Ketika Mie Ayam Menguasai Dunia! (Review : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati)


Judul : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Penulis : Brian Khrisna

Penerbit : Grasindo

tahun Terbit : 2025

ISBN : 9786020531328
 
Tebal : 216 halaman

Blurb :

Ale, seorang pria berusia 37 tahun memiliki tinggi badan 189 cm dan berat 138 kg. Badannya bongsor, berkulit hitam, dan memiliki masalah dengan bau badan. Sejak kecil, Ale hidup di lingkungan keluarga yang tidak mendukungnya. Ia tak memiliki teman dekat dan menjadi korban perundungan di sekolahnya.

Ale didiagnosis psikiaternya mengalami depresi akut. Bukannya Ale tidak peduli untuk memperbaiki dirinya sendiri, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkungan pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.

Atas itu semua, Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Dua puluh empat jam dari sekarang, ia akan menelan obat antidepresan yang dia punya sekaligus. Sebelum waktu itu tiba, Ale membersihkan apartemennya yang berantakan, makan makanan mahal yang tak pernah ia beli, pergi berkaraoke dan menyanyi sepuasnya hingga mabuk.

Saat 24 jam itu tiba, Ale telah bersiap dengan kemeja hitam dan celana hitam, bak baju melayat ke pemakamannya sendiri. Ia kenakan topi kecurut ulang tahun dan meletuskan konfeti yang ia beli untuk dirinya sendiri.
“Selamat ulang tahun yang terakhir, Ale.”

Ale siap menenggak seluruh obat antidepresan yang ia punya. Saat ia memain-mainkan botolnya, Ale terdiam saat membaca anjuran di kemasan botol itu, dikonsumsi sesudah makan. Seketika perutnya berbunyi. Dan Ale pun memutuskan untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri. Setelah selama hidupnya ia tak pernah mampu melakukan hal-hal yang ia inginkan.

Ale akan makan seporsi mie ayam sebelum mati.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Awali Tahun dengan Depresong

Apa kabar Pembaca Budiman di mana pun kalian berada. Aku harap kalian semua dalam keadaan sehat baik fisik maupun mental. Sebab setiap manusia pasti pernah ada di titik terendah dalam hidup. Beberapa berhasil naik meskipun berdarah-darah, beberapa masih berusaha, beberapa lagi sayangnya memutuskan untuk menyerah. Seperti kata pepatah, hidup itu kadang di atas, kadang digidaw.


Aku ingat pernah ada di titik digidaw pada tahun 2019 - 2022. Saat itu pandemi sedang parah-parahnya, aku tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, rumah tempat tinggalku terasa seperti neraka, rutinitas monoton membvnvhku. Intinya semua berantakan! Namun, saat itu aku punya satu hal, sesuatu yang aku cintai sepenuh hati. Hobiku.

Dengan begitu banyak waktu senggang, aku bisa menulis sepuasnya mewujudkan imajinasi di kepala. Aku bisa menamatkan Phillip and Lillian, menulis Saturday Class, membuat banyak cerpen untuk Impy Island. Aku bahkan menciptakan Review Impy pada masa digidaw sehingga memiliki kalian Pembaca Budiman yang selalu menunggu review (julid) ku. Itulah yang membuatku mampu menghadapi dunia.

Sekarang aku sudah berada di tempat yang lebih baik. Aku berhasil sampai di 2026 dan aku siap memulai bab baru dengan hal-hal positif nan ceria. PERIODDD!!!

Dan tiba-tiba rekan kerjaku menyarankan novel ini 👁️👄👁️

Entah aku harus berterima kasih atau menempeleng kepalanya yang berbentuk jajar genjang itu. Tapi aku suka judulnya yang punya shock value dan bikin pinisirin. Aku memang sering mendengar desas-desus bahwa mie ayam adalah alasan pertama orang gagal mengakhiri hidup, lantaran kelezatannya yang tiada tara (sumber : netijen).

Yah ... aku memang sedang bebas dari TBR (To Be Read) saat ini. Buku-buku yang menjadi TBR-ku tahun ini masih ada di keranjang Syopi, h3h3. Sedangkan buku ini sudah ada di depan mata, jadi tidak ada salahnya aku baca, yakan? Paling kena mental dikit, nggak ngaruh layau!

Sampul novel ini aku sukak, simple, pemilihan warnanya adem di mata. Ilustrasi mie ayam segede gaban itu juga terlihat lezat, di sisi lain ilustrasi orang menunduk depresi seolah menjadi ironi di atas ironi. Mulanya aku berpikir ini adalah buku non-fiksi seperti I Want to Die but I Want to Eat Teokppoki. Ternyata eh ternyata bukan, ini adalah sebuah novel konkret bertema sensitif.

Mari langsung saja kita tengok!!!

B. Plot

Blurb novel sudah merangkum keseluruhan babak pertama kisah ini, jadi ... kalian bisa baca langsung di atas. JANGAN MALAS! Untuk seterusnya aku akan menceritakan bagaimana "petualangan" Ale dalam mencari makna hidup sehingga ia mungkin saja membatalkan niat mengakhiri hidup.

Aku cuma ingin mengingatkan, mengakhiri hidup adalah tindakan bodoh, semua orang tahu itu. Namun, kita juga harus sadar bahwa masalah yang mereka hadapi sangat nyata, dan kita harus mencoba bersimpati. Hal sepele bagi kita bisa jadi tekanan untuk orang lain. Kita tidak tahu situasi hidup seseorang, kita tidak punya hak untuk menghakimi. Makanya komentarku tentang novel ini bukan pada topik sensitif yang diangkat, melainkan bagaimana plot serta konflik dalam sudut pandang logika fiksi.

Sampek sini paham, yah!

Aku pikir novel ini akan dimulai dari titik awal, mungkin saat Ale kecil sampai beranjak dewasa, bagaimana perjalanannya dikhiantai oleh sesama manusia hingga akhirnya memutuskan untuk menyerah, lantas mendapatkan kedamaian dari semangkuk mie ayam. Siapa sangka awal novel ini justru Ale yang tidak mendapatkan keinginannya makan mie myam! Padahal dia belum mau mengakhiri hidup kalau belum memakan mie ayam langganannya.

Itu membuat bab pertama terasa begitu menarik, tapi juga berpotensi membuat bab berikutnya kureng kalau kualitasnya tidak bisa melebihi atau minimal menyamai bab pertama. Novel ini punya saat-saat masterpiece, tapi tak jarang juga ternodai oleh plot hole wadidaw. Sepanjang "petualangan", Ale kebetulan bertemu orang-orang kurang beruntung jauh di bawah dirinya, dan merekalah alasan Ale urung mengakhiri hidup.

Itu valid tentu saja. Pertanyaanku, kenapa harus seekstrem itu? Kenapa orang-orang kurang beruntung ini harus secara harfiah berdakwah kepada Ale demi bisa menyadarkannya untuk tidak mengakhiri hidup?

Maksudku ... Ale tinggal di jakarta, punya pekerjaan bagus, tempat tinggal layak, tabungan berlimpah (disebutkan tabungannya ratusan juta). Masalah hidup Ale jelas bukan dari ekonomi, melainkan kepercayaan diri. Lebih tepatnya, Ale depresi karena dia sering kali tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan yang Ale inginkan adalah validasi.

My oh my ... Aku akan terdengar victim blaming di sini, tapi rasanya ... problem Ale bisa ada cuma karena dia seorang ektrovert. Ale bisa saja hidup tenang dan damai kalau dia seorang introvert. Change my mind! Mari kita buktikan dari lingkungan kerja. Dia merana berat ketika tidak siapa pun tahu hari ulang tahunnya, bahkan dia ingin ulang tahunnya dirayakan oleh seisi kantor. Dia ingin dilihat, ingin punya sirkel, ingin diajak kongkow. Intinya dia mau jadi PUSAT PERHATIAN!

That is soooo ektrovert behaviour.

Terus apa lagi problemo Ale? Dianak-tirikan oleh ibunya. That is super sad ... tapi menurutku alasan sang ibu membenci Ale tidak begitu mendasar. Cuma karena fisik dan fakta bahwa Ale tidak kunjung menikah. Ayolah ... bagaimana dengan ungkapan "The face that Only a mother could love". Aku masih percaya bahwa setiap anak pasti terlihat bagus di mata ibunya. Apa lagi Ale tulang punggung, itu saja sudah menjadikan Ale setidaknya anak yang berguna di mata semua orang.

Konflik "bahkan ibunya pun membencinya" ini bisa lebih masuk akal jika ibu Ale tidak pernah merasa puas, selalu meminta uang lagi dan lagi padahal gaji Ale tidak seberapa, padahal Ale sudah memberikan semua miliknya. Atau ibu Ale lebih kaya dan terpandang dari Ale, lantas mulai menindas Ale untuk setara dengannya. Itu akan lebih masuk akal, aku pun bisa bersimpati daripada cuma ....

"Sangking jelek dan brekelenya, ibu Ale pun membenci Ale."

Serius ... cara Ale menyebutkan dirinya depresi dan dibenci seluruh dunia karena "jelek" tidak membuatku bersimpati sama sekali. Alih-alih aku malah jadi curiga, mungkin bukan fisikmu yang jelek melainkan personality-mu, Darling. TUNGGU JANGAN CANCLE AKU DULU! Biar aku jelaskan kepada kalian, Esmeralda!

Mengesampingkan fisik, Ale ini tipikal orang yang mengharapkan hal besar setelah melakukan bare minimum. Sepanjang cerita Ale selalu menyebutkan hal-hal barokah yang dilakukannya untuk orang lain, padahal hal barokah itu cuma hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang normal!

Misalnya, Ale sengaja atau tidak sengaja ditabrak oleh rekan kantornya, terus Ale bakal bilang, "Alih-alih marah padanya, aku justru minta maaf, padahal itu bukan salahku."

Atau saat menulis "Surat Terakhir" dia menyebut begini ... "Aku bisa saja mengumpat dan menyumpahi mereka yang telah jahat padaku dalam surat ini, tapi aku malah minta maaf dan berterima kasih."

Gorl ... kenapa kau masih mencari validasi di saat-saat terakhirmu?

Atau bahkan bagaimana Ale merasa ulang tahunnya harus dirayakan oleh seluruh kantor, lantaran dia selalu mengingat ulang tahun orang lain. Kemudian kecewa berat saat tidak ada yang mengingat ulang tahunnya. Are you telling me ... kau merayakan ulang tahun rekan lain dengan pamrih? Kau melakukan itu karena mengharapkan imbalan? Why are you even care???

Kalian lihat ... problem Ale ini cuma masalah insecurity, self-love, self-rispecc, pengharapan berlebihan. Segala hal yang datang dari dalam dirinya, bukan karena kejam dunia. Jadi aku rasa Ale tidak perlu mendapatkan semangat hidup alias wangsit alias motivatsi dari kaum marginal yang lebih besar kemungkinannya untuk depresi dan mengakhiri hidup.

Problem Ale bisa kelar kalau dia pergi ke terapi, yang mana sudah dia lakukan katanya sih, tapi affah iyah? Apakah kau sudah mencoba lebih keras? Kau punya segala hal untuk "sembuh". Biaya, koneksi, dan privilage untuk pergi ke berbagai terapi dan menemukan satu yang ocok untukmu.

DAMM! Aku benar-benar victim blaming sekarang! SUDAH! Daripada membahas alasan Ale mengakhiri hidup, lebih baik kita bicarakan plot hole wadidaw di sepanjang cerita. Pertama, SELURUH Arc bersama Murad bisa dijabarkan dengan satu kata "Messy". Aku suka idenya, bagian awalnya sangat menarik, tapi katakan padaku kenapa ending-nya similikiti begitu?

Ale tanpa sengaja masuk ke dalam geng preman kriminal kelas teri, menjadi salah satu kesayangan dan orang penting bagi pemimpi geng tersebut (Murad), mendapat ancaman sedemikian rupa kalau dia berani kabur atau keluar dari geng. Kemudian KABUR dari geng tidak secara damai, tapi tidak mendapatkan konsekuensi sedikit pun. Setelah deskripsi panjang kali lebar tentang betapa jahat, minim empati, serta minim moral si Murad ini. Really?

Tahoo-kah Penulis bahwa dunia geng preman kelas teri jauh lebih brutal dari kelas berat? Di dunia nyata, Ale tidak akan bisa hidup tenang, dia akan terus dicari, harus hidup dalam persembunyian, harus waspada pada sekitar, sebab preman seberbahaya Murad tidak akan melepaskan siapa pun yang sudah mengetahui sistem operasi geng pimpinannya. Tidak semudah itu lepas dari orang seberbahaya Murad.

Tapi di sini Ale santuy banget tuh abis keluar secara tidak damai dari orang berbahaya seperti Murad, menjalani single and very happy life seolah kegiatannya bersama geng Murad tidak pernah terjadi. AKU TIDAK PERCAYA HAL SEPERTI ITU BISA TERJADI!

"Tapi, Impy ... Ale membantu adik Murad masuk kerja lewat link orang dalam. Itu membuat Murad berhutang budi dan menghormati Ale."

My Sweet Darling Pembaca Budiman ... Itu justru menjadi plot hole terbesar dalam cerita ini.

Begini, Ale selalu mengeluhkan situasi di kantor. Bagaimana rekan-rekan kerja menjauhinya, dia selalu dijadikan kambing hitam, tidak punya teman kongkow, intinya merana lahir dan batin. Lantas katakan padaku bagaimana dia bisa memasukkan adik Murad ke kantor tempat kerjanya lewat jalur orang dalam?

Ale be like, "Pergi ke HRD sekarang juga dan sebut nama guweh tiga kali, maka elu akan langsung diterima!"

GORL AREN'T YOU AN OUTCAST? Bagaimana mungkin namamu bisa jadi bahan masuk kerja via orang dalam saat orang-orang kantor MEMBENCIMU! The math is not mathing here! Aku sampai membaca ulang bagian mana dari cerita Ale yang menandakan kalau dia punya kuasa untuk memasukkan seseorang ke kantor. Tidak aku temukan karena memang TIDAK ADA!

Dalam imajinasiku, ini yang akan terjadi pada adik Murad saat menyebut nama Ale di kantor ... (Perhatian : Adegan di bawah tidak benar-benar terjadi dalam novel)

"Permisi, Pak HRD, saya mohon izin menaruh CV di sini, besar harapan saya untuk diterima, h3h3," kata Adik Murad sambil nyengir kuda.

Pak HRD berdeham, "Baiqlah saya terima ...."

"Untuk pertimbangan aja nich, Pak. Saya itu adiknya Ale dari bagian audit, h3h3."

"APAAHHH??? ADIK DARI PEKERJA BREKELE, TIDAK PUTIH, TIDAK WANGI, TIDAK DISUKAI SEISI KANTOR, DAN TUKANG MENGAMBIL BARANG YANG BUKAN MILIKNYA ITU? KELUAR QAMU SEKARANG JUGA!!!"

Aku tidak mengarang ... semua hal di atas adalah reputsi Ale di tempat kerjanya. Dia bahkan pernah dituduh menjadi maling, padahal bukan. Tapi semua orang percaya dia yang melakukannya karena fisiknya "memungkinkan". MUSTAHIL dia bisa memberi jalur orang dalam untuk Adik Murad. MUSTAHIL I SAY!

Setelah Arc Murad yang berakhir brekele itu, Ale lanjut bertemu kaum marginal lainnya. Kupu-kupu Malam, OB tidak mampu, Kakek Tuna Netra, Nenek sebatang kara, dan lain sebagainya. Porsi mereka dalam cerita tidak banyak, tapi cukup untuk memberi motivasi barokah nan penuh pelajaran hidup kepada Ale, (bruuh).

Di akhir cerita, Ale tidak jadi mengakhiri hidupnya, tentu saja. Namun, aku merasa Ale tidak akan pernah berubah atau keluar dari depresinya, sebab Ale tidak menemukan jalan keluar dari masalahnya. Dia cuma merasa lega setelah melihat banyak orang yang hidup lebih susah, tapi masih punya semangat hidup, bahkan menjadi motivator untuk dirinya.

Ale masih tidak percaya diri, masih merasa dirinya jelek, hitam, dan bau, masih merasa seluruh dunia membencinya, masih tersinggung setiap kali ada orang yang menyebutkan segala kekurangannya. Dia akan kembali pada depresinya setelah menyelesaikan "petualangan" ini. Sebab yang Ale butuhkan adalah self-love dan self-appreciation, bukan tentang betapa susah-tapi-penuh-syukur nya kehidupan kaum marginal.

Ditambah lagi problem baru di masa depan setelah "petualangan" ini selesai ....

Ale bolos kerja berminggu-minggu, tentu saja dia akan dikeluarkan sehingga menjadi pengangguran. Adik Murad gagal mendapatkan pekerjaan, karena tahu nama Ale tidak bisa membantu sama sekali. Murad akan mencarinya untuk balas dendam. Ibunya akan semakin membencinya karena Ale tidak lagi bisa mengirim uang.

Ale ... you better eat that Mie Ayam every day, Gorl ....

C. Penokohan

Ale. Kisah ini ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama lewat Ale. Tentu kita harus bersimpati serta mendukung Ale sebagai tokoh utama. Dan aku memang mendukungnya sepenuh hati. Aku berharap Ale bisa belajar mencintai dirinya, aku harap Ale bertemu orang-orang tepat, aku harap Ale tidak selalu mencari validasi dari orang lain dan mulai menjadi Chill Guy.

Penulis membuat seolah problem Ale di dunia ini cuma fisik yang tidak memenuhi standar, dan seluruh manusia di bumi seolah juga mempermasalahkan hal tersebut. Padahal di dunia nyata, apa lagi di usia 39 nyaris kepala empat, sebagian besar populasi manusia tidak lagi mempermasalahkan fisik. Percayalah padaku dalam hal ini. Apa lagi, mengesampingkan fisik, sifat Ale tidak brekele-brekele amat.

Dia pendengar yang baik, dermawan, gemar menabung, bertutur kata halus (kecuali di saat-saat tertentu pada Arc Murad). Makanya saat bertemu "para motivator" aku harap Ale diberi kesempatan untuk mengobservasi sendiri apa pelajaran yang bisa dia ambil dari mereka, alih-alih mendapat wejangan secara harfiah. Rasanya itu terlalu dangkal dan tidak nyambung dengan masalah mental Ale.

Aku akan lebih senang kalau Ale bertemu orang yang tepat, tidak melulu harus kaum marginal motivator. Cukup orang yang bisa memahaminya, memberinya sudut pandang lain tentang hidup, yang Ale ambil dari observasinya sendiri. Bukannya malah berpikir ada orang yang lebih menderita darinya, maka dia urung mengakhiri hidup.

Murad. Motivator Preman

Juleha. Motivator Kupu-kupu Malam

Ipul. OB Motivator

Bu Muri. Nenek Kesepian dan Motivator

Pak Uju. Tukang Layangan, Motivator

Jipren. Kakek Tuna Netra, also ... Motivator

D. Dialog

Aku setuju dengan reviewer Goodreads yang mengatakan kalau dialog novel ini terlalu menggurui. Semua tokoh selain Ale pasti punya porsi kalimat motivasi. Sekali dua kali masih bisa dimaklumi. LIMA KALI? Itu terdengar hampir mustahil. Selain buruk dalam konteks dialog, hal seperti ini juga membuat penokohan brekele. Seolah kita bertemu orang yang sama lagi dan lagi dan lagi.

Motivasi yang diberikan memang berbeda, pelajaran hidup yang mereka sampaikan juga berbeda, tapi dari susunan kata, intonasi, dan warna dari dialog itu sendiri tidak jauh berbeda. Alih-alih mendapatkan pembelajaran, aku malah merasa segala hal yang disampaikan tokoh-tokoh di sini cuma template, sebab tidak ada rasa.

Narasi batin Ale sebagai pembawa cerita juga tidak menunjukkan prespektif lebih. Setiap kali mendapatkan kalimat motivasi Ale pasti cuma menanggapinya dengan "Oh iya, ya ...." Tidak ada semacam perlawanan atau refleksi dari kehidupannya maupun kehidupan orang-orang yang memberikannya "pelajaran".

E. Gaya Bahasa

Gaya bahasa novel ini sering aku sebut sebagai Straight-forward (lugas). Tidak ada prosa ungu, tidak ada metafora, tidak ada twist, atau sesuatu yang membuat kita menebak-nebak. Tugas kita sebagai pembaca memang cuma membaca. Kelebihan gaya bahasa seperti itu adalah proses baca mudah, cerita gampang dicerna, amanat dalam cerita pun tersampaikan dengan baik.

Namun, kekurangan gaya bahasa lugas adalah terlalu telling, tidak meninggalkan bekas, dan tidak dramatis. Alur dalam kisah ini juga seperti kejadian sama yang berulang-ulang. Ale bersedih, bertemu tokoh baru, mendapatkan motivasi, kemudian pergi begitu saja ke tokoh motivator selanjutnya. Gaya bahasa lugas, dicampur alur monoton terasa sangat membosankan. Aku bahkan tidak terlalu serius membaca bagian terakhir, karena polanya pasti sama juga.

Karena ini mengambil sudut pandang orang pertama, aku ingin mengenal Ale lebih dalam. Aku sudah tahu apa kesusahannya, aku sudah tahu apa yang membuatnya ingin mengakhiri hidup. Namun, aku juga berharap ada narasi batin yang membuat Ale mengingat masa-masa indah. Tidak perlu berkesan, tidak perlu terlalu dalam, atau malah motivasi dari orang lain. Bisa hal paling sederhana yang membuat hatinya hangat.

F. Penilaian

Sampul : 3,5

Plot : 2,5

Penokohan : 2

Dialog : 2

Gaya Bahasa : 2

Total : 2,3 Bintang

G. Penutup

Mungkin review-ku kali ini terkesan meremehkan depresi, mungkin hidupku terlalu enak makanya tidak bisa relate dengan apa yang dirasakan Ale. Namun, sekali lagi ini adalah pendapatku yang diambil dari sudut pandang fiksi. Dan plot hole Ale yang membantu Adik Murad ke tempat kerja lewat namanya itu benar-benar mustahil. That is where i draw the line!

Aku juga membaca komentar orang-orang Goodreads kalau penulis yang bersangkutan ini memang terobsesi dengan kaum marginal, sebab dalam novel-novelnya belio selalu mengangkat kisah mereka supaya orang lain merasa "beruntung". Ekhem ... aku tidak akan membahas tuduhan itu lebih jauh, but i'm here for the drama! Beri tahu aku lebih lanjut tentang ini! Spill all the teai!

Nah, mungkin segitu dulu review kali ini. Entah apakah aku keburu membuat review lain di bulan Januari, atau aku langsung menuju "Monthly Reading Recap" yang mana itu akan menjadi konten baru di Review Impy. Stay tune semuanya!

Sampai jumpa di review lain ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!