Fantasteen : The End


Judul : Fantasteen : The End

Penulis : Atikah Az Zahidah

Penerbit : Dar Mizan

ISBN : 9786022426929

Tebal : 182 Halaman

Blurb :

Chaerin adalah seorang fangirl boyband The End.

Dia menggandrungi Bass, salah seorang personelnya yang keren dan kocak. Suatu hari usai menonton konser The End bersama Yoora dan Rachel, Chaerin mengalami kejadian Aneh dan menakutkan. Dia diburu oleh The End. Dia berbalik membenci boyband tersebut. Siapa sesungguhnya The End? Mengapa mereka mengincar Chaerin? Chaerin terkejut ketika diberitahu dalam hatinya ternyata bersemayam Pohon Kehidupan. The End terus memburunya. Bass yang kejam. kei yang misterius. Untung ada Chaehyun yang melindunginya.

Chaerin berusaha mempertahankan Pohon Kehidupan. Bagaimana akhir misi The End di Bumi? Berhasilkan mereka membawa Pohon Kehidupan ke Langit? Dan, Siapa sebenarnya Yoora dan Rachel? Mengapa mereka ditakdirkan bertempur?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Nge-Fantasteen Lagi

Hallow semua, kembali lagi di lapak review Impy. Seperti yang kukatakan pada review terdahulu, seri Fantasteen ada banyak sekali jumlahnya, meskipun tidak berhubungan. Katakanlah seperti genre baru bikinan penerbit Mizan, dan kalian tahu aku, ‘kan? Apa pun yang bersampul bagus dan kompakkan, pasti aku baca sebanyak mungkin. Sebenarnya sudah lama aku tertarik dengan fantasteen, baru sekarang kesampaian hasrat bacanya (itu mulu yang diomongin!)

Aku ingin berterima kasih pada aplikasi Ipusnas yang menyediakan beberapa novel Fantasteen. Betul ... untuk permulaan, aku hanya akan mereview buku fantasteen yang tersedia di Ipusnas. Alasannya? Tentu saja karena GRATIS! Nah, setelah semua buku Fantasteen di Ipusnas sudah kubaca dan review barulah aku memikirkan apakah akan membeli yang lain atau berhenti. Kalau mau jujur, Fantasteen kurang cocok buatku, dan tidak cukup menarik untuk difokuskan. Terlalu sederhana dan buru-buru karena jumlah halamannya sedikit, seolah setiap aspeknya belum matang (plot, karakter, world building). Mungkin karena penulisnya masih remaja, atau mungkin juga karena aku bukan lagi target bacanya (menghela napas dalam ketuaan).

Novel Fantasteen yang kebagian review kali ini berjudul The End. Dari segi sampul sih bagus seperti biasa, ditambah lagi ada ilustrasi tokoh utama serta latar belakang yang melambangkan sebuah kejadian. Blurb juga bisa dibilang menarik, meskipun meninggalkan kekhawatiran luar biasa dalam benakku, akan kubahas apa kekhawatirannya nanti. Namun, sekali lagi ...

KENAPA NOVEL INI SANGAT TIPIS!!!!

B. Plot

Kekhawatiran merambahi diri ini ketika membaca blurb. NOVEL INI MENGAMBIL LATAR KOREA! Entah kenapa, kebalikan dari unsur-unsur novel yang membuatku subjektif ke hal baik, beberapa unsur dalam novel juga bisa membuatku subjektif ke hal tidak baik. Salah satunya adalah latar Korea. Bukan karena ceritanya yang jelek, melainkan aku sudah pesimis duluan dengan nama-nama tokoh yang bikin lidahku beradu silat (begitu juga dengan latar negara Asia Timur lainnya). Lagu pula, dialog-dialog novel lokal yang berlatar Korea kadang membuatku cringe karena semua tokohnya seolah diimut-imutin. Sekali lagi, mengingatkanku pada tokoh-tokoh dalam novel terbitan Watpat (merindink).

INGATLAH! Ini cuma preferensiku sahaja, jangan tampol aku dengan palu proyek!

Namun, tentu saja kita tidak bisa menilai buku hanya dari latar tempatnya. Aku menaruh harapan pada novel ini dan membacanya sambil membayangkan seolah novel ini tidak mengambil latar Korea. Dan hey ... This is pretty good! Awal kisah kita dikenalkan dengan Chaerin, anak perempuan berusia lima belas tahun yang biasa-biasa saja. Eits, tapi tidak terlalu biasa, karena dia seorang fangirl akut dari boy band bernama The End. Seperti fangirl pada umumnya, Chaerin memuja mereka, khususnya member yang bernama Bass.

Chaerin punya dua sahabat, satu Yoora yang juga fangirl The End, satunya lagi Rachel yang justru menjadi antifan. Chaerin juga punya kakak bernama Chaehyun (bener kagak tuh tulisannye!) yang bersifat cuek, dan sebisa mungkin melarang adiknya menjadi fangirl The End. Di sini Chaerin digambarkan ceria, cerewet, dan manja. Sejujurnya itu tipikal tokoh perempuan Watpat yang sangat kubenci. Akan tetapi, aku menyukai Chaerin di novel ini. Kenapa? Karena dia berperilaku sebagaimana manusia normal dan memiliki akal sehat.

Contohnya ketika anggota The End tidak seramah yang dia kira, malah bisa dibilang jahat. Ketika salah satu member (Bass) mulai menghantuinya, bahkan tak segan menyakitinya, Chaerin cepat sadar akan hal itu. Dia langsung berbalik takut pada anggota The End dan membenci mereka, terutama Bass, tidak peduli dia tamvan, atau bias-nya selama ini. Berbeda kalau penulis Watpat yang bikin, pasti hal-hal buruk Bass itu dijadikan UwU (Bandingin terooss!!!)

Aku juga suka cara penulis mengkritisi para fangirl yang terlalu ‘ganas’ lewat tokoh antifan-nya Rachel. Dia sering mengingatkan Yoora dan Chaerin bahwa pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat, dan jika ternyata anggota band yang dipuja-puja itu berbuat jahat, apakah masih pantas dipuja-puja? Entah itu memang pesan yang ingin disampaikan penulis atau bukan, tapi aku menangkapnya begitu, h3h3 ... Aku juga suka foreshadowing yang diberikan sepanjang novel berjalan, natural dan sederhana, tapi juga berhubungan di akhir.

Namun (julid mode on!) itulah juga salah satu masalah novel ini. Latar belakang yang kurang jelas dan kadang bisa terasa sangat janggal. Prioritas konflik juga bisa dibilang amburadul. Bahkan, foreshadowing yang kubilang bagus itu, sebenarnya kurang masuk akal jika menjadi kesimpulan di akhir novel. Memang ada alasannya, tapi aku rasa alasan itu tidak dieksekusi dengan baik. Aku akan benar-benar menggunakan pringatan SPOILER kali ini. Jadi pikirkan baik-baik sebelum lanjut baca!

Jadi ... Dahulu, Bumi dan Langit hidup damai, sampai akhirnya terpecah. Akibat perpecahan tersebut, pohon kehidupan pun dibagi menjadi dua untuk masing-masing pihak. Eh tapi, pihak bumi malah menghancurkan setengah pohon milik langit. Kagak tau dah ape penyebabnye, iseng aje kali tuh! Nah, anggota The End itu sebenarnya kumpulan kesatria cahaya yang turun ke bumi untuk mengambil pohon kehidupan milik Bumi sebagai wujud balas dendam. Ternyata eh ternyata, pohon itu ada di dalam hati Chaerin.

Kisah yang bagus, bukan? Nah, yang membuatnya janggal adalah ....

Pertama, aku tidak tahu apa-apa tentang fungsi Pohon Kehidupan di dunia ini. Apa yang terjadi kalau sampai diambil? dan apa pengaruhnya untuk seluruh bumi, karena yang rempong kayaknya si Chaerin dan Caehyun sama temen-temennye doang. Memang dijelaskan kalau pohon itu harus tetap ada di dalam diri Chaerin supaya Bumi tetap stabil. Tapi stabil dari apa? Apa yang menjadi ancaman di Bumi saat itu, selain penyerangan kesatria Langit?

Kalau cuma begitu mah yaudah kasih aje tuh pohon ke pihak Langit biar Bumi kagak diserang, toh kita masih punya banyak pohon di Bumi, h3h3 ... tapi serius aku terus-terusan menunggu penjelasan tentang faedah si Pohon Kehidupan, dan tidak mendapat jawaban.

Kedua, hubungan Chaehyun dan Chaerin teh apaan? Tentu saja Chaehyun merupakan kakak Chaerin, tapi Chaehyun bilang dia merupakan satu-satunya kesatria Bumi yang selamat dari perang perpecahan dahulu-kala. Berarti dia harusnya yatim-piatu, ‘kan? Itu berarti dia anak adopsi atau semacamnya, ‘kan? Tapi itu tidak pernah dijelaskan. Daripada mempertanyakan asal-usul Chaehyun, yang aku juga pengen banget tahu! Si Chaerin malah fokus ke kekuatan tiba-tiba berkah yang dia sendiri tidak tahu dari mana asal-usulnya. Maksudku, heloooowww, selama ini lu tinggal sama alien! Memangnya gak mau tahu hal itu duluan?

Diceritakan kalau si Chaehyun juga yang mengizinkan Chaerin ditanamkan Pohon Kehidupan sejak bayi. Lah, orang tuanya begimana? Masa iya tidak tahu sama sekali anaknya dapat ritual gono-gini. Masa tidak tahu anak pertamanya punya kelainan gono-gini. Katakanlah dia menyembunyikan kelainan itu selama ini, tapi TIDAK DIJELASKAN! Peran para orang tua di sini juga benar-benar brekele, mereka seolah bodo amat tuh Chaerin dapat musibah atau keanehan. Mereka malah tiba-tiba dibuat pergi ke luar kota pas Chaerin mau meninggal ToT.

Terus lagi, jarak usia Chaehyun dan Chaerin teh berapa? Mereka digambarkan seumuran, tapi harusnya kalau Chaehyun udah jadi kesatria, dan satu-satunya kesatria yang selamat dalam perang DAHULU-KALA, dan pohon ditanam pas Chaerin masih bayi. Jarak usia mereka sangat jauh, dong! Sebenarnya kememblean usia itu bisa diatasi dengan penjelasan berfaedah. Barang kali, Chaehyun kembali ke bumi dalam wujud bayi, tapi otaknya tetap dewasa (ini seram sebenarnya), terus diadopsi sama keluarga Chaerin. Atau gimana kek! You can do something about that!!!

Aku tidak bisa fokus ke konflik utama, akibat memikirkan hal ini! Latar belakang setiap unsur tidak dibangun dengan baik. Mungkin karena jumlah buku yang terlampau tipis, atau karena penulis juga masih remaja (tentu saja!).

Lanjut ... Time line yang rancu. Para kesatria langit alias boy band The End sudah lama mencari Pohon Kehidupan, sampai-sampai mereka bisa membuat boy band yang terkenal ke seluruh dunia. Tapi saat akhirnya Pohon Kehidupan ketemu di dalam tubuh Chaerin, mereka malah bilang “Waktu kami di Bumi tidak lama.” Heloooowww, elu udah bisa bikin boyben terkenal seluruh dunia, kenapa pula bilang tidak lama lagi! Terus, tiba-tiba saja mereka bilang. “Kami harus sudah mendapatkan pohon itu sebelum bulan purnama penuh.” Padahal dari awal tidak ada tanda-tanda atau perbincangan yang mengharuskan mereka dapat pohon sebelum purnama.

Lagu pula, kenapa harus bulan purnama ini? Kenapa harus bulan purnama pas kalian sudah sangat dekat menuju Pohon Kehidupan itu? Memangnya purnama-purnama lain kenapa? Ya, ya, ya, aku tahu dalam konflik novel juga harus ada tenggang waktu supaya ceritanya lebih menegangkan, tapi kalau caranya begini sih bukannya menegangkan malah megesalkan! Belum lagi kekuatan tokohnya yang tidak jelas. Chaerin yang bertahun-tahun hidup normal, tiba-tiba langsung punya kekuatan hebat dalam sekali coba. Kei yang bisa melakukan teleport kepada ribuan orang sekaligus. Wooowww!!!

Kesimpulan dari semuanya sih, buku ini dipenuhi dengan lubang-lubang kecil yang mengesalkan. Lubang-lubang yang seharusnya bisa diatasi dengan mudah kalau saja penulis atau editor mau meluangkan lebih banyak waktu atau lembar untuk melakukan penambalan.

Satu hal lagi yang menjadi masalah padahal normalnya aku sangat menyukai unsur ini. ILUSTRASI! Ilustrasi dalam novel ini sama sekali tidak menggambarkan ketegangan pada narasi. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, kehadiran ilustrasi malah mengecewakan!!!  

C. Penokohan

Kelebihan tokoh-tokoh dalam novel ini jelas dari sifat yanng likeable, serta keputusan-keputusan yang mereka ambil dengan akal sehat. Ditambah bonding natural dan tidak cringe, itu sudah cukup membuatku senang. Namun, tentu saja tokoh-tokoh di sini punya kekurangan. Kita tidak diberikan informasi sama sekali tentang wujud fisik para tokoh di sini. Paling hanya Chaerin yang berkuncir kuda, dan itu yang sering disebut selama buku. Kayaknya Rachel dan Yoora juga ada penggambaran fisiknya di awal muncul, tapi saking jarangnya diungkit aku jadi lupa bagaimana wujud mereka.

Chaerin. Cerewet, manja, dan ceria. Ketiganya merupakan sifat tokoh yang hit or miss. Kalau berhasil jadi tokoh yang lucu, dan kalau gagal malah jadi sangat Cringe. Untungnya, Chaerin di sini termasuk berhasil. Aku suka kesadarannya akan anggota The End yang sebenarnya jahat. Dia mempercayai apa yang dilihat, dan mengambil tindakan benar. Chaerin bahkan lebih sering curhat pada Rachel tentang kejanggalan anggota The End. Karena sifat Rachel berbanding terbalik dengan Yoora yang selalu membela The End, dan tidak berpikir dengan kepala. Bahkan kecerewetan dan keimutan Chaerin digambarkan dengan porsi pas, tanpa embel-embel yang bikin perut mual.

Yoora. Akan ada SPOILER di sini. Yoora merupakan teman seperjuangan Chaerin dalam dunia fangirl. Lebih parah, Yoora tidak peduli dengan tanda-tanda kejahatan The End dan malah selalu membela mereka. Usut punya usut, Yoora melakukan itu karena tengah menyamar. Sebenarnya dia adalah pemimpin kesatria bumi, alias EX yang juga menghilang saat perang perpecahan dulu. Dia membenci The End, tapi memutuskan untuk bertindak dalam diam, sekaligus menjaga Pohon Kehidupan dalam diri Chaerin. Anehnya, sering kali Yoora berusaha mendekatkan Chaerin dengan anggota The End yang secara teknis malah jadi kebalikan dari melindungi. Aku malah lebih bisa percaya kalau dia yang ternyata pemimpin kesatrian langit, alias AX.

Rachel. Akan ada SPOILER di sini. Selain konflik antara Chaerin dan The End, ada juga konflik antara Rachel dengan Yoora yang ternyata merupakan pemimpin dari masing-masing kesatria. Rachel menjadi AX alias pemimpin kesatria Langit. Dia bertingkah seolah menjadi antifan juga sebagai wujud penyamaran. Karena diam-diam dia ingin mengambil Pohon Kehidupan dari tubuh Chaerin. Namun sekali lagi, kebalikan dari Yoora, Rachel malah seringkali melindungi Chaerin. Aku yakin tadinya penulis ingin membuat tokoh Rachel itu manipulatif, tapi eksekusinya memble sehingga kesimpulan di akhir terasa tidak nyambung. Intinya, semua tanda-tanda sepanjang buku akan lebih masuk akal kalau 'plot twist' tokoh Rachel dan Yoora dibalik.

Chaehyun. Kakak Chaerin yang aku sendiri masih bingung sebenarnya hubungan mereka teh gimana. Dia mengaku sebagai pelindung Chaerin, tapi sepanjang cerita dia malah kurang berperan. Bahkan membiarkan Chaerin sering bertatap muka dengan Bass yang sejatinya ingin membunuh Chaerin. Adegan ihiks-ihiks mereka di akhir juga tidak terlalu mengena di hati akibat kejanggalan tokoh Chaehyun ini sepanjang cerita.

Bass. Terkenal ramah dan murah senyum, tapi sebenarnya sangat jahat. Dia bahkan mau memusnahkan seluruh bumi (sure, Champ!). Tapi sepanjang cerita teh akalnya enggak dipake! Aku jadi tidak bisa menganggap orang ini dengan serius. Seperti saat dia tahu bahwa Kei jelas-jelas berindikasi menjadi pengkhianat. Eh, malah mempercayakan Chaerin sama si Kei, walhasil di bawa pergi tuh si Chaerin. Eh, die malah ngamuk-ngamuk sendiri pas dikhianati. OTAK PAKAI OTAK!!!

Kei. Terkenal judes dan dingin, tapi sebenarnya punya banyak simpati dan empati untuk Bumi. Kayaknya si penulis di sini senang sekali menggunakan sistim kebalikan. Itu penokohan yang sangat bagus sebenarnya, sayangnya tidak dieksekusi dengan baik. Jadi alih-alih tercengang dengan segala sifat baik Kei, kita malah jadi manggut-manggut aje. Udah ketebak, Ciiin.

Anggota The End yang lain. Tim hore

Mama-papa Chaerin. Ahli traevling pas anaknya mau meninggal.

D. Dialog

Dialog dalam novel ini bisa dibilang sangat enjoyable. Aku tidak pernah dibuat cringe dengan percakapan tokohnya, padahal ada beberapa sebutan-sebutan khas Korea yang pastinya membuatku merinding jika dipakai penulis lokal. Tapi di sini aku tidak mengeluh apa-apa. Dialek Chaerin, Yoora, dan Rachel juga cukup memiliki ciri khas. Beberapa memang terlalu harfiah, seperti Rachel yang selalu berpendapat kebalikan dari Yoora dan Chaerin, atau Chaerin dan Yoora yang noraknya kebangetan kalau sudah membicarakan The End.

Tapi hey! Aku tidak bisa memprotes akan hal itu. Sebagai mantan fangirl One Direction, aku tahu betul perasaan seorang Fangirl. Dan membaca ini, aku jadi ditarik kembali ke masa-masa SMP. Ah ... Harry Styles saat itu tamvan sekali! Ekhem ....

E. Gaya Bahasa

Seperti yang kubilang di atas. Aku khawatir dengan buku ini karena mengambil latar Korea. Kepesimisan ada pada dialog dan gaya bahasa, aku takut penulis terlalu melebay-lebaykan dialeknya, atau malah mencampur-campur narasi dengan bahasa Korea, eyuuhh! Eh ternyata ketakutanku itu tidak terjadi. Beberapa dialog memang menggunakan campuran dan istilah-istilah bahasa Korea seperti Eomma, Oppa, Appa (bukan dari Avatar the Legend of Aang). Tapi semua itu diletakkan pada tempat yang semestinya, jadi aku tidak merasa cringe.

Aku bahkan jadi tahu beberapa sebutan umum di bahasa Korea, meskipun aku tidak yakin apakah informasi itu berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tiba-tiba aku manggil Mamaku dengan sebutan Eomma sambil pakai logat imut Korea, bisa-bisa malah ditempeleng centong. Bisa dibilang, ini buku pertama berlatar Korea yang tidak membuat mataku pedes. Beberapa gangguan yang kualami hanya ada di bagian layouting. Misalnya, tidak ada perbedaan antara dialog langsung dan dialog telepon. Atau beberapa pemilihan kata yang tidak sesuai.

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 2

Penokohan : 2,5

Dialog : 2

Gaya bahasa : 2,5

Total : 3 Bintang

G. Penutup

Novel kedua dari seri Fantasteen! Bisa dibilang aku menikmati genre ini, meskipun tidak sesempurna Middle Grade dan tidak serumit Young Adult, rasanya genre buku seperti ini cukup untuk menambah bahan bacaan tahun 2022. Kita lihat apa lagi yang bisa disuguhkan penulis Fantasteen. Bisa dibilang The End ini bergenre fantasi dan sedikit horor. Selanjutnya mungkin aku akan membaca yang seluruhnya bergenre horor. Aku lihat banyak juga genre Fantasteen yang khusus menerbitkan genre horor, (Fantasteen Scary kayaknya). Sepertinya sampai di sini saja dulu, aku tidak tahu harus membicarakan apa lagi.

Sampai jumpa di lain waktu ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman