Tips Tokoh dan Penokohan Anti Dangkal

Tokoh dan Penokohan dalam Se-fruit Cerita

Tokoh dan Penokohan boleh dibilang unsur paling penting dalam se-fruit novel. Kalian bisa membuat cerita dengan plot paling alakazam di dunia, tapi kalau tokoh dan penokohannya masuk akal dan likeable, cerita tersebut akan tetap tergolong bagus. Sebab Tokoh dan Penokohan ibarat nyawa dalam cerita itu sendiri.

Contoh Bapacc J.R.R. Tolkien penulis novel legendaris The Lord of The Ring dan The Hobbit. Konon, sebagai ahli linguistik belio menciptakan World Building, termasuk bahasa baru sebelum memutuskan bahwa dunia ciptaannya perlu kisah mencangkup tokoh-tokoh yang kita kenal dan cintai sampai sekarang. Supaya apa? Tentu saja supaya dunia ciptaannya memiliki nyawa.

Bayangkan kalau The Lord of The Ring hanya berupa penjabaran kenampakan alam, deskripsi makhluk-makhluk penghuni wilayah, serta sejarah terbentuknya Middle Earth dari awal sampai akhir. The Lord of The Ring mungkin hanya akan menjadi buku Tour Guide Middle Earth atau buku sejarah ala sekolahan yang berpotensi besar membuat pembaca molor di tengah jalan.

Tokoh dan Penokohan berperan penting dalam menunjukkan emosi di mana seluruh pembaca bisa relate, ikut bersimpati, serta peduli pada nasib apa yang akan diterima tokoh dari segala perilaku dan pilihannya sepanjang cerita. Itulah kunci dari cerita menarik, atau boleh kukatakan cerita yang berhasil.

Bagaimana Cara Membuat Tokoh yang Tidak Dangkal?

Tokoh dan Penokohan punya komponen-komponen dasar yang harus-kudu-mesti-wajib ada, serta dijabarkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari segi Teknis (primer), komponen-komponen itu mencangkup; Nama, Usia, dan Penjabaran Fisik. Dari tiga komponen itu pembaca bisa menebak latar belakang si tokoh, atau setidaknya berekspektasi akan seperti apa penokohan tokoh tersebut.

A. Nama

Memberi nama pada tokoh bisa mengidentifikasi dari mana tokoh tersebut berasal, siapa keluarganya, apa jabatannya, dan apa perannya dalam cerita. Contohnya, seluruh murid Hogwarts mengenal Harry Potter sebab nama belakangnya sama seperti James Potter, alias orang yang berpengaruh di situ. Sama seperti Draco Malfoy yang ditakuti semua orang, lantaran semua keluarga Malfoy adalah Death Eater (pengikut Voldemort).

Contoh lain, kalau nama tokoh mencangkup jabatan misalnya Raja Edward, Panglima Rune, Jendral Judy. Pembaca jelas akan mendapat gambaran agung dan berkuasa dari nama-nama tersebut, sebab mereka adalah representasi dari seorang pemimpin.

Begitupun Penyihir Shasha, atau Puss in Boots, atau Bidadari Tiffany. Kalian sebagai pembaca pasti sudah punya ekspektasi akan seperti apa tokoh-tokoh itu, serta apa perannya dalam cerita hanya dengan melihat nama si tokoh.

B. Usia

Penjabaran usia yang jelas memberikan gambaran kepada pembaca akan seperti apa kepribadian si tokoh. Kalau tokoh berusia ratusan tahun bahkan ribuan tahun, tentu pembaca mengharapkan kepribadian dewasa, bijak, serta cerdas mengingat betapa banyak pahit-manis kehidupan yang tokoh tersebut alami semasa hidup.

Sebaliknya, pembaca pasti mengharapkan kepolosan dari tokoh usia anak-anak sebab mereka belum tahu makna kehidupan yang sebenarnya. Bagitupun usia remaja yang pasti pembaca harapkan penuh emosi menggebu-gebu, canggung, serta semangat rasa ingin tahu yang tinggi.

C. Penjabaran Fisik

Komponen ini sangat penting agar pembaca punya gambaran pada wujud si tokoh, memberi ciri khas atau fitur tubuh unik agar satu tokoh bisa dibedakan dengan tokoh lain. Penjabaran fisik juga bisa menunjukkan tokoh tersebut berasal dari spesies mana, sebab beberapa penulis (terutama penulis genre fantasi) gemar membuat makhluk selain manusia.

Penjabaran fisik yang baik tidak harus selalu disebut setiap kali tokoh muncul. Hanya saja, penjabaran fisik tokoh itu harus spesifik di satu hal dan menjadikannya ciri khas sehingga tanpa disebut berulang-ulang pun pembaca bisa tahu.

Dari tiga aspek di atas muncul lagi pertanyaan barokah ....

Bagaimana kalau informasi tentang si tokoh ternyata tidak sesuai sifatnya di cerita? Bisa saja tokoh anak-anak memiliki sifat dewasa, atau malah usia ratusan tahun tapi tingkah laku macam anak TK (lirik novel sebelah). Bagaimana kalau tokoh Raja ternyata misqueen, tidak bisa memimpin, dan brekele?

Semua pertanyaan itu bisa dengan mudah terjawab dari segi Pengembangan Tokoh yang mencangkup; Latar Belakang, Lingkungan, serta Motivasi dan Tujuan.

A. Latar Belakang

Dengan latar belakang yang jelas, kontradiksi dari komponen-komponen di atas bisa dijadikan masuk akal. Misalnya Ucup berusia 10 tahun, tapi dia bertingkah jauh lebih dewasa dari usianya. Kok bisa? Oh, karena orang tuanya meninggal saat usianya tiga. Hidup keras dan sebatang kara di jalanan membuat Ucup lebih dewasa dari anak-anak seusianya.

Atau, Dudul adalah seorang raja, tapi boro-boro bijak dan berjiwa pemimpin. Dia malah tirani, manja, tempramen, dan rakus. Kok bisa? Ternyata karena sepanjang hidupnya dia selalu dimanja, hidup enak, dituruti kemauannya sehingga tidak memiliki empati atau jiwa pemimpin.

Intinya, latar belakang tokoh sangat penting untuk menjelaskan kenapa dan bagimana si tokoh bisa memiliki kepribadian yang sekarang. Menjawab pertanyaan “Kok Bisa?” dari pembaca yang merasa si tokoh kontradiksi dari penokohan awalnya. Latar belakang ini juga termasuk sebab-akibat yang memang unsur utama cerita yang masuk akal.

B. Lingkungan

Sebuah lingkungan atau wilayah pasti memiliki tradisi. Satu wilayah percaya bersiul di malam hari bisa mendatangkan hantu, bisa jadi di wilayah berbeda bersiul di malam hari justru bisa mendatangkan rezeki. Nah, terapkan juga hal-hal seperti itu pada tokoh kalian supaya bisa mendpatkan penokohan yang lebih autentik (anti dangkal).

Tokoh A terbiasa melakukan segala hal dengan terperinci, sedangkan tokoh B sering bertingkah sembrono. Hal-hal kecil seperti itu bisa ada akibat pengaruh dari lingkungan sehari-hari si tokoh. Tokoh A selalu diajarkan untuk terperinci oleh keluarganya, sementara keluarga tokoh B cenderung cuek. Dengan memikirkan hal-hal seperti ini, penokohan dari tokoh kalian pun memiliki warna.

C. Motivasi dan Tujuan

Fungsi motivasi dan tujuan pada tokoh kalian adalah faktor utama alasan si tokoh melakukan apa yang dia lakukan (Berbelit-belit gini, dah!). Misalnya ... Asep merupakan anak orang kaya, hidup serba berkecukupan, disayang orang tua, pokoknya keluarga sehat dan bahagia. Namun, dia pada akhirnya menJadi penjahat yang ingin menguasai dunia. Kenapa bisa begitu?

Oh, ternyata karena meski berasal dari keluarga serba ada, Asep selalu merasa dirinya tidak puas. Apa yang dimilikinya tidak pernah cukup dan dia selalu ingin lebih. Itu sebabnya dia menghalalkan segala cara untuk bisa berdiri paling tinggi, mendapatkan kekuasaan, serta hormat dari orang-orang di sekitarnya.

Begitu juga Tatang yang diceritakan tumbuh di keluarga penjahat, tapi dia memutuskan untuk jadi penegak hukum. Kenapa? Ternyata karena dia melihat dampak tindakan keluarganya yang merugikan banyak orang sehingga dia bertekad untuk menentang mereka.

Katakanlah Motivasi dan Tujuan adalah konflik internal tokoh kalian. Kemauannya, prinsipnya, dan nuraninya. Semua itu adalah hal-hal yang harus dimiliki tokoh kalian supaya si tokoh terasa hidup dan nyata.

Pentingnya Konsistensi

Katakanlah di tahap ini kalian sudah membuat komponen-komponen tokoh yang tertera di atas, lantas apa yang harus kalian lakukan selanjutnya?

KONSISTEN! Jangan sampai kalian capek-capek menciptakan tokoh, pada akhirnya tindak-tanduk si tokoh justru tidak sesaui penjabarannya sepanjang cerita.

Contohlah trope benci jadi cinta khas Watpat. Tokoh A dan B saling membenci, mereka bertengkar setiap bertemu, mustahil rasanya kedua tokoh itu bisa akur, terlebih lagi saling jatuh cinta. Nyatanya, mereka berakhir pacaran meskipun tidak pernah ada alasan kenapa mereka bisa saling cinta.

Ratusan cerita tema benci jadi cinta di Watpat sudah kubaca, tidak satu pun memberi alasan jelas kenapa dua tokoh utama bisa saling cinta, selain mereka sama-sama good looking. Makanya mereka terpesona dan luluh oleh kecantikan dan ketampanan wajah masing-masing pada akhirnya.

Woooww ... dangkal sekali!

Padalah sepanjang cerita yang dilakukan tokoh cowok hanya merendahkan tokoh cewek, melakukan pemaksaan kehendak, bahkan sudah ke ranah pelecehan. DAN AKU HARUS MERASA UwU SAAT MEREKA PACARAN??? MAKE IT MAKE SENSE!!!

Ekhem ... sebelum segmen ini jadi ke mana-mana mari kita selesaikan di sini. Ingat, konsisten adalah kunci dari penokohan yang baik. Kalaupun kalian mau membuat si tokoh melakukan hal yang berkebalikan dari sifatnya, buat building di awal, buat alasan kuat supaya pembaca memahami perubahan sifat tersebut.

Jangan sampai tokoh kalian Out of Character.

Tokoh dan Penokohan Sempurna

Setelah membaca materi di atas kita semua pasti berpikir. “Bjirr ... ternyata bikin tokoh bukan sekadar modal nama estetik dan deskripsi tamvan/cantik bak dewa yunani doang.”

Memang betul itu, Fernandez ... sebab tokoh adalah nyawa dalam cerita, kalian bisa memiliki badan dan nyawa, tapi tidak disertai kehidupan maka semuanya sia-sia saja. Begitu juga cerita yang memiliki tokoh dan penokohan dangkal, pada akhirnya keseluruhan cerita itu akan ikut hambar.

Kalau kalian mengikuti Review Impy kalian akan tahu tokoh dan penokohan yang selalu disebut tampan/cantik secara blak-blakkan justru sering aku beri nilai rendah. Sebab aku tidak peduli seberapa banyak penulis menyebut kata tampan dan cantik untuk tokoh-tokohnya, kalau sepanjang cerita tindak-tanduknya brekele, ya tokoh itu tetap saja brekele.

Sebagian besar pembaca, terutama kritikus, editor, atau tukang review tidak akan peduli seberapa tampan rupa tokoh. Mereka peduli pada latar belakang tokoh, kepribadian, motivasi dan tujuan, serta tingkah laku si tokoh dan apakah tingkah-laku tersebut cocok dengan penjabaran tokoh sepanjang cerita.

Jika semua sudah cocok, maka selamat kalian sudah berhasil membuat tokoh dan penokohan yang sempurna. Jadi ... affah iyah kalian masih mau ketergantungan sama deskripsi tamvan/cantik bak dewa yunani?

Sekian dulu intermezzo kali ini. Sampai jumpa di kesempatan selnjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman