Persahabatan di Antara Ruang dan Waktu (Review : Kastel Terpencil di dalam Cermin)


Judul : Kastel Terpencil di Dalam Cermin

Penulis : Mizuki Tsujimura

Penerbit : Clover

Tahun Terbit : 2022 (Versi Bahasa Indonesia)

ISBN : 9786230305993

Tebal : 496 halaman

Blurb :

“Aku ingin menolongmu.”

Kokoro merasa terusir dari kelasnya sendiri hingga ia mengurung diri di rumah dan menolak pergi ke sekolah. Pada suatu hari, cermin di dalam kamarnya mengeluarkan cahaya terang. Dan di dalam cermin tersebut ada bangunan misterius yang mirip sebuah kastel. Ada tujuh orang yang juga “diundang” ke sana—mereka yang menolak pergi ke sekolah seperti Kokoro. Untuk apa mereka bertujuh dikumpulkan di kastel? Siapakah sebenarnya sosok gadis bertopeng serigala yang mengundang mereka?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Mencari Middle Grade di Era Romantasy (Mustahil)

Hellow, Pembaca Budiman, bagaimana kabar kalian? Apakah sudah membuat perubahan barokah sepanjang bulan Januari? Hang in there ... mari kita berusaha melakukan ini bersama-sama. Baru banget kemarin aku bilang kalau akan coba membaca novel Terbitan Mandiri di Instagrem, lantaran desain sampul serta ilustrasi di dalamnya yang sangat memikat mata.

Namun, aku baru ingat pada fakta bahwa Terbit Mandiri adalah cara penulis bisa menerbitkan buku tanpa peraturan mengekang dari Penerbit Mayor ataupun Penerbit Indie. Alias, sebagian besar novel tersebut bergenre Romantasy 21+++ penuh adegan Smut! Beberapa bahkan mengandung BL atau GL! Sebab Terbit Mandiri artinya kebebasan mutlak! Dan kebebasan mutlak berarti ... gatau apaan, dah.

Tapi no worries, Pembaca Budiman! Aku sudah melakukan riset, menemukan beberapa novel yang terlihat cocok untuk konsumsiku (paling penting bukan smut fest). Namun, untuk menghindari rasa kiciwa, bulan Januari ini rasanya aku ingin membaca novel yang benar-benar seleraku, yang pastinya akan aku cintai, y'know. Maka Neptunus mempertemukanku dengan "Kastel Terpencil di Dalam Cermin" novel fantasi Jepun dengan rating Middle Grade.

Aku tertarik pada novel ini pertama karena tebalnya yang nyaris 500 halaman, tapi harganya tidak terlalu menguras kantong. Kedua judul yang membuat penasaran, terus juga sampul yang cukup memikat dengan ilustrasi tokoh. Everyone knows how much I love illustration on a book cover.

Memang ada sedikit keraguan dalam qolbu, sebab ini adalah noevel berlatar Jepang sementara aku adalah pembaca yang lebih condong ke Western. Namun oh nenamun, ini tahu 2026 afterall! Aku akan mencoba hal baru dan berusaha keluar dari dalam trapesium yang mengurungku! Maka dari itu, ayo langsung saja kita baca!

B. Plot

Memperkenalkan anak perempuan bernama Kokoro yang sudah beberpa miggu meliburkan diri dari sekolah. Kita belum tahu alasannya, tapi tersebar clue kalau sesuatu terjadi pada Kokoro melibatkan teman sekelas. Kokoro selalu menggunakan alasan sakit perut kepada sang ibu supaya tidak harus pergi sekolah. Terlalu sering sampai sang ibu mungkin saja menganggapnya pura-pura. Padahal rasa sakit itu nyata, dan selalu datang saat hendak pergi sekolah.

Kokoro merasa tidak enak pada orang tuanya karena meliburkan diri terlalu lama, tak bisa dipungkiri dia pun merasa bosan di rumah melakukan hal-hal monoton. Belum lagi Moe, teman dekat yang juga tetangganya seolah membaut jarak di antara mereka, padahal dahulu Kokoro dan Moe sangat dekat. Tapi Kokoro juga tidak mau kembali ke sekolah. Hidup Kokoro rasanya sudah kepalang berantakan, dan dia tidak yakin bisa memperbaikinya.

Maka suatu hari cermin di kamarnya bercahaya, dari situlah Kokoro bertemu Gadis Serigala, pergi ke kastel di dalam cermin, lantas bertemu tujuh anak yang juga menjadi tamu undangan Si Gadis Serigala. Tujuh anak ini ... mereka mencuri hatiku sejak pertama muncul. Aku skeptis pada novel Jepang, lantaran nama tokoh yang tak bisa langsung kuingat. Nyatanya, ketujuh anak ini terlalu unyu untuk diabaikan!

Aku berusaha keras mengingat nama mereka, sebab aku ingin mengenal mereka lebih dekat. Ingin tahu bagaiman kisah mereka, yang untungnya digambarkan sempurna. Anak-anak ini bernama Aki, Subaru, Masamune, Ureshino, Fuuka, Rion, dan tentu saja Kokoro. Semuanya diundang oleh Gadis Serigala untuk menemukan Kunci Permohonan. Siapa pun yang menemukan kunci itu, satu permohonannya akan terkabul.

Awalnya aku berpikir kisah ini akan menjadi petualangan khas Middle Grade tema detektif, bertemu makhluk ajaib, membuat strategi, memecahkan teka-teki, atau bahkan berperang. Nyatanya mereka malah tidak memedulikan Kunci Permohonan sampai ke cawu tiga, mereka lebih memilih vibing di kastel, mengenal satu sama lain, saling bertukar kisah, dan berusaha untuk saling mengerti. Hampir seperti grup konseling.

Dari sesi konseling tersebut, ketujuh anak ini sadar kalau mereka semua merupakan anak-anak yang "meliburkan diri" dari SMP 5 Yukushima. alasannya beragam, tapi ada satu kesamaan. Mereka merasa tidak ada apa pun di sekolah itu selain kesengsaraan. Suatu hari Masamune membuat permintaan supaya teman-temannya datang ke SMP 5 Yukushima. Bersama-sama. Di hari yang sama untuk sekadar saling menguatkan. Untuk saling menolong.

Ini adegan favoritku sepanjang buku. Kita bisa merasaka semangat, harapan, serta rasa syukur ketujuh anak ini. Mengetahui bahwa sekolah bisa jadi tempat bahagia bersama teman-teman yang memahami serta peduli satu sama lain. Janji sudah dibuat, keteguhan hati sudah mantap. Tapi begitu Kokoro datang ke sekolah, Masamune tidak di sana, begitu juga yang lain.

Aku suka tanggapan Kokoro di sini, bukan merasa terkhianati atau tersakity karena teman-temannya tidak di sana, Kokoro malah merasa sedih, berpikir dia telah mengkhianati kepercayaan Masamune. Dan dia tahu betul bagaimana rasanya kekecewaan itu. Rasa sedih berubah menjadi heran setelah Kokoro diberitahu bahwa tidak ada anak bernama Masamune, atau Aki, atau Subaru, atau yang lainnya di SMA5 Yukushima.

Selanjutnya, Kokoro mengetahui bukan cuma dia yang mengalami hal tersebut. Semua anak yang janjian datang ke sekolah juga mengalami hal serupa. Apa yang sebenarnya terjadi? Nah, di sinilah Masamune menjelaskan konsep Dunia Paralel yang harus kukatakan jauh lebih akurat dan logis daripada TL dengan 17 bukunya. I said what I said! Meskipun pada akhirnya teori Masamune itu keliru. (Baca bukunya kalau kalian mau tahu apa yang terjadi, layau!)

Semenjak hari itu, harapan mereka untuk bisa saling menguatkan pun runtuh. Mereka tidak bisa bertemu sekeras apa pun mencoba. Maka yang harus mereka lakukan sekarang adalah menikmati saat-saat terakhir, menghabiskan waktu bersama sebanyak mungkin di Kastel. Sampai suatu hari, salah satu anak bernama Aki begitu menginginkan Kunci Permohonan. Begitu menginginkannya sampai melanggar peraturan paling penting.

Keenam temannya dalam bahaya, dan Kokoro bertekad menyelamatkan mereka, karena dia satu-satunya yang tidak terdampak hukuman. Sebenarnya dari sini alur berlangsung sangat cepat, terkesan ngebut, bahkan ada beberapa adegan tiba-tiba berkah cuma supaya Kokoro bisa menyelesaikan masalah. Namun, pada titik ini aku sudah tidak peduli. Aku ingin anak-anak ini selamat, aku ingin mereka bahagia, dan kalau bisa benar-benar berkumpul kembali di dunia nyata.

Di akhir kisah kita pun mengetahui kalau Kokoro bukanlah tokoh kunci dalam kisah ini, semua pertanyaan terjawab, dan semua misteri terpecahkan. Aku tidak akan membeberkan lebih banyak, tapi ending kisah ini sangat memuaskan. Paragraf pertama novel, yang mana juga mimpi Kokoro, akhirnya menjadi nyata. Meskipun butuh waktu lama, meski banyak perjuangan, ketujuh anak ini sudah berusaha sebaik yang mereka bisa.

Novel ini menggambarkan peralihan SD ke SMP dengan sangat baik. Peralihan masa kanak-kanak ke remaja, mainan kesukaan mulai disebut terlalu kekanakkan. Kita mulai merasa bahwa validasi orang lain sangatlah penting, dipaksa memakai topeng, menyesuaikan diri tanpa diajari siapa pun, belum lagi masa pubertas. Percayalah saat kukatakan, masa SMP adalah yang paling buruk, paling membingungkan, serta sangat rawan terjadi perundungan.

Dukungan dari lingkungan dan orang tua sangat penting dalam menghadapi fase peralihan ini, yang mana juga dieksekusi dengan baik dalam novel ini. Di awal kita bisa lihat Ibu Kokoro kesal pada anaknya yang selalu mencari alasan untuk meliburkan diri. namun, sang ibu mau mengerti, mau mendengarkan saran, terutama dari guru sebaik Bu Kitajima. The real angel.

C. Penokohan

Kokoro. Anak yang baik hati, pengertian, tapi juga pasif, dan terlalu over thinking. Sebagai fokus utama cerita, Kokoro selalu memperhatikan gerak-gerik seseorang, kemudian menafsirkannya sebagai ... "Apakah orang ini membenciku?" Harus aku katakan itu adalah sifat yang sangat normal terjadi pada anak usia peralihan anak-anak ke remaja. Apa lagi setelah mengetahui hal yang terjadi padanya.

Aku sangat ingin memeluk Kokoro sepanjang cerita, dan mengatakan semua akn baik-baik saja, masa suram ini akan berlalu, dan kita akan terlalu sibuk menikmati hidup untuk terus mengingatnya. Untung ending cerita ini berpihak pada Kokor, kalau tidak ... I'm about to crash out!

Rion. Ayolah ... dia digambarkan sebagai "Cogan" oleh tokoh lain. Kita sudah tahu bagaimana fisiknya. Untuk kepribadian sendiri, sebnarnya Rion yang masalahnya paling "ringan" (aku memakai kutip karena tidak ada masalah yang tidak berat). Namun, seperti yang aku bilang di segmen plot. Kokoro adalah tokoh utama, tapi bukan Tokoh Kunci. Tokoh Kunci dalam cerita ini adalah Rion.

Aki. My Sweet Gorl ... Aki itu dewasa, berani, dan keren. Sayangnya semua sifat itu dia miliki akibat tuntutan keadaan. Aku bangga pada Aki, karena dia tidak menyerah, karena Aki adalah kunci utama bagaimana Kokoro dan Ureshino bisa terus bertahan. Kalau bukan karena Aki, entah bagaimanalah nasib kedua anak ini.

Subaru. Aku lupa kapan terakhir kali menemukan tokoh tipe Goody Two Shoes yang tidak menyebalkan. Intinya aku sangat senang melihat tipe itu pada tokoh Subaru. Dia adalah orang pertama (dan satu-satunya) yang tersenyum dan menyapa saat melihat seseorang duduk sendirian, dan aku selalu bersyukur memiliki orang-orang seperti Subaru dalam hidupku.

Bahkan ... aku selalu berusaha menjadi Subaru bagi orang-orang sekitar. Aku tahu anak-anak ini tidak akan pernah bersatu, tapi bisakah aku mendapatkan epilog lebih banyak untuk Subaru? Atau memang ada, cuma aku kagak ngeh. ToT

Masamune. Now this is a chill guy ... Masamune sebenarnya ramah, dengan caranya sendiri, alias sinis dan ketus. Heran rasanya melihat tokoh paling chill justru yang paling gugup saat hendak kembali ke sekolah, lantas mengajak teman-temannya ikut serta ke dalam penderitaan. Tapi berkat Masamune, keenam anak lainnya kembali merasakan semangat kembali sekolah setelah sekian lama, meskipun berakhir kacau.

Fuuka. Kokoro melihat Fuuka sebagai anak tomboy dan agak sombong. Namun, seperti kecemasan Kokoro yang lain, ternyata penilaian itu tidak sepenuhnya benar. Fuuka, seperti anak lain, adalah sosok terluka yang sebenarnya ingin merasa "normal". Kalau mau jujur karakter Fuuka paling tidak menonjol.

Ureshino. Bulan-bulanan dalam kelompok, karena dia gemuk dan seperti stereotip orang gemuk dia selalu memikirkan makanan. Kokoro menyebutnya tak tahu malu. Ditambah lagi, Ureshino gampang jatuh cinta, dan tidak sungkan menunjukkan rasa cintanya sampai anak-anak perempuan di kastel merasa risi. Namun, sekali lagi, Ureshino menjadi seperti itu karena penghakiman orang lain. Ureshino paling lantang dan blak-blakan pada masalahnya. Dia bahkan menjadi tokoh pertama yang latar belakangnya terungkap. Good for him.

D. Dialog

Harus aku katakan tidak ada perbedaan signifikan antara dialog fiksi Jepang dengan fiksi Western, padahal tadinya aku sudah skeptis berat. Membaca versi terjemahan mungkin memengaruhi hal tersebut, pada akhirnya aku tidak mengetahui versi otentinya. Jujurlly ... aku paling merasa ick ketika dialog menggambarkan teriak dengan "Kyaaa".

I don't know why, it annoys me!!! I'M SORRY! DON'T JUDGE!!! Tapi karena ini MEMANG fiksi Jepang dan aku pernah melihat dialog yang lebih buruk dalam novel Japan Wannabe di Watpat, maka aku berusaha mengabaikan dialog-dialog pickme begitu, dan berhasil. Ucapatkan selamat kepadaku, cepat!

Dialog dalam novel ini juga menyesuaikan karakter tokoh, aku bisa merasakan perubahan status ketujuh anak ini dari yang tadinya orang asing sampai menjadi teman dekat. Mereka membangun hubungan dengan cara masing-masing menyesuaikan sifat dan sikap. Tapi eh tetapi, dialog kesukaanku tentunya milik Subaru. He is such a nice person.

E. Gaya Bahasa

Novel ini memakai Sudut Pandang orang ketiga terbatas dari sisi Kokoro. Artinya, kita cuma bisa mengobservasi segala hal dari kaca mata Kokoro, hampir mirip sudut pandang orang pertama malah. Sudah aku katakan kalau Kokoro tipikal anak pasif yang mengikuti arus, serta sering over thinking pada detail kecil. Makanya di awal Kokoro agak sulit bergaul dengan anak lain, terutama para perempuan.

Namun kemsitri ketujuh anak ini sangat natural, temponya juga perlahan sehingga aku percaya kalau mereka sudah berteman akrab, padahal tidak pernah bertemu sebelumnya. Perubahan dari canggung sampai nyaman, perbedaan satu hubungan dengan yang lain. Pokoknya, aku paling suka proses anak-anak ini berteman. I love them.

Aku sempat ogah-ogahan membaca novel ini karena berpikir gaya bahasanya akan sangat berbeda dari novel yang biasa kubaca. Nyatanya, tidak ada perbedaan signifikan. Mungkin bahkan lebih reletable, karena kebudayaan Indonesia lebih condong mirip Jepang daripada Western. Dari sistem sekolah, bahkan budaya senioritas. Sebab Kokoro selalu memperhatikan cara orang bicara kepada orang yang lebih tua atau lebih muda, dan itu sangat penting dalam penilaiannya.

Sekarang Alur ... Alur novel ini tergolong lamban di awal, terburu-buru di akhir. Aku juga kurang suka latar belakag tokoh digambarkan satu per satu lewat flashback, padahal ada banyak waktu dan ruang untuk menunjukkan adegan-adegan tersebut secara tersirat. Yah, mungkin itu pengorbanan yang harus kita ambil supaya mendapatkan kemistri tokoh sempurna.

Terakhir ... aku melihat beberapa komentar negatif tentang World Building novel ini yang katanya di situ-situ saja, dan tidak luas. Well ... THAT'S THE POINT!!! Novel ini bukan Pure Fantasi, malahan fantasi di sini boleh jadi cuma sub-genre, karena inti cerita bukan fantasi, melainkan proses penyembuhan anak-anak yang dikecewakan oleh lingkungan, khususnya sekolah.

F. Penilaian

Sampul : 3,5

Plot : 4

Penokohan : 4,5

Dialog : 3,5

Gaya Bahasa : 3,5

Total : 4 Bintang

G. Penutup

Niat hati membaca Middle Grade Fantasy-Petualangan, malah mendapatkan anak-anak yang masuk grup konseling di dalam Kastel Ajaib. I'm not complaining, tho .... Seingatku, ini kali pertama aku membaca novel yang benar-benar dari penulis Jepang, bukan Jepang Wannabe. Harus aku katakan ... aku cukup menyukainya, dan tidak sabar menemukan novel-novel Jepang lainnya.

Novel KastelTerpencil di Dalam Cermin menjadi review terakhir Impy bulan ini, untuk selanjutnya aku akan membuat Reading Recap January, berisi buku-buku yang kubaca sepanjang bulan Januari tentunya. jangan sampai ketinggalan!

Nah, segitu dulu pembahasan kali ini. Sampai jumpa di bulan besok ^o^/

Comments

  1. Jarang-jarang liat kak impy kasih bintang 4, dan ini pertama kalinya kak impy review novel Jepang. Makasih untuk penilaiannya kakak🥳 Kalau boleh request, selanjutnya coba baca the travelling cat chronicles dongg. Itu novel Jepang juga dari penerbit haru. Kalau menurutku terjemahan dari penerbit haru itu nyaman banget buat dibaca

    ReplyDelete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Impy Hendak Pensiun dari Serial Bumi!? (Review : Hana Tara Hata)

Novel "Pamungkas" Serial Bumi? Affah Iyah? (Review : Aldebaran Bagian 1)

Buku yang Sempurna ... Kata Orang-orang (Review : Laut Bercerita)

1001 Tips Ngeselin Ala Pacc TL (Review : Ily)

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Sequel yang (Nyaris) Terlupakan (Review : Sky Academy)