Apa-apa Saja yang Menjadikan Novel Watpat Brekele (Review : Petjah)
Judul : Petjah
Penulis : Oda Sekar Ayu
Penerbit : Elex Media Computindo
Tahun Terbit : 2017
ISBN : 9786020295954
Tebal : 328 halaman
Blurb :
Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaannya pun dikabulkan semesta.
Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.

MENGANDUNG SPOILER!!!
A. TBR Impian Seorang Impy
Pernahkah kalian mempunyai novel TBR impian, Pembaca Budiman? Novel yang kalian pikir akan sangat bagus dan membekas di hati sehingga kalian menunda untuk membacanya sekian lama, sebab kalian ingin berada dalam kondisi yang benar-benar siap lahir dan batin saat membacanya. Well ... Bagi Impy, novel tersebut adalah Petjah karya Oda Sekar Ayu.
Entah kenapa judul "Petjah" dengan ejaan Indonesia lama terdengar esensial, cerdas, serta dalam. Ditambah sampul simple tapi artistik, juga jumlah halaman cukup tebal, aku berpikir novel ini akan memberi pengalaman baca luar biasa. Tidak peduli apa pun genrenya, novel ini akan membuatku mengenang kisahnya sepanjang masa.
Makanya aku menunda membeli novel ini sampai benar-benar siap membacanya, merasakan segala emosi yang ada di dalamnya. Aku tidak pernah melihat blurb, tidak pernah melihat review, tidak pernah mendengar desas-desus. Aku hanya menunggu saat yang tepat.
Siapa sangka, siapa duga ... ternyata aku seharusnya MEMANG MELAKUKAN SEMUA RISET ITU!
Aku … tidak mau bicara panjang lebar dalam segmen ini. Kalian sudah tahu bahwa sampul novelnya akan mendapatkan poin tinggi, tapi apakah hal itu berlaku untuk isi novelnya sendiri? Mari langsung saja kita tengok!
B. Plot
Seperti statement-ku di awal, aku seharusnya melakukan riset terhadap novel Petjah, karena ternyata INI NOVEL TERBITAN WATPAT! And the brekele one too!
Maksudku ... belakangan ini aku sering menemukan novel Watpat barokah, khususnya dari teman-teman seperjuangan. Mereka membuktikan bahwa stigma novel Watpat tidak selalu buruk. Novel Watpat bisa kompleks dan konkret di tangan penulis yang tepat.
Tapi novel ini! Oh, novel ini seolah mengingatkan kenapa aku bisa begitu julid pada novel Watpat sejak awal. Aku kembali merasakan hal yang telah lama hilang dari inti hati paling dalam. KEJULIDAN HAQIQI! Impy di tahun 2020 meronta-ronta berusaha mengeluarkan diri. Maka itulah yang akan kalian dapatkan hari ini!
Daripada menjelaskan plot novel dari awal hingga akhir, bagaimana kalau kita buat poin apa-apa saja unsur dalam novel ini yang membuatnya mendapatkan stereotipikal "Novel brekele Watpat", shall we?
1. Deskripsi Tidak Sesuai Kenyataan (Alias Plot Hole)
So … kita berkenalan dengan tokoh utama bernama Nadhira yang sejak awal memberitahu bahwa dirinya diterima di SMA favorit. Dia juga tergolong orang-orang "cerdas" yang masuk kelas akselerasi, alias kelas orang-orang genius yang bisa lulus dalam dua tahun saja. Begitu juga dengan tokoh lain dalam novel ini, semuanya masuk kelas akselerasi (kecuali Biru). Semua orang cerdas dan genius.
Ingat kata kunci "CERDAS" dan "SMA FAVORIT".
Lantas katakan kepadaku kenapa "orang-orang cerdas" ini mengeluh dan merana setengah mati saat guru mereka mengumumkan ulangan dadakan? Bahkan sampai minta open book segala. Di satu kesempatan, tokoh-tokoh cerdas ini bahkan saling mencontek menggunakan HP yang disembunyikan di kolong meja, dan narasi malah menyebut begini ... "Kepintaran mereka sering kali disalahgunakan."
SAY WHAT NOW??? MENCONTEK ADALAH KEPINTARAN???
Darling… mencontek bukan kepintaran, melainkan kelicikan, dan percayalah, siapa pun, I mean SIAPA PUN, bisa berbuat licik. Itu bukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang cerdas sahaja. Kalau seseorang berpikir mencontek adalah sesuatu yang pintar. WOOWW, just WOOWW.
Poin kedua ... SMA favorit, tapi masih melakukan perpeloncoan ekstrem, menganut feodalisme akut sehingga anak-anak kelas satu didefinisikan sebagai budak kakak kelas, sampai mereka naik ke kelas dua, lantas cycle itu terulang lagi selamanya. Itu adalah praktik paling kuno, paling jahiliyah, serta tidak beradab yang seharusnya SMA favorit tidak lagi mempraktikkan hal tersebut.
Belum lagi banyaknya perkelahian antarsiswa, tanpa satu pun guru turun tangan. Banyaknya poin-poin pelanggaran berat siswa yang luput dari pengawasan guru, seperti merokok di lingkungan sekolah, membolos, serta tawuran.
Sekolah favorit kalian bilang? Kalau aku, akan menyebut ini sebagai sekolah tempat jin buang anak. Yes, I said it!
Intinya, Show don't Tell, right? Namun, kalau penulis Telling sesuatu dalam deskripsi, lantas penulis Showing sesuatu yang berbeda sepanjang cerita … Maka itulah, Pembaca Budiman, ciri-ciri dari Novel Brekele Terbitan Watpat!
2. Meromantisasi Kriminal
Ah ...The good ol' "Diem atau guweh ciyum" semua Novel Brekele Watpat memiliki hal ini, begitu juga novel Petjah tentu saja. Nadhira berinteraksi sekali dengan kakak kelas bernama Biru, the next thing we know, seggsual herrasement. Biru mengucapkan kalimat seperti ... "Kamu harus menatap saya kalau ngomong, atau kamu saya ciyum."
DISGUSTANG!!!
Nah, novel normal akan membuat adegan tersebut menakutkan. Nadhira akan melaporkannya kepada kepala sekolah, lantas membenci Biru selamanya. BUT! Karena ini novel Watpat Brekele, tentu saja Nadhira justru berdebar-debar jatuh cinca.
The Bad Buoy we've all been waiting for this whole time! Sungguh kisah cinta paling PETJAH sepanjang sejarah! (see what I did there?).
Selain itu … meromantisasi tawuran dan perkelahian dengan menyebutnya "perang" dan "membela harga diri" di saat perkelahian itu terjadi lantaran anak kelas satu menuntut diperlakukan adil dan bukannya budak sahaya. Untuk selanjutnya, Nadhira sebagai narator secara harfiah mengatakan ....
"Seharusnya anak-anak kelas satu itu menurut saja, toh cuma setahun mereka menderita."
THIS SCHOOL FUCCED!!!
Romantisasi kriminalitas lainnya. Biru dikagumi karena seorang Bad Buoy yang selalu membuat masalah serta berkelahi sana-sini, literal menace to society. Sedangkan Dimas dikagumi BUKAN karena dia Bad Buoy atau seorang Super Hero yang selalu memenangkan acara tawuran, melainkan karena dia cerdas.
(Usap jidat jenong) What is this, Missy Oda? Begitu banyak hal aneh dalam kalimat tersebut.
Pertama ... kenapa novel ini selalu menyebut Tawuran sebagai Acara? Seolah dalam tawuran ada panitia, visi-misi, syarat dan ketentuan, serta FaQ! Be fakkin for real! Kedua ... apa maksudmu memenangkan tawuran menjadikan seseorang sebagai Super Hero? Apa maksudmu menjadi Bad Bouy adalah idaman semua orang? Di SMA favorit pula? Make it make sense!!!
Dan untuk semua itu ... sebuah novel akan dinobatkan sebagai Novel Watpat Brekele. NEXT!!!
3. Romansa Awikwok
Fakta bahwa anak-anak SMA begitu getol memikirkan percintaan, sudah sangat bruuh ... do your math homework, gitu kan. Namun, itu tidak terlalu masalah, apalagi kalau romansanya UwU ala puppy love. Yang menjadi masalahku adalah saat kisah itu sangat amburadul dan tidak masuk akal sehingga alasan-alasan yang diberikan bukannya menjawab pertanyaan, malah membuat lebih banyak pertanyaan.
Jadi gini ... blurb menjelaskan bahwa akan ada cinta segitiga antara Nadhira, Dimas, dan Biru. Nadhira mencintai Dimas karena dia sama pintarnya dengan Nadhira dan membenci Nadhira sehingga membuatnya penasaran. Weird, but Whatever! Tapi kemudian sosok bernama Biru muncul, dengan segala pesona serta pelecehan seggsual yang membuat Nadhira klepek-klepek.
Sepanjang cerita aku mempertanyakan apa yang membuat Dimas membenci Nadhira, sebab tidak ada alasan signifikan selain Nadhira pernah keceplosan mengatakan, "Yes, guweh mengalahkan nilai Dimas!" yang kemudian didengar dan diadukan oleh Kakak Dimas kepada adiknya. Cara Dimas membenci Nadhira pun bukan yang ekstrem, selain memasang tampang judes dan kulbet di depan Nadhira.
Untuk seterusnya pun, sikap Dimas berubah 180 derajat menjadi cinta pada Nadhira cuma karena dia melihat anak itu menangis SEKALI. (garuk pala) Di mana sih sisi romantis dari semua itu? Aku rasa penulis lebih nge-ship Nadhira dengan Biru, sebab kisah romansa di sini alih-alih cinta segitiga, malah kisah romansa antara Nadhira dengan Biru, yang kadang-kadang digangguin dikit ama Dimas.
Nadhira dan Biru bertukar puisi. Nadhira dan Biru bertukar rahasia. Nadhira dan Biru saling menyelamatkan. Nadhira dan Biru jelong-jelong. Intinya semua romansa di sini cuma tentang Nadhira dengan Biru, lantas untuk apa blurb meng-highlight Dimas? Tidak satu pun, aku ulangi, TIDAK SATU PUN ada adegan romansa serius antara Nadhira dengan Dimas.
Maksudku… kalau kau menjanjikan cinta segitiga, berikan kami cinta segitiga itu, Missy Oda! Dari awal, kau memang cuma mau menulis kisah UwU antara Nadhira (mungkin self-Insert dirimu sendiri) dengan Biru (mungkin orang yang kamu sukai di dunia nyata). Ceritamu tidak tersampaikan dengan baik dan ceritamu telah menjadi false advertisement!
Alasan kenapa Nadhira dan Biru bisa saling suka pun tidak begitu masuk akal, sampai aku sadar kalau dua cecurut ini saling menyukai karena masing-masing mengingatkan pada saudara yang telah meninggal. Nadhira mengingatkan Biru pada mendiang kakak perempuan yang sangat dia sayangi. Biru mengingatkan Nadhira pada mendiang kakak laki-laki yang sangat dia sayangi.
That is ... not healthy and kinda SUS! Aku harus merasa UwU dengan alasan tersebut? Karena aku malah merasa lebih ke arah seram. Yah, mungkin aku terlalu memikirkannya. Mungkin mengingatkan pada mendiang saudara yang meninggal memang cara dua insan bisa jatuh cinta. But it's still not healthy!
Dan untuk itulah, Pembaca Budiman, novel ini menjadi Novel Watpat Brekele.
4. Dialog Wadidaw
Yang akan aku bahas di segmen berikutnya
5. Gaya Bahasa yang Trying Too Hard
Yang juga akan aku bahas di segmen Gaya Bahasa
Kebiasaan lamaku dalam skip-skip-skip halaman terulang lagi akibat (atau mungkin berkat) novel ini. Sudah lama aku tidak melakukan itu, karena aku ingin lebih menghargai se-fruit novel beserta effort penulis. Namun, kalau penulisnya saja ampak bercanda mengerjakan novel ini, bagaimana mungkin aku bisa serius?
Lagi pula, aku yakin tidak melewatkan apa pun meski skip-skip-skip dari kalimat pertama ke kalimat terakhir. Semua terbaca, semua template, dan semua begitu dangkal. Cukup sekali aku bertemu Novel Watpat Brekele di tahun 2026, untuk seterusnya TIDAK AKAN LAGI!!!
C. Penokohan
Nadhira. Apa yang harus aku katakan pada Nadhira selain kontradiksi, terutama mengenai kecerdasannya. Ikut kelas akselerasi, tapi tidak pintar dalam pelajaran apa pun. Tidak pintar secara akademis, tidak street smart, tidak juga logical smart. Nadhira menolak sekolah di Rusia, bukan karena dia tidak ingin jauh dari keluarga dan teman-teman, bukan karena dia cinta tanah air, bukan karena dia ingin mengabdi pada negeri.
Nadhira menolak belajar di Rusia karena tidak ada jasa pesan-antar makanan di sana ... I'm sorry, what kind of smart are you? Smart for being dumb? Nadhira tidak punya personality yang menonjol sebagai tokoh utama, tidak likeable pastinya, tapi tidak juga terlalu mengesalkan, kecuali fakta bahwa tipe cowoknya adalah pelaku pelecehan.
Oh, satu detail awikwok pada Nadhira adalah … dia bisa mengganti ban mobil menggunakan dongkrak seorang diri. Sebagai anak SMA kelas satu. We all love strong gorl!!! Yasss queen!!!
Biru. Ok, but hear me out … Biru mungkin pelaku pelicihan, tukang berantem, tukang ikut acara tawuran, dan secara harfiah a menace to society. Tapi dia menggunakan kata ganti "saya" dan dia ikut acara penggalangan dana dan dia bisa bikin puisi. Bukankah dia cowok idaman? Bukankah dia seorang martir? Bukankah kita semua harus memaklumi segala kebrekeleannya? Ayolah, Guuyyysss ...
(seluruh paragraf di atas dibuat oleh Nadhira)
Dimas. Darling ... tidak ada yang peduli padamu meskipun namamu ada di blurb. Tidak penulis, tidak pembaca, tidak juga seluruh tokoh dalam novel. Personality-mu bisa jadi sangat asik, tapi kau bukan kesayangan penulis sehingga kau sering tenggelam antara Nadhira dan Biru. Sejujurnya aku kasihan padamu.
D. Dialog
Kembali lagi ke segmen apa-apa saja yang menjadikan se-fruit novel sebagai Novel Watpat Brekele. Dialog ping-pong, alias dialog yang tidak berisi apa pun selain tanya jawab. Novel ini dipenuhi dialog tersebut sepanjang cerita. Aku tidak masalah dengan dialog ping-pong asalkan interaksi antar tokoh UwU, menunjukkan kemistri atau kepribadian tokoh.
Namun oh nenamun, novel ini membuat banyak dialog cuma untuk ... entahlah, karena tidak bisa membangun narasi yang konkret? Tidak bisa menggambarkan sebuah kejadian dengan narasi sehingga harus bergantung pada dialog, sampai ke detail kecilnya. Kalau sudah begitu, apa yang terjadi? Tentu saja dialognya ngasal, tidak bermakna, tidak ada rasa.
Selain dialog ping-pong, novel ini juga sering memberikan dialog "cerdas" kepada para tokoh, alih-alih menunjukkan kecerdasan tersebut dalam narasi. Jadi gini ... ada banyak cara untuk menunjukkan kecerdasan tokoh. Bisa dilihat dari keputusan yang mereka ambil, cara mereka menanggapi sesuatu, opini mereka, tingkah laku sepanjang cerita, dan banyak lagi.
Menggunakan dialog "cerdas" bukan salah satu cara untuk menunjukkan tokoh cerdas, lantaran malah membuatnya trying too hard. It's giving ... anak sekolah yang baru mempelajari sesuatu paling dasar tapi yapping-nya ke mana-mana seolah sudah menjadi orang paling ekspert.
Contohnya, kadang ada dialog seperti ini ... Dam! Aku lupa spesifiknya, jadi aku akan bikin-bikin sendiri, karena esensinya secara harfiah sama.
"Saat bertemu kamu, sel di hatiku mulai bereaksi, seperti (bahan kimia 1) bertemu (bahan kimia 2)."
Kemudian tokoh lain akan mengatakan. "Bisa gak sih nggak jadi Einstein sehari aja!" atau "Jadi gini ya cara ngomong anak akselerasi. Beda banget dari orang biasa."
Gorl ... kelakuan anak-anak akselerasi yang aku tangkap sejauh ini adalalah mengeluh, meminta open book saat ulangan ringan, mencontek, berkelahi, perpeloncoan, tawuran, bucin. Kau pikir aku akan percaya kalau mereka istimewa? NAW!!!
E. Gaya Bahasa
Selain deskripsi tidak sesuai kenyataan, novel ini juga suka menggiring opini. Sebenarnya itu masuk akal karena kita memakai sudut pandang orang pertama dari beberapa tokoh. Narasi novel adalah narasi si tokoh. Namun, betapa mengesalkannya ketika aku sebagai pembaca merasakan satu hal, tapi narasi tokoh malah mengatakan sebaliknya.
Aku akan memakai lagi contoh kelakuan Bayu. Setelah melakukan pelicihan verbal kepada Nadhira, Bayu memang menghampiri Nadhira untuk meminta maaf. Bukan karena dia melakukan pelicihan verbal, tapi karena sudah "mengerjai" Nadhira dan menyesali kesalahpahaman ini. EXCUSE ME ... ngerjain? Kesalahpahaman?
Let me make this clear ... jadi ungkapan pelicihan Bayu kepada Nadhira itu cuma dinggap kelakuan jail dan kesalahpahaman dalam novel ini? Terus, Bayu juga ngomong begini ke Nadhira setelah meminta maaf. "Nah, gini dong. Tatap mata saya kalau ngomong, jadi nggak ada salah paham lagi."
This a-hole had the AUDACITY! Aku malah merasa a-hole ini lagi mengancam Nadhira. "Nah, turutin kemauan guweh, kalau gak mau guweh lecehin lagi."
HOW IS HE OUR LOVE INTEREST AGAIN???
Oh, aku tahu alasannya, karena meskipun berkelakuan buruk dan sampah masyarakat, Biru ini jago bikin puisi mendayu-dayu, dia ikut penggalangan dana, dia artistik, dan dia menggunakan kata ganti "saya" tentu saja. AAARGGGHH I HATE HIM!
Aku benci cara narasi novel ini membuat segalanya normal padahal tidak, memaksaku menyukai entitas yang tidak pantas disukai, memaksaku menganggap para tokoh cerdas di saat mereka kebalikan dari cerdas! Memaksaku merasakan romansa remaja yang tidak ada di situ sama sekali!
Baiklah, sebelum makin ke mana-mana, aku akan menghentikan segmen Gaya Bahasa di sini.
F. Penilaian
Sampul : 3
Plot : 1
Penokohan : 1
Dialog : 1
Gaya Bahasa : 1
Total : 1 Bintang
G. Penutup
Nah, kalian belajar satu dan dua hal dari Ciri-ciri Novel Brekele Watpat, Pembaca Budiman?
Sebenarnya… ini memang tipikal novel populer di Watpat pada zamannya (alias 2017) dan aku cukup terkejut penerbit Elex tidak menggembar-gemborkan jumlah pembaca Petjah di Watpat yang mungkin mencapai puluhan juta. Sejujurnya itulah yang membuatku tertipu!
Seandainya Elex melakukan yang sering dilakukan penerbit Fantasious, menggembar-gemborkan jumlah pembaca jutaan di Watpat, aku mungkin bisa lebih mudah menghindari novel ini. Well ... Apa boleh buat, nasi sudah menjadi nasi goreng; yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah memakannya.
Jujurlly, aku tidak pernah merasa sekecewa ini pada sebuah novel. Kalian tidak mengerti betapa besarnya ekspektasiku pada novel ini. Untuk selanjutnya aku akan mencoba untuk TIDAK lagi tertipu oleh judul-judul yang terasa "dalam".
Sayangnya, Neptunus punya rencana lain karena TBR-ku tahun ini dipenuhi dengan novel-novel berjudul panjang dan terasa "dalam". Mari kita lihat bagaimana ke depannya.
Sekian dulu review hari ini. Semangat terus berpuasa yang tinggal beberapa hari ini! Jangan menyerah dan jangan banyak mokel karena kalian kebelet berjulid.
Sampai jumpa di hari lain ^o^/
.png)




















Comments
Post a Comment