Omen #1


Judul : Omen #1

Penulis : Lexie Xu

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9789792287950

Tebal : 312 Halaman

Blurb :

File 1 : Kasus penusukan siswa-siswi SMA Harapan Nusantara.

Tertuduh : Erika Guruh, dikenal juga dengan julukan si Omen. Berhubung tertuduh memang punya tampang seram, sifat nyolot, dan reputasi jelek, tidak ada yang ragu dialah pelakunya. Tambahan lagi, ditemukan bukti-bukti yang mengarah padanya.

Fakta-fakta : Bukan rahasia lagi tertuduh dan korban saling membenci. Perselisihan keduanya semakin tajam saat timbul spekulasi bahwa tertuduh ingin merebut pacar korban. Tidak heran saat korban ditemukan nyaris tewas di proyek pembangunan, kecurigaan langsung tertuju pada tertuduh. Masalah tambah pelik, karena sewaktu disuruh mendekam di rumah oleh pihak kepolisian, tertuduh malah kabur dengan tukang ojek langganannya yang bergaya preman. Akibatnya, tertuduh terpojok. Tertuduh juga orang pertama yang tiba di TKP korban-korban berikutnya.

Misiku : Membuktikan tertuduh tidak bersalah dan menemukan pelaku kejahatan yang sebenarnya.


Penyidik Utama,
Valeria Guntur
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Sayang Beribu Sayang

Hellow, Pembaca Budiman yang tidak aku hormati. Bercanda, Zeyenk ... tentu aku menghormati kalian semua. Dikit.

Kalau ditanya tentang tema novel yang paling kalian hindari, maka apa jawaban kalian?

Kalau aku pribadi akan menjawab tema Detektif. Bukan karena tidak suka apa lagi benci. Ayolah, dua perasaan itu dipersembahkan khusus untuk novel terbitan Watpat sahaja (digampar). Aku cuma lelah su’udzon pada tokoh-tokoh di dalam cerita. Kesannya kayak tidak ada yang bisa dipercaya, dan bisa jadi tokoh kesayanganku malah si biang kerok yang dicari-cari sepanjang cerita.

Sebenarnya agak ironi mengingat novel kesukaanku sepanjang masa berjudul The Sisters Grimm : Petualangan DETEKTIF Dongeng. Aku memang punya pengalaman buruk menduga-duga dalam novel itu (ihiks-ihiks). Namun, tema detektif di The Sisters Grimm tersaji bersama genre Middle Grade, Fantasi, dan Dongeng sehingga tema Detektif yang tidak terlalu aku suka tertolong oleh hal-hal yang aku cintai.

Nah, bagaimana kalau novel bertema Detektif tapi genre Teenlit? Sudah pasti latar tempat, waktu, dan suasananya realistis, sudah pasti para tokoh yang berperan masih ABG, sudah pasti ada selipan romance cinta monyet UwU. Apakah novel ini bisa menonjolkan keistimewaan yang cukup untuk membuatku mengabaikan tema Detektif yang diusung?

Dari segi sampul ... Katakanlah begini, seandainya usiaku masih 13-14-15, alias remaja tanggung, sampul novel seperti ini sudah pasti menarik perhatianku dalam sekali lihat. Ilustrasi tokoh ala komik (kembar pula), latar belakang gelap, font besar dan simple. Itulah kriteria dari sampul novel cantik saat usiaku masih remaja unyu.

Sayang beribu sayang, mengikuti kedewasaan (alias keTUAan) selera sampul novel pun ikut berubah. Sekarang aku melihat sampul novel Omen yang seperti itu malah terasa childish dan tidak serius. Font merah berdarah-darah pun kayak terlalu maksa menampilkan sisi Thriller yang mana malah berujung norak.

Tapi sekali lagi!!! Itu tanggapanku SEKARANG. Di usia yang nyaris seperempat abad!

Kalau seandainya kalian tanya diriku 10 tahun lalu, maka pendapatku akan berbanding terbalik. Percayalah, Juanita ... akan ada banyak kata SEANDAINYA dalam review kali ini. Kenapa gerangan? Langsung saja kita menuju segmen Plot

B. Plot

Seandainya aku membaca Omen saat masih SMP atau SMA, alias memang target pembaca novel ini, mungkin Omen menjadi salah satu masterpiece yang selalu aku puja-puji ke semua orang sebagai novel favorit. Aku pasti menyukai tokoh-tokohnya, terutama si kembar, pasti menyukai misteri-misteri berserta aksi memecahkan misteri tersebut. Jangan lupa twist mencengangkan di akhir.

Semua itu sempurna ... untuk diriku di usia 13 tahun.

Sayang beribu sayang, aku membaca Omen di usia yang nyaris seperempat abad. Ribuan novel berbagai genre sudah kubaca, dari tipis sampai super tebal. Dari ringan sampai berat. Dari yang awikwok-brekele-aduhai, sampai yang benar-benar masterpiece tak bercela, alias novel-novelnya Om Fredrik Backman. Intinya, pahit-manis pernovelan sudah kurasakan.

Jujur saja, Omen mempunyai banyak problem terutama dari suasana novel secara keseluruhan. Pengin jadi Teenlit berkedok Detektif-Thriller, tapi lebih fokus mencondongkan sisi Teenlit. Hal-hal seperti Romance UwU, dialog-dialog rumpi kocak, persaingan antar cewek memperebutkan cowok, dan lain-lain khas per-Teenlit-an.

Padahal, harus aku akui Thriller yang disajikan novel ini sangat sadis, mencangkup pembunuhan berantai bahkan melibatkan polisi. Maksudku ... kalau konflik utama sudah serius dan dark seperti yang diangkat novel Omen ini, rasanya aku sama sekali tidak peduli pada kisah cinta tokoh-tokohnya. Eh, di novel ini hal itu justru jadi salah satu fokus utama.

Bayangin aja, tokoh utamanya (Erika) habis melihat orang dicolok manja, dituduh melakukan hal tersebut sampai jadi buronan polisi, dibenci oleh semua orang termasuk ibu-bapak sendiri. Dia masih sempet-sempetnya nge-date, pergi ke dufan, dinner UwU bersama tukang Ojek langganan yang ternyata ketua genk motor, tamvan bak Dewa Yunani, pengusaha tajir 10 turunan, dan terpandang (bruuh).

Ini novel terbitan Watpat ape pegimana? Maksudku ... refleksi dari kejadian traumatis di awal itu mana???

Memang ada beberapa kali adegan Erika merana dan trauma, apa lagi dia masih meyakini bahwa dirinya adalah pelaku colok manja tersebut. Lebih parah lagi, dia mencolok manja kembarannya sendiri. Tapi yaudah, adegan itu hanya berlangsung beberapa paragraf, sampai paragraf selanjutnya Erika kembali menjadi seterong gorl, premanisme, Not Like Other Gorl yang tidak terpengaruh akan apa pun.

Kalau mau membuat Erika berjiwa sikopet, buatlah dia berjiwa sikopet gitu loh. Toh dia digadang-gadang menjadi Omen, alias Anak Setan. Erika beberapa kali bilang bahwa dirinya punya sisi gelap yang berbahaya, tapi menurutku kepribadian Omen ini gak keliatan menonjol atau believable. Erika sepanjang cerita cuma kayak anak bandel ala-ala remaja tanggung doang.

Erika maksa pembaca supaya menganggapnya sinister-sikopet-not like other gorl, tapi beberapa detik kemudian bucin sama cowok, bahkan menangis meraung-raung gegara ditolak crush-nya. Sisi ke-Omen-an Erika ini jadi nggak ada sama sekali. Hilang. Raib. Musnah!

I can’t with Erika. Kita bahas lebih lanjut tentang anak ini di segmen Penokohan.

Masih membicarakan suasana novel. Menurutku novel ini tidak mesti setebal 300 halaman kalau memang mau dicap sebagai novel Detektif-Thriller. Buang semua adegan filler romance UwU gak jelas serta dialog-dialog kocak gak penting, maka novel ini bisa dipangkas menjadi 100 halaman sahaja.

Serius, ya ... Bab 3 tidak memberi infomasi apa pun selain Erika adalah cewek Not Like Other Gorl dan mereka bakal ketemu pesulap. Terus lagi, adegan ke dufan dan makan malam mewah, benar-benar tidak membawa cerita ke mana-mana selain pengungkapan bahwa si Ojek adalah pengusaha kaya 10 turunan.

TERLALU BANYAK FILLER!!! AQU SUDAH MUAQ!!!

Hal serupa juga aku rasakan saat membaca Noir, Alaia, Geez & Ann, Galaksi, dan novel-novel Watpat lain sehingga aku harus memastikan berkali-kali kalau novel ini bukan terbitan Watpat!

Untungnya, meski banyak adegan filler aduhai seperti itu, gaya bahasa dan dialog novel ini enjoyable. Aku tidak terlalu cringe atau frustrasi saat membacanya. Paling-paling cuma keheranan tentang faedah adegan ini apa untuk konflik utama?

Padahal kalau segala adegan UwU Filler Romance itu dibuang, lalu diganti dengan bumbu-bumbu detektif lebih banyak. Aku jamin novel Omen bisa jadi lebih barokah. Misalnya perbanyak daftar tertuduh selain si Pesulap, tarik sudut pandang ke Eliza beberapa kali, atau perbanyak sudut pandang Valerie. Bisa juga perbanyak adegan penelitian-pencarian-penyelidikan ala detektf. Supaya novelnya bisa jadi genre DETEKTIF!

INI TIDAK!!!

Erika dan Si Tukang Ojek cuma ngumpet setelah jadi buronan, tiba-tiba Erika inget pernah dihipnotis, mereka melabrak si Pesulap, tonjok sana-sini dan selalu menang. Kemudian keduanya menyamar, dan jalan-jalan ke dufan, dan dinner mewah yang romantis. Terus kejar-kejaran mobil. Terus langsung sampai gitu aja ke penyelesaian, alias twist paling awikwok di seluruh semesta.

Oh, janganlah kalian memintaku menjelaskan twist novel ini.

Aku bisa memaafkan Erika yang maksa banget jadi Not Like Other Gorl. Aku bisa memaklumi Tukang Ojek yang ternyata CEO-Ketua Genk Motor-Tamvan bak Dewa Yunani-Pengusaha kaya 10 turunan. Aku bisa bodo amat melihat tokoh-tokoh di sini semuanya ahli kungfu dan selalu memenangkan pertarungan.

Namun, hal yang paling membuat mataku terbelalak, serta hilang respecc seutuhnya pada novel ini adalah ... memakai OPERASI PLASTIK sebagai penyelesaian masalah.

Jadi gini ... korban pertama colok manja di awal ternyata bukan benar-benar Eliza (Good Twin-nya Erika), melainkan kakak kelas yang mukanya diOPERASI PLASTIK supaya mirip Eliza (makan kapur barus). Sebab, pelaku colok manja memanglah Eliza sejak awal.

Apakah gerangan alasan Eliza melakukan itu? Karena dia tidak mau punya kembaran.

Bentar, aku mau lompat ke rawa-rawa dulu ....

Baiklah, aku sudah kembali dari rawa-rawa.

Banyak sekali kejanggalan dalam twist di atas. Pertama, memakai operasi plastik sebagai metode twist adalah hal paling rendahan, gak masuk akal, dan sinetronish(?) dalam tema detektif. Terutama melihat konteksnya dalam novel ini. MUSTAHIL BIN MUSTAHAL itu dilakukan.

Kapan operasi plastik itu dilakukan? Bagaimana? Siapa yang melakukannya? Di mana? Mengapa oh mengapa anak kelas 10 SMA alias 15 TAHUN bisa melakukan prosedur seperti itu TANPA DIKETAHUI dan DIIZINKAN oleh pihak rumah sakit? Lagi pula, kao pikir operasi plastik teh cuma sat-set-sat-set terus langsung jadi gitu!!!???

Lebih parah lagi. Di akhir cerita ada deskripsi yang mengatakan bahwa kakak kelas tersebut akan dioperasi lagi supaya mendapatkan wajahnya seperti semula. LU KATA MUKA ORANG BISA DIBULAK-BALIK-BULAK-BALIK GITU KALI!!!

(Di bawah ini adalah adegan Impy hendak melakukan Operasi Plastik di dunia novel Omen)  

Impy : “Dok, saya mau oplas supaya mirip Arwen.”

Dokter : “Ahsiyaaappp!”

(BESOKNYA)

Impy : “Waduh, Dok! Saya berubah pikiran, ternyata saya lebih cantik dari Arwen. Tolong oplas lagi jadi muka saya yang kemaren.”

Dokter : “Nyusahin orang aje, lu! Untung oplas di dunia ini sangat praktis. Ahsiyaaapp!!!”

Hal janggal kedua. Alasan Eliza melakukan pencolokan manja dan menuduh Erika adalah, intinya dia gak mau punya kembaran. Eliza bilang dia benci muka Erika mirip dengannya, dia benci harus berbagi orang tua dengan Erika, dia benci teman-teman mengeluh tentang Erika, dia benci hidupnya dikacaukan oleh Erika.

Padahal sepanjang cerita mereka sendiri meyakinkan kita kalau mereka TIDAK MIRIP SAMA SEKALI. Erika dan Eliza memang kembar identik, tapi mereka sangat berbanding terbalik dalam sifat, gaya, dan perilaku sampai tidak ada yang mengira kalau mereka kembar. Dunia mereka berbanding terbalik dan itu tergambarkan jelas.

Tidak pernah ada adegan Eliza dibanding-bandingkan dengan kembarannya, tidak pernah ada adegan teman-teman Eliza mengeluh masalah Erika. TIDAK PERNAH ADA satu adegan pun yang menunjukkan bahwa perilaku buruk Erika dapat merugikan Eliza. Jadi alibi Eliza ini terkesan dibikin-bikin aja, supaya ada twist tak terduga aja, tiba-tiba muncul aja (Usap jidat).

Ada banyak tokoh tertuduh yang lebih masuk akal sebagai tersangka, tapi penulis malah menjadikan hal paling terbaca sebagai twist-nya. Trope “Si Jahat ternyata baik, dan Si Baik ternyata jahat” yang diusung belio tidak tereksekusi dengan baik sama sekali.

Yah ... paling tidak twist seperti ini pasti terasa masterpiece bagi para pembaca muda. Jadi aku tidak mau terlalu menjulid.

LAGI PULA!!! Kalau memang operasi plastik bisa mengubah wajah orang hingga 180 derajat, bahkan bisa digonta-ganti beberapa kali dan dikembalikan seperti semula. KENAPA DARI AWAL SI ELIZA OPERASI MUKA SENDIRI SUPAYA KAGAK MIRIP ERIKA???!!! Dengan begitu masalah kelar, tanpa harus colok-colok manja, pesulap merah, kejar-kejaran mobil, adegan zombi di rumah sakit!!!

(elus-elus bokong) Sabar, Impy ... sabar!

Nah, sekarang malah aku yang bertanyea-tanyea. Kalau ternyata Erika yang selama ini maksa banget supaya pembaca menganggapnya Omen, tapi ternyata malah Eliza si malaikat baik hati yang melakukan hal-hal sades. Apakah Erika masih Omen? Atau apakah predikat Omen tersebut memang untuk Eliza sejak awal? Atau malah mereka berdua sebenarnya Omen?

Kasian bener emak-bapaknya, punya anak gak ada yang bener, xixixi ....

C. Penokohan

Erika. Lagi-lagi tokoh Not Like Other Gorl tidak pada tempatnya. Aku ragu apa sebenarnya sifat asli Erika. Dia digadang-gadang sebagai Omen, orang-orang bilang dia jahat, menyeramkan, sikopet, dan sebagainya. Bahkan diri Erika sendiri berkali-kali bilang bahwa dirinya itu mimpi buruk, bikin orang lain stress, punya sisi gelap menyeramkan, dsb, dsb ...

Tapi eh tetapi perilakunya sepanjang cerita tidak demikian. Ya dia judes, ya dia bandel, ya dia berbuat kriminal. Tapi agak berlebihan menyebutnya Omen, bahkan itu termasuk penghinaan pada Omen sesungguhnya, h3h3 ....

Seperti yang kubilang di awal, sifat dan perilaku Erika sepanjang novel cuma tipikal anak sekolahan bandel, pemberontak, dan merasa paling merana di dunia aja. Tipikal Emo-emo garis keras gitu. Meskipun tetap saja, sebrekele apa pun Erika, semua cowok tetep naksir dia (muter bola mata).

Also ... kenapa pula Erika jago banget Kung-Fu, sampai dikeroyok banyak orang pun tetap menang. Padahal nggak pernah ada penjelasan dari mana Erika mendapatkan kemampuan tersebut. Dia bukan ahli bela diri, tidak juga memiliki aliran Chi, tidak dianugerahi oleh Dewa. Itu sangat tidak masuk akal, dan membuat penokohannya makin brekele.

Tukang Ojek. Tamvan rupawan, ternyata ketua genk motor, ternyata kepala perusahaan nomber uno yang kaya 10 turunan, jago bela diri, cerdas, pemberani, dan selalu melindungi ciwi yang dicintainya meskipun si ciwi jelas-jelas brekele. Kalau semua itu bukan ciri-ciri tokoh cowok tipikal Watpat, aku tidak tahu apa lagi!

Hmmm ... apakah novel ini merupakan pencetus penokohan cowok tipikal Watpat? Sebab novel ini terbitan tahun 2012 dan Watpat belum terlalu tenar di khalayak ramai sampai tahun 2014. Kalau memang novel inilah pencetusnya, aku ingin bilang kepada penulis bahwa ....

I HATE THIS! I HATE YOU! WHY ARE YOU DOING THIS TO US!

Ekhem, malah jadi ke mana-mana.

Mengesampingkan segala hal tidak masuk akal dari penokohan si Tukang Ojek Tamvan Ketua Genk Motor Pengusaha Kaya 10 Turunan ini. Sebenarnya aku tidak keberatan jika Tukang Ojek menjadi satu-satunya penyemangat bagi Erika. Adegan-adegan mereka sebenarnya cukup UwU meskipun tidak pada tempatnya.

Namun, alasan Si Tukang Ojek tidak menaruh sedikitpun curiga pada Erika, padahal banyak hint yang menjurus ke Erika sebagai pelaku pencolokan manja, tidak dijelaskan dengan baik sama sekali. Helooow, dia cuma orang asing, tapi dia bertingkah seolah sudah mengenal Erika sejak orok. It's not adding up!

Alasan Tukang Ojek naksir Erika pun sangat tidak masuk logika. Jadi si Tukang Ojek ini memang suka diperintah-perintah sama cewek galak, maka timbulah rasa cinta itu.

Okhay ... bukan bermaksud kink shaming, tapi di dunia nyata hal ini tidak akan pernah terjadi. Bukan, bukan ... Sebenarnya memang bisa terjadi, tapi tone ceritanya tidak mungkin jadi UwU karena sudah merambah ke petis. (mungkin aku harus berhenti nyemil kapur barus)

Eliza. The Good Twin yang ternyata Omen padahal nggak ada tanda-tanda untuk hal tersebut menjadi masuk akal. Ekhem ... memang ada, tapi KEBACA BANGET. Motif Eliza sebagai penjahat pun teramat sangat sepele, alih-alih bikin pembaca memahami dan mungkin bersimpati, malah membuat pembaca kesal! Pembaca itu maksudnya aku, h3h3 ....

Valerie. Anak cupu yang ternyata jago kungfu dan kaya raya dan genius dan detektif. Aku sebenarnya curiga kalau novel ini memanglah cikal bakal trope-trope Watpat zaman sekarang. Mungkin itu sebabnya aku membenci semua tokoh di sini setengah mati!

Masih ada beberapa tokoh seperti Pesulap, teman-teman Erika, Emak-Bapak Erika dan Eliza, dan lain-lain. Namun, peran mereka di sini tidak terlalu berpengaruh untuk kelangsungan plot utama.

D. Dialog.

Dialog dalam novel ini santai, mengalir, dan memberikan vibe era Golden Decade yang mana adalah kelebihan bagiku pribadi. Sebab dialog khas Golden Decade memberi kesan seolah si tokoh berbicara langsung kepada kita. Tidak ada embel-embel baku, puitis, retoris, metafora atau lain-lain. Seolah kita sendiri sedang ikut mengobrol bersama mereka, dan obrolan yang tidak kaku.

Tetapi eh tetapi, masalah dari dialog novel ini adalah peletakkan yang tidak pada tempatnya. Para tokoh di sini sering ada di posisi genting, tapi mereka sempet-sempetnya bicara kocak, saling rayu UwU, ngerumpi ngalor-ngidul yang melenceng jauh dari plot. Kadang dialog para tokoh bergulir terus tanpa ada kesimpulan yang bisa didapat. Sekalipun ada, itu brekele.

Misalnya di Bab 3 yang cuma mau menyampaikan betapa Not Like Other Gorl-nya Erika, dan mereka mau ketemu pesulap. Padahal ... dua hal tersebut tidak seharusnya mengambil satu bab. Walhasil Bab 3 itu cuma berisi pure filler. Bayangkan jika Bab 3 dipakai untuk memperdalam sisi Valerie, atau hilangkan saja sekalian supaya tidak mencapai 300++ halaman.

E. Gaya Bahasa

Novel ini mengambil sudut pandang orang pertama (POV1) dari berbagai tokoh, tapi yang paling banyak adalah Erika. Keunggulan mengambil sudut pandang orang pertama (POV1) adalah membuat pembaca mau tidak mau mengikuti narasi yang disuguhkan oleh si tokoh utama.

Berebelit-belit kagak, tuh?

Misalnya, Erika berkali-kali meyakinkan kita kalau dirinya Omen, padahal kenyataannya tidak terlihat demikian. Nah, kita sebagai pembaca tidak bisa terlalu protes, karena memang Erika yang menganggap dirinya demikian. Ibarat Impy meyakini bahwa dirinya adalah penulis genius terkemuka, padahal kenyataannya emang bener (digaplok).

Jadi sekesal apa pun aku pada Erika berserta segala tingkahnya sepanjang novel, pada akhirnya itu adalah reaksi diri Erika sendiri terhadap sesuatu. Kita sebagai pembaca hanya bisa menonton betapa brekele-nya dia.

Nah, masalahku (lagi) dengan novel ini adalah, tanggapan para tokoh di sini terlalu memaksa pembaca supaya setuju dengan pendapat mereka.

Contohnya di prolog saat fokus sudut pandang ada di Eliza. Dia menceritakan perbedaan dirinya dengan Erika. Kalau Erika tuh berandalan banget, rambut dipotong mirip laki-laki, baju dicorat-coret, muka pakai make-up emo. Sedangkan aku anak manis, aku berusaha menjaga sikap, aku anak kebanggaan keluarga, aku anak emas, dan sebagainya.

See ... dari situ aja pembaca udah bisa menebak kalau penulis sedang menyembunyikan sesuatu. Mempersiapkan ‘twist’.

Terus lagi saat sudut pandang ada di Erika. Dia berkali-kali bilang kalau dirinya Omen, jahat, sikopet, dan lain-lain. Membandingkan gaya hidup Eliza yang terlalu lurus, terlalu menuruti peraturan, dan melelahkan.

Excuse me, melelahkan? MENURUTI PERATURAN BUKAN HAL MELELAHKAN! Justru melanggar peraturan, berbuat kriminal, mendapat konsekuensi, serta dihukum berkali-kali lah yang melelahkan HEY ERIKA!!! MIKIR!!!

Di satu kesempatan Erika bahkan mengejek cara makan Eliza yang sopan. Erika bilang, Eliza gak tahu cara bersenang-senang; seperti makan dengan gaya rakus. Lah, emang bersenang-senang harus makan pake gaya rakus??? Temen-temen eluh monkey semua kaleeee jadi makannya pada rakus pas bersenang-senang! Kesel bat gua!

Maaf, maaf ... Erika tuh jadi Tokoh Utama ngeselinnya gak ketulungan. Tapi sekali lagi ... karena ini POV1 aku bisa memakluminya. Toh itu pemikiran Erika sendiri.

Intinya! Penulis Trying Too Hard untuk ‘mendalami’ sisi penokohan dari masing-masing tokoh, sampai malah jadi dangkal dan stereotipikal. Oh, satu lagi ... karena mengambil sudut pandang orang pertama, banyak sekali dialog batin dari para tokoh. Namun, gaya dari dialog-dialog batin itu hampir mirip satu sama lain.

F. Penilaian

Cover : 2

Plot : 1

Penokohan : 1,5

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 2

Total : 2 Bintang


G. Penutup

Fyuuh ... sebenarnya aku tidak tahu kenapa tiba-tiba memutuskan untuk membeli semua seri Omen. Padahal sampulnya tidak menarik, padahal tema yang diusung tidak sesuai kemauanku. Rasanya aku cuma kekurangan bacaan berseri sehingga comot aja apa yang kelihatan mata.

Kesimpulan novel ini masih sama, yaitu ... SEANDAINYA.

Seandainya aku membaca ini 10 tahun lalu, seandainya referensi bacaanku lebih sedikit, seandainya aku tidak menonton sinetron brekele yang menjadikan Operasi Plastik sebagai penyelesaian masalah sehingga aku benci banget alibi Operasi Plastik!

Jujur saja, aku versi 13 tahun akan mencintai novel ini setengah mati. Namun, sekarang ... melihat tokoh-tokoh yang aduhai, bahkan boleh jadi pencetus berbagai trope Watpat terkemuka. Rasanya kepalaku hendak meletus dibuatnya.

Aku tidak yakin ingin melanjutkan seri Omen, apa lagi melihat novel selanjutnya setebal 400++ halaman. Apakah itu akan berisi dialog-dialog filler lagi? Atau malah adegan UwU Erika dan Tukang Ojek karena mereka sudah jadian?

Oh, Neptune have mercy! Semesta, Semesto ... lindungilah aku dari adegan filler!

Tapi aku bertekad!!! Kalau Icylandar saja bisa kuselesaikan, maka novel teenlit berkedok detektif ini tidak ada apa-apanya! Mari kita lanjutkan Omen sampai tamat!!!

Demi Toutatis!!! Demi Balenos!!! Kalianlah saksinya!!! (Referensi dari komik Asterix & Obelix)

Sampai jumpa di review lain ToT/

Comments

  1. Jujur, kalau mau mengikuti franchise Lexie Xu Omen Universe ini pasti bikin puyeng πŸ˜‚ soalnya ada baaanyaaakk. Dan, kayaknya Mbak Lex kagak bisa move on dari karyanya sendiri. Bahkan, unt judul baru dgn tema yg seharusnya kagak ada hubungannya sama Geng fenomena alam (Guntur, Guruh, Hujan, Topan, Badai) dimasukkan juga karakter2 ini. Bisa dilihat di judul "Rahasia Tergelap" (ada di iPusnas juga). Cameo masa lebih MC dari MC sendiri awikwokwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, terkena sindrom gagal mup on. Kalau begitu cukup Omen aja yang aku geluti. Gak usah lah universe lain yang wadidaw itu. Takut gak sanggup πŸ˜­πŸ˜‚

      Delete
  2. (Ceritanya) aku lagi scrool facebook untuk nyari akun Kek Lexie untuk lihat pengkomikan beliau, eh malah link ini muncul.

    Nggak mau jujur, tapi enaknya jujur. Aku tetep suka meski udah sadar kalau ceritanya 'rada-rada' dan bahkan kek kurang improve di seri-seri lain (aku baca seluruh dark series setelah omen. Penyelesaian misterinya agak bikin garuk kepala. Bahkan perihal oprasi plastik, itu bahan cerita yang dipake ke sekian kalinya ama beliau😭 kurang rekomen, cukup baca omen aja mending)

    Untuk review ini, aku setuju. Dari banyaknya karya Kak Lexie sudah kubaca, cuma satu yang menurutku 'oke'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya sih sampai bikin banyak spin off modelan Marvel ya? Emang yang menurutmu paling oke itu yang mana? πŸ‘€

      Btw, aku memang udah nyerah sama novel-novel belio. Kamu juga kudu baca blogku tentang ituπŸ˜‚πŸ˜­

      Delete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)