah, sebagai gantinya lihatlah keluhan serta kelebihan novel Icylandar ketiga yang aku buat di catatan selama proses membaca.

Penjabaran Lebay

Aku tahu ada ilmu menulis yang disebut majas hiperbola, di mana kita melebih-lebihkan penjabaran demi efek dramatis. Tapi tolong, di novel ini berlebihannya kok sampe tumpe-tumpe gitu!

Contohnya di halaman 44 ada adegan Jendral Tamvan kesayangan kita (Antolin) marah lalu melempar botol tinta ke tembok, dan nyaris mengenai salah satu Elf bernama Nathan. Lantas ada narasi seperti ini : Untung saja Panglima Nathan segera menghindar, kalau tidak kepalanya pasti sudah pecah dan otaknya berhamburan ke mana-mana.

I mean ... calm down, Darling, itu cuma botol tinta. Paling parah juga bocor kepala, ya gak bakal lah sampe otak berhamburan. Lu kata shot gun kali ah! Atau Jendral Tamvan Antolin memang bisa melempar botol tinta setara kecepatan Shot Gun? Itu terdengar mustahil bahkan untuk ras Elf sekali pun.

Penjabaran lebay juga terjadi di bab selanjutnya. Jadi, si Louie menolak menggunakan sepatu bot di musim panas, sebab takut kakinya terbakar. (tarik napas) Gini nih, sepanas-panasnya menggunakan sepatu bot di musim panas paling panas ... GAK BAKAL TERJADI YANG NAMANYA KEBARAKAN KAKI!!! Memangnya itu sepatu bot dari besi???

Ras Elf teh Begimana?

Sebenarnya keluhan pasal Ras Elf sudah ada dari novel-novel sebelumnya. Bahwa Elf dan manusia sama sekali tidak ada perbedaan selain Elf bisa sihir. Dari sifat, sikap, bahkan hal sesimpel nama. Tapi aku masih maklum, karena mungkin penulis memang tidak ingin membuat Elf terlalu agung, meskipun di beberapa deskripsi si penulis bilang juga kalau Elf itu agung. Au ah gelap!

Masalahnya di novel ini, ternyata fisik para Elf pun tidak ada bedanya dengan manusia. Setahuku, Elf itu identik dengan kuping lancip, ‘kan? Itu ibarat pakem Ras Elf yang menjadikan mereka istimewa. Di sini, tidak pernah ada penjabaran kuping lancip itu. Bahkan di satu adegan, Keysuu menyamar untuk berbaur dengan manusia dengan memotong rambut doang? Jadi cara membedakan fisik Elf dan manusia benar-benar cuma rambut panjang?

Jadi secara teknis, Elf di dunia Icylandar itu cuma manusia-manusia gondrong yang bisa sihir? Tolong, aku ngakak sambil nangis. Ini penistaan ras Elf namanya!!! Tidak adakah HAE (Hak Asasi Elf)?

Aku juga menemukan beberapa kejanggalan dari sistim perkembangbiakan Elf di dunia ini (sapi kali ah!)

Buku pertama mengatakan para Elf hanya bisa memiliki satu anak laki-laki, dan setelahnya kalau punya anak lagi pasti perempuan, kecuali kalau lahir kembar dan dua-duanya laki-laki. Intinya, mereka tetap bisa punya anak lagi, ‘kan? Tapi di novel ini dikatakan Elf cuma bisa mengandung anak satu kali? Wadoo ... yang bener yang mana? Apa peraturannya beda di setiap Klan? Kenapa harus beda? Apa yang membuat beda?

Tambahan. Ada Elf hamil yang bernama Gina. Di satu adegan dia mengatakan kalau hamil anak perempuan tidak sesulit anak laki-laki, jadi dia masih bisa melakukan segala hal dengan normal. Literally halaman selanjutnya dia langsung bilang kalau kehamilan ini sangat berat. (Mau nangis)

Misogynist at Best

Kita semua bisa melihat kalau Icylandar memang lebih ditargetkan untuk pembaca perempuan. Dari ras Elf yang jelas semuanya tamvan, banyak sekali gelar Pangeran, dan kita semua tahu kata “Pangeran” pasti disandingkan dengan “Tamvan”, tapi terutama karena banyak sekali tokoh laki-laki di sini. Bahkan semua tokoh utamanya laki-laki!

Sekalinya ada tokoh perempuan, pasti dibuat seboring mungkin. Cuma namanya disebut-sebut, atau cuma jadi love interest, atau dijabarkan manja, judes, cerewet, dan hal-hal ‘feminim’ lain yang konotasinya menjurus ke negatif. Bahkan ada satu adegan yang terkesan merendahkan janda yang suaminya meninggal. Eh ... mungkin bukan ke situ maksud penulis sebenarnya, tapi kok jadi terkesan begitu dari tanggapan para tokohnya.

Gimana ya ... sebagai wanita aku pun senang ada tokoh tamvan dalam sebuah cerita. Namun, ada kalanya sesuatu yang menyenangkan terlalu banyak dan malah jadi eneg. Mending kalo pria-pria Elf tamvan ini sifatnya likeable, lah ini kan kagak! Mereka sendiri banyak kekurangan, tapi selalu dijabarkan hebat sehingga sangat sulit bagiku untuk menyukai mereka hanya dari fisik. Good looking not always win in my book!

Baru kemarin aku mendiskusikan novel yang semua tokohnya laki-laki atau yang semuanya perempuan. Nyatanya, keseimbangan gender tokoh juga sangat penting untuk warna dan suasana dalam cerita. Seperti sejatinya dunia, masing-masing gender punya kelebihan sendiri. Sayangnya penulis gagal memperlihatkan hal itu.

Kenapa aku terdengar seperti esjewe yang haus representasi!

World Building Ujug-ujug

Perasaanku saja, atau di novel ketiga ini penulis lebih sering menjabarkan segala hal dengan sistim ujug-ujug. Misalnya, Rafael yang ternyata Pangeran Mahkota dari Klan Patreolis, padahal di novel pertama aku yakin hal itu tidak pernah disinggung. Bahkan ada kisah lengkap Rafael yang diceritakan lewat dongeng, dan hanya dikatakan kalau Rafael itu dari kalangan bangsawan.

Memang secara teknis Pangeran Mahkota adalah bangsawan, tapi rasanya aneh kalau informasi seperti itu baru dikasih tahu di novel ketiga. Dan seperti biasa, informasi itu tidak berpengaruh apa-apa ke cerita selain Patreolis itu sekutunya Icylandar.

Terus lagi, informasi dadakan tentang Joici (sihir pada Elf) yang serba guna dan serba bisa. Tadinya aku tidak mau mengomentari ini, karena aku yakin penulis sudah punya hukum tersendiri untuk sihir-sihir dalam dunianya. Namun, keyakinan itu pudar saat kemampuan Joici semakin melebar tak tentu arah. Segala ada Joici penghilang suara, Joici penumbuh tanaman, Joici memanen, Joici pendingin. Jangan-jangan di buku empat bakal ada Joici memasak Pizza, atau Joici membuat es kopi. Ah ... itu adalah impianku.

Maksudku ... masa iya Joici bisa segalanya? Setiap kekuatan pastilah memiliki kekurangan. Ini tidak! Setiap masalah yang dialami para Elf pada akhirnya pasti akan diselesaikan dengan Joici. Is there anything this Joici guy can’t do???

Lalu ada satu pusaka bernama Derai-Amon yang tiba-tiba perannya sangat penting di sini. Padahal di novel pertama dan kedua tidak pernah disebut sama sekali. Untuk yang ini aku juga tidak yakin, karena aku memang tidak terlalu fokus membaca novel kedua.

Ada juga satu adegan di mana penulis mengaku kalau dia kehabisan ide. Yaitu saat Padris bertanya apa arti dari "Labirin Tanah Tandus", dan dijawab dengan "Tidak ada artinya, dinamakan seperti itu karena enak didengar". WHAT? Apakah informasi itu penting? tidak! Kalau memang gak ada artinya, kenapa juga disinggung-singgung dari awal dan malah terkesan filler untuk keseribu kalinya! 

Rodrigo Ma Buoy

Seharusnya aku membahas ini di segmen Penokohan, tapi rasanya aku sudah tidak sabar untuk membicarakan Rodrigo. Seingatku di novel pertama dan kedua kita jarang bertemu langsung dengan Rodrigo. Dia lebih sering dibicarakan lewat dongeng (as always).

Di novel ini dia akhirnya terjun langsung ke medan cerita dan langsung menjadi tokoh favoritku. Dia tegas, dewasa, dan berwibawa. Setelah dua novel, seribu lebih halaman aku dipaksa melototin tokoh-tokoh ratusan tahun yang bertingkah seperti bocah TK. Akhirnya ada juga tokoh yang bertingkah sesuai umurnya!

Aku paling suka saat adegan Rodrigo mengomeli Antolin dan Rafael karena dianggap tidak becus menjadi Jendral Icylandar. Yaass!!! Say it louder!!! Seolah Rodrigo hadir mewakilkan diriku yang memang udah gedeg banget sama Elf-elf brekele di novel ini, lewat omelannya pun aku jadi sedikit lega. Setidaknya, tidak semua orang menganggap jendral brekele ini hebat dan aduhai.

Meskipun aku tetap berharap bisa ada di dalam buku untuk melempar botol tinta ke arah Antolin dan membuat kepalanya pecah sehingga otaknya berhamburan ke mana-mana. (eyuuh)

Show don’t tell (Romance Edition)

Aku benci cara novel ini memasukan unsur romantis, sebab mereka selalu “mengatakan” bukan “menunjukkan”. Setiap kali para Elf brekele kita ngaso-ngaso (sangat sering). Yang diomongin pasti soal jodoh.

“Kenapa kau tidak punya kekasih, Jendral?”

“Benarkah kau mantan kekasih ibuku, Jendral?”

“Kenapa kau tidak pacaran sama si Anu aja, Reiden. Dia kan baik, cantik, lemah-lembut, unyu.”

"Apa menurutmu si Anu cantik, Padris?"

"Kenapa kamu tidak pacaran dengan dia?"

“Aku tidak mau pacaran, aku masih terlalu unyu. Umurku baru 50 tahun.”


Like SHUT UP! You know? Daripada ngemengin hal gak jelas begitu tiap ngaso-ngaso, kenapa kalian tidak membicarakan ramalan-ramalan brekele di novel kedua yang seolah kalian lupakan atau kalian abaikan!

Aku tahu dalam setiap kisah harus ada romance supaya tidak hambar, tapi bukan begini caranya. Tunjukan padaku adegan itu, jangan cuma diceritakan. Ini tidak! Padris, Louie DKK sering banget bikin percakapan tentang kekasih begini, kekasih begitu. Menjodohkan para Panglima atau Jendral ke Elf-elf cewek kenalan mereka.

Daripada dijabarkan blak-blakan, kenapa tidak dibuat saja adegan interaksi antara Elf pria dan wanita. TUNJUKAN bahwa mereka punya kemistri sehingga pembaca bisa bersimpati dengan mereka, dan juga ikut senang ketika mereka bersatu.

Bukannya main jodoh-jodohan begindang!

C. Penokohan

Padris. Our Favorite Gary Stu. Kabarnya di sini baik-baik saja. Masih tetap sempurna dan Maha Dahsyat. Tidak ada perkembangan, dan mungkin malah ada penurunan. Padris di novel ketiga ini jadi sering mengeluh dan galau. Walaupun dia tetap bisa mengatasi segala masalah kalau diperlukan, jadi pada akhirnya kegalauan itu akan berbalik menjadi sebuah kelebihan. NEXT!

Louie. Seperti biasa, dia jadi bayang-bayang Padris, karena si penulis memang menjadikannya “The Bad Twin” sejak awal. Louie baru akan dibutuhkan dan dihargai oleh elf lain kalau masalah obat-obatan, karena dia tabib yang andal. Sebenarnya aku heran sama penulis, ini sudah buku ketiga lho, masa iya Louie mau dijadikan manja dan kekanakkan terus. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, masa perkembangan mentalnya gak berubah sama sekali? (Ah, mungkin aku cuma sensi sahaja)

Tiga Panglima (Keysuu, Ruben, Reiden). Keysuu dan Reiden tidak bertingkah macam-macam di sini. Mereka standar dan mudah dilupakan sih menurutku. Nah, khusus Ruben, I hate him. Entah aku memang harus membencinya atau tidak, tapi aku membencinya. Terutama dari pandangannya terhadap Naya.

Bentar nih ... di novel pertama bukannya Ruben suka sama Naya, dan sekarang dia malah jadi benci, bahkan menghina dan merendahkan Naya dan Arlan karena menikah? Pake bikin dialog begini. "Aku tidak ingin menderita serepti Arlan yang menikahi orang semanja Naya.". Um ... tau dari mana kalau mereka menderita? Um ... Mind your own dam business, Please!

Congratulation My good Sir. You are on my ‘I hate this person forever’ list along with Aidan.

Tiga Jendral (Antolin, Rafael, Rodrigo). Selain Rodrigo, karakter mereka tidak berubah dari novel pertama dan kedua, jadi ... aku tidak akan mengulang lagi dan lagi dan lagi.

Para mata-mata. Rasanya peran mereka di sini sangat penting, tapi entah kenapa aku tidak peduli pada mereka karena memang penulis tidak memberikan alasan apa pun agar mereka layak mendapat simpati. Banyak tokoh baru, dan aku pribadi paling tidak suka kalau tokoh baru tiba-tiba muncul dan memaksa untuk jadi penting.

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak, tapi rasanya aku tidak akan membahas lebih lanjut, karena peran mereka tidak sepenting itu. Tunggu dulu ... mereka memang penting, tapi tidak sepenting itu sampai namanya aku tulis satu-satu di sini. Aku pun pilih-pilih tokoh yang ingin kubahas di review ini (digampar)

D. Dialog.

Masih banyak dialog dongeng masa lalu.

Masih banyak dialog tanya-jawab demi menjelaskan sesuatu.

Masih banyak dialog Filler yang membuat ngantuk

WHATS NEW?

Oh, satu lagi. Ini bukan keluhan, cuma hal lucu yang terjadi berkali-kali dalam novel ini. Para Elf di sini seneng banget meragukan sesuatu, padahal mereka sudah tahu jawabannya. Misalnya saat mereka mendengar ada segerombol orang mendekat, aku lupa halaman berapa, tidak kucatat (memble).

Salah satu dari mereka nanya. “Apakah itu musuh?”

Terus dijawab, “Semoga saja bukan, tapi sepertinya memang musuh.” Dan ternyata itu memang musuh.

Terus lagi pas Louie bikin ramuan obat. Ada yang bertanya. “Apakah ramuan ini akan manjur?”

Louie jawab. “Entahlah bisa iya, bisa tidak, tapi sepertinya manjur.” Dan ternyata beneran manjur.

Maksudku ... kalau udah yakin mah yakin aja kale! Ketauan banget pengen manjang-manjangin dialog ah ah ah!

E. Gaya Bahasa

Ayolah, kita sudah menjulid Icylandar sejak novel pertama, untuk kali ini akhirnya aku punya sesuatu yang bisa jadi kelebihan Icylandar (kayaknya). Aku suka cara penulis menggambarkan Klan Patreolis, kesan indah dan bersahaja tergambarkan dengan baik. Elf-elf di dalamnya juga lebih anggun, pokoknya tidak separah Icylandar. Sebenarnya, kalau penjabaran dari buku pertama seperti ini, mungkin aku akan betah.

Namun ... (Ah, sheet ... here wo go again!)

Tolong ya, kenapa masih banyak sekali Bab yang tidak berguna?

Ada satu Bab berjudul “Polili yang Cantik”. Kalian tahu apa kesimpulan seluruh Bab itu? Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Polili, atau kelangsungan hidup para Elf, atau foreshadow penting di kemudian hari! Bab itu hanya memberitahu kita kalau Protagonis Gary Stu kesayangan kita Padris sangat tamvan dan berkharisma sehingga bisa menaklukkan hati Elf secantik Polili, sementara Elf-elf lain tidak bisa.

WOOOOWWWW SUNGGUH INFORMATIF SEKALI!

Terus lagi di Bab “Pulau Hantu”. Kalian tahu apa informasi yang kita dapat dari Bab itu? Tentu saja Gary Stu kesayangan kita Padris dengan hatinya yang begitu lembut, bisa memahami perasaan hantu dan tentunya dia akan menjadi Raja Mahadahsyat yang barokah bukan hanya untuk ras Elf, tapi ras Manusia, juga para Hantu. Hip-hip horeeee (terjun ke rawa-rawa)

Tapi serius deh ... Banyak sekali Bab yang seperti di atas. Aku paham penulis ingin memasukan trivia, atau memperdalam karakterisasi tokoh, atau sekadar memperdalam bonding antar tokoh. Tapi sekali lagi ... haruskah sampai satu bab full? Kenapa tidak dijadikan singkat-jelas-padat-memikat?

F. Penilaian

Cover : 5

Plot : 2,5

Penokohan : 2

Dialog : 2

Gaya Bahasa : 1,5

Total : 2,6 Bintang


G. Penutup

Di saat harapanku sudah pupus terhadap seri ini, novel ketiga memberikan sedikit angin segar. Meskipun tetap banyak kekurangan seperti dua buku sebelumnya terutama dari dialog, gaya bahasa, dan info dump. Tapi jelas ini lebih baik, setidaknya aku bisa memberi jawaban, kalau suatu hari diwawancara “Novel Icylandar keberapa yang jadi kesukaanmu?”

Sebenarnya yang membuat novel ketiga ini lebih baik adalah adanya klimaks di Plot, dua novel pendahulunya tidak memiliki hal tersebut. Terus tokoh Rodrigo yang tanpa disangka dan diduga bisa bikin aku respecc pada bangsa Elf. Dengan adanya dua faktor itu saja aku sudah sangat senang, bayangkan kalau penulis menghilangkan segala info dump, filler, serta fokus membahas plot yang sesungguhnya. Oh, ini akan jadi sebagus novel terjemahan.

Yah, apa boleh buat, penulis menginginkannya seperti ini. Aku hanya bisa diam dan merana, menanti siksaan apa lagi yang akan diberikan Icylandar kepadaku.

Nah, novel ketiga selesai. Tinggal satu buku lagi, lalu menunggu penulis menerbitkan buku selanjutnya. Apakah akan tamat? Apakah akan bernasib seperti serial Bumi yang gak jelas juntrungannya?

KITA TUNGGU!

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman