5 Hal yang harus Dihindari dalam Tulisan!


Halo Pembaca Budiman di mana pun kalian berada! Lihat, aku memposting Intermezzo lagi yang mungkin berfaedah atau malah tidak sama sekali!

Ekhem, tapi kali ini aku jamin benar-benar berguna, terutama untuk kalian yang sudah selesai membuat tulisan, entah itu satu kalimat, satu paragraf, satu chapter, atau malah satu buku. Kemudian kalian ingin merevisi tulisan tersebut, lantas kebingungan harus memulai dari mana. Bagaimana kalau kita mulai dari susunan kalimat!

Rangkaian kalimat yang baik adalah rangkaian kalimat yang jelas, tersampaikan dengan baik, dan yang paling penting EFEKTIF. Demi menunjang sebuah kalimat menjadi efektif, ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan dengan saksama. Mulai dari konjungsi, pengulangan kata, sinonim, dan lain-lain.

Beberapa hal yang sering kali membuat se-fruit kalimat menjadi tidak efektif sudah aku rangkum di bawah ini. Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pembaca dan penulis, hal-hal inilah yang paling menggangguku dalam proses revisi tulisan. Silakan disimak!

1. -nya

Itu bukan suara kucing dalam bahasa jepang, ya!

-nya di sini diartikan sebagai kata ganti kepemilikan. -nya paling rawan menjadi masalah bagi para penulis yang menggunakan Pov3, sebab biasanya tanpa sadar penulis akan terus mengulangi penggunaan -nya supaya pembaca memahami siapa, atau apa yang dimaksud dalam narasi maupun dialog. Namun, -nya malah berpotensi membuat kalimat tidak efektif, atau tidak nyaman dibaca akibat penggunaan yang terlalu banyak

Contoh :

Rafi tersentak dari tidurnya, matanya melirik jam wakernya. Dia langsung bangun dari kasurnya begitu sadar sudah terlambat lima menit. Rafi pun membasuh wajahnya, tidak lupa menggosok giginya. Habis mandi Rafi membantu Ibunya, membersihkan tempat tidurnya.

Menurut kalian, apa yang mengganggu dari paragraf di atas? Betul, terlalu banyak serangan -nya dalam satu paragraf tersebut sehingga menjadi tidak efektif dan mengganggu saat dibaca. Lantas bagaimana cara memperbaikinya?

Simak paragraf berikut ini :

Rafi tersentak dari tidurnya, lantas melirik jam waker. Dia langsung bangun begitu sadar sudah terlambat lima menit. Rafi pun membasuh wajah, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi, dia membantu ibu membersihkan tempat tidur.

Lihat perbedaannya? Dari delapan -nya bisa dipangkas menjadi hanya satu. Paragraf di atas pun lebih enak dibaca, dan memiliki makna sama persis, tanpa kurang sedikit pun. Intinya, kalian harus tahu kapan saat yang tepat menggunakan -nya. Paragraf di atas jelas-jelas sedang menyorot Rafi, tidak perlu lagi setiap tindakan Rafi dijabarkan dengan kata ganti -nya, karena fokus memang sedang tertuju pada dia sendiri.

2. dengan

Dengan yang harus dihindari dalam kasus ini adalah ketika sesuatu yang sudah jelas maknanya sehingga tidak perlu lagi diperinci menggunakan dengan, atau malah tidak diperlukan sama sekali, karena tanpa dengan pun kalimat itu sudah bisa dipahami, alias sudah efektif. Tentu saja penggunaan dengan jadi terkesan sampah.

Masih bingung? Coba perhatikan kalimat- kalimat di bawah ini ....

Rafi berseru dengan marah.

Hejel menendang bola dengan kaki.

Dia melangkah dengan perlahan.

Si Anu tersenyum dengan lebar.

Tahookah kalian, bahwa penggunaan dengan pada kalimat-kalimat di atas malah membuatnya tidak efektif? Kalimat-kalimat di atas akan tetap bermakna sama, tidak kurang-tidak lebih jika tidak menggunakan dengan.

Lihatlah perbaikan di bawah ini ....

Rafi berseru marah

Hejel menendang bola (Menendang sudah pasti pakai kaki)

Dia melangkah perlahan.

Si Anu tersenyum lebar.

3. yang

Maksudnya bukan cara kalian memanggil pasangan, ya!!!

yang dalam konteks ini adalah konjungsi paling penting dalam penyusunan kalimat. Namun, tak jarang penggunaan yang bisa dipakai berlebihan secara tidak sadar. Penggunaan yang paling sering terjadi dalam narasi, dan tak bisa dipungkiri kita tidak mungkin menghapus yang dari seluruh tulisan. Tapi minimal kita bisa meminimalisir.

Maka dari itu, karena sering digunakan pada narasi, usahakanlah kita meminimalisir penggunaan yang dalam dialog supaya penggunaannya tidak berlebihan. Kuncinya ada di permainan kata.

Daripada menulis. "Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

Lebih baik tulis seperti ini. "Sedang apa kalian di sini?"

Daripada menulis. "Ini pasti kalian yang berulah!"

Lebih baik tulis seperti ini. "Ini pasti ulah kalian!"

4. karena

Seperti yang, penggunaan karena juga sangat penting dalam penyusunan kalimat sehingga penulis biasanya menggunakan kata hubung ini terus-menerus secara tidak sadar. Padahal ada beragam sinonim karena yang bisa digunakan dalam penyusunan kalimat sehingga pemakaiannya tidak terlalu berlebihan. Sinonim dari karena sendiri ada; akibat, atas, lantaran, gara-gara, oleh, sebab, dan berkat. Semuanya bisa digunakan tergantung situasi dan kondisi.

Misalnya seperti kalimat-kalimat di bawah ini ....

Daripada menulis. Kakinya patah karena menendang pohon.

Lebih baik. Kakinya patah akibat menendang pohon

Daripada menulis. Karena tidur di kelas, Impy disetrap guru.

Lebih baik. Sebab tidur di kelas, Impy disetra guru

Daripada menulis. "Apa karena aku jelek, jadi kau menolakku?"

Lebih baik. "Apa gara-gara aku jelek, jadi kau menolakku?"

5. Tiba-tiba

Aku tambahkan tiba-tiba di sini, lantaran pernah ada pembaca/editor yang memberiku kritik bahwa penggunaan tiba-tiba malah menghilangkan unsur kejutan dalam cerita. Sebab, kata tiba-tiba sendiri sudah menjadi peringatan ke pembaca kalau setelah itu akan ada kejutan, itu artinya pembaca sudah siap, tentu saja mereka tidak akan terkejut lagi.

Nah, belio bilang padaku lebih baik tidak usah pakai embel-embel tiba-tiba melainkan langsung ke efek kejutan yang ingin kita pakai. Misalnya dalam kalimat, "Tiba-tiba pintu depan terbuka perlahan." Akan lebih baik kalau dijadikan seperti ini, "Derit pintu depan terdengar perlahan."

Jadi sebenarnya belio mengingatkanku agar Show don't Tell. Tunjukkan alih-alih Katakan. Itu petuah yang sangat bagus, tapi rasanya ada beberapa saat di mana kata tiba-tiba sangat berguna supaya penulis bisa menggambarkan keterkejutan untuk tokoh, bukan pembaca. Seperti yang kita tahu, Show memang lebih unggul dari Tell, tapi KESEIMBANGAN tetaplah yang paling utama.

Oh, kata tiba-tiba juga mempunyai beberapa sinonim yang mungkin berguna supaya pemakaiannya tidak berlebihan. Seperti; Mendadak, Tahu-tahu, Ujug-ujug, Sekonyong-konyong, Seketika, dan Terserempak

***

Setelah membaca Intermezzo ini, bukan berarti kalian harus memusuhi, apa lagi memusnakan segala hal yang tercantum dalam daftar di atas. Biar bagaimana pun segala hal di atas tetaplah unsur penting dalam penyusunan kalimat yang baik dan benar. Aku hanya ingin menyarankan untuk lebih cermat dalam menyusun kalimat agar selalu efektif.

Aku juga ingin menyarankan kalian untuk mengunduh aplikasi Tesaurus yang berisi kamus Sinonim dan Antonim dari setiap kata yang ada di KBBI. Aplikasi barokah, dan pastinya sangat berguna untuk menambah kosa kata. Lebih baik lagi, aplikasi ini GRATIIISSS, dan bisa OFFLINE!!!

Tunggu apa lagi! segera donlot Tesaurus Indonesia

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman