Peony's World


Judul : Peony's World

Penulis : Kezia Evi Wiadji

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

ISBN : 9786023949069

Tebal : 236 Halaman

Blurb :


"Mimpi buruk akan tertahan dan hilang seiring munculnya sinar fajar pertama. Sedangkan mimpi baik akan lolos melalui lubang di tengah-tengah lingkaran."

Sejak kecil, Peony memiliki “bakat istimewa” yang membuatnya mampu menginjak di dua dunia, dunia nyata dan dunia ciptaannya. Bakat istimewa yang awalnya menimbulkan kesulitan ini, lambat laun membuat hidup Peony lebih berwarna.

Jovan, laki-laki yang membuat hidup Peony bukan hanya berwarna, tetapi terasa sempurna. Hingga sebuah kecelakaan maut merenggut Jovan dari sisinya.

Secara mengejutkan, Jovan muncul di dunia ciptaan Peony. Sejak saat itu, hidup Peony tak lagi sama. Keberadaan Jovan di dunia ciptaannya menuntun Peony ke sebuah buku tua, kisah keramat, dan sosok mengerikan yang mengincar nyawanya. Mengetahui hal itu, Jovan mati-matian melindungi, bahkan rela terpenjara di dunia ciptaan Peony hanya untuk menyelamatkan gadis itu.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Another Ipusnas Gem

Setelah beberapa kali dibuat merana oleh novel-novel keluaran Watpat, aku memutuskan untuk rehat sejenak dengan berjalan-jalan di Ipusnas. Mencari dan meminjam beberapa buku fantasi yang memiliki sampul bagus serta blurb menarik. Perburuanku hari itu menghasilkan lima novel, salah satunya adalah Peony’s World ini. Sampul novel sangat menarik, meskipun bukan benar-benar seleraku, dilihat dari ilustrasi bergaya anime-nya. Ditambah lagi vibe latar belakang yang kurang “fantasi”, dan malah terkesan kurang niat.

Kalau mau jujur, blurb yang disajikan pun terlalu membocorkan keseluruhan isi buku. Seolah-olah kita tidak diberi ekspektasi apa pun lagi untuk membaca novel ini, sebab semuanya sudah tersedia di blurb. “Loh, jadi bagian mananya dari buku ini yang memikat elu, dong!” Aku dengar kalian berkeluh-kesah. Aku pun akan menjawab. Entahlah ... I have a good feeling about this book.

Apa lagi novel ini menjanjikan dunia lain, serta berjalan-jalan ke alam mimpi. Dua hal itu termasuk ke dalam unsur-unsur cerita yang paling aku suka, jadi tanpa berpikir seribu kali pun aku masukkannya ke daftar pinjam. Rasanya buku ini juga tidak terlalu dikenal banyak orang, aku tidak pernah mendengar atau melihat promosinya, atau desas-desusnya sama sekali. Mungkin saja ini bisa jadi rekomendasi untuk kalian, bukan?

Baiklah, mari langsung kita menuju Plot, alias spoiler!

B. Plot

Sebelum memulai, izinkanlah aku mengajukan sebuah pertanyaan. Orang tua bangsa mana yang benar-benar memberi nama anaknya Peony?

Saking keponya, aku pun melakukan pencarian terhadap nama itu, dan ternyata diambil dari bunga yang sangat cantik. Bahasa Indonesia untuk jenis bunga itu adalah ‘Botan’. Jadi ... aku paham kenapa penulis lebih ingin menggunakan nama asingnya. Tapi tetap saja! Awalnya aku bingung bagaimana pelafalan nama ini anak. Apakah Pi-ye-ni seperti pelafalan bahasa inggris, atau Pe-o-ni seperti pelafalan bahasa Indonesia? Semakin jauh membaca, ternyata menggunakan pelafalan Indonesia, karena panggilan pendek anak ini adalah ‘Ony’.

KENAPA MALAH MEMBAHAS ITU!

Tokoh utama kita (Peony) adalah seorang anak perempuan istimewa dari keluarga istimewa. Dia bisa menciptakan dunia sendiri, bahkan bisa mengajak orang lain ikut serta. Sejauh ini, orang-orang yang mengetahui kekuatan tersebut hanya ibu dan sahabatnya (Lola). Oh, mereka berdua ini (Peony dan Lola) benar-benar gambaran persahabatan yang tulus. Saling dukung, saling banttu, dan selalu bersama dalam susah dan senang. Aku suka interaksi mereka sepanjang buku.

Kehidupan Peony awalnya “normal”, kekuatannya digunakan untuk sekadar bersenang-senang, dia punya keluarga bahagia, teman yang setia, dia juga punya pacar bernama Jovan. Akan tetapi, kita semua tahu apa jadinya jika kehidupan protagonis terlalu “normal”. Suatu hari, Peony, Jovan, Lola, dan Justin (Pacar Lola), pergi ke puncak, lalu BOOM! Mereka kecelakaan, dan Jovan pun meninggal (bruuhh)

Maksudku, ini baru 40 halaman! Aku bahkan belum mengenal Jovan terlalu jauh untuk bisa sedih dengan kepergiannya! Namun, ternyata tokoh Jovan tidak pergi begitu saja. Rohnya tiba-tiba muncul di dunia Peony. Awalnya Peony pikir Jovan ada di dalam dunianya akibat dia yang belum bisa mengikhlaskan, tapi ternyata Jovan memiliki tugas sendiri di dunia itu, yaitu melindungi Peony dari sosok berkerudung hitam yang menyeramkan.

Jujur saja, alur cerita berjalan lambat di beberapa bagian. Penggambaran kesedihan Peony yang terlalu lama, rencana penyerangan yang juga memakan banyak waktu, juga pencarian clue tentang si makhluk kerudung misterius yang rasanya kebanyakan. Semua itu memang penting, dan jujur aku menikmati setiap alurnya, tapi aku juga kecewa kenapa kita tidak diajak fokus ke hal-hal lain lagi. Misalnya apa rencana si makhluk kerudung demi mempertahankan dirinya, atau bahkan sudut pandang dari keluarga Jovan yang pengin banget aku tahu!  

Sedihnya lagi penggambaran “dunia lain” dalam buku ini tidak terlalu rinci. Buku ini memang tiak fokus pada bagian World Building, tapi aku berharap penulis bisa menjabarkan dunia Peony, dunia Lisa dan Luci, dengan lebih rinci lagi. Kadang penjabaran dunia mereka hanya “Indah sekali!” atau “Keren sekali!” atau “Mengerikan sekali!”

Ya tapi kerennya bagaimana? Indahnya bagaimana? Mengerikannya bagaimana?

Di sisi lain, aku suka dengan cara buku ini mengikutsertakan orang-orang dewasa ke dalam petualangan anak-anaknya. Biasanya di novel-novel fantasi begini, anak-anak pada berjuang melawan kematian. Eh, emak sama bapaknya malah asik aje ke luar negeri. Buku ini juga memberiku Major Middle Grade Vibe, padahal tokoh-tokoh di sini berusia sekitar 15 sampai 20 tahun. Makanya aku berpura-pura mereka masih 13 tahunan, dialognya pun mendukung kepura-puraanku! Yaass!

Intinya sih, aku ingin mencintai novel ini dengan sepenuh hati, tapi ada beberapa poin yang membuatku tidak bisa mencintainya sepenuh hati. Mungkin separuh hati bisa. Aku kurang suka ending-nya, tidak suka tiba-tiba ada kembaran, aku kurang suka latar belakang yang diceritakan lewat flashback. Tapi untuk keseluruhan plot, dan bagaimana cara buku ini terus membuatku scrolling halaman tanpa mau berhenti, membuatku dilema setengah pingsan.

C. Penokohan

Peony. Dia ini tipikal basic next door gorl. Dia baik pada teman-temannya, berbakti pada orang tua, tidak pernah membuat hal-hal aneh, tidak pandai matematika dan fisika (seperti kita semua). Memiliki rasa takut, tapi tidak terlalu penakut. Berani, tapi tidak seperti pendekar. Ya, kalau kita singkirkan bakat istimewanya, Peony ini adalah anak perempuan biasa dengan kehidupan normal. Aku suka Peony, tapi harus kuakui karakternya terlalu hambar, dan mudah dilupakan.

Sandra. Ibu Peony. Great mom by the way! Dia tidak hanya memedulikan sang anak, tapi juga orang lain. Caranya menangani setiap masalah juga dewasa dan bijak, seperti seharusnya seorang ibu. Pengertian, tapi juga tidak terlalu memaksa.

Lola. Penokohan seperti Lola-lah yang membuatku percaya kalau sahabat sejati itu benar-benar ada. Selain pengertian, Lola juga selalu ada saat Peony butuh. Dia tahu bagaimana cara membuat sahabatnya merasa lebih baik, dan tidak pernah membiarkannya sedih sendirian. Love her.

Jovan. Charming and funny. Ya, dia memang meninggal terlalu cepat, tapi dia tidak pernah meninggalkan Peony begitu saja. Sebagai malaikat penjaga, Jovan menjalankan tugasnya dengan baik. Meskipun aku rada tidak bisa masuk ke dalam chemistry mereka, menginat mereka baru pacaran selama sebulan. Tapi ... kita pura-pura saja kalau mereka sudah pacaran 10 tahun!

Lisafera dan Lucifera. Mereka adalah kunci! Penggambaran baik dan jahat, hitam dan putih, atau apa pun lah itu. Yah, dari nama mereka saja kalian sudah bisa menebak siapa yang jahat. Who in the world named their kid LUCIFERa?

Justin. Tokoh tambahan yang membuat rombongan lebih berwarna. Dia berperan besar dalam memecahkan cara menghancurkan si makhluk kerudung lewat internet. Setiap ada sesuatu yang harus dicari, Justin sudah siap dengan internetnya. Mungkin dia punya paling banyak kuota.

D. Dialog

Novel ini dibuka dengan dialog, dan berhasil membuatku jatuh cinta. Natural dan asik tanpa menjadi filler. Dari dialog pada BAB 1 saja pembaca sudah bisa mengerti bahwa Lola dan Peony adalah sahabat sejati. Setiap tokoh juga memiliki vibe yang cukup berbeda, mungkin pengecualian untuk Justin dan Jovan yang kalau dialog mereka disejajarkan akan sulit dibedakan.

Interaksi antara Peony dan Jovan juga manis dan lucu. Itu sebabnya aku menganggap ini novel Middle Grade di awal, karena mereka berdua UwU (in a good way). Dialog novel ini juga santai dan seringnya menggunakan kata baku, tapi tetap menurut pada PUEBI. Ini membuktikan teoriku bahwa bahasa santai, tidak harus melenceng dari PUEBI.

Kalau yang sengaja melenceng sih, emang males aje kali tuh belajar PUEBI, ups! (Aku kedengaran seperti PUEBInatzi!)

Namun, bukan berarti tidak ada filler pada dialog novel ini. Aku bahkan skip-skip-skip beberapa halaman, tidak banyak, mungkin satu atau dua. Dan setiap aku skip dialog filler, itu pasti dialog UwU antara Lola dan Justin. Hey, aku suka interaksi lucu mereka, tapi kalau terlalu banyak sampai menghabiskan dua halaman, rasanya itu too much.

E. Gaya Bahasa

Menurutku, gaya bahasa novel ini terasa seperti gabungan antara terjemahan dan lokal. Susunan kalimatnya lugas, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Mungkin karena sudut pandang yang digunakan adalah Pov3 serba tahu, dan setiap novel terjemahan yang aku suka pasti menggunakan Pov tersebut. Alur yang cepat juga berhasil membuatku susah berhenti membaca padahal ada banyak kerjaan menanti (jangan ditiru!)

Satu hal yang tidak aku suka dari gaya bahasa novel ini adalah minimnya deskripsi. Seperti yang kubilang pada sesi Plot, Dunia Lain-nya tidak tergambarkan dengan jelas. Latar waktu dan tempat juga kadang sangat membingungkan, tapi untungnya semua itu tertutup dengan faktor lain yang bagus-bagus.

F. Penilaian

Cover : 3

Plot : 3

Penokohan : 3

Dialog : 3,5

Gaya Bahasa : 3

Total : 3,1

G. Penutup

Satu lagi novel fantasi lokal yang memuaskan hasratku! (kok kedengaran aneh ....)

Meskipun buku ini memiliki beberapa lubang, tapi lubang-lubang itu untungnya sangat kecil sehingga bisa diabaikan dengan mudah. Dialog serta interaksi antar tokoh juga berpengaruh besar dalam hidup atau tidaknya sebuah kisah. Dua faktor itu terbilang sangat bagus dalam novel ini, jadi aku semakin cinta saja.

Oh, aku harus sering-sering berkeliling Ipusnas supaya bisa dapat buku-buku yang lebih bagus lagi! Intinya sih, jangan sampai kemakan gimik serta marketing penerbit Fantasious! Mereka jagonya menarik kita ke lubang terdalam Fantasi Watpat yang aduhai brekelenya.

Nah, sekian dulu review dariku! Sampai jumpa di hari lain ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman