Mengharu Biru Bersama Bestie (Review Antologi Cerpen : Lelakonmu dan Alur Temu)


Judul : Lelakonmu dan Alur Temu

Penulis : Irwansyah DKK (Termasuk Impy)

Penerbit : Arkais Crerative

Tahun Terbit : 2025

QRCBN : 624550087398

Tebal : 111 Halaman

Blurb :

Sehimpun cerita-cerita yang akan menyapamu. Menjadi detak yang meluruhkan ragu, menjadi teman yang menghilangkan jemu. Semoga temaram kisah dalam buku ini tak membuatmu menjadi semu, tetapi menuai alur indah dan tenteram yang saling bertemu.
MENGANDUNG IHIKS-IHIKS!

A. Pembukaan

Pembaca Budiman ... Impy seringkali melabeli diri sebagai Penulis Fantasi Barokah. Namun, tahookah kalian kalau Impy sudah tidak menulis cerita konkret selama kurang lebih DUA TAHUN! Selama ini hasil tulisan yang aku hasilkan cuma Review dan/atau Review Julid. Boleh dibilang seorag Impy Island sedang terjebak  dalam masa kegelapan.

UNTIL! Sodari Kiprang, sesama penulis fantasi, menandaiku pada sebuah postingan di Intagrem tentang lomba cipta cerpen yang diselenggarakan oleh Galaderi Kata. Tema yang diusung cukup menarique, persyaratan pun mudah, serta yang paling penting GRATISS! Apakah ini panggilan dari Neptunus lewat Sodari Kiprang untuk membuatku menulis lagi?

Tapi eh tetapi, masalah lain pun muncul. Di usia Puh Sepuh begini, aku paling malas dikekang dalam berkarya. Semenarik apa pun tema yang disedikan, tidak satu pun yang menarik perhatianku! Benar, Pembaca Budiman ... satu-satunya hal yang membuatku tidak menulis adalah diriku sendiri! Hingga aku sampai di slide yang mengatakan kalau peserta lomba boleh memilih tema bebas ASALKAN memilih dua syarat di bawah ini :

1. Point of View bukan manusia

2. Sudut Pandang orang kedua

3. Memakai Alur Campuran alias Maju-Mundur (cantik)

4. Harus Sad Ending

Singkat cerita, karyaku terpilih sebagai cerpen yang dibukukan meskipun bukan pemenang. Untuk catatan, aku memilih syarat Sudut Pandang Orang Kedua dan Sad Ending. Jujurlly, kedua hal itu bukan keahlianku, tapi apa boleh baut, yakan. I'm trying my best! Jadi, sekarang cepat tepuk tangan untuk Impy!

Kalian bilek ....

(Baca pake nada UUD 1945) Maka disusunlah cerpen-cerpen terpilih itu ke dalam suatu Antologi Cerpen berjudul Lelakonmu dan Alur Temu, yang akan Impy review dengan penilaian yang berdasarkan kepada ... Point of View bukan manusia ... Sudut pandang orang kedua ... Alur campuran dan/atau Maju-Mundur (cantik) ... serta Sad Ending!

Yuk, kita langsung saja tengok cerpen-cerpen seperti apakah yang layak bersanding dengan cerpen bikinan Impy Island sang maestro dalam dunia kepenulisan itu sendiri ... (dislepet sempak)

Btw ... Sampul buku ini sangat generik, tidak ada keunikan atau representasi dari cerpen-cerpen di dalamnya. Tapi harus aku akui, judulnya bagus.

B. Plot

Seperti pada Review Kumcer Kocar-Kacer yang kubuat beberapa bulan lalu, pada review KumCer ini aku akan membuat sistem rating acak pada masing-masing cerpen. Menggunakan visualisasi perasaanku saat membaca cerpen tersebut dalam bentuk Gif  Stan Twitter atau Floptropica. Aku juga akan coba menebak dua syarat yang diambil si penulis dan menilai apakah cerpen tersebut sesuai dengan syarat yang diambil.

Marilah langsung saja kita mulai!

1. Kukirim Rindu Lewat Bayu karya Ninik Sirtufi Rahayu (3,5 Bintang)


Cerpen ini terasa sangat personal buatku dan mungkin semua orang yang punya peliharaan. Tentang kehilangan kucing untuk selamanya, tapi dilihat dari sudut pandang si kucing yang berusaha menunjukkan bahwa bukan cuma kita yang merindukan mereka. Kenangan indah yang kita berikan membuat mereka akan terus menemani kita sampai suatu saat bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.

Kisah yang sangat menyentuh hati, tapi aku merasa si penulis agak keliru membaca peraturan lomba. Peserta lomba cuma harus memilih dua syarat, tapi Sodari Ninik memasukkan empat-empatnya! Pov bukan manusia ada, alur campuran ada, sudut pandang orang kedua ada, dan sad ending secara teknis juga ada. Sebenarnya itu sangat mengagumkan, tapi ada baiknya kita memahami persyaratan pada se-fruit lomba supaya tidak salah kaprah.

2. Karena Nozomi karya Farida Utami (2 Bintang)

Si Nozomi teh kenape?

Dengan segala rispecc aku hendak bertanya ... kenapa cerpen ini bisa lolos?

Sebab aku merasa kisah ini belum rampung. Menceritakan seorang suami yang selingkuh. Kita dibawa ke sudut pandang suami, istri, serta anak-anak mereka. Aku pikir cerpen ini akan menjadi kisah keluarga tragis secara psikologis, tapi ternyata malah berbelok ke aksi balas dendam brutal kedua anak pada selingkuhan ayahnya.

Konklusi di akhir cerita adalah anak-anak ini bisa berbuat sebegitu brutal pada seseorang "Karena Nozomi" (nama selingkuhan ayahnya). Pertanyaanku cuma satu: apa dua syarat yang diambil penulis sehingga ceritanya bisa dipilih? Cerita ini tidak memiliki POV bukan manusia, tidak beralur campuran, tidak memakai sudut pandang orang kedua, dan tidak juga Sad Ending.

Kecuali kalau si penulis berpikir kematian Nozomi adalah ending yang menyedihkan. Masalahnya, kita belum mengenal siapa Nozomi, kita cuma tahu kalau Nozomi adalah seorang selingkuhan. Jadi, kenapa kita harus sedih atas kematian Nozomi? Atau mungkin penulis mengambil syarat Alur Campuran, karena secara teknis memang ada pergantian alur maju dan mundur di sini. Hanya saja ... kureng.

Begitu aneh rasanya, di satu cerpen kita mendapatkan semua syarat. Sedangkan cerpen ini malah tidak memiliki syarat sama sekali. Apakah ini yang dinamakan keseimbangan? Yin dan Yang? Alpha dan Omega?

3. Mengabdi Di Ujung Cahaya karya Irwansyah (4 Bintang) (PEMENANG)


DESERVED! Sudah lama aku tidak membaca cerpen lugas, penuh makna, serta sarat amanat seperti ini. Sudut pandang kita sebagai Irwansyah (karena memakai POV 2) sangat menggambarkan kehidupan guru yang benar-benar mengabdi pada profesi. Bukan karena paksaan kondisi, tapi karena cinta. Koneksi batin pada para siswa, ketidakberdayaan melawan sistem, serta rasa kehilangan dan penyesalan mendalam.

Belum lagi disampaikan dengan susunan kalimat mengharu biru sehingga pembaca seolah benar-benar mengalami semua kejadian memilukan itu. Cerpen ini jelas memakai syarat POV2 dan Sad Ending. Keduanya dieksekusi dengan sempurna. Bravo!!!

4. Ditelan Setan Cemburu karya Ratih Ramelan (3 Bintang)


Nauuurr!!! Aku sangat terpikat pada cerita ini, tapi kenapa ending-nya menggantung begitu?

Well ... cerpen ini menceritakan dengan jujur bagaimana rasa cemburu berefek pada hidup seseorang baik secara fisik maupun mental. Cara seseorang menghadapi rasa cemburu adalah penentu utama terhindar dari hal-hal brekele di kemudian hari. Sayang beribu sayang, tokoh utama kita dalam kisah ini tidak menghadapi rasa cemburunya dengan baik, makanya "itulah" yang dia dapat.

Nah, cerpen ini terlihat jelas mengambil syarat Alur Campuran, tapi untuk syarat satunya aku tidak begitu nangkep. Apakah Penulis berpikir ending kisah ini tergolong sad? Mungkin ... kalau menurutku ending kisah ini lebih ke menggantung.

5. Temaram karya Layyinatul Alfi Salsabila (2,5 Bintang)


Terkadang, kita tidak butuh cerita epik nan ambigu terlampau nyastra. Kita hanya butuh kisah tentang kucing terbang yang menyesal akibat bermain terlalu jauh. Dan itulah yang cerpen Temaram sajikan. Gaya bahasanya agak sedikit dibuat absurd supaya masuk ke tema fantasi yang diusung, tapi inti cerita dan amanat yang mau disampaikan sangat jelas.

Penulis mengambil syarat POV Bukan Manusia dan Sad Ending. Keduanya dieksekusi dengan baik.

6. Cinta dan Prasangka karya Alya Anjani (2,5 Bintang)


Cerpen ini jelas mengambil syarat Alur Campuran dari kisah flashback masa SMA para tokohnya, dan mungkin Sad Ending. Kenapa aku bilang "mungkin" karena ending cerpen ini malah lebih ke empowerment daripada sad. Biar kuceritakan secara singkat-padat-pahe (paket hemat).

Jadi, Cara (tokoh utama) menolak cinta dari Fariz yang sudah mengejarnya sejak zaman SMA, tapi akhirnya Cara menikah dengan Alan dan punya anak yang kemudian meninggal akibat lahir prematur. Tak lama kemudian Si Alan (jangan digabung) malah ikutan meninggoy. Fariz pun merasa dirinya punya kesempatan dengan Cara. Kendala lain datang ketika orag tua Fariz tidak setuju anak emasnya menikah dengan janda.

Fariz yang katanya mencintai Cara setengah metot, tidak membela sama sekali ketika Cara di-judge oleh kedua orang tua brekelenya itu. Makanya di akhir cerita Cara menolak Fariz dan memilih hidup sendiri.

Sekarang kalian katakan padaku apakah itu ending yang sad atau itu ending yang YAASSS GUURRLLL ... You deserve better than that, gitu, 'kan?

7. Pralaya karya Fajar Ivan (3 Bintang)


Kisah tentang sebilah Keris yang muaq pada manusia sebab selalu menggunakan dirinya sebagai alat kekerasan. Setelah sebelumnya dimiliki oleh orang-orang terpandang seperti pendekar dan raja, Si Keris akhirnya jatuh ke tangan pemuda biasa. Si Keris pikir akhirnya bertemu pemuda berakhlak baik. Nyatanya, manusia tetap manusia yang jiwanya mudah korup. Di akhir hayatnya, Si Keris legendaris pun memutuskan untuk menumpulkan diri.

Plotnya jelas dan lugas. Syarat yang diambil POV Bukan Manusia dan Ending Sad sesuai kriteria. Sepanjang cerita pun aku menikmati gaya bahasanya, meskipun rada bingung juga kenapa Si Keris kebakaran jenggot dijadikan senjata di saat ITULAH TUJUANMU SAAT DICIPTAKAN, DARLING!

8. Warna Kehidupan karya Farah Yumna R. S. (2 Bintang)


Dengar ... aku tidak punya masalah pada cerpen ini, aku juga tidak mengenal penulisnya, jadi mustahil bin mustahal rating 2 ini kuberikan secara sengaja. Masalah di sini adalah aku dengan Feminisme-ku. HEAR ME OUT!

Aku selalu sentimen pada kenyataan bahwa wanita selalu menjadi yang paling dirugikan dari "kenakalan" manusia. Itu memang kenyataan, tapi karena kenyataan itulah aku ingin karya fiksi mengambil sisi lain. Hey, ini karya fiksi, segala hal bisa terjadi, tapi kau tetap menjadikan wanita sebagai kambing hitam dari segala hal?

Karya ini tidak salah, karya ini cuma hadir padaku di waktu yang salah. Oh, dua syarat yang diambil penulis adalah POV Bukan Manusia dan Sad Ending. Keduanya digambarkan dengan baik, tho .... 

9. Detik yang Tertinggal karya Karida Salim (3 Bintang)


We got another POV Bukan Manusia. Kali ini dari sudut pandang sebuah jam bersama pemiliknya yang tidak lagi menginginkan waktu, kalian paham maksudku? Sang Pemilik pengin modar dan/atau sudah waktunya untuk modar. Paham, kelean? Cerpen ini mengisahkan detik-detik terakhir mereka, tentu saja syarat lain yang cerpen ini ambil adalah Sad Ending.

Gaya bahasa dan cara penyampaian ceritanya lugas, tapi juga memainkan perasaan. Siapa pun pasti tergidik mengetahui bahwa hidup seseorang akan berakhir, dan tidak siapa pun melihat atau mengetahuinya kecuali jam di rumah.

10. Sebelum Aku Layu karya Hanaa Aliifah Puteri (2,5 Bintang)


Oh heel naw! Coba katakan kenapa aku menulis komentar ini terhadap cerpen Sebelum Aku Layu?

"Cuma menceritakan tentang tumbuhan."

Ayolah Impy! Itu sangat julid dan tidak berperasaan! Setelah aku baca ulang, ceritanya bukan semata-mata tentang tumbuhan. POV-nya memang dari tumbuhan karena itu syarat yang diambil penulis. Tapi selebihnya kisah ini hendak mengingatkan selain penting bagi kehidupan, tumbuhan juga punya perasaan.

Jadi sebaiknya kita para manusia menjaga dan merawat tumbuhan, alih-alih hanya menjadikannya hiasan, atau lebih parah lagi dirusak demi kepentingan egois. Memang terdengar seperti dongeng anak-anak, tapi siapa yang tidak suka dongeng anak-anak, benar?

11. Dark Wood Circus karya Impy Island (1000 Bintang)


SEPULUH PER SEPULUH!!! RECOMENDED!!! LAYAK DIPILIH!!! HARUSNYA MALAH JADI PEMENANG!

PENULISNYA JUGA TALENTED, BRILIANT, INCREDIBLE, AMAZING, SHOW-STOPING, SPECTACULAR, NEVER THE SAME, TOTALLY UNIQUE, COMPLETELY NEVER BEEN DONE BEFORE!

12. Pasien 404 karya Mochammad Dicky Akbar (4 Bintang)


Ah, aku selalu suka konsep teknologi dan manusia. Membayangkan betapa terorganisir, betapa canggih nan sempurna kode biner, pada akhirnya akan mengalami malfungsi, terutama jika sudah dimasukkan unsur kemanusiaan di dalamnya. Penulis memakai POV2 sebagai salah satu syarat lomba, itu artinya kita sebagai pembaca merupakan tokoh utama.

Kita dijadikan kode biner supaya memori dalam kepala bisa abadi selamanya. Namun, alih-alih abadi, ingatan tersebut--baik indah maupun buruk--malah hilang sepenuhnya, karena tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan tidak teknologi canggih sekalipun. Aku rasa cerpen ini layak mendapatkan posisi pertama kalau cerpen Mengabdi di Ujung Cahaya (cerpen ke-3) tidak begitu relate

13. Di Balik Jendela yang Retak karya Hadi Asrori ( 2,5 Bintang)


Hey, cerpen ini tidak jauh berbeda dari cerpen ke-9 yang berjudul 'Detik yang Tertinggal'! Sudut pandang benda mati (jendela kali ini) yang menyaksikan kehidupan sang pemilik sampai akhirnya ditinggalkan oleh pemiliknya. Same 'ol story yang cuma berbeda objek, jadi aku tidak akan berkomentar banyak.

C. Kualitas Buku

Tiba-tiba aku ingin membuat segmen ini untuk membahas buku antologi hasil lomba yang biasanya punya stigma buruk. Mulai dari penipuan, kualitas buku brekele, layout di dalamnya ancur-ancuran, sampul tidak niat, editing hampir tidak dilakukan, dan sebagainya. Namun, untuk Lelakonmu dan Alur Temu kualitas bukunya lumayan oke.

Sampul tebal, gambar jernih, tata letak rapi, ketebalan kertas juga bagus. Setiap bab mempunyai ilustrasi tanaman, tapi jenisnya beragam jadi tidak terkesan asal tempel. Pihak editor juga melakukan pekerjaan dengan baik, tidak ada kesalahan tulis atau lainnya. Walaupun boleh jadi itu tugas para penulis sebelum submit cerpen lomba.

Aku cuma menyayangkan tata letak tulisan di dalamnya yang suka terpotong-potong tidak pada tempatnya. Misalnya ada kata "Me-nyelenggarakan" di tengah paragraf. Aku berpikir mungkin kata itu tadinya ada di ujung makanya ada tanda hubung untuk melanjutkan ke baris baru. Kemudian, untuk beberapa alasan ada kata yang dikurangi atau dilebihkan, maka kata itu jadi geser ke tengah.

Beberapa kali aku menemukan kesalahan seperti ini pada penerbit indie. Itu membuatku berpikir apakah se-fruit novel memang harus pakai tanda hubung? Toh di aplikasi pengedit layout buku ada pilihan supaya kalimat dan margin pas, tanpa harus dipotong dengan tanda hubung. Apakah seperti itu tidak boleh? Apakah semua buku memang harus punya layout begitu?

Seseorang tolong beritahu karena aku mau tahu, bukan tempe!

Penutup

Baiqlah, Pembaca Budiman, itulah tadi 13 cerpen yang tergabung dalam buku berjudul Lelakonmu dan Alur Temu hasil dari lomba cerpen di Instagrem. Siapa sangka dari empat syarat kita bisa mendapatkan berbagai macam cerita. Aku cuma berharap tidak terlalu banyak penulis yang mengambil syarat Sad Ending sebab di tahun 2026 ini bersedih adalah hal terakhir yang aku inginkan!

Buku ini sebenarnya sudah aku terima sejak akhir tahun lalu, sudah aku baca juga, cuma untuk satu dan lain hal aku tidak lanjut menulis review sampai hari ini! Yang sudah ya sudah ... nikmati saja apa yang ada yakan!

Di penghujung bulan ini aku ingin mengucapan Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. Tidak terasa Bulan Suci dan Hari Raya sudah lewat lagi, rasanya baru berkedip beberapa kali! target bacaku sejauh ini lancar, walaupun tetap sering tersendat lantaran kesibukan di Bulan Suci dan Hari Raya. Namun, aku cukup puas dengan pencapaian sejauh ini.

Dengan ini aku rasanya harus mengakhiri progres baca bulan Maret. Silakan kalian tunggu rekap bulanan yang akan aku publish segera.

Sekian dulu review kali ini, sampai jumpa di bulan April ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Impy Hendak Pensiun dari Serial Bumi!? (Review : Hana Tara Hata)

Novel "Pamungkas" Serial Bumi? Affah Iyah? (Review : Aldebaran Bagian 1)

Gajah Mada? More Like Gajah Duduk! (Review : MADA)

Buku yang Sempurna ... Kata Orang-orang (Review : Laut Bercerita)

1001 Tips Ngeselin Ala Pacc TL (Review : Ily)

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)