Ramzi dan Kesatria Benteng


Judul : Ramzi dan Kesatria Benteng

Penulis : Raliesta

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9789792271072

Tebal : 232 Halaman

Blurb :

Sejak orangtuanya meninggal beberapa tahun lalu, Ramzi harus tinggal serumah dengan sepupunya, Dhani. Sayangnya, Dhani selalu jahat pada Ramzi, baik di rumah maupun di sekolah. Dan biasanya Ramzi diam saja. Tapi ketika preman sekolah itu mulai mengganggu teman-temannya, Ramzi tiba-tiba berani menantang Dhani.

Ramzi tidak sendirian. Ia dibantu teman-temannya: Roem si jago catur, Farid si culun, Ditto si jago gambar, dan Gena si anak baru yang bertubuh besar. Mereka bertekad mengalahkan Dhani dan seluruh anggota Tim Bomber dalam permainan cerdik yang takkan disangka-sangka lawan.

Siapa yang menduga kalau dalam prosesnya Ramzi malah menemukan rencana busuk pengusaha misterius untuk mengambil alih sekolah dan mengubahnya menjadi swalayan. Bisakah Ramzi mengalahkan Tim Bomber sekaligus menggagalkan rencana itu?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Nge-Middle Grade lagi

Main benteng di hari hujan, tentulah baju akan basah!

Itulah sedikit kata-kata mutiara, boleh dibilang petuah berfaedah untuk kalian semua. Sebab novel yang aku bahas kali ini berhubungan dengan permainan benteng. Kalian ingat permainan Benteng? Permainan masa kecil yang sering kali membuat tubuh kita codet-codet akibat bercumbu mesra dengan tanah. Permainan ekstrem ini tentu bukan untuk kalian anak-anak rumahan cupu, eyuuuh.

Aku menemukan novel ini di Gramedia Digital. Seperti biasa, kepincut sampul bukunya yang terkesan klasik. Mengingatkanku pada novel Pinnochio dan Little Women. Terlebih lagi sampul novel ini menyajikan ilustrasi para tokohnya. Aku melihat Ramzi bersama empat temannya tengah berpose memakai zirah perang masing-masing.

Meskipun ada seonggok pertanyaan dalam kepalaku. Kenapa pakaian kestrianya beda satu sama lain? Ada zirah kesatria Romawi, Inggris, Persia, dan kagak tau tuh satu lagi apaan. Lebih aneh lagi, ada dua kuda lumping nyempil di situ ngapain? Demi mengetahui apa kolerasi semua itu kepada cerita, maka langsung saja kita selami novel ini bersama.

B. Plot

Kisah berawal dari seorang anak bernama Ramzi yang menjadi korban bully oleh kakak sepupunya (Dhani). Meski kesal diperlakukan semena-mena, Ramzi tidak bisa mengadu kepada siapa pun, sebab Ramzi tinggal bersama keluarga Dhani.

You see ... orang tua Ramzi kecelakaan di perjalanan menuju rumah sakit ketika sang ibu hendak melahirkan adiknya. Saat itu usia Ramzi baru lima tahun. Jujurlly, cara penulis menceritakan tragedi ini membuatku ihiks-ihiks.

Meskipun ayah dan ibu Dhani pasti membela Ramzi, tapi Ramzi bertekad tidak ingin mengadu dan membalas sendiri perlakuan Dhani suatu saat nanti. Meski ter-bully dan brekele, Ramzi mempunyai teman-teman setia yang selalu ada untuknya. Ada Farid, Gena, Roem, dan Ditto. Masing-masing mempunyai kelebihan, dan Ramzi selalu menganggap mereka sebagai lima kesatria gagah yang suatu hari nanti bisa mengukir sejarah.

Keinginan itu cepat terkabul saat Ramzi DKK ingin merebut lapangan sekolah dari tirani Dhani DKK. Kedua kubu setuju untuk adu bermain benteng sambil memakai kuda lumping (Weird, but whatever ....). Siapa pun yang menang bisa menguasai lapangan sekolah. Di sisi lain, ada pihak ketiga yang juga menginginkan lapangan sekola, bahkan seluruh SD Teluk Angsan II. Orang-orang dewasa yang jelas tidak mungkin mereka kalahkan.

Nah, itulah garis besar seluruh novel. Harus kukatakan novel ini sangat berhasil mengangkat genre Middle Grade dari gaya bahasa, dialog, suasana, bahkan pemikiran-pemikiran tokohnya. Novel ini diambil dari kaca mata Ramzi meskipun sudut mengambil sudut pandang orang ketiga. Itu keputusan yang sangat bagus, lantaran semua kejanggalan dan pemikiran bodoh (ekhem ... polos) sepanjang cerita bisa dimaklumi.

Ayolah, orang berusia nyaris seperempat abad sepertiku pasti sudah bisa menebak siapa penjahatnya, siapa orang baiknya, siapa yang dituduh jahat padahal baik, siapa yang dikira baik padahal jahat di sepanjang novel. Jadi, novel ini memang benar-benar difokuskan untuk pembaca usia 10-15 tahunan. Aku yakin pembaca usia segitu pasti tercengang mendapati twist di akhir, bahkan semangat 45 saat adegan Ramzi DKK adu permainan Benteng melawan Dhani DKK yang penjabarannya sangat dramatis.

Masalahku pada novel ini justru dari sub-plot atau pembangun cerita yang tidak perlu, karena ujung-ujungnya ternyata sub-plot itu tidak menuju ke mana-mana. Misalnya, di awal Ramzi bilang ia ingin sekali membalas perilaku Dhani kepadanya suatu hari nanti, tapi suatu hari itu ternyata tidak pernah ada.

Aku pikir Ramzi benar-benar akan melukai Dhani pada satu kesempatan lalu menyesal, atau malah dia mengurungkan niat tersebut karena menurutnya kesatria yang baik tidak melakukan hal hina seperti itu. Setidaknya berikan konklusi dari building yang dijanjikan saat awal cerita. Ternyata kagak! Terus, tentang selipan-selipan misteri siapa sebenarnya orang tua Ramzi, karena kok kayaknya semua orang mengenal orang tua Ramzi dan menghormati mereka.

Aku pikir penulis akan membuat satu kisah di mana orang tua Ramzi ternyata pernah berjasa besar untuk seluruh kota bertahun-tahun lalu, mungkin sebelum Ramzi lahir. Eh, ternyata tidak ada penjelasan sama sekali sampai novel selesai.

Sebenarnya kita bisa mengambil kesimpulan dari deskripsi ibu Ramzi yang seorang suster dan ayahnya yang seorang wartawan, makanya semua orang mengenal dan menghormati mereka. Tapi eh tetapi, sekali lagi konklusi itu tidak sesuai dengan cara penulis membangun selipan-selipan dramatis pada awalnya.

Bahkan konflik utama orang-orang dewasa yang memperebutkan surat tanah sekolah tidak dikembangkan lebih jauh. Ekhem ... untuk yang satu ini aku maafkan karena memang tidak akan terlalu cocok untuk pembaca anak-anak, toh penulis menyelipkan clue-clue sederhana yang masuk akal di akhir. Aku yakin pembaca anak-anak akan menyukai twist itu.

Beberapa aspek dalam novel ini juga menurutku sangat ekstrem. Katakanlah ini nitpick alias sepele, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya!

Di satu kesempatan, mama Gena (teman Ramzi) menitipkan orok baru lahir pada si Gena yang sejatinya anak kelas 5 SD! Kalau dititpkan dalam box bayi atau tempat tidur aku masih maklum, tapi ini si Gena disuruh MENGGENDONG si orok!!!

Mohon maap, orang tua bangsa mana yang menitipkan bayi baru lahir dalam gendongan anak kelas 5 SD! ( usia 10 atau 11 tahun kira-kira) Dulu saat adikku orok, boro-boro disuruh gendong, pengen menyentuh pun banyak larangannya!

Terus permainan benteng yang berlangsung 15 ronde sekali main?

I mean ... bagi bocil-bocil seperti mereka mungkin tidak seberapa, sebab mereka masih punya banyak energi usia belia. Yang jelas aku MEMBAYANGKAN bermain benteng selama itu saja udah ngos-ngosan duluan, apa lagi ikut main bersama mereka. Apa kagak kelamaan itu 15 ronde!

Di beberapa kesempatan penulis juga terkesan rada berlebihan menjabarkan nasib tokoh-tokohnya.

Jadi begini ... Farid (Teman Ramzi) terserang asma saat permainan benteng selesai (Bich, of course! You are playing for 15 rounds!) lalu dibawalah dia ke ruang ICU. Aku tidak terlalu paham apakah serangan asma bisa sangat parah sampai dibawa ke ICU? Mungkin bisa ... tapi bukan itu masalahku sebenarnya.

Masalahku adalah cara penulis menceritakan interaksi antar Farid dan Ramzi seolah si Farid bakal meninggal dunia. Sampai membawa-bawa ICU, ucapan terbata-bata, dan “tidur nyenyak” segala. Chill, ini novel Middle Grade, haruskah ada hint-hint kematian di dalamnya! Aku bahkan membuat catatan kalau si Farid sampai di bikin metong, ini novel maksa banget jadi dark! Untungnya kagak!

Hal serupa terjadi saat Dhani terjatuh dan dagunya berdarah, lagi-lagi dibawa ke ICU. E bused ... ini permainan Benteng ape papan OUIJA! Kok semua orang celak dan dibawa ke ICU!

Kecintaan penulis terhadap ruang ICU tidak berhenti sampai di situ ....

Saat huru-hara Pak Yaser dan Pak Irfan dalam memperebutkan surat tanah sekolah selesai. Ramzi terluka dan di bawa ke rumah sakit, lalu Pak Yaser dikatakan sedang beristirahat di ruang ICU. Padahal gak diceritain Pak Yaser kenapa, luka apaan, seberapa parah sampai harus ke ICU. Dan kenapa Pak Yaser dibaw ke ICU kalau dia cuma disuruh ISTIRAHAT!!!

APA KRITERIA MASUK ICU DI DUNIA NOVEL INI???

Ending novel pun jadi buru-buru dan menyisakan banyak pertanyaan. Misalnya ke mana Pak Irfan pergi, apa yang terjadi pada sekolah, bagaimana kelanjutan surat tanah yang bermasalah, apakah ada keterlibatan polisi, dan sebagainya, dan sebagainya. Entah itu memang tujuan si penulis menjadikannya misteri atau bukan, tapi toh novel ini tidak berseri, jadi ... what is happening here?

C. Penokohan

Ramzi. Anak pencinta sejarah, terutama menyangkut perang dan kesatria. Sering berlagak seperti pemimpin dan membayangkan teman-temannya sebagai kesatria juga. Penokohan Ramzi tidak ada masalah, sepanjang cerita dia digambarkan pemberani, pintar, tapi bukan tipe nekad apa lagi bandel. Penokohan Ramzi agak out di akhir cerita saat dia mendadak bar-bar menyerang Pak Irfan, tapi setidaknya itu beralasan.

Farid, Ditto, Gena, dan Roem. Aku satukan saja mereka, sebab tidak ada yang benar-benr stand out kecuali Farid yang menderita asma. Si Ditto digambarkan suka komik dan jejepangan (tapi bukan Vvibu freak ya, eyuuh), Gena digambarkan bongsor tapi rada pemalu, dan Roem yang paling pintar. Mereka memang diberi porsi untuk menonjolkan kelebihan masing-masing, tapi beberapa terkesan basic banget.

Misalnya Ditto sering mengambil referensi komik dalam permainan benteng, Roem paling sering membuat strategi, karena dia jago catur. Ya ... aku mengharapkan lebih dari Gena dan Farid, sayangnya tidak aku dapatkan karena jumlah halaman yang memang terbatas. Latar belakang mereka juga tidak lebih dalam dijabarkan selain hal-hal mendasar.

Dhani, Ferdi, Genap, Ruby, dan (lupa). Dhani sepupu Ramzi, tipikal tukang bully tapi manja di depan ayah-ibu. Selain kepada Ramzi, kekejaman Dhani lebih sering disebut-sebut daripada ditunjukkan. Lalu ada kroco-kroconya yang entah kenapa namanya rada-rada mirip sama Ramzi DKK. (Farid-Ferdi, Gena-Genap, Dhani-Ditto, Ruby-Roem). Jadi ketuker mulu kan guweh!

Pak Yaser. Penjaga sekolah sekaligus mantan pejuang negara sehingga sering ditakuti anak-anak. Penampilannya yang menyeramkan juga sering membuat Pak Yaser dituduh membenci anak-anak dan sekolah ini. (Udah tau kan arahnya ke mana, xixixi ....)

Pak Irfan. Guru sejarah baru, cara mengajarnya membosankan, tapi Ramzi menyukainya karena dia tampak baik. (Udah paham juga kan, hehe ....)

Pak Lukman. Kepala sekolah lope-lope.

Ibu-Bapak Irawan. Orang tua Dhani, dan yang bertanggung jawab mengurus Ramzi. Mereka baik, bukannya tipikal orang tua tiri tukang pecut.

D. Dialog

Dialog novel ini tipikal Middle Grade. Sederhana, UwU, dan gak bertele-tele, meskipun kurang ada perbedaan antar dialog para tokoh selain Ramzi dan Dhani. Kalau dialog mereka disejajarkan, pembaca pasti akan sulit membedakan siapa yang sedang bicara. Pngucapan yang terlalu baku terkesan tidak natural kalau melihat latar tempat di Indonesia.

Bukan berarti anak-anak di Indonesia gak boleh berbahasa baku ya, h3h3 ... cuma kurang natural aja.

Beberapa dialog batin Ramzi juga tidak dicetak miring, tadinya aku pikir itu typo atau POV tidak konsisten, tapi saat terjadi berulang-ulang aku sadar itu memang keputusan penerbit dan editor. Itu tidak mengganggu, tapi bikin salah paham aja.

E. Gaya Bahasa

Gaya bahasa novel ini menyerempet ke gaya terjemahan, meskipun terkadang ada sebutan-sebutan khas lokal yang menandakan ini novel berlatar di Indonesia. Aku pribadi suka gaya bahasa teremahan begini, sayangnya latar tempat novel ini di Indonesia sehingga terkesan kaku. Bahkan aku merasa gaya bahasa si penulis mirip sekali dengan gaya menulisku sendiri.

Berusaha meminimalisir pengulangan kata, serta membuat susunan kalimat seefektif mungkin. Saking bakunya gaya bahasa penulis, aku bahkan baru mengetahui kalau 'menghadang' atau 'hadang' adalah bentuk tidak baku, sementara yang baku adalah 'adang' atau 'mengadang'. Tengks, Penulis ... kau bikin aku revisi naskah untuk kesekian ribu kalinya.

Nah, kekurangan dari gaya bahasa seperti itu adalah kurangnya rasa dalam cerita alias kaku, itu yang aku rasakan saat membaca novel ini. Aku suka dan enjoy tapi di satu sisi kok kayak terasa hambar. Hmm ... aku harus mengevaluasi tulisanku sendiri roman-romannya!

Oh, aku juga menemukan sebiji typo titik doubel di akhir kalimat. Entah itu titik doubel atau elipsis kurang titik. Misteri abad ini.

F. Penilaian

Cover : 3

Plot : 2,5

Penokohan : 2

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 3

Total : 3 Bintang


G. Penutup

Sudah lama aku tidak menyentuh novel Middle Grade, dan novel ini bisa menjadi pengingat betapa aku mencintai genre tersebut. Mungkin Ramzi dan Kesatria Benteng tidak seepik The Secret Garden atau The Sisters Grimm, tapi jelas sesuai dengan apa yang dijanjikan untuk target usia pembaca, dan menjadikan permainan benteng sebagai konflik? That is clever.

Fun Fact, ternyata si penulis melihat dirinya sendiri dalam sosok Ramzi, dan katanya kisah ini terinspirasi dari masa kecilnya. Pantas sisi relate-nya dapat. Dan kalau belio benar-benar pernah bermain benteng sebnyak 15 ronde sekali main, aku akan memberi standing applause saat ini juga. Masa kecilmu greget sekali.

Nah, novel ini bisa dibilang selingan, karena aku sedang membaca novel yang lebih barokah (dari sisi tebal halaman). Aku juga membeli satu seri novel yang berjumlah enam buku, entah harus aku review satu-satu atau sekaligus, ya?

Well ... lihat saja nanti, kalau novelnya pendek-pendek dan ringan mungkin aku buat dua part, masing-masing membahas tiga buku. TUNGGU, EA!

Sekian untuk review kali ini. Sampai jumpa di review lain ^o^/

Comments

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)