Om Soman Chainani dapat Bintang 3 dari Impy??? (Review Beast and Beauty : Dangerous Tales)
Judul : Beast and Beauty : Dangerous Tales
Penulis : Soman Chainani
Penerbit : Harper Collins
Tahun Terbit : 2021
ISBN : 9780062652638
Tebal : 320 halaman
Blurb :
You are wrong.
You don’t know them at all.
Twelve tales, twelve dangerous tales of mystery, magic, and rebellious hearts. Each twists like a spindle to reveal truths full of warning and triumph, truths that capture hearts long kept tame and set them free, truths that explore life . . . and death.
A prince has a surprising awakening . . .
A beauty fights like a beast . . .
A boy refuses to become prey . . .
A path to happiness is lost. . . . then found again.
New York Times bestselling author Soman Chainani respins old stories into fresh fairy tales for a new era and creates a world like no other. These stories know you. They understand you. They reflect you. They are tales for our times. So read on, if you dare.
MENGANDUNG SPOILER!!!
A. New Year, New Sempak!
Selamat tahun baru, Pembaca Budiman! Betapa rindunya aku pada kalian setelah satu tahun kita tidak bertemu (digampar). Bagaimana kabar kalian? Sudah membuat resolusi untuk tahun 2026? Atau ingin melanjutkan resolusi 2025 yang belum sempat terselesaikan? Kalau Impy tahun ini ingin fokus pada journaling terutama Reading Journal.
"Impy, bukankah konsisten journaling adalah resolusimu tahun 2024?"
Sssttt ... tutup bibir merah delima kalian itu. Sekarang ini kita bukan sedang fokus ke masa lalu atau masa depan, melainkan masa sekarang. Selain fokus journaling, aku juga ingin konsisten membaca, supaya target 50 buku di Goodreads bisa terpenuhi tanpa buku komik. Aku ingin membaca 50 buku yang setidaknya 300 halaman!
Nah, mari kita awali review awal tahun dengan sesuatu yang barokah. BEAST AND BEAUTY karya Om Soman Chainani! Kalian tahu betapa aku menyukai The School for Good and Evil (SGE), tidak ada satu novel pun dari serial tersebut yang brekele, makanya aku mencantumkan Om Soman sebagai penulis favorit. Sekarang ... aku mau coba baca karya Om Soman yang lain untuk mengtahui apakah aku meyukai Om Soman atau aku hanya menyukai SGE.
Buku ini bertema "Sisi Lain Dongeng" dan itu sangat cocok dengan seleraku. Namun oh nenamun, statement itu belum bisa dianggap benar kalau aku belum membaca bukunya. Kita langsung saja membahas Beast and Beauty kalau begitu.
Sampul novel ini sangat bagus, latar belakang simple, tapi ilustrasinya menonjol serta menggambarkan isi buku. Pilihan warna juga sesuai tema dan genre. Om Soman juga tidak memaksa sampul buku ini satu tema dengan SGE, alias buku ini tidak numpang tenar dari SGE. Hal seperti itu sering dilakukan oleh penulis-penulis yang berusaha kembali populer setelah buku pertamanya populer. Walhasil sampul dan isi tidak sesuai sama sekali.
B. Plot
Buku ini sebenarnya berisi Kumpulan Dongeng Klasik seperti Snow White, Little Mermaid, Peter Pan, dan lain-lain. Tapi tentu saja kisahnya diubah sedemikian rupa supaya menjadi kisah baru, akhir yang berbeda, atau sudut pandang lain. Makanya aku akan menilai tiap dongeng dari seberapa drastis kisah tersebut diubah, dan apa kisah tersebut cocok diubah seperti itu.
Hey, aku buka Dongeng Police! Tapi aku menjunjung tinggi originalitas dongeng, dalam artian untuk membuat kisah baru dari dongeng yang sudah ada, kita tidak perlu ada-adain sesuatu yang tidak ada, kalian paham maksudku? Seperti saat film Maleficent membuat peri-peri pengasuh Aurora sebagai orang LOLOT demi membuat Maleficent terlihat baik.
Yeah ... we're not doing that. Selebihnya, YES! Untuk sistim rating kali ini aku akan memakai tiga opsi yaitu ...
![]() |
| YASSS! |
![]() |
| GORL NO .... |
| IDK Maybe .... |
1. Red Riding Hood
Jujurlly ... aku tidak pernah begitu peduli pada dongeng Si Kerudung Merah, sebab katakan padaku kenapa serigala harus menyamar menjadi nenek-nenek demi memakan seorang anak perempuan? Darling, dari segala hewan di hutan, kau harus bekerja lebih keras demi memakan manusia sampai berujung dibelah kapak sama tukang kayu?
Well, sebenarnya kisah Si Kerudung Merah sarat makna. Jangan mudah percaya pada orang asing, jangan suka keluyuran di hutan, tapi yang paling penting adalah jangan bairkan anak kalian berpergian sendiri terutama ke dalam hutan penuh serigala! Aku bicara dengan kalian Orang Tua Kerudung Merah! Nah, Red Riding Hood versi Om Soman ini agak lain.
Si Kerudung Merah di sini bukanlah nama satu orang, melainkan satu komunitas, tepatnya anak-anak perempuan cantik yang menjadi korban ritual pengorbanan oleh orang tua mereka. Para Orang Tua pikir mereka bisa aman dari serigala karena mereka selalu mengobrankan anak-anak perempuan yang cantik, padahal anak-anak perempuan itulah serigalanya.
Itu twist cerita yang lumayan, dan aku suka pesan Gorl Power yang disampaikan. Cerita ini sangat berbeda dari versi asli, tapi karena itulah ceritanya tidak menistakan dongeng asli. Rasanya lebih masuk akal dan lebih orisinil.
2. Snow White
![]() |
| GORL NO .... |
Kita sudah bosan dengan Holiwut mengadaptasi dogeng klasik ke live action, kemudian mengutak-atik isi dalam dongeng tersebut. Entah ras para tokoh, gender, atau malah penokohannya diubah untuk alasan brekele seperti "for modern audience". Padahal mereka cuma malas membuat cerita baru dengan tokoh-tokoh inklusif, tidak mau berisiko rugi membuat cerita original untuk modern audience tersebut.
Sayang beribu sayang, itu terjadi pada Dongeng Snow White versi Om Soman. Keseluruhan kisah ini adalah Dongeng asli Putih Salju, bedanya cuma di warna kulit Si Putih yang gelap. How original, Love! sepanjang cerita aku mikir, "Okay, sisi lain apakah gerangan yang Om Soman sajikan di sini? Snow White berkulit gelap, okay ... terus? THAT'S IT?"
Di akhir cerita si Snow White punya anak, dan Snow White tidak akan memperlakukan sang anak seperti sang ibu memperlakukan dirinya. Okay ... SHOW ME! Aku akan lebih senang kalau cerita dimulai dari situ, kita bisa dapat kisah Snow White ketika menjadi seorang ibu, dan mungkin ada bumbu-bumbu pembalasan dendam di sana.
Sedangkan ini ... Apa "sisi lain" yang bisa kita ambil dari ending seperti ini?
3. Sleeping Beauty
| IDK Maybe .... |
Lagi-lagi "sisi lain" ala adaptasi Holiwut. Sleeping Beauty versi Om Soman adalah seorang laki-laki (kita sebut saja Sang Pangeran) yang diganggu oleh sosok semacam vampir(?). Sosok vampir ini selalu menghantui Sang Pangeran ketika tidur, sampai pemuda itu tidak berani tidur sama sekali demi menangkap Si Vampir. Suatu hari, perangkap Sang Pangeran pun berhasil menagkap Vampir tersebut, bahkan memtus sebelah tangannya.
Alih-alih marah, Sang Pangeran justru merasa iba pada Si Vampir dan berujung melepaskannya. Bahkan, Sang Pangeran merasa dia telah jatuh hati. Weirdo. Sang Pangeran pun mencari seorang laki-laki dengan tangan putus sebelah ke seluruh kerajaan, karena dia sangat ingin bertemu kembali dengan Si vampir. Pada akhirnya Sang Pangeran pun berhasil menemukan Si Vampir dan mereka PUNYA BAYI???
Ini cerita yang sangat aneh dan agak problematik kalau kubilang, bukan karena seksualitas Sang Pangeran, tapi lebih ke ... jatuh cinta pada orang yang membuatmu menderita? Bahkan nyaris memperkaos dan membvnvhmu? Is this some kind of petis? Yah, aku rasa konflk seperti itu menjadi semakin normal di kalangan Dark Romance belakangan ini, but still!
Also, di tengah-tengah ceritanya malah berasa seperti Cinderella daripada Sleeping Beauty! Cerita ini punya originalitas yang berpotensi, tapi tidak jelas juntrungannya, tidak ada kolerasi sama sekali. Sebaiknya Om Soman buat dongen baru tanpa menyinggung Sleeping Bauty sama sekali.
4. Rapunzel
"Rapunzel, Rapunzel turunkan rambut indahmu, aku akan menyelamatkanmu dari menara ini. Tapi abis itu pindah ke menara guweh, h3h3."
Katakanlah ini Rapunzel versi realistik. Mungkin orang tua kita mengurung kita di menara memang bertujuan melindungi kita, mungkin dunia luar memang kejam, mungkin orang asing memang mau memanfaakan kita dan memiliki kita untuk diri mereka sendiri. Mungkin tidak ada orang yang menolong tanpa pamrih. Karena itulah yang terjadi pada Rapunzel di sini.
Rapunzel punya keajaiban dalam dirinya, dan siapa pun ingin memiliki keajaiban tersebut. Sang ayah berusaha melindunginya, tapi My Gorl Rapunzel hanya ingin melihat dunia luar dan bermain layaknya wanita muda. Ketika seorang pangeran datang dengan kata-kata manis, berkata bahwa dia akan "menyelamatkan" Rapunzel, pada kenyataannya dia hanya akan mengurung wanita itu di menara baru yang lebih asing.
Pada akhirnya komunikasi adalah kunci, Melindungi bukan berarti harus membatasi, mencintai tidak mengekang. Semua hanya perlu kepercayaan. Ayah Rapunzel seharusnya memberi kepercayaan kepada Rapunzel, dibarengi ilmu tentang kejam dunia dan jangan percaya orang asing. Dengan begitu Rapunzel tidak perlu merasa seperi burung dalam sangkar emas.
5. Jack and The Beanstalk
Dengar ... secara keseluruhan aku menyukai kisah Jack dan Kacang Buncis Ajaib. Petualangan ke negeri raksasa, menemukan barang-barang ajaib, serta keberanian Jack menaiki pohon buncis setinggi awan, bahkan melarikan diri dari raksasa. EPIC. Walaupun, kalau dipikir-pikir, kenapa kita mendukung anak songong yang mengendap-endap masuk ke rumah orang, lalu mencuri barang-barang seenak udel!
ANYWAYS!
Kisah Jack dan Kacang Buncis Ajaib versi Om Soman tidak berbeda sama sekali dari versi asli, meskipun ada tambahan tokoh Ibu Jack yang digambarkan sangat jahat, serta sedikit pelajaran bahwa berusaha mengubah sifat seeorang TIDAK AKAN BERHASIL tanpa keinginan berubah dari orang itu sendiri. Yea ... aku tidak tahu kenapa Om Soman memutuskan untuk menambahkan pelajaran itu.
Intinya, ini kisah yang bagus, karena sudah bagus sejak awal, dan Om Soman nyaris tidak mengubah apa pun untuk membuatnya lebih menarik. Makanya aku kasih rating IDK Maybe.....
6. Hansel and Gretel
Dunia tahu betapa aku menyukai dongeng Hansel dan Gretel. Novel karayku, kesayanganku, anak emasku memiliki konsep "Hansel dan Gretel tanpa Remah Roti". Aku juga menyukai segala versi dari kakak beradik ini. Makanya sudah bisa dikira dan diduga kalau aku juga menyukai Hansel dan Gretel versi Om Soman, yang uniknya mengambil latar di India (karena Om Soman keturunan India, DUH!).
Dari mulai nama tokoh, latar, bahkan nama-nama manisan dibuat khas India. Aku jadi belajar banyak tentang manisan India, yang semuanya mengandung madu dan mentega. Kisahnya sendiri sebenarnya tidak jauh beda, kakak beradik yang menolak dibuang ke hutan sehingga mereka meninggalkan jejak agar bisa pulang. Sayangnya pada percobaan kedua, jejak yang dibuat kakak beradik ini hilang dimakan burung.
Akhirnya mereka berkeliling hutan sampai menemukan rumah terbuat dari manisan. Siapa sangka rumah itu milik seorang penyihir. Nah, di sinilah twist-nya. Si Penyihir di versi ini tidak jahat sama sekali, melainkan seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Rasa rindu dan sedih membuatnya hobi membuat makanan manis.
Latar belakang Si Penyihir sangat UwU serta ending-nya sangat manis, makanya aku memberi rating YASSS! Meskipun ceritanya tidak jauh berbeda dari versi original.
7. Beauty and The Beast
Jujurly, aku tidak pernah terlalu peduli pada dongeng Beauty and The Beast. Sejak kecil, aku merasa kisah itu sangat dangkal. Maksudku ... tentu saja Beast akan jatuh cinta pada BEAUTY! Hellow, dia BEAUTY! Dan dia kesepian, tentu saja dia akan jatuh cinta pada wanita cantik pertama yang dia lihat.
Pertanyaanku kenapa Beauty bisa jatuh cinta pada Beast di saat kelakuan Beast tidak ubahnya penculik berkelakuan anak tukang tantrum? Setelah dewasa aku baru menyadari bahwa itu disebut Beastiality dan Stockholm Syndrome 👁️👄👁️
BERCYANDAAA!!! Or am I?
Nah, kalau aku tidak menyukai Beauty and The Beast kenapa aku memberi rating IDK Maybe, bukannya Gorl No? Karena ending yang Om Soman berikan sangat realistis, dan aku lebih menyukai ending seperti itu daripada yang terlalu Family Friendly, tapi mustahil bin mustahal macam bikinan Disnep! Aku baru sadar ... sepertinya aku tidak pernah membaca versia asli dari Beauty and The Beast!
8. Bluebeard
My oh my ... aku masih ingat bagaimana aku mendapatkan mimpi buruk setelah membaca dongeng Si Janggut Biru. Mungkin Si Janggut Biru adalah dongeng gelap pertama yang kubaca, ditambah saat itu aku membaca versi bergambar non Family Friendly. ILUSTRASI MAYIT ISTRI-ISTRI BLUEBEARD MASIH BERSARANG DI KEPALAKU SAMPAI SEKARANG! SETRAUMA ITU AKU!
Namun oh nenamun, aku mencintai kisah yang membuatku trauma, sebanyak kisah yang membuatku bahagia, makanya rating ini mungkin agak bias. Pesan utama dari Si Janggut Biru sebenarnya sangat brekele. Keingitahuan bisa membunuhmu. YES, cuma itu! Dan entah kenapa Si Janggut Biru harus membvnvh banyak wanita untuk membuktikan poin trsebut. Like, ok Bluebead, we got it!
Namun, versi Om Soman sedikit berbeda. Bluebeard tidak mencari wanita dewasa untuk dijadikan istri, melainkan anak-anak lelaki dari panti asuhan untuk diadopsi. THAT IS WORSE! Sudah banyak anak yang dibawa Janggut Biru, tapi untuk beberapa alsan dia selalu kembali untuk mengadospi anak baru. Kali ini, dia mendapatkan anak laki-laki yang memiliki jiwa pejuang. Itulah tokoh utama kita!
Dia melakukan semua yang dilakukan anak-anak adopsi Si Janggut Biru, tapi dia memiliki jiwa perlawanan tinggi, serta kasih sayang untuk saudara-saudaranya sesama yatim-piatu. Dia tidak mau diam saja ketika Si Janggut Biru hendak menghabisinya, alih-alih dia yang melakukan itu kepada si Janggut Biru, dan mengakhiri ketakutan semua anak di panti asuhan.
9. Cinderella
Ini adalah salah satu Dongeng versi Om soman yang perubahannya paling drastis, tapi tidak memberi rasa apa pun (buatku pribadi). Satu-satuunya yang aku sukai dari kisah ini adalah fakta bahwa Cinderella punya nama, yaitu Magdalena. Sebab aku memang sering berpikir orang bangsa mana yang memberi nama anaknya Cinderella. Nama yang terdengar bagus sampai kita tahu kalau makna nama itu adalah Upik Abu!
Kisah Cinderella versi Om Soman tidak terasa seperti Cinderella sama sekali. Berhubungan dengan penyihir dan kutukan. Bahkan aku merasa kisah ini lebih baik menjadi kisah baru daripada membawa-bawa nama Cinderella. Namun setidaknya kisah ini memberikan sesuatu. Tidak seperti Snow White yang cuma diganti wara kulitnya. And thas's that ....
10. The Little Mermaid
Aku ... tidak mengerti cerita ini mengarah ke mana. Cerita berawal selayaknya kisah Putri Duyung jatuh cinta pada Pangeran yang ditolongnya saat tenggelam. Putri Duyung pun meminta kaki kepada Penyihir Laut supaya bisa bersama Sang Pangeran di darat, yang mana harus dibayar dengan suara indahnya. Tapi, tiba-tiba saja Si Penyihir Laut malah berdakwah.
"Kamu tidak mungkin jatuh cinta pada Pangeran itu, kamu bahkan tidak tahu bagaimana sifatnya atau siapa namanya. Kamu hanya melihat dia tampan, dan langsung menyukainya." Si Penyihir bersabda, "Seperti dulu, aku dan ayahmu juga begitu, jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya untuk mengetahui bahwa cinta kami semu."
"Siapa?" sahut Putri Duyung.
"Aku dan Ayahmu ...."
"YANG NANYA!!!"
Aku benar-benar tidak mengerti ending cerita ini, atau apakah Penyihir Laut mengabulkan permintaan Putri Duyung. Cerpen ini bahkan paling singkat dari semua cerpen. Kisahnya terasa belum selesai, mungkin Om Soman ingin menjadikannya open ending, tapi alih-alih open ending, aku malah dibuat plonga-plongo.
10. Rumplestilskin
To be honest ... aku kebosanan. Secara keseluruhan, bukan pada versi Om Soman saja. Aku membaca kisah Rumplestilskin mungkin sekali seumur hidup hanya untuk memahami konteksnya, kemudian seterusnya aku mengenal Rumplestilskin sebagai Villain utama di film Shrek 4. Aku tidak punya cukup konteks apakah versi Om Soman ini sama persis atau berbeda dari kisah aslinya.
Intinya, adegan Putri memintal emas seta Rumplestilskin yang datang menagih janji berulang-ulang kali membuatku bosan setengah mati. Mungkin aku tidak tertarik pada kisah ini, karena kisah selanjutnya yang akan kita baca adalah Peter Pan. Maka ... MARI LANGSUNG KE SANA SAJA!
11. Peter Pan
Baiklah, Pembaca Budiman ... pada titik ini aku akan mendeklarasikan sesuatu yang disebut IMPY'S LAW : "Jika itu menyinggung Peter Pan, maka Impy akan menyukainya".
Katakan padaku kenapa segala hal yang menyangkut Peter Pan selalu aku sukai? Entah saat Peter menjadi anak UwU atau Villain, menjadi tokoh utama atau figuran, he will always be my buoy! Bahkan jika cuma nama Peter Pan disebut tanpa muncul dalam cerita aku akan tetap menyukai cerita tersebut. Mendapat rating tinggi dari Impy sebenarnya sangat mudah!
Seperti yang disajikan Om Soman dalam kisah ini. Peter bukan tokoh utamanya, melainkan Wendy. Kita semua tahu Wendy berpasangan dengan Peter, tapi bagaimana kalau Wendy mulai dibuat kesal dengan sifat kerkanakkan Peter, disaat dirinya sendiri sudah dewasa? Maka seseorang mungkin bisa merebut Wendy dari Peter. Dalam kasus ini adalah seorang bajak laut bernama Scourie.
Wendy dan Bajak Laut? Serius, ya .. SANGAT BANYAK sisi lain dari kisah Peter Pan dan semuanya akan seru dan menarik, aku berani jamin itu! Satu-satunya kekurangan dari kisah ini adalah berusaha menjadi back story dari salah satu tokoh di SGE yang kalau dipikir-pikir malah menjadi Plot Hole. Cuma, aku bisa saja salah.
C. Catatan Tambahan
Meskipun aku sangat menyukai konsep Sisi Lain Dongeng, aku punya beberapa komplain tentang teknis serta beberapa tema yang diangkat. Pertama, aku kurang suka gaya kepenulisan Om Soman dalam kisah ini. Terkadang pemilihan kata terlalu corny, terlalu maksa pembaca untuk merasakan sesuatu yang padahal tanpa kata-kata itu, kita sudah bisa merasakannya.
Kedua, ada apa dengan Om Soman dan Ibu Tiri yang Kejam? Sebab 80% dari kisah ini pasti punya trope Ibu Tiri Kejam sebagai musuh utama, atau untuk membuktikan sebuah poin. Hey ... mungkin aku terlalu memikirkannya. Mungkin sebenarnya Om Soman tidak bermaksud apa-apa. Namun, itu tetap membuat mataku terpicing curiga.
D. Penilaian
Sampul : 3
Plot : 3,5
Penokohan : 3,5
Dialog : 3
Gaya Bahasa : 2,5
Total : 3 Bintang
E. Penutup
Review awal tahu yang sangat barokah bukan begitu, Pembaca Budiman? Ekhem ... sebenarnya aku membaca novel ini di akhir tahun, tapi akubaru bisa menyelesaikannya di tahun ini. Berarti tidak curang kalau aku memasukannya ke review tahun 2026, kan? (HARUS JAWAB IYA!)
Nah, kembali ke pertanyaan awal, apakah setelah membaca ini Soman Chainani tetap penulis kesukaanku? TENTU SAJA! Kami jelas punya kesamaan dalam rasa cinta pada dongeng, itu adalah kesamaan yang signifikan, dan pasti membuat apa pun karya Soman Chainani menarik di mataku. Mungkin tidak mencintainya sebanyak SGE, tapi tetap suka-suka-suka!
Baiklah, segitu dulu review dariku. tahun ini, aku mau coba buat rekap baca bulanan supaya blog ini bisa lebih aktif. "Perasaan dari kemarin ngomongnya itu-itu aja." HEY, DIAM KALIAN!
Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/
.png)























Comments
Post a Comment