Dari Mana Asalnya Kejulidan Review Impy?

First of All, Shout Out To ....

Ya, ya, ya! Aku paham apa yang kalian pikirkan sekarang. "Impy, kenapa dari kemaren kerjaannya posting Intermezzo kagak jelas melulu! Apakah ente sudah kehabisan bahan bacaan?"

Kenyataannya, Anak-anakku ... saat ini justru aku sedang sangat berbahagia, serta sangat bersemangat untuk membuat lebih banyak konten di Blog berfaedah ini. Kalian mau tahu kenapa? (Tidaak). Kebahagiann ini muncul berkat suatu hari teman onlen spesialku di Pesbuk membuat meme berikut ....

I'm Literally crying, help ....

Meme ini dipersembahkan oleh sodari Namina, kalau kalian ingat dia pernah memberiku rekomendasi novel Fantasi-Middle Grade lokal yang sejauh ini masih menjadi favoritku (Labirin Sang Penyihir). Yes ... sudah hampir setahun yang lalu, dan dia masih berada di sisiku selama ini, di saat susah maupun senang. Bahkan, rasanya sodari Namina sudah memberiku support jauh sebelum itu.

Talking about loyalty!

Sebenarnya, banyak sekali teman-teman onlen-ku yang begitu suportif, terutama di Pesbuk. Memang, dari 3000+++ jumlah temanku di sosmed tersebut, hanya segelintir-kecil-banget yang begitu suportif kepadaku setiap kali aku membuat postingan blog. Tapi yang sangat sedikit itu justru yang paling berharga bagiku, yang memberiku semangat untuk tetap membuat blog ini hidup.

Aku merasa dicintai dan dihargai, ihiks ... ihiks ... maaf kalau terdengar lebay dan emosional. Bagi beberapa orang mungkin hal seperti ini sangat sepele, tidak perlulah digembar-gemborkan. Namun percayalah, sebagian besar penulis pasti tahu rasanya tidak dihargai, atau dipandang sebelah mata. Tidak peduli sekeras apa kita berusaha membuktikan rasa cinta pada dunia literasi, kita pasti kalah dari hobi/pekerjaan yang lebih "bermanfaat".

Itu sebabnya aku sangat-sangat-sangat terharu, tersentuh, termehek-mehek saat teman-teman onlen sekalian memberikan suport tak terhingga seperti yang kalian lakukan selama ini. Sebab aku pribadi TIDAK PERNAH mendapatkan suport seperti itu dari keluarga maupun teman di dunia nyata. Bahkan tidak orang tua atau sahabat terdekat.

Ironi di atas ironi macam apa ini? Orang-orang yang belum pernah aku temui semasa hidup malah lebih bisa memberi semangat daripada orang yang terang-terangan bilang 'akan selalu mendukung dan menyemangatiku dalam situasi apa pun'. Yah, tapi itulah kenyataannya, dan aku merasa sangat bersyukur memiliki kalian para pembaca, juga teman-teman onlen tercinta.

Jumlah kalian tidak seberapa, tapi kalianlah alasanku tetap bertahan di dunia tulis-menulis, dan perjulidan. You guys are the best of the best, and i love all of you with all my heart. Sebenarnya aku ingin menuliskan nama kalian semua satu per satu di sini, tapi rasanya tidak etis kalau belum izin. Aku tidak ingin mengumbar akun kalian kepada siapa pun yang membaca postingan ini.

Kalau Sodari Namina sih gapapa diumbar soalnya aku sudah pernah izin, h3h3 ... semoga izinnya masih berlaku sampai sekarang sih, kalau tidacc bisa berabe.

Pokoknya, jika kalian menebak segmen shout out ini untuk kalian, percayalah tebakan kalian benar❤

Baiklah, mari hapus air mata cicak ini, dan kita lanjut ke segmen sebenarnya ....

Dari Mana Asalnya Kejulidan Review Impy?

Kalau membicarakan pengaruh gaya bahasa dalam blog Review Impy, ada beberapa nama yang patut disebut, dan harus diketahui keberadaannya. Ekhem ... maksudku, orang-orang yang akan disebut dalam segmen ini memang pada dasarnya jauh lebih terkenal daripada Review Impy, kenapa pula aku bicara seolah-olah aku yang bakal bikin mereka terkenal? Eyuuuh!!!

Anyways! Berikut adalah beberapa nama yang mempengaruhi kejulidan dalam review-ku.

A. FIKSI & FANTASI INDONESIA


Blog yang aktif pada tahun 2008-2014. Aku tahu ... SANGAT OLD SEKALE!!!

Blog review ini dikelola oleh beberapa orang, dan semuanya ahli dalam bidang Fiksi Fantasi Indonesia (FikFan kalau disingkat). Masing-masing orang memiliki gaya review yang unik, tapi ada satu kesamaan di antara mereka, yaitu mereka TERLALU JUJUR dan PEDES! (Pedes ini memang bahasa jaman dulu untuk JULID)

Beberapa orang berpikir blog ini dibuat hanya untuk menjelek-jelekkan karya anak bangsa, tapi mereka yang beranggapan begitu biasanya tidak membaca reviewnya sampai habis, atau mereka memang membaca sampai habis tapi kagak mudeng. Sebab setiap review yang dibuat orang-orang Fiksi & Fantasi Indonesia pasti memuat kritik membangun, hanya saja dengan gaya bahasa yang frontal.

Bahkan sampai saat ini aku ragu bisa membedah novel sebagus orang-orang FikFan Indo, mereka punya peraturan, mereka punya asas-asas mengkritik (khususnya fantasi), dan mereka jelas memiliki ilmu yang mumpuni. Seperti Review Impy, di FikFan Indo juga ada review non-julid kalau novelnya benar-benar bagus atau tidak memiliki banyak kekurangan, dan biasanya kalah pamor sama review yang julid wkwkwk!

Kalau tidak percaya, kalian boleh berkunjung sendiri ke Blog mereka DI SINI.

Sekarang pun aku masih suka membaca ulang review buatan mereka. Selain menghibur, juga sarat ilmu. Bukan hanya ilmu mengkritik julid, tapi juga ilmu untuk menulis tetek-bengek fantasi. Sampai saat ini, aku belum lagi menemukan review jujur, tapi dengan gaya bahasa menyenangkan seperti buatan mereka. Itu juga menjadi salah satu motivasiku membuat Blog Review Impy.

Memberikan lahan kepada penulis dan pembaca untuk mengulas sebuah karya secara jujur dan objektif, sampai-sampai terlihat seperti julid. Padahal memang itulah kenyataannya, dan kenyataan memang pahit (atau dalam kasus ini 'pedes'), jadi ... biasakan diri kalian, h3h3.

Aku sangat berharap FikFan Indo bisa bangkit kembali suatu hari nanti. Karena fantasi Watpat sudah menjamur, dan aku ingin tahu bagaimana tanggapan mereka terhadap itu semua. Akankah mereka menderita seperti aku ToT.

B. Cine Crib (Aria-Razak Era)


Ya Gustiii! Aku kangen Razak mereview film horor indonesia dengan segala komentar-komentar julidnya. Yutub Cine Crib tidak sama lagi setelah kepergian Razak. Maksudku, Aria sendiri masih menghibur, belio memang host yang bisa membawa pembicaraan supaya tidak canggung. Namun, tanpa Razak rasanya seperti Spongebob tanpa Patrick, Tuan Krab tanpa uang, Squidward tanpa keluhan. Ada yang kurang.

Review julid Cine Crib bersama Razak juga sering kali dibilang 'menjatuhkan karya anak bangsa', di saat komentar-komentar mereka semuanya masuk akal dan memang objektif, cuma penyampaiannya saja yang tidak disaring (alias julid). Makanya, menurutku kalau review jujur sudah dituduh 'menjatuhkan', biasanya malah yang paling kredibel. Sebab mereka yang komen 'menjatuhkan' sebenarnya menyetujui setiap kritik, tapi gengsi untuk mengakui.

You automatically lose, Darling ....

Kalau kalian lihat juga review Aria-Razak, mereka tahu apa unsur perfilman yang dibahas, mereka tahu kelebihan dan kekurangan sebuah film, dan mereka jelas memiliki ilmu untuk itu. Ya, mereka mungkin tidak membuat film, tapi kritikus bukan berarti harus menciptakan sesuatu yang dikritiknya, y'know?

Oh, kalian bisa cari sendiri Channel mereka di Yutub dengan kata kunci Cine Crib.

C. Tom Harlock


Tom Harlock ini memang bukan tukang review novel atau film, dia adalah seorang Komentator di Yutub. Tapi di sisi lain dia juga bisa disebut kritikus, sebab dia membuat video semodel analisis, di mana dia membuat video panjang tentang topik tertentu, dan memberikan pendapatnya. Kalau mau jujur, aku orang yang gampang bosan, dan pasti ogah-ogahan menonton video Yutub yang lebih dari 20 menit, apa lagi semodel analisis. Boriinggg!

Tapi eh tetapi, pembawaan Tom Harlock terhadap topik bahasan, serta interaksinya kepada penonton sangat menyenangkan! Serius, ya! Dia itu Sassy (alias Julid), doyan bikin komen sarkas, gestur badannya lucu, dan sangat ahli membuat penonton tertarik dengan apa yang sedang dia bicarakan. Itulah yang aku perhatikan, dan berusaha aku tiru dari setiap video buatannya.

Sebenarnya dia pernah sekali mereview novel Lele Pons. Dan ya, itu video kesukaanku dari seluruh video buatannya. Aku bahkan mengunduh satu video itu untuk ditonton lagi kapan-kapan, saking seru dan lucunya cara dia mereview novel tersebut. Walaupun harus aku akui, review julidnya pada novel Lele Pons didasari atas rasa tidak sukanya kepada si Lele. Tom Harlock sendiri mengakui kalau Lele Pons adalah arch nemesis-nya.

Soalnya aku sudah baca novel bikinan Mbak Lele, dan rasanya tidak seburuk cara dia menggambarkannya dalam review. Mungkin itu juga masalah selera, atau memang aku yang tidak paham literasi negara Mamarica! Tapi yang jelas cara Tom Harlock mereview novel tersebut sangat menyenangkan, dan aku berharap bisa memiliki atittude-nya jika suatu hari berani menampilkan diri di depan kamera.

Kalian bisa menengok Channel si Tom dengan kata kunci Tom Harlock.

D. Seorang Rt di Sebuah Kampung


Di Pesbuk, aku termasuk ke dalam grup literasi, yang juga disebut Kampung Asri. Dikenal juga dengan kampung terbaik untuk dihuni, Hands down!

Di kampung itu, kami memiliki seorang RT yang unik, ajaib, dan gemar menjulid, sama seperti warga penghuninya. Belio punya trademark yang disbut #GaliNalar, di mana belio mengajak warganya untuk bersama membedah sepotong karya brekele kiriman warga (seringnya colongan dari kampung-kampung tetangga).

Konon, selalu ada drama epik yang mengikuti segmen #GaliNalar, atau bisa juga sebuah drama yang begitu besarnya sampai mampu memunculkan segmen #GaliNalar. Pokoknya, segmen itu identik dengan drama, Okhay!

Nah, inilah bagian terbaiknya, di segmen #GaliNalar, kita bukan hanya disuguhi drama, julid, gibah, serta kata-kata mutiara nan indah dari warga sekalian. Kita juga disuguhkan ilmu berfaedah, kita diajari berbagai ilmu serta tips dan trik supaya tulisan kita tidak se-brekele tulisan yang dibahas dalam #GaliNalar. Katakanlah #GaliNalar itu Wall of Shame milik kampung Asri, kalau tulisan kalian menjadi topik yang dibahas, tamatlah riwayat kalian.

Tapi eh tetapi, sejujurnya gaya mengkritik Pak Rt dari Kampung Asri tidak begitu cocok dengan seleraku, dalam artian aku mungkin tidak akan terpengaruh dari cara Pak Rt dalam mengkritik sesuatu. Sebab terkadang review Pak Rt bisa terlalu menusuk dan serius. Kritik beliau memang ditujukan untuk menempeleng kepala si penulis Ybs. dengan pentungan kebenaran sehingga tidak ada celah untuk menertawakan. Alih-alih, kita sebagai warga jadi super hati-hati dalam menulis cerita.

Di sisi lain, Pak Rt jelas tahu betul apa yang belio bicarakan. Belio ini ibarat Master Oogway yang kata-katanya pasti didengarkan oleh warga, serta menjadi panutan di kemudian hari. Tentu saja aku banyak belajar dari ilmu-ilmunya yang berfaedah dan penuh kejulidan hakiki.


Baik, baik! Aku janji setelah ini akan fokus membuat review! Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua, teman-teman onlen yang selama ini telah mengeny...menyengam...mengenyem...menye...menyemangati aku. Aku sangat-sangat-sangat senang kalian buatnya!

Dalam komen, sodari Namina mengatakan kalau dia membuat meme di atas untuk nge-boost semangatku dalam membuat review (terutama julid), dan aku harus katakan kalau dia sangat berhasil.

SEMANGATKU SANGAT BOOST SAAT INI!!!! OH YEAH!!!

SAMPAI JUMPA DI LAIN WAKTU ^O^/

Comments

  1. Ya ampun, fans Razak Cine Crib juga ternyata wahahhaah emang terbaik itu org, jdi kangen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah macam lambe turah berkedok review dia tuh 😂

      Delete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)