Noir 2 : Tale of Black and White


Judul : Noir 2 : Tale of Black and White

Penulis : Renita Nozaria

Penerbit : Loveable

ISBN : 9786025406423

Tebal : 288 Halaman

Blurb :

Suri salah ketika berpikir semuanya sudah selesai dan dia mampu melanjutkan hidupnya dengan baik. Namun pertemuannya dengan sisi paling misterius dunia gaib dan tindakan Nael untuk menyelamatkannya memicu terjadinya peristiwa yang lebih besar. Suri harus menghadapi berbagai peristiwa rumit, mulai dari bagian gelap masa lalu iblis yang telah menyelamatkannya, misteri tentang jati diri Sergio, dan dunia bayangan, serta fakta tentang Nael yang mungkin menyimpan rasa untuknya.

Bagaimana caranya Suri menyelesaikan urusan di Atas dan apakah Nael bisa menyelamatkan gadis mortal itu untuk kedua kalinya?

Apakah Suri juga mengetahui perlakuan khusus yang Nael berikan untuk dirinya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Sebastian?
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. I'M NOT DONE!!!

Kembali lagi di acara 'Menyiksa Diri Bersama Impy'

Kalian tahu kenapa aku melakukan ini? Tentu saja karena pengen julid ... maksudku, tentu saja karena aku harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai, dan itu adalah Sumah Palapa yang tidak bisa diganggu gugat. Lantas, kenapa aku memilih Noir 2 sebagai yang pertama kubaca, padahal ada novel lain yang juga belum diselesaikan? (Lirik Miss Peregrine 3 dan Series Ksatria Cahaya)

Jawabannya tentu saja, karena buku ini satu-satunya yang bisa kubaca skimming tanpa ketinggalan informasi apa pun sehingga proses membaca pun bisa lebih cepat dan akurat. Juga karena aku tidak melihat ada Noir 3, dan aku sangat Alhamdulilah karenanya. Kalian mungkin berpikir kalau review ini tidak kredibel karena proses membacanya yang skimming. Tapi percayalah padaku, Fernandez! Kalian tidak perlu serius membaca novel ini kalau kalian hanya mau fokus ke fantasi dan perhantuannya.

Sampul Noir 2 sendiri masih terbilang sangat bagus. Kalau seandainya isi buku ini sesuai dengan vibe yang ditampilkan pada sampul, aku akan memberi lima bintang pada novel ini. Langsung lima! Sayangnya, seperti hidup ... realita tidak seindah ekspektasi. Nah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai karena ....

I'M NOT DONE!!!

B. Plot

Setelah adegan sidang bersama para ebles yang brekele itu, Suri pun bangun dari koma dan langsung melakukan pesta Barbekyu untuk merayakan kebangkitan. Meskipun kalau mau mengikuti akal sehat, seharusnya Suri istirahat dan memulihkan diri karena koma selama dua minggu. Tapi, hey! Suri tentunya adalah Strong Gorl, yang mungkin bisa melakukan push up 100 kali pas sakit demam. Dan jangan sekali-sekali kalian memintaku untuk menjelaskan bagaimana tingkah laku ketiga kakak tamvan Suri pada pesta itu. They are literal child in adult body!

Kesimpulan dari bab pesta itu sendiri cuma si Cetta (kakak ketiga Suri) pengen nikah, tapi enggak boleh, karena belum lulus kuliah, dan dua kakaknya (Chandra dan Calvin) ogah dilangkahi sama adik sendiri. Dari caraku menjelaskan adegan ini, kalian mungkin membayangkan adegan serius ala orang-orang dewasa ketika mereka memperbincangkan masalah pernikahan. Karena itu bukan perkara sembarangan! Perlu diingat kakak tertua Suri berusia 24, jadi si Cetta mungkin sekitaran 22 kali ye ... Udah dewasa dong! Apa lagi, seorang AYAH juga terlibat dalam percakapan ini.

O-ho-ho ... jangan berharap terlalu tinggi, Rodrigo! Karena penulis sendiri mungkin belum pernah melihat atau mengalami perbincangan serius dalam hidupnya. Maka, dia menuliskan adegannya seperti ini ....

Reka ulang vesri Impy yang 90% akurat :

"Ayah, akhir tahun ini aku mau tunangan nih sama pacarku, Mwehehehe. Abis itu nikah, terus kawin deh. Mwehehehe," kata Cetta.

"GAK BOLEH!" kata ayah bak Kim Jong Unch.

"Iya betul! Pokoknya gue gak ikhlas kalau dilangkahi Sirip Teri kayak elu!" kata Chandra sebagaimana orang dewasa berprilaku.

"Sama! Gue sebagai anak kedua juga gak ikhlas kalau dilangkahi!" kata Calvin dengan agak dewasa.

"Yaaah, Ayah! Kok gak boleh sih!!!" kata Cetta dengan manis manja. "Aku kan udah kerja jadi model, karena aku tamvan, dan kita berasal dari keluarga kaya! Aku bisa kok jagain anak orang!"

"TIDACC BOLEH!" kata Ayah dengan kejam, "kamu harus selesai Kuli-ah dulu!"

"Aaaahhh!!! Pokoknya aku mau kawin! KAWIN!!!" kata Cetta sambil guling-guling.

Oke dialog terakhir itu mungkin berlebihan, tapi percayalah bagian awalnya memang seperti itu. Kalau kalian tidak percaya, boleh kalian baca sendiri. Cringe ditanggung masing-masing, ya!

Maksud dari misuh-misuhku di sini adalah. DI MANA KESERIUSAN NOVEL INI? Katakanlah kalau ini novel bergenre humor (meskipun embel-embelnya tetap fantasi dan horor) ini jelas humor yang buruk! Humor bukan berarti membuat lucu dari segala hal yang seharusnya serius. Bahkan novel-novel karya Raditya Dika yang jelas-jelas bergenre humor saja tahu batasan di mana kondisi dia harus serius, dan di mana dia harus melucu. Ini bukan humor, ini bad writing! Don't change my mind, because i'm right!

Baiklah, setelah adegan pesta barbekyu, kita diajak ke bab sesunggunya di mana Suri memasuki hari pertama kuliah, yeeeyy! Lantas aku dibuat nyaris membanting HP saat ada tanda-tanda adegan terlambat masuk sekolah, tapi ternyata Suri tidak terlambat. Fyuh! Hampir saja, khan! Nah, di novel kedua ini, kita kedatangan tokoh baru, yaitu Bapacc-nya Suri yang pastinya tamvan, dong. Bahkan Suri bikin komen seram seperti, "Ayah jangan rapi-rapi kalau ke kampus, nanti banyak yang naksir. Aku enggak mau punya bunda baru."

Okhay ... That's suspicious ... That's weird ....

Percayalah, kehadiran ayah Suri di sini cuma sebagai pemanis untuk adegan keluarga, yang alih-alih manis, malah jadi eneg. Interaksi si Ayah bersama ketiga abang suri benar-benar seperti Guru TK dengan anak-anak muridnya yang berusia lima tahun ke bawah. Oh, I can't ... Tolonglah, kalau kalian mengira aku berlebihan dalam menjulid buku ini, coba kalian baca sendiri, dan bilang padaku apakah kalian merasakan kejanggalan serupa? Karena aku juga lelah merasakan ini sendirian.

Bersiaplah kalian para penikmat adegan UwU, karena di sini Suri dan Sebastian sudah pacaran, Yeeyy. Meskipun pacaran, Kakak-kakak Tamvan Suri ternyata belum rela kalau adiknya dipacarin orang. Mereka sering 'mengetes' Sebastian dengan cara paling brekele di dunia. Seperti manjat pohon, bawa benda-benda berkode seperti zaman-zaman MOS, bahkan menguntit Suri pacaran seperti orang kurang kerjaan. Sebelum kalian menganggap adegan itu lucu, ingatlah kalau usia mereka sudah seperempat abad, dan tidak seharusnya bertingkah demikian.

Buku kedua ini juga memberikan konflik untuk anak-anak bawang kita di buku pertama. Seperti Sergio (adik Sebastian) dan Kirana (pacar Cetta), juga Khansa (pacar Calvin). Ada juga tokoh baru seperti Nadine, dan jangan lupa iblis-iblis yang pastinya tamvan, Nael dan Sombre alias memble. Konflik di novel kedua ini juga lumayan banyak dan tidak beraturan. Seperti Cetta yang bermasalah sama Karina, atau Calvin yang bermasalah sama Khansa. Yah ... Romance thingz.

"Impy ... mana dia faktor fantasi dan horor yang kita nanti-nantikan?"

Duh, Gusti! Lupa lagi kan saking keenakan sama dialog dan konflik romance-nya (terjun payung)

Untuk masalah fantasinya ... entah kenapa, faktor fantasi dan hantu di sini semakin pudar saja. Suri bahkan sudah tidak membantu arwah-arwah penasaran lagi. Hmmm, ke mana perginya jiwa yang 'bersih' dan kebaikan hati tiada tara itu, ya?

Lantas apa konflik pengganti yang penulis usung supaya tetap memakai para ebles sebagai tokoh?

ANOTHER ROMANCE UwU STORY!!!!

Karena ternyata Noir alias Nael alias iblis abu-abu alias makhluk apa pun dia, kepincut sama Suri! WHAAATT didn't see that coming! (muter bola ping-pong). Aku bisa membayangkan di versi Watpatnya si penulis menarik pembaca dengan embel-embel Suri <3 Sebastian shipper Vs. Suri <3 Nael shipper. O-ho-ho ... terbaca sekali taktikmu, Esmeralda!

Lalu, apa alasan Noir naksir Suri? Tentu saja karena dia cantik, tapi bagi penulis alasan itu kurang nendank dan menjadikannya 'kurang dalem'. Makanya dia menambahkan alasan bahwa Nael naksir Suri karena Suri selalu 'melakukan apa yang dia anggap benar'. Escusmi ... How is that a good thing? Menurutku, sesuatu yang seseorang anggap 'benar', belum tentu berdampak baik, 'kan? Bagaimana kalau menurut Suri, memusnahkan orang demi punya pacar itu adalah sesuatu yang benar?

Oh, akibat kelakuan brekele Suri di buku pertama juga membuat persembunyian Nael ketahuan oleh Blanc alias iblis putih alias pasangan Nael alias keseimbangan. Nah, si Blanc ini bisa saja memperalat Suri supaya bisa ketemu dengan Nael. Di sisi lain, kekacauan di Undertaker membuat para malaikat pencabut nyawa menghilang sehingga arwah-arwah yang dicabut nyawa harus dikembalikan lagi ke jasadnya (?)

Tongkat Zatheera juga hilang. Padahal dari awal juga kagak pernah dijelasin apaan tuh Tongkat Zatheera, apa faedahnya, dan apa dampaknya bagi masyarakat kalau sampai ilang, tapi kita dipaksa peduli. Ya sudah ... mungkin nanti dijelaskan.

Herannya ... Nael bilang kalau nyawa Suri dalam bahaya kalau mereka sering ketemuan, karena bisa memancing kedatangan Blanc. Akan tetapi, si Nael kagak udah-udah nyamperin si Suri tiap hari. Yaudah, JANGAN DITEMUIN LAGI, DONG! Segitu bucinya kah Iblis satu ini sampai lebih mementingkan cewek dibanding akherat! Tapi apa boleh buat, Iblis-iblis di sini pun enggak ada vibe iblisnya, mereka sangat down to earth.

Ada satu adegan yang membuatku pengen nyemil kapur barus sambil yoga posisi lilin. Jadi begini ... Nael ingin memperingatkan Suri tentang betapa bahayanya Blanc. Alih-alih langsung membicarakannya, kalian akan diberikan dialog basa-basi yang aduhai sebanyak lima halaman sampai mereka benar-benar membicarakan Blanc. Perlu diingat, Blanc ini IBLIS, dan dia BAHAYA. Tapi reaksi Suri selama perbincangan itu sangat ... ganggu (?)

Aku memberi catatan yang bertulis : "Suri being cringe for a whole page"

Menurut kalian bagaimana seharusnya kita para pembaca bersikap jika disuguhi dialog di atas. Jika harus tertawa, itu tidak lucu, jika harus serius, dialognya main-main. Tidak ada suasana yang terbangun dalam percakapan di atas. Pembaca tidak bisa 'masuk' ke cerita, baik dari sisi serius maupun bercandanya. Katakanlah ini masalah selera, tapi ... memangnya ada orang yang menganggap dialog di atas lucu? Oh, mungkin ada. Aku harus berhenti merendahkan selera orang!

Konflik pun berjalan cepat di akhir novel, dan entah kenapa selalu harus melibatkan orang koma. Ya, barang kali karena itu ada hubungannya dengan 'dunia lain'. Kenapa gak sekalian kau ajak itu Ki Joko Bodo. Oh iya, dia udah pensiun, h3h3 ....

Oh, aku juga ingin membahas beberapa review Goodreads yang mengatakan kalau World Building dalam novel ini tuh bagus banget sampai seolah bisa dirasakan langsung oleh pembaca.

Darling ... WHAT WORLD BUILDING????

Novel ini mengambil latar di dunia biasa, dunia biasa manusia, dunia biasa manusia normal. Ya ... penulis memang beberapa kali menyebut tempat bernama Undertaker, tapi kita tidak pernah benar-benar 'dibawa' ke sana. Paling-paling cuma para iblis yang menyebutkan Undertaker begini, Undertaker begitu. Ada konflik begini, ada konflik begitu, tanpa dijelaskan detail situasi di sana. Lagi pula segala hal yang berbau 'fantasi' di novel ini digambarkan secara gamlang dan sangat Telling.

Seringnya Nael yang menjelaskan bagaimana situasi di 'dunia lain' tersebut. "Kalo di dunia iblis tuh, ada iblis. Sedangkan di dunia malaikat, ada malaikat. Nah, kalau di dunia hantu ada hantu. Tapi kita semua punya boss besar, yaitu Sang Pencipta. Dialah yang menciptakan segalanya."

....

....

....

YA SEMUA ORANG JUGA UDAH TAU!!! (Tarik napas ... tahan ....)

Aku yakin yang memberikan review tentang world building itu bahkan tidak tahu apa pun tentang world building. Kalau mau tahu world building yang bagus itu bagaimana, baca buku fantasi terjemahan, udah gitu aje!

C. Penokohan

Suri. Penghargaan Ratu Cringe sejauh ini jatuh pada .... Suri!!! Penghargaan ini diberikan karena jasa-jasa Nona Suri yang membuat segala hal serius di novel ini menjadi tidak serius dengan segala dialognya yang aduhai. Mari kita beri tepuk tangan meriah!!!

Cetta, Calvin, Chandra. Secara harfiah mereka adalah anak TK dalam tubuh Om-om. Di usia yang sudah kepala dua, bahkan nyaris seperempat abad, bukankah mereka seharusnya punya kerjaan yang lebih berguna daripada ngalor-ngidul enggak jelas di rumah dan mengurusi kehidupan adiknnya?

Sebastian. Tidak ada perubahan, tetap dingin-dingin kejam getoh. Dia pacar idaman, dan pasti memberikan ke-UwU-an maksimal untuk kalian para penikmatnya.

Sergio. Sad Boy.

Bapacc Suri. Guru TK.

Nael. Secara harfiah merupakan Sebastian versi ebles. Juga dapat penghargaan iblis terbucin abad ini.

Khansa, Karina, Siena. Pacar-pacar cantik-jelita dari tiga kakak Suri yang tamvan-rupawan. Peran mereka di sini tidak terlalu penting untuk konflik utama, kecuali mungkin Khansa ... itu pun enggak terlalu wow.

Hantu-hantu. Berperan sebagai badut. Serius, eksistensi mereka di sini cuma buat memberikan dialog-dialog kocak. And i hate it a lot.

Nadine. Love interest Sergio supaya dia enggak jadi anak bawang lagi.

Iblis-iblis. Yang kehadirannya cuma supaya novel ini punya embel-embel fantasi.

D. Dialog

Kalau di review Noir pertama aku mengatakan dialognya lebih baik dari serial Bumi. Sekarang, aku ingin menarik ucapan itu! Dialog novel ini semakin buruk saja padahal ini buku kedua, bahkan ini lebih buruk dari Serial Bumi! Aku tidak bisa berhenti meringis sepanjang dialog yang ada, dan parahnya, dialog di sini SANGAT BANYAK!

Singkatnya begini. Sebastian ingin mengajak Suri ikut acara reuni, dan basa-basi adegan itu menghabiskan hampir sepuluh halaman berisi dialog UwU sebelum akhirnya Sebastian menyampaikan tujuannya. Atau ketika salah satu tokoh ingin melakukan sesuatu, harus ada dulu basa-basi sebelum 'sesuatu' itu tersampaikan. Bahkan hal paling sepele seperti menanyakan kabar, butuh satu halaman penuh berisi dialog. Biasanya aku skip semua itu, tapi demi segmen dialog ini, mau tidak mau kubaca juga.

Belum lagi penulis menambahkan ciri khas baru kepada Suri yang selalu menambahkan 'Muehehe' di akhir dialog. (Garuk tembok) ITU CIRI KHAS YANG MEMBUAT TOKOHNYA SEMAKIN CRINGE!!!

Terus lagi, penulis dengan pedenya juga memberikan ciri khas 'panggilan kocak' pada kakak-kakak tamvan Suri saat mereka saling menyapa satu sama lain. Mungkin bagi penulis itu lucu, ya ... tidak masalah juga kalau dia menganggap itu lucu. Tapi, apakah dia tidak sadar, kalau jokes yang terus diulang-ulang, esensi lucunya malah jadi hilang? Pengulangan jokes yang sama bahkan dihindari oleh para komedian, karena memang malah menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Baiqlah ... seharusnya aku tidak berharap banyak dari dialog novel keluaran Watpat, karena jarang yang benar-benar berbobot. Meskipun aku tidak berharap banyak, tapi aku tetap menderita ToT.

E. Gaya Bahasa

Sepertinya aku harus copy-paste perihal gaya bahasa dari review pertama karena tidak ada yang beurbah. Bahkan kalau mau jujur ini agak menurun, porsi narasi dipangkas demi bisa menampung dialog sebanyak mungkin. Aku secara pribadi tidak menghargai keputusan penulis dalam hal ini. Narasi juga bagus loh, kalau bisa bikinnya. Ups.

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 1,5

Penokohan : 1

Dialog : 1

Gaya Bahasa : 2

Total : 1,8

G. Penutup

Kadang aku berpikir, pasti bukan cuma aku yang menganggap novel ini brekele. Jelas-jelas novel ini bisa naik cetak karena punya banyak penggemar. Namun, aku juga tidak menemukan sebuah faktor yang membuatku menyukai buku ini selain covernya. Dari mulai penokohan, plot, dialog, semuanya tidak menggambarkan novel yang layak disukai.

Makanya aku berharap suatu saat nanti ada penggemar garis keras novel ini, atau mungkin penggemar penulisnya, datang membaca review-ku dan menyangkal semua poin yang kusebutkan tentang novel ini. Aku berharap si penggemar memberikan alasan masuk akal dan objektif kenapa dia menyukai novel ini, dan faktor apa dari buku ini yang pantas untuk dibanggakan, karena aku gagal menemukan satu pun. (Mungkin pembelaannya ada pada adegan UwU)

Aku memang seirng mengatakan kalau aku tidak suka novel-novel keluaran Watpat, tapi saat membaca salah satunya, apa lagi yang akan direview. Aku akan membacanya dengan serius, bahkan melupakan sejenak kalau buku ini adalah keluaran Watpat. Sayangnya, unsur-unsur dalam novel ini sendiri yang mengingatkanku kalau ini keluaran Watpat. Sampai harus dibaca skimming supaya cepat terlewat.

Aku benar-benar butuh pendapat lain yang bisa memberi alasan kenapa buku ini disebut 'bagus', karena dari konflik dan genre yang jelas-jelas berbanding terbalik, humor yang tidak diletakkan sepantasnya, dialog-dialoh filler, bahkan yang katanya 'World Building Keren' itu cuma bohong!

Aku juga membaca salah satu review di Goodread yang mengatakan kalau 'World Building' dalam kisah ini akan dibahas lebih jelas di buku Nuceour.

Honey ... jangan memancingku untuk menyiksa diri lagi dan menjulid buku ini lebih jauh.

Sekian dulu dariku. Sampai jumpa di review berikutnya ^o^/

Komen-komenku Saat Membaca

(What is this??? A kindergarten???)

(Meringis setiap kali ada tokoh yang memanggil tokoh lain dengan nama lengkap. "Ente mau manggil orang, ape mau bayar zakat fitrah!?")

(Temen Kirana) "Kenapa lo gak suka ada cewek lain yang memuji cowok lo?"
(Kirana) "Nggak! Makin dipuji kayak gitu, gue justru makin sadar kalau Dimi memang seganteng itu. Nanti gue jadi lemah dan mau balikan sama dia."
(Yah, memang apa lagi yang bisa kita harapkan dari buku Watpat kalau bukan memuja orang gud luking, menangis dalam ketidak-gudluking-an ini)

(Calvin) "Mimpi lo untuk jadi atlet udah kandas, there si no way to getting back, right? Dan orang tua lo masih marah karena menganggap lo enggak mendengarkan mereka. So, untuk sekarang, apa yang mau lo lakukan?"
(Khansa) "Hmm ... anggap gue bodoh atau apa, tapi sejujurnya gue nggak tahu. I'm compeletely lost."
(Darling ... aren't you like 24? Get a life, get a job!)

"Nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahkan daun yang jatuh pun punya maksud tersendiri. Entah itu pertanda badai akan datang, atau kabar gembira untuk makhluk-makhluk mikroskopik yang ada di tanah."
Khansa mengerjapkan mata, selama sesaat seperti tengah bicara dengan Calvin yang memang hobi membawa-bawa istilah rumit dunia ilmu pengetahuan setiap mereka ngobrol.
(ISTILAH RUMIT DARI HONGKONG!!!!)

Comments

  1. Halo kak! Mungkin dibanding membaca bukunya langsung (sebenernya pernah di wattpad, tapi nggak kulanjutkan) kayaknya review ini 10x lebih menghibur. Dan aku ketagihan membaca kejulidan review-review buku di blog ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkunjung. Seneng kalau kamu enjoy review-review (julid) aku. Tapi jangan terlalu meyakininya sepenuh hati, selera orang kan beda-beda. Bisa jadi bagi aku brekele, tapi menurut kamu malah bagus.

      (tapi aku ragu novel ini bakal bagus bagi pendapat orang-orang barokah h3h3....)

      Delete

Post a Comment

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)