Novel Vs. Film (Part 2)


Hallow-hallow Pembaca Budiman sekalian!

Ingatkah kalian kalau kemarin aku bilang akan ada part 2 dari perbandingan Novel dan Film? Inilah saatnyamewujudkan hal tersebut! Kemarin kita sudah membahas Peter Pan, Ove, dan Miss Peregrine. Dua dari tiga karya di atas adalah karya favoritku, jadi mungkin penilaiannya agak sedikit bias. Maksudku ... pernahkah seorang Impy Island tidak memberi penilaian secara Subjektif?

Tapi tenanglah, Antonio ... aku jamin penilaianku terhadap film sama bagusnya seperti penilaianku pada novel. Aku ini seorang ekspert (digaplok). Nah, kira-kira karya siapa yang akan kita bandingkan hari ini? Tanpa berlama-lama lagi, mari kita langsung menuju TKP!
MENGANDUNG SPOILER!!!

1. Novel Harry Potter Vs. Film Harry Potter

A. Perbedaan

Rasanya aku tidak akan membahas plot Harry Potter lebih jauh, karena aku yakin semua orang sudah punya bayangan. Ayolah, kalian pasti hidup di dalam gua kalau tidak pernah mendengar sama sekali tentang Harry Potter! Nah, aku sendiri belum pernah membuat review khusus untuk seri novel Harry Potter, lantaran sudah banyak review lain yang mewakili pendapatku di Goodreads.

Akan tetapi, aku sudah baca seluruh serinya, dan aku sukak. Tidak menjadikanku seorang Potterhead, tapi aku sangat menyukai ceritanya. Terutama tiga novel pertama, karena genrenya masih Middle Grade, dan kalian tahu betapa aku sangat menyukai genre tersebut. Untuk plot, tentu saja melegenda! Bahkan, Harpot mungkin menjadi pencetus tema sekolah penyihir.

Aku jamin SELURUH novel fantasi (khususnya di Indonesia) yang mengambil latar sekolah atau asrama, bakal mengambil referensi Harpot barang sebiji-dua biji. Jujur, aku sudah lupa bagaimana detail cerita secara keseluruhan baik versi novel maupun film. Akan tetapi, ada satu faktor krusial yang paling membuatku merasa film ini gagal mengadaptasi versi novelnya. Apakah hal itu?

Penokohan (jeng ...jeng)

Aku tidak suka cara film membuat Ron menjadi comic relief yang terlampau bodoh, penakut, tukang makan, dan hal-hal brekele lain. Padahal di novel dia tidak seperti itu, Ron memang tidak sepintar Hermione, tapi dia juga tidak sebodoh penggambarannya di film. Ron juga tidak sepenakut di film, malahan kebalikannya, dia justru lebih berani daripada Harry dan Hermione dijadikan satu.

Mungkin 'nekat' lebih cocok menggambarkan sifat Ron, sebab dia rela melindungi teman meskipun harus melakukan hal bodoh. Dia tetap konyol dan tidak pernah serius, tapi dia jelas tidak bodoh. Persahabatannya dengan Harry juga dinistakan. Di film, Harry lebih terasa memiliki bonding kuat dengan Hermione, tapi di buku Harry sangat dekat dengan Ron. Aku tidak suka Ron dinistakan begitu ToT.

Hal ini terjadi juga pada Hermione, yang di film seolah tidak memiliki kekurangan sama sekali, alias Mary Sue. Malahan sampai ada meme yang menyebutkan kalau tidak ada Hermione, Harry dan Ron udah modar dari film pertama. Di novel mustahil ada pemikiran begitu, karena Hermione memiliki kekurangan. Hermione versi buku tahu dirinya pintar, tapi di sisi lain dia sering ragu dan tidak percaya diri, juga pemalu. Yah, tipikal kutu-buku klasik.

Nah, penokohan keliru paling parah tentunya terjadi pada Ginny Weasley adiknya Ron. Oh, betapa versi film menistakan Ginny yang di novel digambarkan pemberani, out going, ceria, rada sassy alias judes. Pokoknya tipikal cewek populer yang pasti disukai semua orang. Eh, di film malah klemar-klemer bin datar gitu. Ginny versi film dibuat seolah tidak memiliki personality, udah gitu bucin pula sama Harry.

Film Harry Potter sangat bagus, dan punya daya tarik magis sendiri itu sangat jelas. Tapi kalau dibandingkan novel, jelas versi novel lebih padat, serta lebih menjelaskan apa yang ingin diketahui pemirsa. Kayaknya di versi film juga ada latar belakang sesuatu atau seseorang yang diubah ... entahlah, aku benar-benar lupa. Sudah lama sekali tidak meonton atau membaca Harpot, mungkin besok-besok bakal aku sempatkan, dech.

B. Kelebihan dan Kekurangan Film

(+) Perwujudan setiap unsur 'luar' dari dunia Harpot yang luar biasa. Maksudku ... lihatlah Hogwarts, kalian yakin tidak mau sekolah di sana setelah menonton Harpot untuk pertama kali?

(+) Kekonsistenan laju plot yang mengikuti novel. Dalam artian tidak terburu-buru, masing-masing film memiliki fokus konflik sendiri dengan tetap menjalin benang merah.

(+) Pemilihan pemeran yang likeable, terutama di film pertama. They are so cute!

(-) Penokohan beberapa tokoh yang dinistakan, Ginny paling parah tentunya.

(-) Ada beberapa adegan penting yang dihilangkan dalam versi film. Yah, aku tahu film terbatas dengan waktu, tapi sayang banget adegan-adegan yang dipotong justru berpengaruh untuk mengenal dunia HarPot lebih dalam.

C. Pemenang

Melihat penistaan terhadap penokohan Ron dan Ginny, aku dengan berat hati harus mengatakan kalau pemenangnya adalah versi NOVEL! Bukan berarti filmnya jelek, tapi versi novel lebih terperinci, dan kalian pasti menemukan hal-hal yang tidak ada pada film

2. Little Women Vs Little Women (2019)

A. Perbedaan

Little Women adalah novel klasik yang terbit pertama tahun 1868. Adaptasinya pun dibuat lebih dari lima  kali, baik film, serial TV, bahkan anime. Namun, aku cuma fokus membahas adaptasi paling baru di tahun 2019. Sebenarnya, Little Women 2019 mengadaptasi dua novel sekaligus, Little Women dan Good Wives. Jadi selain menceritakan masa kecil gadis-gadis Marc, film ini juga menceritakan kehidupan mereka saat dewasa.

Sebelumnya kalian bisa tengok dulu reviewku tentang Little Women dan Good Wives.

Masalah utamaku dengan adaptasi filmnya mungkin dari segi pemilihan pemeran. Film ini menyajikan alur maju-mundur, otomatis usia para tokoh berubah drastis antar kedua adegan tergantung jangka waktunya. Namun, film ini memutuskan untuk menggunakan pemeran yang sama antara masa lalu dan masa kini. Terkadang itu sangat membingungkan, dalam artian membingungkan mana yang masa lalu dan mana yang masa kini.

Lagi pula, para pemeran film ini sudah  berusia pertengahan 20, sementara anak-anak March dalam novel diceritakan paling tua berusia 16 tahun. Lebih parah lagi, Florence Pugh saat itu berusia 23 tahun, dan dia memerankan si bungsu Amy March yang usianya 12 tahun! Dari aktingnya di beberapa adegan masa lalu, kelihatan betul kalau Mbak Florence berusaha jadi imut dan kekanak-kanakan, tapi ... kayak ada yang salah.

Bukan berarti cringe, akting Mbak Florence bagus banget, dan dia menghayati perannya sebagai anak berusia 12 tahun. Tapi eh tetapi, ada adegan sekolah di mana dia dikelilingi anak-anak lain yang beneran berusia 12 tahun. ITU KELIATAN BANGET KALAU DIA JAUH LEBIH TUA ToT. Kenapa tidak pakai artis lain untuk memerankan Amy kecil, atau buat teman-teman sekolahnya juga rada tua dikit supaya setidaknya seimbang.

Pemeran yang paling tidak cocok mungkin tokoh Amy dan Beth. Masalahnya, mereka dua anak paling muda, Amy-12 sementara Beth-13. Sedangkan Jo dan Meg sudah 15 dan 16 tahun. Yah, usia segitu kan sudah tidak terlalu kelihatan anak-anaknya, dan mungkin bisa diperankan oleh artis yang lebih tua. Tapi di usia sekecil Amy dan Beth, mbok ya pakai artis yang memang seusianya duooong!

Tapi di sisi lain filmnya tetap bagus, menyentuh hati, relevan dengan masa kini. Memang itulah yang membuat Little Women menjadi karya klasik istimewa. Sebab, sampai kapan pun konfliknya bisa relevan dalam bermasyarakat. Nah, selain masalah usia, fokus cerita juga kayak berat sebelah, terutama untuk Beth.

Versi novel Little Women mengambil sudut pandang orang ketiga, tapi fokusnya lebih terarah pada Jo. Dari semua saudaranya, Jo paling menyayangi Beth, dan dia selalu menunjukkannya sepanjang novel. Kalau di film, rasa peduli Jo pada Beth seolah karena Beth terserang penyakit doang. Terus lagi, versi film membuat Jo seolah tidak suka mengajar, padahal mengajar memang passion-nya.

Intinya sih film ini bagus, aku sukak. Sedangkan adapsati filmnya unik, seru, aku suka outfit mereka meskipun yutuber ahli busana bilang outfit Little Women 2019 sangat tidak akurat pada masanya. Hey, itu bukan bidangku untuk membahasnya.

B. Kelebihan dan Kekurangan Film

(+) Eksekusi yang menarik, suasana dan visual film yang bikin iri!

(+) Para pemeran melakukan tugas dengan sangat baik, terutama Jo yang sangat mirip dengan versi buku, secara fisik maupun sikap.

(-) Walaupun menarik, eksekusi film yang mengangkat alur maju-mundur kadang bisa sangat membingungkan. Itu juga akibat usia para pemeran yang seolah tidak ada perubahan.

C. Pemenang

Melihat dari penilaian secara objektif, aku akan bilang kalau pemenangnya adalah versi NOVEL. Namun, melihat filmnya yang juga mantul, tentu saja aku merekomendasikan filmnya juga pada kalian.

3. The Legend of Sleepy Hollow Vs. Sleepy Hollow (1999)

A. Perbedaan

Satu lagi karya klasik yang dipublikasikan di abad ke-19. Sebelum melanjutkan, ada baiknya kalian baca dulu reviewku tentang The Legend of Sleepy Hollow.

Nah, versi novel dari kisah ini mungkin lebih cocok disebut novelet daripada novel. Bahkan boleh jadi cuma cerpen. Kisahnya singkat, tipikal dongeng zaman dulu yang sekali habis dan meninggalkan misteri, serta ikon populer hingga sekarang. Dalam kasus ini, ikon yang diperkenalkan adalah Penunggang Kuda Tanpa Kepala. Maka dari itu, Sleepy Hollow versi novel tidak memberi kesan yang bisa bertahan lama, karena memang bukan novel konkret.

Padahal aku berharap versi novel lebih mengangkat latar belakang si penunggang kuda. Nyatanya, fokus cerita lebih tertuju pada Ichabod Crane yang penakut. Memang sih, dalam novel si penunggang diceritakan cuma mitos, mungkin memang tidak nyata sama sekali, karena sampai akhir tidak pernah diungkapkan baik secara terang-terangan maupun tersirat.

Nah, versi Film Sleepy Hollow, yang diperankan Johnny Depp sebagai Ichabod Crane. Fokus cerita memang fokus membahas si penunggang kuda. Bagaimana sejarahnya, apa motifnya meneror kota, dan bagaimana cara mengatasinya. Genre film ini tentunya horor-thriller, tapi ada selipan komedi, juga sedikiiiit sekali bumbu romance.

Penilaianku untuk versi film mungkin agak bias, sebab pemainnya merupakan artis-artis kesukaanku. Ada Johnny Depp tentunya aktor nyentrik serba bisa juga Christina Ricci mantan pemeran Wednesday Addams versi 90-an. Versi film juga memperdalam latar belakang kota Sleepy Hollow, Ichabod Crane yang berkerja sebagai detektif penakut, serta plot twist yang lumayan tidak tertebak.

Nuansa film ini juga kelam, tapi magical, tipikal film bikinan Tim Burton lah. Intinya sih versi film memperdalam isi novel originalnya. Mengembangkan cerita dan penokohan di dalamnya supaya semua bisa masuk akal. Kalau menurutku sih cara itu berhasil. Memang bukan film masterpiece, tapi untuk adaptasi novelnya yang sangat singkat, ini jelas menjawab pertanyaan-pertanyaan.

B. Kelebihan dan Kekurangan Film

(+) Menggali lebih dalam setiap unsur dari versi novel.

(+) Penokohan masing-masing karakter yang kepribadiannya jelas. Tidak seperti versi novel yang cara penceritaannya seperti cerpen.

(+) Bergenre horor-thriller, tapi menyisipkan komedi sehingga pemirsa tidak selalu dibawa tegang.

(-) Meskipun penokohan versi film digali lebih dalam, tapi ada beberapa perubahan personality yang tidak cocok dengan novel. Padahal rasanya akan lebih masuk akal kalau disesuaikan gitu lhoo.

C. Pemenang

Harus aku akui bahwa fersi FILM-lah pemenangnya. Meskipun aku tetap menyarankan kalian baca dulu novel klasik Sleepy Hollow sebelum menonton filmnya.


Demikianlah part kedua dari membanding-bandingkan media original dan adaptasi. Orang bijak sering bilang, membandingkan dua karya dalam media yang berbeda adalah hal yang tidak banana to banana (apple mulu bosen). Namun, kalau membicarakan adaptasi novel rasanya mau tidak mau kita akan membandingkan keduanya. Itu ibarat naluri alami manusia fana.

Sebenarnya masih ada lagi perbandingan novel dan film yang ingin kubahas, tapi tenang itu masih akan menunggu waktu. Aku yakin kalian sudah kebelet ingin membaca review novel, terutama yang JULID pastinya!!!

Sabarlah, Anak Muda! Baru-baru ini aku mencoba untuk langganan Gramedia Digital, Yeeeyyy! Untuk pertama kalinya, seorang Impy Island tidak selalu menunggu antrian di Ipusnas atau nabung sampai 7 purnama untuk punya buku baru!

Aku punya banyak sekali daftar bacaan, dan tidak sabar ingin membicarakannya dengan kalian semua. Tapi eh tetapi, itu juga masih harus menunggu waktu, karena aku tengah menghadapi gejala Reading Slump. Akibat kuota melimpah, tiba-tiba semua video yutub jadi menarik, tapi tanpa kuota pun  aku menderita! Huft ... semoga penyakit ini cepat pergi!

Nah, sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)