Icylandar #1 (The Elf's Kingdom)


Judul : Icylandar #1 (The Elf's Kingdom)

Penulis : Dionvy

Penerbit : Pustaka Redemptor

ISBN : 9786029708707

Tebal : 684 Halaman

Blurb :


Sangat sulit untuk mengubah asumsi bahwa ras elf adalah sosok yang anggun, hidup abadi, menguasai ilmu sihir, serta tidak mempunyai pekerjaan kecuali berperang, menyanyi, serta melakukan hal-hal mistis lainnya.

Namun ICYLANDAR mengubah semua asumsi itu. Para elf remaja pun setiap harinya harus berlatih ilmu pedang, memanah, ilmu pengobatan, dan menunggang pegasus. Di luar jam latihan mereka juga senang bermain di danau. Jika tidak ingin kelaparan, mereka harus bercocok tanam. Mantel harus mereka buat sendiri dari bulu-bulu angsa. Bagi ras elf, hidup tidaklah semudah seperti yang selama ini dibayangkan oleh para manusia.

Di samping itu ada pertikaian di antara para elf sendiri. Tujuh ratus tahun yang lalu, hanya ada satu tahta kerajaan elf. Namun kemudian tahta itu pecah menjadi enam kerajaan, Icylandar salah satunya. Dan kini keenam kerajaan itu harus disatukan kembali atau seluruh ras elf akan musnah. Ironisnya, setiap kerajaan ingin menjadi sang pemimpin tahta.

Novel Icylandar akan mengajak siapa saja mengetahui bagaimana kehidupan para elf yang sebenarnya yang penuh dengan pertikaian, kedengkian, iri hati, namun juga ada cinta dan persahabatan.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Kena Pelet Cover

Sedikit fakta tentang seorang Impy sebagai pembaca budiman. Kelemahanku dalam dunia pernovelan cuma satu, yaitu COVER. Tidak peduli novel terbitan Watpat, terbitan Planet Mars, ataupun terbitan Istana Pantai Selatan. Kalau cover novel tersebut sudah memincut hati dan mataku, maka aku langsong samber buat koleksi tanpa berpikir dua kali. Apa itu rating? Apa itu Blurb? Apa itu sinopsis? Semuanya tidak penting lagi.

Padahal sudah banyak orang yang menasehati pasal perangai buruk ini, tapi telingaku sudah tertutup rapat, kepalaku dalam mode geleng-geleng, menolak setiap nasehat serta petuah. Nah, itulah yang novel Icylandar lakukan kepadaku. Ayolah akui saja ... lihatl cover novel ini! Sangat cantik, penuh warna, begitu menggambarkan ‘fantasi’! Selain itu, buku ini juga tebal. Aku suka buku fantasi ber-cover bagus yang halamannya tebal, tentu saja aku harus punya semua serinya!

Kebetulan, belum lama ini si penulis menerbitkan buku ke-4, kebetulan juga lebaran kemarin aku mendapatkan THR tak terduga yang pastinya bisa kuhambur-hamburkan tanpa rasa berdosa. Sebenarnya ada beberapa buku terjemahan yang juga aku incar, tapi semua kalah melihat kuantitas Icylandar yang tebal dan bercover bagus.

This is a real deal! dan ada kepuasan tersendiri saat pak pos datang membawa paket seberat 3kg di hari panas dan harus melalui gang sempit untuk menuju rumahku. Pak pos, you are my hero!

Baiklah, mari kita tengok akan sebagus apa Icylandar ini. Apakah sesuai dengan vibe di cover? Atau malah seperti novel NOIR yang ... tidak perlu dibahas lebih lanjut.

B. Plot

Jujur saja, aku sudah lama melakukan riset terhadap novel Icylandar. Riset dalam artian membaca review di Gudrid, juga blog review orang lain. Jadi sedikit-banyak aku sudah mendapatkan spoiler. Namun, nyatanya spoiler itu tidak terlalu berguna, karena apa? Novel ini tidak memiliki Plot utama yang konkret. Blurb Icylandar mengatakan kalau dunia Elf terbagi dalam enam klan, salah satunya bernama Icylandar. Mereka semua bermusuhan, juga bersaing dalam urusan kepemimpinan seluruh klan Elf.

Seperti klan-klan lain, Icylandar juga ingin menjadi penguasa bagi seluruh klan Elf, hanya saja ada satu klan yang paling kejam dari yang lain, yaitu Klan Deyurdolf (bener ape kagak tuh tulisannye!) Selain jahat, klan itu juga sangat kuat, lantaran mereka punya buku sihir kuno yang hebat tiada tanding. Selain itu ... Setiap keturunan raja jahat Deyurdolf memiliki aura negatif berbahaya yang disebut Jaroz.

Kemudian kita berkenalan dengan tokoh utama kita (Padris) yang ternyata eh ternyata juga memiliki Jaroz di dalam tubuhnya sehingga konflik novel baru akan terlihat kalau Jaroz milik Padris ini muncul ke permukaan. Jadi begitulah ... daripada novel, aku lebih melihat Icylandar ini seperti Kumpulan Cerpen. Setiap kejadian, tidak membawa kita menuju penyelesaian konflik. Seperti hari-hari Padris dan saudaranya (Louie) yang bersekolah, bermain, ikut festival, pokoknya hal-hal sederhana begitu.

Barulah di antara event-event itu percikan konflik diselipkan sesuka hati penulis. Ya, Padris diserang orang asing lah, serangan pegasus hitam lah, Jaroz Padris tak terkendali lah, Padris tiba-tiba koma lah. Ya, memang kebanyakan masalah terjadi sama Padris karena dia tokoh utama. What's new?

Segala hal yang terjadi dalam novel ini tidak berkesinambungan, jadi aku bingung sendiri bagaimana mau berkomentar. Mungkin juga karena seri pertama, jadi penulis mau fokus memperdalam World Building dunia Elf. Masalahnya, kenapa penulis tidak membangun World Building sekaligus menjalankan plot? Kenapa malah memasukkan adegan-adegan sepele beralur lamban sehingga berisiko membuat pembaca bosan?

Aku mau coba bandingkan laju alur novel ini dengan novel The School for Good and Evil karya Soman Chainani. Dua novel tersebut sama-sama berhalaman tebal, genre fantasi, juga memiliki banyak tokoh. Jelas dua novel itu berbeda 180 derajat dari segi mana pun, tapi aku hanya ingin membandingkan laju alur pada masing-masing novel saja supaya kalian dapat gambaran barokah tentang betapa leletnya alur Icylandar.

Icylandar Halaman 300 tengah berlangsung Festival Tiba-tiba Berkah yang disebut Qinlandar. Kenapa kusebut Tiba-tiba Berkah? Karena tiba-tiba aja itu festival ada, padahal gak pernah disebut-sebut sepanjang buku. Maksudku ... kalau memang Festival Qinlandar sesakeral itu, seharusnya masyarakat Elf sudah heboh dari jauh-jauh hari duoong! Akan jauh lebih baik kalau sepanjang buku penulis fokus ke persiapan juga desas-desus Festival Qinlandar, daripada adegan para Elf sekolah dan main-main yang aduhai membosankannya itu!

Kalau dilihat-lihat juga ... Festival Qinlandar ini mirip lomba 17 Agustus. Terdiri dari berbagai lomba yang bisa diikuti seluruh masyarakat Elf sesuai umur, misalnya adu pedang, mencari teka-teki, serta perang-perangan papan. Aku akan sangat terhibur kalau habis itu ada lomba balap gundu, lomba makan kerupuk, atau balap karung. ITU AKAN SANGAT KEREN!!!

Nah, mari kita lihat novel The School for Good and Evil halaman 300

Di sini sudah banyak hal terjadi, bahkan beberapa tokoh sudah mengalami perkembangan karakter berkali-kali. Seperti Sophie yang akhirya menerima dirinya masuk sekolah jahat, bahkan menjadikan sekolah jahat sebagai ikon kecantikan baru. Agatha juga sudah bisa beradaptasi dengan sekolah kebaikan. Tedros si Pangeran brekele juga sudah mulai jadi bodoh, dan bingung antara memilih Sophie atau Agatha.

Intinya, di novel SGE aku sudah tahu ke mana arah cerita dalam novel, aku sudah tahu apa motivasi tokoh-tokohnya sehingga niatku untuk terus baca semakin besar. Sedangkan di Icylandar, aku belum tahu apa motifasi para Elf ini, terutama apa tujuan Padris dan Louie sebagai tokoh utama. Sepanjang buku mereka cuma santai-santai, main-main, dan sekolah. Kalau cuma begitu mah sama aja aku melototin adek dan sepupu-sepupuku yang tiap hari kerjaannya main ame ngaso doang!

Aku juga bingung apa yang si penulis coba sampaikan dari dunia elf ini. Di Blurb, penulis bilang kalau Elf itu sebenarnya tidak sucieh, anggun, dan bijaksana seperti tanggapan para hooman. Mereka pun punya sisi jahat, tidak jauh berbeda dengan para hooman. So ... kenapa dibuat Elf kalau pada akhirnya jadi sama saja dengan manusia ToT

Tapi itu masih bisa kita abaikan. Sebab memang niat penulis ini seperti lambe turah yang menguak kehidupan asli para Elf yang sebenarnya gak bagus-bagus amat. Aku lebih tertarik membahas Vibe dari dunia Elf ini, yang katanya “indah” dan “sejahtera”, tapi kok sepanjang buku aku seperti sedang berada di Korut! Benar ... anak didiknya Om Kim Jong Unch.

Bayangkan saja, petinggi di Iclandar (panglima dan jendral) benar-benar kejam. Mereka sering marah-marah, menghukum secara fisik bahkan mental, dan kebanyakan disebabkan oleh hal-hal paling sepele. Murid telat semenit, disuruh nulis seribu kalimat, murid salah ngomong dikit dapet hukuman cambuk. Aku tahu, niat penulis ingin membuat mereka "tegas", tapi kok malah mEnGeRiKaN (pake logat Tok Dalang)

Kesannya kayak ... serem aje gitu! Kalian benar-benar harus menghormati para panglima dan jendral di Icylandar, Benar-benar harus jaga bicara, jaga sikap. Kalau kagak kreeek (bikin gestur gorok). Dan sumpah demi apa pun!!! Para panglima dan Jendral itu benar-benar MENYALAHGUNAKAN KEKUASAAN! Mereka bebas melakukan apa pun, dan rakyat jelata harus menurut. No ptotes-protes, kalau kagak. pluuuunggg (bikin gestur lompat ke rawa-rawa).

Itu ... benar-benar Vibe negara asuhan Om Kim Jong Unch, yang bikin aku gak nyaman aje sama dunia Icylandar ini! Mana indahnya??? Mana sejahteranya kalo bikin pembaca takot gini ah, ah, ah!!!

Keanehan lain aku temukan di keseluruhan masyarakat Icylandar. Sejatinya ... setiap masyarakat sebuah negara pasti punya peranan masing-masing untuk negara sesuai kemampuan dan minat mereka, iya ‘kan? Orang yang pemberani menjadi tentara, orang ahli bercocok tanam jadi petani, ahli kain dan pakaian menjadi penjahit, dan seterusnya.

Tahookah kalian? Di Icylandar tidak begitu sistimnya. Mereka tidak ada yang punya peranan dalam bermasyarakat, karena mereka secara harfiah MERANGKAP SEMUANYA!!!

Para Elf di sini melakukan kegiatan berkebun dan bertani, sekaligus jadi tukang jahit, sekaligus berlatih jadi tentara, sekaligus jadi panglima, sekaligus jadi pembuat senjata, sekaligus jadi tabib, sekaligus jadi ibu/ayah rumah tangga biasa. Maksudku ... apakah normal sebuah negeri seperti itu? Apakah memang itu kelebihan para Elf dibandingkan manusia? Mereka bisa merangkap jadi apa saja dan serba bisa?

Ya, mungkin memang itu yang penulis inginkan sebagai perbedaan Elf dengan manusia, karena kalau bukan ... We need to talk, Darling!

Hal janggal lainnya dari dunia Icylandar. Jadi ... Icylandar ini ceritanya tersembunyi dari dunia luar, tapi tetap sebuah kerajaan yang luas dengan hutan-hutan dan istana megah. Nah, ada satu adegan di mana Louie dan beberapa jendral melakukan misi ke luar Icylandar. Tiba-tiba, Louie begitu terkejut karena melihat sesuatu yang aneh dan mungkin tidak ada di Icylandar. Kalian tahu apa itu? Kelinci, musang, rusa, dan hewan-hewan lainnya.

....

....

....

Perasanan dari awal kagak ade nyang bilang kalaw di Icylandar kagak ade hewan-hewan, dah?! (keluar kan logat betawinye!). Di situ ada kuda, ada pegasus, ada angsa, ada burung-burung. Terus kenapa si Louie tercengang gitu melihat hewan-hewan macem kelinci dan rusa, yang sejatinya hidup dalam satu habitat, yaitu HUTAN!!!! (Makan kapur barus)

Mungkin segitu saja keluh-kesahku pada plot novel ini, yang sebenarnya tidak ada juga h3h3. Buku ini memiliki banyak potensi, dan aku bisa sangat menyukainya kalau susunan dan kecepatan alurnya tidak sebegini membosankan ... lanjot ke PENOKOHAN!!!!

C. Penokohan

Hal yang paling tidak aku sukai dalam se-fruit novel adalah ketika penulis memutuskan untuk tidak menyebutkan secara gamlang berapa umur tokoh-tokohnya. Seperti di Icylandar ini. Tentu saja, aku hanya bisa menebak-nebak usia para tokoh dari peran, tingkah-laku, dialog, serta keputusan yang diambil mereka sepanjang novel. Beberapa novel berhasil menunjukkan hal tersebut dengan baik, sayangnya Icylandar tidak termasuk ke dalamnya.

Terkadang Padris DKK bertingkah seolah mereka berumur sepuluh, sampai tiba-tiba ada yang bilang kalau mereka sudah remaja, dan tiba-tiba lagi dikatakan kalau mereka sudah dewasa. Heloooowww!!! Mana yang betul? Aku tidak bisa mempercayai siapa-siapa di sini! Hal itu juga yang terjadi dengan para Panglima dan para Jendral. Mereka bisa jadi sangat kekanakkan, seolah bukan orang dewasa sama sekali.

Bahkan ada satu adegan yang menyebutkan kalau Ibu Padris dan Louie masih harus "sekolah". Umm ... jadi sistim sekolah di Icylandar teh gimane si? Masa orang kagak lulus-lulus. Jadi Mukidi dong ... Murid Kursus gajaDi-jadi HA---HA---HA (lucu kan?). Makanya aku heran ... para Elf di sini tidak mungkin berusia ratusan, ‘kam? Mustahil mereka berusia ratusan kalau mentalnya tidak berkembang sama sekali. Baiqlah, kembali ke topick.

Padris dan Louie. Mereka kembar tapi bukan (aku tidak mau spoiler terlalu banyak) jadi aku satukan saja. Aku rada setuju dengan salah satu review yang mengatakan kalau penulis memaksa Padris jadi tokoh baik dengan membuat Louie jadi menyebalkan. Kenapa aku “rada” setuju, karena aku tidak sepenuhnya setuju. Menurutku sifat mereka berdua sangat wajar, Padris memang anak yang manis, sementara Louie lebih susah diatur.

Lagi pula, mereka berdua saling menghormati dan menyayangi sebagai saudara. Oh, aku paling suka hubungan kakak-adik yang akur. Penulis juga membuat kelebihan dan kekurangan untuk mereka berdua. Padris lebih ahli dalam senjata dan strategi, sedangkan Louie ahli tanaman dan berinsting kuat. Aku tidak punya masalah dengan mereka berdua. Malahan, mereka sangat UwU. Another reason to love this novel!!!

Tiga Jendral (Antolin, Rodrigo, dan Rafael). Mereka ini ibarat Three Musketeer. Digadang-gadang sebagai jendral Elf yang paling hebat, tapi belum cukup hebat buat mengalahkan Klan Sebelah yang jahat (aku lupa namanya, ah!). Penokohan ketiganya juga menarik. Antolin-kejam, Rafael-super baik, Rodrigo-macho(?). Sayangnya, seperti yang kubilang di atas, mereka bertiga ini tingkahnya belagu banget mentang-mentang Jendral. Kecuali mungkin Rafael yang kebaikannya setara malaikat. I like him a lot, actualley....

Tiga jendral ini mengingatkanku pada satu trio di film explisit yang sayangnya tidak bisa kusebutkan judulnya di sini, karena aku malu pada diri sendiri akibat menonton film lucknut tersebut. Namun, ada trio di film itu yang penokohannya hampir mirip dengan ketiga jendral aduhai ini. Hmmm ... kalian penasaran ya apa judul film-nya??? Kasih aku bunga raflesia arnoldi dulu, nanti kukasih tahu deh (wink-wink).

Guru/Panglima (Ruben, Keysuu, dan ....). Seperti para jendral, para guru juga sama kejamnya, terutama Ruben yang paling menjiplak sifat Kim Jong Unch Vibe di antara mereka. I hate him. Sedangkan Keysuu itu digambarkan dingin dan rada cuek gitu, dan ya tingkah laku dan penggambarannya sepanjang cerita memang cocok. Latar belakang Keysuu juga menurutku paling menarik dan keren.

Aku yakin ada satu guru lagi, dan aku lupa namanya! Saking gak berkesannya dia di mataku ToT. (Catatan saat mengedit review. Ternyata satu lagi namanya RAIDEN! Aku ingat namanya sekarang ... tapi lupa gimana sifatnya sepanjang buku h3h3 ....)

Naya dan Arlan. Ibunda dan ayahanda Padris-Louie. Tipikal pasangan harmonis, membuatku curiga jangan-jangan salah satu di antara mereka bakal modar di seri berikutnya!!!

Zeolin. Dia penjagai istal pegasus. Di antara semua tokoh, aku paling suka dia. Zeolin memberikanku vibe Cool Uncle yang asyik dan selalu punya cerita-cerita keren.

Pegasus-pegasus kece. Tahookah kalian? Para pegasus juga punya latar belakang cerita sendiri di sini. Itu sangat keren menurutku, tapi mengingat banyaknya potensi alur yang terbuang demi membuat latar belakang pada pegasus ini, aku jadi ingin menarik kembali kalimat keren tadi.

D. Dialog.

Aku tidak membuat banyak catatan tentang dialog, karena aku suka dialog-dialog dalam novel ini. Meskipun bertele-tele dan terkadang malah jadi filler, tapi tidak brekele seperti novel Wattpat. Dialog dalam novel ini menggambarkan sifat tokoh-tokohnya, dan menunjukkan keakraban mereka. Yang paling kentara sih antara Padris dan Louie, bagaimana cara mereka saling menyemangati, saling menghargai meskipun beberapa kali cekcok. Itu penggambaran saudara yang sangat alami.

Kalau disuruh memilih, aku paling suka dialog Naya. Dia ibunya Padris dan Louie, dan dia benar-benar ibu idaman. Tutur katanya halus, tidak pilih kasih, bijak, dan ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Sebenarnya, aku sempat berpikir Naya pilih kasih ke Padris. Terutama saat Padris hendak di bawa oleh orang kerajaan. Naya mati-matian melarang, dan bilang tidak bisa hidup tanpa Padris. Tapi kemudian aku mikir, kalau hal seperti itu terjadi juga pada Louie, dia pasti melakukan hal yang sama.

Dialog yang paling tidak aku sukai tentu saja Ruben, dan mungkin para jendral selain Rafael. Mereka selalu terkesan petantang-petenteng kalo kata mamake-ku. Belagu gitu mentang-mentang punya jabatan tinggi (sensi banget lu).

E. Gaya Bahasa

Gimana ya ... aku menghargai penulis yang menjabarkan secara detail tentang dunia novelnya. Bahkan aku juga sebisa mungkin melakukan hal serupa. Sayangnya, penjabaran mendetail itu memang terbukti membuat pembaca molor! Berkali-kali aku ketiduran saat membaca novel ini, gara-gara aku baca sambil tengkurap. Tidak peduli baca saat pagi, siang, sore, malam, kalau buku ini mulai menjabarkan dunia atau tokoh, otomatis mulutku menguap lebar sampe masuk sendal swalalow!

Belum lagi setiap tokoh di sini begitu gemar mendongeng, terutama menceritakan masa lalu Icylandar kepada Padris DKK. Maksudku ... aku tahu itu informasi yang penting, tapi ayolaaaah! Kenapa tidak dijabarkan nanti-nanti seiring konflik berjalan? Sebab ini juga alasan kenapa laju alur novel ini begitu lambat dan terkesan tidak konkret!

F. Penilaian

Cover : 5

Plot : 2

Penokohan : 2

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 2

Total : 2,8 Bintang


G. Penutup

Itulah ulasan berfaedah dari novel pertama Icylandar yang covernya sangat cantik. Apakah aku menyesal telah membeli semua seri dengan isi yang tidak terlalu memuaskan? Sedikit ... tapi ketika melihat keempat buku itu berjejer dengan indahnya di lemari buku, semua rasa sesal itu menghilang ditiup vacuum cleaner. This is totally worth my money, and I will never-ever regret anything!

Apakah aku masih akan mereview buku lainnya? Heel yeah! Untuk apa punya empat seri kalau cuma satu yang direview. Aku masih ingin tahu apa yang terjadi pada Padris dan Louie ketika mereka keluar dari Icylandar. Aku ingin tahu bagaimana klan Icylandar dan teman-teman klan lain mengatasi masalah perebutan kekuasaan ini. Tentu saja, aku ingin tahu apa lagi keanehan para Elf di sini selain MULTITALENTA!

Sekian dulu dariku, Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)