Anxious People (Para Pencemas)


Judul : Anxious People (Para Pencemas)

Penulis : Fredrik Backman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020662503

Tebal : 424 Halaman

Blurb :

Satu perampok, delapan orang asing, dan satu gagasan yang sangat buruk. Survei tempat tinggal tidak biasanya melibatkan situasi hidup dan mati, tapi itulah yang terjadi. Perampok yang gagal tiba-tiba menyerbu sebuah apartemen dan menyandera sekelompok orang asing: pasangan yang baru saja pensiun; direktur bank kaya yang terlalu sibuk untuk peduli kepada orang lain; pasangan muda yang akan memiliki anak pertama tapi tak pernah bisa sepakat; wanita 87 tahun yang sudah hidup cukup lama hingga tak takut todongan pistol, agen real estat yang gampang panik tapi selalu siap untuk menjual properti, dan pria misterius yang mengunci diri di satu-satunya kamar mandi di apartemen.

Tiap sandera membawa kepedihan, luka, rahasia, dan renjana yang meluap-luap. Tak satu pun dari mereka seperti apa yang tampak dari luar. Dan mereka semua—termasuk perampok bank—butuh diselamatkan. Selagi otoritas dan media mengepung apartemen tersebut, sekelompok orang asing itu akan mengungkapkan kebenaran mengejutkan tentang diri mereka sendiri dan mendapati mereka memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang mereka kira.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Gak Bakal Julid

Seluruh dunia tahu kalau 'Fredrik Backman' sudah keluar dari bibir Impy yang merekah-merona bak delima ini, maka kata-kata selanjutnya TIDAK AKAN berisi julid. Sebaliknya, pujian-pujian 4l4y yang akan kalian dapatkan. Aku tahu kalian lebih suka review julid daripada review positip (Dasar!!!). Tapi percayalah, kalau kalian tidak mau baca review ini sampai habis, aku jamin kalian MAU baca novel ini ribuan kali.

Aku menemukan novel ini di Gramedia Digital, tepat SEHARI sebelum langganan sebulanku habis! Rasanya Neptunus memang menjodohkanku dengan Pacc Backman, tidak peduli seberapa jauh jarak di antara kami. Ekhem ... tanpa basa-basi, aku mengunduh novel ini dan langsung membacanya sampai habis.

Maaf novel-novel lain! Aku tidak bisa menghilangkan hasrat untuk segera berduaan dengan novel barokah lain dari Pacc Backman.

Sampul? Pffttt ... apakah sampul penting kalau penulisnya adalah seorang Fredrik Backman? Jujur saja, Pacc Backman bisa membuat novel dengan sampul close-up mukak Bu Kunti, dan aku akan tetap membelinya. Aku penganut 'Judge the Book by the Cover', tapi pengecualian untuk Pacc Backman, ho-ho-ho (digampar).

Bukan karena aku bias, tapi itu faktanya ... suka atau tidak suka.

SUDAH!!! Mari kita lihat dengan cara apa lagi belio membuat kagum kita semua lewat Anxious People, alias Para Pencemas.

B. Plot

Kisah berawal dari dua polisi muda dan tua yang tengah menginterogasi korban-korban penyanderaan oleh perampok bank setelah diselamatkan dari apatemen. Namun, sesi interogasi menemukan jalan buntu karena para korban seolah tidak jujur dalam menceritakan kronologi kejadian. Mereka bertele-tele, membuat berbagai hal tidak jelas sampai membuat si polisi muda kesal. Polisi tua berusaha menenangkannya, dan malah membuat amarahnya semakin parah.

Polisi muda kebingungan, delapan orang ini baru saja mengalami hal traumatis. Tapi tidak satu pun dari mereka terlihat trauma, seolah ada satu kisah yang terlewat dari huru-hara ini sehingga puzzle-nya tidak bisa lengkap. Polisi muda menebak, hal itu ada kaitannya dengan si polisi tua. Yah, tebakan polisi muda benar, karena kedelapan orang itu, termasuk si polisi tua sendiri memang tengah berusaha melindungi si perampok.

Salah satu ciri khas Pacc Backman yang paling aku kagumi adalah bisa membuat banyak sub-plot tanpa berpaling dari plot utama. Bahkan, setiap tokoh dalam kisah Pacc Backman, entah bagaimana, dengan cara apa, ternyata memiliki hubungan satu sama lain. Dan benang merah di antara mereka terjalin dengan begitu halusnya.

Setiap tokoh memiliki latar belakang, yang menjelaskan cara mereka menyikapi huru-hara penyanderaan ini. Pembangunan suasana dan karakter tokoh sejak awal jelas, berikut misteri-misteri yang menyelubungi mereka sehingga saat misteri-misteri itu terungkap para pembaca bisa benar-benar paham. Sumpah, kalau kalian ingin belajar cara sambung-menyambung benang merah, Pacc Backman ahlinya! Bacalah karya-karya belio.

Belum lagi kejutan-kejutan yang belio berikan sepanjang novel, lebih mantap lagi belio sangat apik menyembunyikan kejutan itu hingga saat di-reveal, rasa kaget benar-benar kita dapatkan. Seperti, siapa sebenarnya perampok bank itu, apa yang terjadi pada tokoh ini, kenapa tokoh ini begini dan begitu. Aku menggunakan banyak kiasan di sini, karena aku sendiri bingung bagaimana menjelaskannya.

Belio juga mengangkat topik-topik serius dengan sangat realistis. Realistis yang aku maksud di sini adalah tidak semua tokoh menanggapi positif topik sensitif tersebut. Salah satu tokoh akan menanggapi negatif, satu lagi menyepelekan, ada yang suportif, beberapa lagi tidak peduli. POKOKNYA! Pacc Backman benar-benar mengerti bagaimana menggambarkan sifat manusia yang kompleks dalam setiap tokohnya.

Oh, ada satu konsep dalam novel ini yang membuatku ingin membandingkannya dengan novel Gezz & Ann. Ya, ya ... aku tahu membandingkan kedua novel tersebut ibarat membandingkan Tas Gucci dengan karung goni, tapi aku hanya ingin memberi tahu kalian bahwa INILAH yang aku harapkan dari novel Gezz & Ann. Konsep NENDANK dengan tujuan menjelaskan segala hal yang terjadi sepanjang novel. Sayangnya, novel Geez & Ann gagal mengeksekusi konsep tersebut.

Apakah itu?

Benar sekali ... Surat yang tidak dibuka bertahun-tahun padahal isinya bisa jadi sangat penting.

Di novel Geez & Ann, surat dari Geez yang tidak dibuka bertahun-tahun cuma berisi gombalan cowok bau kencur buat cewek yang juga bau kencur. Berisi tentang Peri Kecil, semesta-semesto, kau mengubah hidupku, tralala-trilili, prettt!

(Warning SPOILER!!!) Langsung ke segmen Penokohan kalau tidak mau lihat!

Nah, di Anxious People ada satu tokoh yang mendapatkan surat dari kliennya yang terilit hutang. Si Klien berakhir bvnvh diri sebelum surat itu sempat dibaca. Bertahun-tahun tokoh itu dihantui kecemasan, mimpi buruk, depresi akibat perasaan bersalah. Dia takut surat itu berisi permintaan tolong, bujukan, negosiasi, atau apa pun yang seharusnya bisa mencegah klien itu bvnvh diri.

Namun, saat akhirnya si tokoh mampu membuka surat itu. Isi surat itu hanya selembar kertas yang bertulis, "Itu bukan salahmu".

Singkat. Padat. Bangsat. Aku mewek saat membacanya, mataku bahkan berkaca-kaca lagi saat menulis review ini. Bagi kalian yang belum baca pasti menganggap tiga kata itu sepele, tidak bermakna, tidak UwU. Namun, kalau kalian tahu apa yang terjadi pada si tokoh dan si klien sepanjang novel, penderitaan mereka, masalah mereka, tujuan hidup mereka. Kalian tahu kalau tiga kata itu sebenarnya memiliki beribu makna.

ITULAH SEJATINYA TUJUAN DARI KONSEP SURAT YANG TIDAK DIBUKA BERTAHUN-TAHUN!!!!

Kesimpulannya. Novel ini memiliki segalanya, romansa, misteri, detektif, humor, dark, filosofi, bahkan horor. Namun, genre yang campur aduk itu tidak membuat ceritanya juga acak-acakan, tapi malah membuatnya berwarna dan segar. Sejauh ini cuma Pacc Backman yang berhasil melakukan itu, dan itu sebabnya Fredrick Backman akan selalu menjadi Penulis Panutanqu!

C. Penokohan

Hal lain dari Pacc Backman yang aku kagumi adalah cara belio membuat tokoh berserta penokohan mereka. Semuanya benar-benar menggambarkan manusia dengan segala kerumitan sifat dan sikapnya. Belum lagi cara belio menggambarkan penokohan tidak secara gamlang. Bahkan, Fredrik Backman mungkin kebalikan dari Pacc Tere. Pacc Backman tidak pernah meng-superior-kan metode Tell.

Jack & Jim. Anak dan ayah, muda dan tua, modern dan kuno. Keduanya benar-benar berbanding terbalik, tapi tidak juga saling melengkapi sehingga menjadikan mereka partner, sama saja berarti bencana. Jack yang egois merasa lebih pandai, lebih kuat, dan lebih cerdik sering kali merasa sang ayah (Jim) memperlambat investigasinya.

Di sisi lain sifat kebapakkan Jim, khawatir, sayang, dan berwibawa kadang memang memperlambat Jack, tapi dia tidak pernah mau meninggalkan anaknya sendirian. Bahkan dia rela melakukan hal-hal berbahaya supaya sang anak tidak harus melakukannya. Meskipun keduanya memiliki satu kesamaan, mereka saling menyayangi, tapi payah dalam menunjukannya.

Perampok Bank. Untuk beberapa alasan dia tidak bernama meskipun kita sebagai pembaca mengenalnya dengan sangat baik. Dia perampok bank paling bodoh, canggung, sial, dan lemah yang pernah ada di dunia. Dia bahkan harus didikte oleh para sanderanya, seolah merekalah yang merampok sementara dia justru sandera. Makanya beberapa kali si perampok menyebut kedelapan orang itu. Sandera-sandera terburuk.

Zara. Bankir yang sombong dan perhitungan. Dia menganggap rendah semua orang, padahal dia melakukan itu hanya sebagai pelampiasan. Sebenarnya orang paling rendah yang Zara kenal adalah dirinya sendiri.

Roger dan Anna-Lena. Pasangan suami istri yang sudah menikah terlalu lama sampai seolah kehabisan cinta, tapi untuk beberapa alasan masih menghargai satu sama lain. Mereka beberapa kali hampir bercerai, tapi selalu gagal. Hubungan mereka berdua benar-benar kompleks, sampai kita sebagai pembaca justru tidak ingin mereka berpisah.

Julia dan Ro. Pasangan muda yang akan memiliki anak. Sifat mereka juga berkebalikan satu sama lain, tidak pernah setuju dengan preferensi masing-masing, tapi tidak seperti Roger dan Anna-Lena, cinta mereka berdua masih sangat jauh dari kata habis.

Lennart. Artis serabutan yang dibayar Anna-Lena untuk mengacaukan pameran apartemen. Dia menggunakan kostum kelinci di hampir seluruh buku, dan tingkahnya konyol abiz.

Estelle. Nenek idaman semua orang. Estelle berusia 87 tahun, hatinya sehalus sutera, dan pikirannya selalu positif sehingga dia yang pertama kali menyadari kepayahan si perampok dan menyadari bahwa si perampok mungkin tidak jahat sama sekali. Kisah Estelle adalah yang paling UwU kalau menurutku. Tipokal Old Love yang abadi selamanya.

D. Dialog

Karena terlalu terpesona sama konflik dan misteri dari tokoh-tokoh di sini, aku nyaris tidak memedulikan sisi dialognya. Fredrik Backman juga ahli dalam menyeimbangkan antara dialog dan narasi. Belio tahu kapan harus menggunakan dialog sebelum pembaca molor kebosanan disuguhi narasi. Belio juga tahu kapan dialog harus berhenti sebelum menjadi Filler atau malah Dump.

Hasilnya? Aku tidak tutup buku selama lima jam demi menghabiskan novel ini dalam sekali duduk meskipun besoknya aku berangkat kerja dengan mata merem setengah,

Untuk pembagian porsi dialog antar tokoh pun adil, dan tidak melupakan dialog dari masing-masing tokoh yang memiliki ciri khas. Seperti yang kubilang, tokoh kesukaanku di sini Estelle. Salah satunya karena dialognya yang selalu adem, penuh simpati, dan kadang puitis.

Banyak sekali dialog maupun kalimat di narasi yang quotable di sini, btw.

E. Gaya Bahasa

Satu hal lagi kelebihan Pacc Backman yang menjadikannya penulis superior adalah gaya bahasanya. Kita sudah membicarakan bahwa belio ini Anti-Tere Tell Liye, alias tidak pernah berlebihan menggunakan teknik Tell. Namun, bukan berarti belio selalu hanya menggunakan teknik Show yang berpotensi bikin pembaca bosan.

Pacc Backman sepertinya sudah ahli dalam menyeimbangkan kedua teknik itu. Ciri khas belio yang lain juga selalu menyisipkan masa lalu para tokohnya untuk membuat pembaca mengerti personality mereka. Tapi eh tetapi, cara belio melakukan transisi sangat profesional. Tidak pakai bintang tiga, tidak perlu cetak miring, tidak perlu keterangan 'beberapa tahun lalu ....'

Transisi antar masa lalu dan masa kini yang sangat halus, tapi anehnya tidak membingungkan. Kita tahu kapan alur menceritakan masa lalu, dan kapan kembali seperti semula. Sejago itulah dia!

F. Penilaian

Cover : 3

Plot : 4

Penokohan : 4

Dialog : 4

Gaya Bahasa : 4,5

Total : 4 Bintang

G. Penutup

Apa kubilang ... novel karya Fredrik Backman mustahil mengecewakan. Satu lagi masterpiece dari penulis amejing! Novel ini semakin membuktikan bahwa Pacc Backman bukan cuma penulis yang hebat, tapi juga konsisten, dan selalu memiliki ide yang segar.

Hmm ... kalau dilihat-lihat aku tidak menulis kekurangan novel ini sama sekali. Well, kalau tidak ada, apa yang mau ditulis, 'kan? HA-HA-HA-HA-HA!!!

Aku merekomendasikan novel ini pada kalian PASTINYA!

Sekian dulu review Non-Julid kali ini.

Sampai jumpa di review yang lain ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)