Noir : Hidden Deadly Sins


Judul : Noir

Penulis : Renita Nozaria

Penerbit : Loveable

ISBN : 9786025406188

Tebal : 400 Halaman

Blurb :

Oriana Suri Laksita, seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib. Sayangnya, sampai usia delapan belas tahun, ia belum juga memiliki kekasih. Mungkin karena sifat protektif ketiga kakaknya yang menyerupai titisan singa. Jadi, mana ada lelaki yang mau mendekatinya?

Dengan kemampuan melihat makhluk gaib inilah, ia selalu dipertemukan oleh para hantu yang memintanya untuk menyelesaikan urusannya di dunia agar bisa segera ke ‘atas’. Hingga akhirnya, Suri dipertemukan oleh lelaki tampan yang mampu memikat hatinya, Sebastian. Sayangnya, Sebastian takut hantu. Tetapi di balik itu semua, hal itulah yang menyebabkan Sang Pencipta murka dan para makhluk immortal membicarakannya.

Sifat kasih tanpa batas, membuat salah satu iblis menemuinya dan memberikan peringatan agar Suri tidak membantu para arwah. Jika Suri melanggar, kematian akan menghantuinya.

Apakah Suri menjalani nasihatnya atau justru sebaliknya?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Teenlit berbalut Fantasi dan Horor

Sesuatu yang lucu terjadi saat aku tengah melihat-lihat koleksi novel. Aku tidak ingat pernah membeli novel ini maupun berniat membeli novel ini karena beberapa alasan. Satu, ini terbitan Watpat, dan kalian tahu bagaimana pendapatku tentang buku-buku terbitan Watpat. Dua, tema yang diusung tidak sesuai seleraku. Tiga, buku ini sempat terlalu Overrated. Akan tetapi, di sinilah kita sekarang. Takdir mempertemukanku dengan novel Fantasi Watpat. Mungkin novel ini aku dapat dari GA, atau malah reward, atau malah memang pernah aku beli tanpa sadar. Sebenanrya itu mustahil kalau melihat keuanganku akhir-akhir ini. Aku pasti membuat rencana matang sebelum membeli buku.

Namun, aku putuskan untuk tetap membacanya juga karena beberapa alasan. Satu cover yang menarik. Dua, aku kehabisan bahan bacaan. Tiga, genrenya menjurus ke fantasi. Maka aku menyiapkan mental serta cemilan, lalu membaca buku setebal 400 halaman yang selesai selama nyaris tiga hari ini. Biasanya aku membaca terbitan Watpat hanya sebagai bahan ejekan, tapi sekarang akan kucoba membaca dengan serius. Entah kenapa ekspektasiku rada naik terhadap novel ini, mungkin efek covernya yang menaique. Barang kali novel ini menjadi saksi bisu perubahan pandanganku terhadap buku-buku terbitan Watpat, meskipun aku sangat ragu.

P.S : Karena aku banyak membahas sampul dalam reviewku. Rasanya aku akan menambahkan sampul ke dalam penilaian mulai dari sekarang h3h3 ....

B. Plot

Sebenarnya aku sudah menemukan beberapa kekhawatiran bahkan sejak pertama kali membaca blurb novel ini. Apa konflik utama yang ingin dibahas? Sang tokoh utama (Suri) yang indigo dan menolong para arwah, atau Sang tokoh utama (Suri) yang kebelet punya pacar. Karena keduanya tidak terlalu berkesinambungan. Kekhawatiran pada blurb semakin parah saat aku membuka halaman pertama.

ADEGAN TERLAMBAT SEKOLAH!!!!!

Oke, oke, kita jelas tidak bisa menilai buku dari awalan klisenya. Ya sudah, apa lagi yang novel ini tawarkan kepada kita di sepuluh halaman pertama? Oh ... ternyata Suri punya tiga kakak laki-laki YANG SEMUANYA GUANTENG. (endus-endus) Aku mencium aroma fan service di sini. Tiba-tiba terbayang versi Watpatnya, si penulis menggunakan foto orang-orang Negeri Ginseng sebagai visual. Tapi serius. Suri di sini (alias si penulis) terlalu mengelu-elukan ketampanan tiga kakak itu sampai membuatku sedikit merasa seram.

Ketiga kakak Suri digambarkan (selain tamvan) juga overprotektif kepada Suri, sampai-sampai tidak mengizinkannya punya pacar, padahal dia sudah berusia 18 tahun. Ketiganya bilang sih Suri masih terlalu kecil buat punya pacar. Aaaawww ... what a lovely brothers taking care of their little tiny cute pretty baby sister. Padahal menurutku mereka semua kayak anak kecil, jadi aku rada tidak terima juga. Kita bahas lebih lanjut pasal ini nanti.

Akibat terlambat bangun, Suri akhirnya bolos sekolah. Membuatnya tidak ikut ulangan, dan tidak bisa ikut susulan kalau belum memberikan surat keterangan tidak masuk. Nah, kita sebagai orang waras mungkin berpikir salah satu kakak Suri akan datang ke sekolah dengan formal dan membicarakan perihal alasan Suri tidak masuk secara profesional, layaknya wali pada umumnya. HO-HO-HO tapi ini dunia Watpat, Zeyenk. “Waras” tidak masuk ke dalam kamus mereka.

Lantas bagaimana kakak-kakak tampan nan rupawan Suri menangani masalah ini?

Mereka datang bertiga ke sekolah, dandan super rapi, dan bawa masing-masing sebuket bunga buat “merayu” si guru supaya Suri bisa ikut susulan. (Tarik napas) YANG GURU ITU INGINKAN CUMA SURAT KETERANGAN TIDAK HADIR. Apa lagi si guru ini merupakan guru senior yang sebentar lagi pensiun (makan kapur barus). Aku tahu ini fiksi, tapi ... haruskah begini? Maksudku ... kakak tertua Suri mungkin sekitar umur 22 atau 23 tahun. Memang enggak ada yang punya malu? Atau mereka semua memang punya keterbelakangan mental?

Bodohnya aku berpikir penulis akan membuat twist dengan si guru yang ternyata kebal dengan ketampanan kakak-kakak Suri, sebagaimana guru adalah sosok bijaksana serta sarat ilmu. Ternyata kagak! Si guru benar-benar terpesona sampai menjadikan mereka “Tamu istimewa”. Bahkan bikin komen seram seperti, “Seandainya ibu masih muda. Semuanya ibu tinggalkan demi mengejar cowok seperti kalian!” (merindink).

Yah, memangnya apalagi yang bisa kita harapkan dari penulis Watpat selain mendewakan cowok tampan?

“Impy ... katanya novel ini ada fantasi dan horornya. Kok dari tadi cuma masalah Suri kebelet punya pacar dan abang-abang Suri yang tamvan-rupawan doang?”

Wadaw, aku sendiri lupa kalau novel ini memberi embel-embel hantu dan fantasi saking banyaknya dialog serta adegan filler yang membuatku meringis dan skip-skip sepanjang baca. Percayalah, aku skip lebih dari lima puluh halaman dan tidak kelewatan adegan penting apa pun.

Ekhem ... jadi arwah pertama yang ditolong Suri bernama Kesha. Dia meninggal akibat kecelakaan, dan meminta bantuan Suri menyelesaikan masalah di dunia dengan bicara pada seorang cowok bernama Sergio. Suri pun bersedia membantunya.

Kalian pasti berpikir, “Wah betapa murah hati dan penuh kasih Suri sampai mau membantu hantu malang ini kembali ke alamnya tanpa pamrih.”

Kenyataannya Suri mau membantu hantu itu memang DENGAN PAMRIH, karena dia mau menjadikan Sergio sebagai pacar.

BAYANGKAN!!! Kalian baru meninggal, dan kalian masih sayang sama seseorang yang masih hidup. Literally perasaan itulah yang membuat kalian gentayangan sehingga meminta bantuan kepada anak indigo. Terus ini manusia Indigo brekele yang kalian mintai bantuan, malah mau memanfaatkan situasi dari penderitaan kalian. Kalo jadi Kesha mah daku hantui si Suri sampe kena mental. Belom lagi para Iblis di novel ini selalu bilang Suri adalah orang yang terlalu dipenuhi kasih tanpa batas, karena rela menolong para hantu. CUIH!!!

Lanjut ... Suri pun menemui Sergio dengan niat membantu Kesha yang langsung gagal karena mereka malah dikejar murid sekolah preman. Ternyata sekolah Suri dan sekolah Sergio itu musuhan. (Pijet pelipis) Adegan Deus ex Machina brekele begini yang paling kuhindari dari cerita Watpat. Literally ANYTHING can happend.

Berikut ini adalah adegan singkat yang impy buat untuk kalian karena adegan aslinya berisi filler dan dialog gak jelas dari semua tokohnya ....

Suri-Sergio dikejar anak sekolah preman >>> Suri-Sergio di selametin Trio Abang >>> Sergio di bawa ke rumah Suri untuk diintrogasi >>> Sergio panggil kakaknya >>> ternyata kakaknya Sergio (Sabastian) lebih ganteng dari Sergio jadi Suri pindah suka ke dia >>> Rumah Suri digrebek polisi karena disangka transaksi narkoba >>> Hantu Kesha nyemil garem akibat masalahnya kagak kelar-kelar.

Terus ....

SAUS TAR-TAR! AKU BINGUNG HARUS JELASIN BAGIAN MANANYA DARI NOVEL INI YANG TIDAK BERISI FILLER DAN ADEGAN GAJELAS!!!

Karena ketertarikan awalku pada novel ini adalah bagian hantu dan fantasinya, mari kita bahas bagian itu saja. Kita akan mengabaikan segala adegan UwU-UwU antara Trio Abang dengan masing-masing pacarnya, atau Suri yang kebelet punya pacar, atau pergi ke Dufan, atau PDKT, atau benci jadi cinta. Kita tidak akan membahas itu semua, meskipun secara teknis itu berarti mengabaikan sebagian besar isi buku!

Baiklah (elus dada) ... hantu yang ditolong Suri selanjutnya adalah anak kecil yang ternyata saudaranya si Sergio dan Sabastian juga. Dia meninggal pas masih kecil. Lihat, 'kan ... tiba-tiba aja tuh Sergio dan Sabastian diceritakan punya adek. Tapi tenang, anak itu enggak bakal disebut-sebut lagi selama sisa cerita, latar belakangnya juga enggak akan digali. Namanya juga cuma demi menunjang plot supaya Suri deket sama keluarga Sergio-Sabastian h3h3 ... (kill me)

Sabastian ini saking takutnya sama hantu sampe arwah adeknya sendiri diusir dari rumah (astagfirullah Sabastian!) Dan suri pun berhasil melakukannya dengan membicarakan keluhan si hantu kepada Ibu Sabastian-Sergio ... atau tantenya ... aku lupa ... gak penting juga.

Tiba-tiba, sudut pandang pun berubah kepada para iblis yang tidak suka melihat Suri menolong arwah seenak udelnya. Iblis-iblis dengan nama keren yang melambangkan tujuh dosa besar manusia pun memiliki peran di sini. Sayangnya, Iblis di novel ini tidak memberikan vibe iblis sama sekali. Mereka ngobrol seperti orang biasa, punya perasaan seperti orang biasa, dan ngocol seperti orang biasa. Serius ... jika kalian mengharapkan Iblis dengan wibawa dan keangkuhan. Buang harapan tersebut ke tong sampah terdekat. Iblis di novel ini hanya akan memberi kalian migrain berkepanjangan.

Nah, iblis itu pun memperingatkan Suri. “Eh, jangan bantuin arwah tersesat, dong. Kita capek-capek bikin mereka tersesat, Elu malah tolongin. Gimane, si!” Begitu katanya.

Suri pun manggut-manggut aje. Eh, tapi sedetik kemudian langsung nolongin hantu lagi (bruuh). BAYANGKAN! Kalian melarang orang makan kulit ayam yang sudah kalian pisahin buat dimakan belakangan. Eh, orang itu malah langsung makan kulit ayam tadi persis setelah kalian selesai melontarkan larangan. Ya, aku juga kalau jadi iblis bakalan benci parah sama si Suri. I feel you, Bro ....

Omong-omong, Arwah selanjutnya yang dibantu Suri bernama Nenek ... ya, memang cuma Nenek. Namanya juga buat menunjang plot doang, jadi gak punya nama juga gak masalah.

Si nenek mendengar para iblis membicarakan tentang cucunya (Khansa) yang akan dicabut nyawa dalam empat hari. Tugas Suri adalah menjaganya tetap hidup. Suri pun minta tolong kepada kakak keduanya (Calvin) untuk menjaga Khansa, karena Suri lagi mau fokus memincut hati Sabastian. Dan bisa kalian tebak, buanyak sekali adegan Uwu-Uwu antara Khansa dan Calvin, sampai aku lupa tujuan awal mereka tadi teh apaan? Oh iya, supaya Khansa enggak meninggal.

Sementara para Iblis ketar-ketir dengan kebebalan Suri. Eh, ini anak indigo brekele masih tetap saja membantu hantu terakhir. Kali ini namanya Eza. Suri mau membantunya, karena arwah itu ganteng. Bercanda, deng! Tapi memang Suri bilang arwah itu ganteng, kok. Semua makhluk di dunia novel ini memang ganteng, okhay!!!

Untuk yang terakhir ini para Iblis pun memutuskan untuk menyidang Suri lantaran dianggap sudah keterlaluan. Para Iblis sepakat membuat Suri koma supaya bisa masuk ke perbatasan manusia dan arwah, terus Suri disidang oleh para iblis yang namanya keren-keren itu (gak mau kusebut ah. Males!)

Kalian mungkin berpikir “Wah, disidang sama para iblis??? Ya ampun, adegannya seru dan bikin deg-degan dong! Akhirnya ada juga adegan seru dari teenlit berselimut fantasi ini, ya ....”

NO ....

Adegan sidangnya brekele akibat dialog semua tokohnya tidak ada yang serius. Alih-alih nuansa sidang yang menegangkan bersama para IBLIS, mereka malah seperti lagi ngopi-ngopi di warkop sambil kongkow menggosipkan pernikahan artis yang menghabiskan dana 5 milyar.

Oh how I hate this book.

Karena dinyatakan bersalah, tapi di sisi lain juga masih bisa dimaafkan karena dia “penuh kasih”. Suri diberi pilihan untuk hukumannya. Mau dia yang meninggal cepat atau orang-orang terdekatnya yang meninggal cepat. Suri pilih mengorbankan dirinya, dong. Kan dia berhati besar dan penuh kasih. Akhirnya suri bangun dari koma, dan hidup bahagia selama-lamanya.

Betul ... itu sidang sama para Iblis cuma jadi omong-kosong doang.

C. Penokohan

Ya gusti ... akhirnya sampai juga ke sesi ini. Perlu diingat, tidak ada tokoh yang aku sukai dalam novel ini. TIDAK ADA. Tidak peduli seberapa keras perjuangan penulis menggambarkan betapa tamvan nan rupawan semua cowok di sini. Bagiku pribadi, bukan fisik tokoh yang membuat penokohan sempurna, tapi konsisten serta sifat dan sikap yang manusiawi. Dua faktor itu tidak ada di novel ini.

Mari saja kita mulai dari ....

Suri. Dia begitu menyebalkan, mengingatkanku pada novel kupu-kupu (and I hate her because of it). Dia penyebab seluruh adegan yang seharusnya tegang dan serius menjadi hambar dan cringe. Jangan salah ... aku suka karakter yang ceria dan lucu. Aku bahkan suka Suri di awal-awal cerita. Tapi bedakan orang ceria dan lucu dengan orang yang otaknya sedikit rusak. Maksudku ... ada saja celetukkan aneh keluar dari mulut Suri pada saat yang tidak tepat. Awalnya itu menarik, terlihat seperti ciri khas, tapi saking seringnya dipakai dalam segala situasi, itu jadi aneh.

Dia egois. Motifnya membantu arwah pun selalu hanya menguntungkan diri sendiri. Supaya dapat pacar, supaya kakaknya punya pacar, supaya deket sama orang yang mau dia jadiin pacar. Segala hal yang dia lakukan adalah demi punya pacar. Dia bahkan membiarkan sahabatnya dipacari salah satu kakaknya yang playboy dan fakboy demi diizinkan punya pacar. Sebenarnya penokohan seperti itu bisa jadi unik kalau penulis memang ingin pembaca tidak menyukai Suri, dan mungkin karakter Suri yang brekele itu bisa berkembang menjadi lebih baik.

Tapi penulis di sini malah mau kita mencintai Suri karena “kemurahan hatinya membantu para hantu”, sementara penulis menggambarkan tokohnya dengan keliru. Makanya aku mau muntah setiap kali ada kalimat-kalimat yang mengatakan kalau suri itu penuh kasih dan berhati besar. Ceria dan tulus. SHE’S NOT! Dia melakukan segala hal demi mendapatkan pacar, bukan karena tulus ingin menolong. Jadi aku mohon, Stop that bullpoop!

Chandra. Dia kakak pertama Suri. Digambarkan Playboy dan Fakboy karena mengajak wanita bobo bareng di awal cerita. Dia juga seorang DJ dan terkenal di kalangan muda-mudi. Seperti yang kubilang, usia Chandra mungkin 22 atau 23 tahun, tapi mentalnya mungkin setara usia 5 tahun. Dari dialog serta caranya mengatasi masalah, bukan panutan yang bagus. Penokohan Chandra juga berubah drastis saat dia suka sama sahabat Suri yang bernama Siena.

Chandra yang seharusnya outgoing, mengingat dia playboy dan seorang DJ. Eh, tiba-tiba berubah jadi malu-malu kucing tanpa alasan jelas. Dia bahkan memohon-mohon kepada Suri untuk dibantu mendapatkan ID line Siena. Padahal secara logika dia SANGAT BISA mendapatkannya sendiri. Heloow, dia TERKENAL, ingat?

Tapi justu sebaliknya, dia bahkan sampai mengizinkan Suri pacaran demi bisa mendapatkan ID line Siena, padahal bertahun-tahun dia overprotektif pada Suri. Maksudku ... plot hole macam apa ini? Setahuku kalau cowok mendapat predikat playboy. Dia secara harfiah bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan cewek, tanpa bantuan siapa pun! Kalian tahu arti kata Playboy, ‘kan?

Calvin. Intinya sih penulis pengin kita tahu kalau dia pintar. Dia selalu digambarkan belajar sampai pagi dan selalu membaca buku. Lucunya, orang-orang yang berhubungan sama Calvin pun harus disebut kalau mereka orang-orang pintar. Seperti penggemarnya yang digambarkan seperti ini : ‘Para penggemar Calvin yang semuanya dari kalangan siswi-siswi pintar’.

Honey ... hanya karena dia cowok pintar bukan berarti penggemarnya harus pintar semua, lah ... C’mon, siswi-siswi bodoh juga mau kali jadi penggemar dia! Lagi pula aku yakin 99% siswi-siswi pintar tidak akan bertingkah lebay hanya karena melihat cowok tamvan. MEREKA DISEBUT PINTAR KARENA SEBUAH ALASAN. Eh, tapi aku diingatkan kalau ini dunia Watpat. Tentu saja SEMUA ORANG (dan bukan orang) mendewakan cowok-cowok tamvan.

Cetta. Dia punya banyak nama, kadang dipanggil Tri, kadang Dimi, kadang Cetta, kadang Entong (enggak deng). Karakternya di sini dingin dan cuek. Lihat betapa lengkapnya fan cervis yang penulis berikan di novel ini, tipe cowok idaman diembat semua. Tinggal pilih, Cin! Cetta juga yang paling telaten mengurus Suri, dari mulai bangunin tidur sampai nyuapin makan. (I mean ... you’re freaking 18, Suri! Grow the heel up!) Yah ... udah sih, enggak ada personality lagi selain itu. Oh, mungkin satu lagi. Cetta di simp sama hantu. Betul ... saking gantengnya dia (lompat ke rawa-rawa).

Sabastian. Love interest brekele kita yang satu ini juga mengingatkanku pada novel kupu-kupu. Tipikal dingin dan agak-agak kejam gitu. Merasa terganggu dikejar-kejar cewek annoying, tapi lama-lama luluh juga (putar bola mata). Yang kita tahu dari kepribadian Sabastian ini hanyalah dia takut hantu, tapi akhirnya berusaha enggak takut demi Suri. Aaaaaawwww. Namun, adegan-adegan Uwu keduanya banyak aku lewati habis terlalu bertele-tele sih, h3h3 ....

Intinya, Sabastian juga yang paling berpengaruh menemani Suri saat dia koma. Aaaawwww. Dan membisikkan kalimat-kalimat sweet pas dia lagi koma. Aaaaawwwww. Dia juga menyelamatkan suri yang hampir celaka berkali-kali. Aaaaawwww (ditampol). Yah ... pokoknya Uwu deh. kalau kalian suka sih, kalian pasti seneng banget. Hasrat halu kalian akan terpenuhi dengan Sabastian yang ganteng tapi dingin tapi sweet tapi perhatian tapi rada galak tapi penakut. (pengsan)

Sergio. Orang yang tadinya mau dijadiin pacar sama Suri, tapi enggak jadi karena ternyata kakaknya lebih ganteng. Akhirnya dia pun menjadi anak bawang di novel ini (bruuh). Setidaknya novel ini terang-terangan menilai orang dari fisiknya. Tidak pakai embel-embel “cinta tidak perlu penjelasan” Cuih! Bahkan saking anak bawangnya si Sergio ini, ada satu bab khusus dia di menit-menit akhir. Mungkin si penulis mau bikin permintaan maaf secara tidak langsung h3h3 ....

Siena. Sahabat Suri yang berhasil mengubah personality Chandra 180 drajat dari playboy ke malu-malu kucing. Kalau dipikir-pikir keren juga anak satu ini. Perannya di sini juga cuma buat UwU-UwU sama Chandra. Useless.

Khansa. Pacar Calvin. Tokoh ini ada supaya menambah porsi adegan UwU, serta fan service bagi penganut shipper.

Para hantu gentayangan yang ditolong suri dengan pamrih.

Para hantu ceriwis yang dibuat penulis cuma supaya novel ini punya embel-embel hantu.

Para iblis yang dibikin kesel sama Suri, juga supaya novel ini ada embel-embel fantasi.

Orang-orang Tua, sebagai pemanis dan tim hore.

D. Dialog

Sebenarnya aku tidak yakin bagaimana perasaanku pada dialog-dialog novel ini. Aku benci dialog yang terlalu kaku dan sedikit seperti Serial Bumi, tapi aku juga benci dialog bertele-tele dan terlampau banyak di novel ini. Satu adegan yang seharusnya berjalan cepat, pasti mendapat serangan dialog bertubi-tubi sampai menghabiskan satu bab. Entah berapa puluh halaman aku skip, dan tetap tahu jalan ceritanya tanpa kelewatan adegan penting.

Yah, aku memang lebih tertarik ke konflik dengan para hantu dan iblis-nya, jadi setiap ada adegan UwU pasti aku skip atau baca skiming. Belum lagi kalau Trio Abang sudah berkumpul. Ampun, deh! Mereka seperti emak-emak rempong yang berkerumun di gerobak abang sayur. Masalahnya aku tumbuh besar dengan banyak sepupu laki-laki, dan seumur-umur mereka tidak pernah seceriwis itu saat berkumpul. Mereka memang asyik mengobrol, tapi ada saja cara bicara atau topik yang membedakan dengan gerombolan perempuan.

Di novel ini tidak ada ... mereka berdialog-berdialog-berdialog-berdialog tidak tentu arah dan bawelnya malah melebihi perempuan. Belum lagi masalah dialog yang tidak melambangkan mental usia para tokohnya. Contoh, saat Sabastian merengek kayak bocah kecil ke mamanya, cuma karena disuruh mengantar Suri pulang. Inget umur dong, Om! Dikau bukan ABG lagi. Mengantar tamu pulang seharusnya menjadi salah satu tindakan sopan-santun khas Indonesia (meskipun memang merepotkan) Ini si penulis sebenernya pernah bergaul sama cowok-cowok atau orang dewasa enggak, sih?

Novel ini berjumlah 400 halaman, tapi rasanya bisa dibagi menjadi dua buku. Kalau penulis mau fokus ke fantasi dan hantu, novel ini bisa dipadatkan menjadi 100 halaman. Jika penulis mau fokus ke teenlit dan romance, dia bisa menghapus segala urusan perhantuan dan memadatkan buku menjadi 300 halaman. Jadi jangan salahkan aku kalau menganggap novel ini teenlit berselimut fantasi, karena itu memang kenyataan.

Konflik utama novel ini pun sebenarnya cuma ‘Suri kepengin punya pacar’. Novel ini akan baik-baik saja, bahkan menjadi genre teenlit terpadu jika Suri tidak indigo, dan tidak perlu ada iblis-iblisan atau hantu-hantuan.

Tapi kalau dibandingkan dialog pada Serial Bumi yang aduhai. Aku mungkin lebih memilih dialog dalam novel ini. Setidaknya, para tokoh menunjukkan kemistri tanpa harus ada julukan “sahabat sejati” yang malah selalu disebut oleh tokoh lain. Tere Liye take note ....

E. Gaya Bahasa

Di samping konflik, nyawa, serta penokohan dalam novel yang brekele. Gaya bahasa novel ini enjoyable. Tidak terlalu puitis, tidak juga terlalu sok gaul. Meskipun aku rada-rada terganggu sama cara penulis yang menggambarkan betapa tampan nan rupawannya ketiga abang Suri, serta cowok-cowok lain dalam novel ini, termasuk bapak-bapaknya. Maksudku ... oke mereka tampan. Aku paham, aku ngerti, tapi tidak usah selalu disebut setiap kali ada kesempatan. Itu malah jadi cringe. Stop it ... get some help.

Selain itu, aku juga menemukan kata yang maknanya berbanding terbalik dari makna asli dalam KBBI. Seperti 'acuh', ‘bergeming’, ‘jengah’, dan itu terjadi secara terus-menerus. Ketiga kata di atas memang masih sering disalahartikan. Maka dari itu, sebaiknya kita mulai menggunakan diksi yang tepat demi mencegah kebingungan di kemudian hari. Apa lagi penerbit ini termasuk mayor. Ayolah ... berikan contoh baik. (Aku kedengaran seperti KBBInatzi)

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 1,5

Penokohan : 1

Dialog : 2

Gaya Bahasa : 3

Total : 2 Bintang


G. Penutup

Padahal harapanku cukup tinggi sebelum membaca novel ini. Aku sangat berharap ini menjadi novel terbitan Watpat pertama yang aku sukai. Kenapa malah zonk, dan selalu zonk saat aku mencoba baca fantasi lokal ToT

Sebenarnya tidak mengejutkan kalau aku kecewa dengan novel ini, karena ini keluaran Watpat. Bahkan, itu semakin membuktikan opiniku tentang novel keluaran Watpat itu benar. Oh, bukan berarti aku merendahkan orang-orang yang suka novel keluaran Watpat, tapi ... aku harap kalian segera tobat h3h3. Terlalu banyak hal berlebihan yang tidak karuan dalam novel keluaran Watpat. Dari mulai sifat setiap tokoh, keputusan yang diambil para tokoh, amanat tersirat yang diberikan, bahkan sekadar dialog-dialognya yang asdfghjkl.

Coba baca novel selain terbitan Watpat. Dijamin kalian akan tercerahkan, dan keluar dari masa-masa suram ini.

Sejujurnya aku pernah membaca novel Watpat dengan tema fantasi dan hantu persis seperti novel ini. Judulnya Indigenous karya E-Jazzy, dan aku jatuh cinta pada novel tersebut. Satu-satunya karya Watpat yang kubaca sampai tamat, dan pasti kuberi rating tinggi jika diterbitkan menjadi buku. Akan tetapi, penulis bilang dia belum siap dengan hal-hal seperti itu. Oh, betapa rendah hatinya.

Dan kita malah mendapatkan yang seperti ini di toko-toko buku ....

Akhir-akhir ini aku selalu dapat Zonk saat membaca novel. Apa jangan-jangan ini kutukan! Ah, tapi katanya orang lebih suka review yang julid. Ekhem ... aku pun lebih semangat membuatnya, kalau mau jujur h3h3.

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Komen-komenku Saat Membaca

(Suri) “Kalau gitu, harusnya kalian jangan egois.”
(Cetta) “Maksud kamu?”
(Suri) “Biarin aku punya pacar.”
(Seriously? Satu-satunya yang terdengar egois di sini adalah dirimu, Darling.)

Dia punya keluarga yang bahagia, itu yang bisa Kesha simpulkan. Namun, kenapa kesan yang justru dia dapatkan adalah sebaliknya? Mengapa dalam pandangannya, Suri justu tampak seperti pribadi ceria yang kesepian?
(Yes, Honey ... Dia kesepain karena tidak punya pacar. Dan itu masalah paling besar dalam hidupnya. Tapi tenang, dia bakal memincut pacarmu. Semua baik-baik saja ....)

(Suri) “Yah, pantesan. Facebook mah bukan levelnya abang-abang gue lagi.”
(I feel personaly attacked!)

(Plonga-plongo ketika tiba-tiba semua tokoh ngomong pake basa enggres di halaman 240 dan seterusnya. So edgy, makes me wanna vomit ....)

(ceritanya chat) Sabastian : Minggu depan kosongin jadwal. Gue ada acara, dan gue mau lo ikut?
(...????... I DON’T KNOW! Kenapa dikau pake tanda tanya? Mana gue tau lo mau gue ikut ape kagak!) (Oke itu mungkin cuma typo, tapi dam ... typo yang bikin salah paham hueheheh.)

Comments

  1. Coba baca cerita Wattpad judulnya Kingsley & Queenza, Kak. Unsur fantasinya lumayan, terus humornya gak terlalu sering, gak seperti buku ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang sering lihat ini novel di wattpad, terkenal juga kan. Tapi, kayaknya aku belum rencana bikin review wattpad belakangan ini :')
      Makasih rekomennya ^^/

      Delete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman