Matahari Biru (Legenda Ksatria Cahaya #2)


Judul : Matahari Biru (Legenda Ksatria Cahaya #2)

Penulis : Andry Chang

Penerbit : Rafferty Publisher

ISBN : 9786026588128

Tebal : 305 Halaman

Blurb :


Elang Merah terbang ke Matahari Biru. Fantasi epik penentu zaman dan masa depan Terra Everna berlanjut.

Perjalanan Robert, Cristophe dan kawan-kawan makin dekat ke sumber rentetan teror yang melanda Everna.

Bentuk sumber itu ternyata adalah sebuah pedang iblis sakti yang disegel dalam matahari biru, karena dirasuki roh iblis digdaya bernama Vordac, Penguasa Mutlak Kegelapan.

Para pahlawan berkumpul di Kuil Suci Enia. Tugas mereka mencegah para agen kegelapan membuka segel, mencetuskan lagi Zaman Kegelapan di Terra Everna.

Berjuanglah, Ksatria Cahaya! Demi Everna!
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Sequel Aduhai

Setelah satu sabit dan satu purnama (gak tau juga maksudnya apa) akhirnya aku kembali dengan sebuah review dari Series Bertuah yang selama ini kita tunggu-tunggu. Apa lagi kalau bukan, Serial Bumi! Tapi boong ... tentu saja seri Legenda Ksatria Cahaya, Emilio!

Perlu kalian tahu alasan dari betapa lamanya aku menghabiskan novel ini. Bukan karena novel ini tidak seru atau sibuk, melainkan aku terkena infeksi bakteri selama hampir SEBULAN! Aku tidak nafsu makan, tidak nafsu minum, tidak nafsu tidur, tidak bisa bangun dari ranjang! Literally penyiksaan non stop!!!

Baiklah ... penderitaan itu sudah berlalu, sekarang saatnya kembali ke bisness. Seri kedua dari Legenda Ksatria Cahaya menurutku pribadi tidak ada perubahan dari segi sampul. Dalam artian aku kurang suka. Maksudku, ilustrasi anime style-nya menakjubkan, dan kalian tahu aku selalu suka sampul buku yang menyertakan ilustrasi tokoh. Akan tetapi, lagi-lagi latar belakangnya tidak eye-catching. Tekstur yang dipilih kurang sesuai dengan nuansa keseluruhan sampul.

Walaupun, kalau dilihat latar belakang itu memang cocok dengan sub-judul Matahari Biru. Aku membayangkan sampul lain yang lebih simple tapi epik. O-ho-ho ... tapi tentu saja sampul itu hanya akan ada di dalam pikiranku karena aku BUKAN SENIMAN SAMPUL!!!

Baiklah, tanpa berbasa-basi lebih banyak mari kita review novel ini, dan lihat apakah Robert si Marry Sue brekele masih akan menyiksaku di Matahari Biru.

B. Plot

Setelah Tim BuBadiBaKo kita (Rob, Chris, Carol, dan Pacc Paolo) kabur dari Grad, mereka pun berencana untuk mencari Kasut Mithril yang dicuri. Pacc Paolo menyarankan mereka pergi ke kota Freidle, lantaran si Bapacc memiliki teman yang cukup berpengaruh di sana, dan mungkin bisa membantu mereka mencari kasut. Kenapa kasut itu sangat penting? Aku dengar kalian bertanya. Well ... semua benda yang ada Mithril-mithrilnya itu sangat sakti mandraguna, jikalau jatuh ke tangan yang salah, bisa berbahaya. Klasik ....

Namun, di tengah jalan mereka malah dihadang monster (tentu saja), dan berkat ketemu monster itu mereka jadi kenalan sama pewaris sesungguhnya dari Kasut Mithril. Seorang Om-om genit bernama Hernan. Sudah kubilang kalau sekelompok Marry Sue lagi jalan-jalan, pasti ada aja yang enak-enak. Nah, selain Om Hernan, mereka juga bertemu kawan lama dari Lore. Tak lain dan tak bukan yaitu seorang/seekor Elf bernama Ney.

Makcik Ney ternyata ditugaskan Penasehat Rael (yang ganteng itu loooh) untuk membawa Hernan, dan memberinya amplop merah yang berarti sebuah misi rahasia dan sangat penting. Ternyata eh ternyata, Ney juga bilang kalau Rob DKK bakal mendapatkan surat tersebut. Ney menyuruh Rob DKK menunggu sepucuk surat merah yang nantinya diantar oleh seorang pemandu. Ingat itu ... nantinya akan jadi poin penting tentang betapa brekelenya jalan pikir Tim BuBaDiBaKo kita.

Maka Chris pun berkata kepada kita dengan dramatis bahwa mungkin sesuatu yang BESARRR akan menghampiri mereka semua. NOT THIS AGAIN!!! Sudah puas aku dikibulin orang-orang seri pertama tentang petualangan besarrr yang kenyataannya brekele! Aku tidak mau itu terulang lagi! Tidak mau!!! Tidak mau!!! (digampar king-kong).

Singkat cerita di Freidle, Pacc Paolo menemui temannya (Sir Heinrich) yang berjanji akan membantu. Sayangnya, bantuan mungkin akan memakan waktu cukup lama, karena pencuri kasut itu sangat pro. Ada satu adegan Chris yang bikin aku menganga lebar. Yaitu saat dia disuruh jaga di apartemen kalau-kalau ada surat dari Sir Heinrich. Eh, si brekele ini malah pergi dari posnya sambil bilang, "Mustahil Sir Heinrich mengirim surat di jam sibuk begini." .... .... .... Darling, logikanya orang mengirim surat ya di jam sibuk!!!

Oke ... oke ... santai dulu, ini belum bagian serunya. Akhirnya, surat merah pun datang. Kalian mungkin berpikir Robert DKK akan senang, lantas semangat '45 menjalankan misi dari surat merah tersebut. Nyatanya, mereka malah MENCURIGAI SURAT ITU! (elus-elus bokong) Gini ya Robert DKK ... Pan Ney sendiri yang bilang kalau bakal ada surat merah berisi misi penting dan rahasia. NEY sendiri yang bilang! Ney si Elf suci, agung, cantik, jujur, dll, dll itu!!! Kenapa juga elu kudu curiga!!!

Kejanggalan tidak berhenti di situ. Kalian ingat kalau Chris meinggalkan pos? Dia melakukan itu untuk menyelidiki sendiri Kasut Mithril ini. Ada sedikit adegan bar, dunia gelap kota Fraidle, taruhan, tipu-tipu yang cukup seru, I enjoy it. Sampai akhirnya Chris dapat informasi dari seorang ....... GEMBEL!

Maksudku, kenapa Chris langsung percaya dengan apa yang si gembel ucapkan tanpa ada curiga sedikit pun, atau minimal ragu. Apa lagi gembel itu tidak memberi jaminan apa-apa, atau bukti apa pun kalau dia tahu hal-hal semacam itu. Dia cuma gembel random di tengah jalan yang tiba-tiba menawarkan bertukar duit dengan informasi Kasut Mithril, tapi untuk beberapa alasan informasi dari si gembel 'sangat berguna dan terpercaya'. Weird ....

Singkat cerita, Chris ingin mencari Kasut di hutan Yggdrasil (ini bacanye gimana si?) sementara Robert ingin menunggu pemandu seperti yang diperintahkan dalam surat merah. Adegan pertengkaran pun terjadi, sampai Chris memutuskan untuk kabur mencari Kasut sendirian akibat sudah tidak tahan menunggu lebih lama untuk kedatangan si pemandu. Keesokan harinya, si pemandu datang (bruuh).

Sebagai wujud setia kawan, Robert DKK plus pemandu (Keith) memutuskan untuk menyusul Chris terlebih dahulu. Ke Hutan Yggdrasil, lebih tepatnya ke rumah sesepuh hutan bernama Palmural. Fiuh, aku tahu ini termasuk Epic Fantasy, tapi aku hampir tidak bisa keep up dengan tokoh-tokoh di sini.

Rumah Palmural rupanya tengah diserang oleh segerombol Centaurs (manusia setengah kuda), padahal Centaurs terkenal kalem dan sucieh dan cinta damai. Palmural pun teriak dari rumahnya kalau para Centaurs itu lagi kena sihir gelap, jadi tidak perlu diserang balik sebab mereka juga dalam keadaan tidak sadar. Akhirnya Palmural menyadarkan mereka dengan sihir kebaikan.

Tapi kalian tahu apa yang dilakukan Robert kita tercinta setelah para Centaurs disadarkan? Dia ancam salah satu Centaurs pake pedangnya sambil bilang, "Katakan apa alasan kalian menyerang Palmural! Kalau tidacc, aku bacok lhooo!" (pijet pelipis) Robeeerrrtt cintakuuu, kan tadi Palmural sendiri yang bilang kalau mereka terkena sihir gelap. Para Centaurs itu juga lagi kebingungan, Zeyenk! Aku benar-benar nggak paham deh sama si Robert, udah nyerah!

Singkat cerita lagi, Chris ternyata ditipu oleh si gembel yang ternyata pihak kegelapan. Ya iyalah! Gembel lu percaya! Dan akhirnya dia diselamatkan oleh Robert Dkk. Adegannya bisa dibilang cukup dramatis, ada beberapa pengorbanan yang membuatku menitikkan air liur, maksudku mata. Eh, abis itu malah ngakak lagi saking aduhainya ritme cerita yang penulis sajikan. Yah, bisa kalian baca sendiri kalau beli bukunya.

Dengan bersatunya mereka kembali, plus anggota baru bernama Iris, dan dia seorang Elf murni. Another perks to be a group of Marry Sues. Barulah mereka bisa mengerjakan misi dari surat merah tersebut. AKHIRNYA GUSTI!!! Misi surat merah itu sih penting buanget. Raja Kegelapan (Vordac) mungkin akan bangkit kembali, Kuil Enia dalam bahaya. Itu sebabnya para pejuang yang mendapat surat merah di harapkan untuk bersatu, dan mencegah lahirnya kebangkitan kegelapan. Gitu deh kira-kira isi suratnya.

Banyak kekhawatiran terjadi, sebab bukan hanya pahlawan, para penjahat pun ingin ikut meramaikan misi tersebut demi kepentingan masing-masing. Aku pun lagi-lagi merasa janggal. Kalau surat merah itu hanya dikirim pada para pahlawan, dan sangat rahasia sampai tulisannya juga pakai tinta sihir. Kenapa para penjahat juga bisa tau? Apa para pahlawan yang dapat surat merah ini mulutnya pada kaleng rombeng macam tetangga kampoeng?

(Reka ulang di kepala Impy)

"Eh, Jeng! Aku dapet surat merah dari Penasehat Lore, nich!"

"IIIII, isinya apa, Sist?"

"Gatau nich ... tentang Vordac dan kegelapan gituh. Katanya Kuil Enia dalam bahaya. Aku juga gak paham sihhh."

"Coba kita tanya Ses Esmeralda. Mungkin dia paham!"


Bukan ... bukan begitu ternyata. Kata Iris sih, kemungkinan salah satu dari pahlawan itu ada yang berkhianat. Meskipun sekali lagi ... bukankah seharusnya sihir bisa tahu mana yang pahlawan berhati murni, dan mana yang pengkhianat? Adooohh! Pasti ini bisa disangkal dengan sihir juga! Aku harus berhenti berburuk sangka dan mulai masuk ke cerita!

Robert DKK pun pergi mencari Kuil Enia yang suci dan tersembunyi, dan ternyata bisa ditempuh dengan jalan kaki sebentar tanpa halangan dan rintangan apa pun ToT. Untungnya mereka punya Iris sebagai Elf, karena kuil hanya bisa terbuka oleh bangsa Elf atau Thyrine. Untung ada Iris! (muter bola mata). Sebelum masuk kuil, Robert DKK bicara tentang kepercayaan dan pengkhianatan. Mereka sadar bahwa mulai dari sini dan seterusnya, tidak ada orang yang bisa dipercaya, termasuk dari anggota mereka sendiri.

I'm like ... helooooo!!! Dari kelompok lain sih mungkin ada kecurigaan dan pengkhianatan, tapi dari kelompok kalian? Bukankah kalian udah seperti "keluarga", saling melindungi, saling percaya, kesetiaan, pengabdian, gono-gini? Satu-satunya anggota yang masuk akal kalian curigai mungkin si Iris! Tapi dia jelas-jelas bangsa Elf murni yang katanya ras suci, jujur, agung, sakti, dst, dst! Ini sudah berkali-kali aku katakan, tapi aku sudah menyerah sama logika novel ini!

Sebenarnya, aku pun ingin memperingatkan kalian bahwa banyak sekali hal-hal janggal lain selama mereka masuk ke Kuil Enia. Dari mulai kemunculan dan kepergian tokoh yang terlalu cepat, kebetulan tiba-tiba berkah, penjelasan tidak masuk akal, adegan-adegan yang seharusnya tidak kocak tapi malah kocak, juga keputusan-keputusan aneh yang dibuat tokoh-tokohnya. Kalau semua keluhan itu aku tulis, mungkin review ini akan jadi sepanjang jalan kenangan. Aku benar-benar membuat lebih dari seratus catatan saking banyaknya kejanggalan tersebut.

Namun, aku bisa bilang kalau “PETUALANGAN BESARRR” yang dijanjikan penulis bisa lebih terpenuhi di sini. Banyak adegan pertarungan, melawan monster, teka-teki, juga kerja sama yang membuatku menikmati kisah ini lebih dari seri pertama. Hingga semua itu dikacaukan dengan dialog aduhai khas RPG, dan keputusan serta jalan pikir tokoh-tokohnya yang alakazam. Kalau aku ada di situ bersama mereka, mungkin aku akan loncat ke rawa-rawa daripada tersiksa mendengarkan segala pendapat, atau percakapan, atau keputusan mereka yang membuat kepala migrain 7 hari 7 malem.

C. Penokohan

Aku sudah mengatakan kalau ini novel berjenis Epic Fantasy. Jadi ada banyak tokoh dengan berbagai ras yang mungkin tidak bisa kusebutkan semua. Aku hanya akan menyebutkan perkembangan karakter dari Tim BuBaDiBaKo kita, dan juga beberapa tokoh baru yang paling berpengaruh.

Robert. Haruskah aku bahas lagi Marry Sue kesayangan kita ini? Robert di sini tidak berubah. Embel-embelnya tetap, dingin, ketus, dan gantenk. Aku bisa saja jatuh cintrong pada Robert, mengingat aku selalu suka karakter berambut putih. Namun, Robert itu terlalu menyebalkan untuk disukai! Setiap kali dia berdialog atau membuat keputusan pasti membuatku kesal.

Katakanlah aku sentimen, tapi bodo amat! Belum lagi cara semua orang memujinya, padahal banyak orang lain yang lebih berperan daripada dia. Banyak yang lebih hebat, kenapa harus selalu Robert yang dipuji? Bukankah itu hal paling Marry Sue yang pernah kalian lihat di dunia?

Chris. Jujur saja, novel kedua ini membuat rasa sukaku pada Chris berkurang drastis. Di sini dia lebih bodoh, lebih konyol (in a bad way), lebih gegabah, dan parahnya tokoh-tokoh lain juga tidak pernah mengharapkan lebih dari Chris. Kesannya, semua tokoh di sini berpikir "Ya, Chris emang bodoh, jadi maklum aje!" tiap kali Chris melakukan segala hal. Alih-alih, pengembangan karakter, Chris malah mengalami penurunan karakter. Kadang aku mikir penulis mengkambing-hitamkan Chris supaya Robert kelihatan lebih hebat dan bakal dicintai pembaca. He failed miserably!

Carol. Dari segi pertarungan, aku suka Carol di sini. Dia tidak lagi jadi anak bawang di grup, dan memiliki andil besar dalam kerja sama kelompok. Akan tetapi, sikap bucinnya ke Robert benar-benar membuatku eneg! Dia selalu tersipu-sipu setiap Robert bersikap alami sebagai pemimpin (pemimpin yang buruk kalau boleh kutambahkan). Dia juga selalu memuji betapa Robert sangat dingin tapi tamvan, tapi mengintimidasi, tapi perhatian. Oh god ... Ini pasti karena kebencianku pada Robert, aku tidak akan menyalahkanmu, Carol.

Pacc Paolo. Sekali lagi, aku suka andil Pacc Paolo dalam pertarungan di sini. Namun, lagi-lagi beberapa pemikiran dan keputusan yang diambil Pacc Paolo kadang membuatku ingin menempelengnya (Astagfirullah, Impy! Dia orang tua!) Ada satu adegan di mana Paolo bertarung bersama pendekar asing.

Si Bapacc pun menyembuhkan mereka, tapi si pendekar asing ini bertingkah aneh, dan tiba-tiba si bapacc mikir. “Hmm, nampaknya mereka menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa itu? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi dari kaki pendekar yang pincang itu?” Gini ya Pacc ... MIND YO OWN BUSINESS!!! Ya, aku tahu kalau penulis ingin membuat foreshadow tentang sesuatu, tapi cara ini jelas brekele sekali. Terlalu terang-terangan, terlalu cepat, dan rasanya pemikiran itu tidak cukup masuk akal untuk pertemuan pertama mereka!

Iris. Rasanya tokoh ini hadir supaya Chris punya Love Interest, dan juga supaya perjalanan Tim BuBaDiBaKo kita jadi lebih mudah dan efisien. Karena Elf adalah ras suci dan bisa segalanya. Tentu saja Robert DKK butuh satu anggota Elf untuk memperkuat Tim Marry Sue mereka.

Hernan. Aneh rasanya, I kinda like this Om-om genit. Maksudnya, aku selalu menunggu adegan yang ada dianya. Meskipun dialog-dialognya tetap ala RPG cringe, aku cukup menyukai dialog-dialog Om Hernan.

Kyflyn dan kroco. Elf malam yang kupikir sifatnya rada SUS, ternyata tidak terlalu.

Alexis. Pangeran Arcadia, yang dulu sempet gelud sama Robert. I don’t know ... dia jadi rada lembek di sini. Pamornya tidak terlalu seram atau kejam seperti yang digembar-gemborkan buku pertama.

Monster-monster keren yang namanya tidak akan bisa kuingat

D. Dialog

Tanggapanku tentang dialog dalam novel ini masih sama. Bukan seleraku. Dialog semodel RPG yang menurutku cringe. Namun, selain masalah selera, dialog di sini cukup menggambarkan kepribadian masing-masing tokoh. Karena di sini jarang ada tarung satu lawan satu, dialog brekele sahut-sahutan jurus pun jarang terjadi, dan aku sangat bersyukur karenanya!

Namun, ada satu adegan yang membuatku mengeluarkan bunyi Pfftttt dari mulut. Yaitu saat Robert berpikir bahwa Kyflyn si Elf Malam terlalu berlebihan dalam memperkenalkan diri. Honey ... SEMUA ORANG di dunia kalian memperkenalkan diri secara berlebihan! Jadi jangan melempar kotoran ke wajah Kyflyn yang malang itu!

E. Gaya Bahasa

Gaya bahasa novel ini secara keseluruhan masih sama dengan yang sebelumnya. Lugas, tapi khas fantasi. Hanya saja, ada kekurangan dari bagian kepenulisan. Banyak sekali typo di sini sampai aku sendiri kaget kenapa bisa ada sebanyak ini. Mungkin novel yang aku punya versi non-edit atau editan pertama, jadi editornya belum terlalu jeli dengan hal-hal kecil seperti typo.

Kemudian, tidak menggunakan kapital pada panggilan langsung. Beberapa kali penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Kedengaran sepele, tapi sebagai editor lepas aku sangat geregetan melihat yang begituan. Sebenarnya ini sangat mengherankan, dan aku berharap cetakan atau versi terbarunya direvisi lebih baik lagi untuk mengurangi hal-hal semacam typo. Jujur saja, typo-typo itu sangat mengganggu.

F. Penilaian

Cover : 2

Plot : 3

Penokohan : 1,5

Dialog : 1,5

Gaya Bahasa : 2

Total : 2 Bintang  

G. Penutup

What a long journey! Aku membaca novel ini selama hampir dua bulan. Lebih karena infeksi bakteri yang aku ceritakan itu! Kesimpulan dari Matahari Biru, pembawaan cerita serta interaksi tokohnya lebih baik daripada Elang Merah. Ada beberapa BAB yang aku baca fokus tanpa membuat catatan apa pun (kecuali mungkin typo). Kekurangan buku ini pun masih sama, menurutku novel ini gagal menjadi Epic dan malah membingungkan pembaca, apa lagi porsi kemunculan tokohnya yang cepat datang-cepat pergi.

Tentu saja dunia Everna itu teramat sangat luas, tidak mungkin pembaca bisa paham hanya dengan satu novel. Bahkan, penulis mengembangkan dunia ini selama puluhan tahun. Akan tetapi, aku tidak membicarakan Dunia Everna atau apa pun kejadian di dalamnya. Aku memberi review dari Dunia Everna serta event-eventnya dari yang disajikan dalam novel ini.

Tanpa konteks kalau Dunia Everna itu sangat luas dan kompleks, novel ini jelas tidak menjawab atau menjelaskan dengan tepat sasaran. Pasti ada kebingungan dari pikiran pembaca, itu sangat wajar untuk novel bergenre fantasi, dan itu yang membuatnya istimewa (eaa)

Untuk selanjutnya, tentu saja aku akan membaca seri berikut. Berharap kali ini Robert dan Chris tidak membuat hati dongkol, serta kepala mau meledak dengan tingkah-laku mereka yang aduhai.

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Komen-komenku saat Membaca

Chris tak mampu menahan diri lagi. Ia menggebrak meja dengan keras sambil berteriak, “Aku sudah bayar mahal untuk informasi ini, tapi kalian malah menganggapnya angin lalu? Menyebalkan! Aku sudah muak dengan kalian!” Ia berbalik dan beranjak pergi.
(Elu bayar mahal ke GEMBEL! Siapa yang mau percaya ama gembel!!!)

“Aih, berarti kita tak sempat lagi memohon bala-bantuan dari Evanesta,” sahut Iris sambil berdecak kesal. “Terpaksa kita saja yang harus menghadapi Wysteria!”
(Sebenernya sih bisa aja kalo kalian bagi tugas! Ini mah sengaja di gabisa-gabisain!)

Luka-luka luar merapat, rasa sakit berangsur reda, membuat Chris bergerak lebih leluasa dan lebih siaga menghadapi situasi yang ada.
(Oh, aku rasa ini yang membuat pejuang-pejuang di sini lembek. Setiap ada penyakit atau luka, separah apa pun selalu disembuhkan dengan sihir.)

“Fufufu… Semua tawaran ini sungguh indah dan membahagiakan. Apa kau lupa kata-kataku tadi, Keith? Bagiku, tak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat kalian semua…mati!”
(Aku selalu pengen tahu, orang yang ketawa "fufufu" tuh begimana maksudnya, sih?)

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman