Zodiaque Academy


Judul : Zodiaque Academy

Penulis : Feylie Fey

Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 9786020458809

Tebal : 200 Halaman

Blurb :

Konon ada sebuah negeri yang membagi rakyatnya berdasarkan zodiak. Kepercayaan ini bermula dari adanya Guardians di masa lampau yang dipercaya telah melindungi rakyat negeri itu dari peperangan dengan Hybrid—ras setengah manusia setengah hewan. Guardians itu sendiri mendapat kekuatan dari zodiak. Tetapi walaupun zodiak total berjumlah dua belas, negeri itu hanya mengenal empat Guardians dari masing-masing elemen dasar zodiak.

Peperangan sudah lewat beratus-ratus tahun lamanya. Para Guardians juga sudah meninggal. Hanya tersisa empat kerajaan yang didirikan para Guardians—Fire Hearts Kingdom, Earth Dimonds Castle, Air Royale Empire, dan Water Jade Palace— dan sebuah ramalan. Ramalan itu mengatakan peperangan akan sekali lagi terjadi ketika Guardians muncul kembali. Tetapi ramalan itu tidak diketahui siapa pun kecuali orang-orang kerajaan.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Lagi-lagi Fantasi Watpat

Ipusnas kembali menawarkan beberapa novel berfaedah kepadaku. Zodiaque Academy adalah salah satunya, dengan sampul bagus dan embel-embel Zodiak yang bikin aku pinisirin akhirnya aku pinjamlah novel ini. Meskipun aku rada kurang suka dengan penulisan judulnya, kenapa harus Zodiaque dan bukannya Zodiac? Terkesan dilebay-lebaykan gitu, h3h3 ....

Sebentar ... sekarang aku malah bingung tulisan aslinya bagaimana! Terus, ada satu hal lagi yang mengganjal hati tentang buku ini begitu aku membaca komen pembaca lain.

Novel ini terbitan dari Watpat!!!

Tapi untungnya bukan lagi terbitan Fantasious atau Loveable. Mungkin saja ... mungkin! Kita tidak lagi depertemukan dengan novel semacam Noir atau Alaia, karena aku tidak sanggup lagi!

Seperti yang kubilang tadi, sampul novel ini sangat bagus, dan melambangkan dua belas zodiak, berserta bangunan istana yang mungkin ilustrasi akademinya. Mari langsung saja kita menuju review yang semoga tidak menyiksa jiwa nan raga.

B. Plot

Aku sudah menduga kalau buku ini akan memiliki vibe Harry Potter. Ayolah ... genre fantasi dengan tema sekolah, pasti mengambil referensi dari Harry Potter, tidak terbantahkan lagi! Kita punya sekolah, sihir, ramuan, hewan-hewan mitologi dan Hybrid, bahkan ada empat pembagian asrama yang berasal dari empat Guardian terdahulu.

Paling tidak, empat asrama di sini melambangkan empat elemen zodiak Air, Udara, Bumi, dan Api, ada perbedaan dikit lah. Tunggu dulu ... sekarang malah teringat Avatar The Legend of Aang! (bruuh)

Baiklah, apa lagi yang kita punya? Tokoh utama ‘Sang Terpilih’ yang mencurigai salah satu guru karena sikapnya yang dingin dan misterius. Ada juga tokoh tukang buli yang punya dua kroco. Ruangan dengan tangga-tangga ajaib, tinggal tunggu kedatangan kepala sekolah agung yang nantinya menjadi menthor untuk 'Sang Terpilih.

Oke ... oke ... tidak adil rasanya kalau kita terus membanding-bandingkan novel ini dengan Harry Potter, toh persamaan hanya pada konsep serta bangunan sekolah. Konflik dalam novel ini sendiri sangat banyak, karena fokus sudut pandang diambil dari orang-orang yang berbeda.

Pertama ada Flaine si Sang Terpilih yang katanya sih menjadi “kunci” perdamaian di dunia zodiak. Lalu ada Fiona, putri dari salah satu Guardian yang mengetahui bahwa keluarganya ternyata punya rahasia besar untuk kepentingan dunia zodiak. Kemudian ada Verein dan Aaron, mereka menyelidiki rasi bintang yang hilang, karena sebenarnya Guardian tuh bukan hanya empat, tapi ada dua belas melambangkan masing-masing zodiak di dunia.

Masalahnya, dari sekian banyak konflik menegangkan tersebut, penulis tidak berhasil menyusunnya dengan baik sehingga aku sebagai pembaca kebingungan, apa fokus utama yang menjadi kesimpulan semuanya!

Di awal bab kita disuguhi iblis-iblis dan hantu, yang membuatku berpikir itulah fokus utamanya sebelum menuju masalah lain. Selanjutnya kita malah dikasih info lagi kalau bangsa Hybrid akan menyerang manusia, padahal tugas bangsa Hybrid di sini jelas-jelas sebagai partner dan mereka damai-damai aja. Terus kita dikasih masalah lain kalau ternyata banyak rasi bintang yang hilang secara tiba-tiba. Belum selesai semua masalah itu, sekarang malah ada “Pemberontak” yang mengancam dunia Zodiak.

KITA HARUS FOKUS KE YANG MANA DOLO!!!

Katakanlah kalau itu memang niat penulis. Membuat berbagai macam konflik berbeda hingga akhirnya nanti akan menjadi satu penyelesaian konkret. Lantas kenapa ketika ada masalah-masalah baru, masalah lama dilupakan begitu saja seolah tidak pernah terjadi? Aku sudah curiga ketika menuju akhir novel, masalah di dunia zodiak malah bertambah dan bukannya langsung menuju penyelesaian, padahal novel ini tidak lebih tebal dari 200 halaman.

DIA MALAH BIKIN NOVELNYA BERSAMBUNG!

Secara teknis, satu novel ini memberikan konflik-konflik-konflik-konflik tanpa ada penyelesaian terlebih dahulu, dan main berhenti aja di tengah jalan! Bukan begitu cara kerja serial yang benar! Setidaknya selesaikan satu masalah sebelum mengakhiri buku, lalu lanjut ke buku lain untuk menyelesaikan masalah berikutnya! Aku pun tidak pernah lagi mendengar kabar tentang buku kedua novel ini. Ada atau tidak?

Wahai penerbit dan penulis di luar sana! TOLONG KONSISTEN! Kalau sudah tahu novel bersambung ... ya lanjutkan sampai tuntas! Jangan cuma menerbitkan satu buku yang jauh dari kata selesai, terus lepas tangan begitu saja meninggalkan para pembaca merana!

Untuk terjemahan juga begitu! Mana novel kelima dan keenam The School for Good and Evil? Kapan mau diterjemahkan!!! (Loh kok malah curcol di sini!)

Belum lagi World building dan sistem sekolah yang teramat sangat tidak matang dari novel ini. Maksudku, kalau mau mengambil referensi dari Harry Potter, jangan cuma diambil sekolah sihir dan ramuannya saja! Sistem sekolahnya bagaimana? Ujian kenaikan kelas bagaimana? Tugas per semester, per tengah semester bagaimana?

Dunia Zodiak ini juga tidak jelas sekali sistemnya. Mereka hidup berdasarkan zodiak, tapi tidak tahu kalau zodiak berasal dari rasi bintang! (terjun dari lantai lima). Selama ini kalian tahu dapat zodiak gono-gini dari mana, dong! Belum lagi pasal sihir yang tidak diterangkan. Siapa saja yang punya sihir, apa tingkatan sihirnya, apa perbedaan masing-masing elemen.Wah-wah-wah, pokoknya novel ini belum layak terbit.

Padahal kalau mau jujur, aku suka ide ceritanya. Aku suka kehidupan dengan sistem zodiak berserta segala perbedaannya kalau saja segala aspek lebih di perdalam lagi! Ini masih sangat mentah kalau boleh kubilang. Dengan bantuan editor, mungkin penulis bisa mengembangkan ceritanya menjadi lebih menakjubkan. Tambah porsi lembar bukunya, atau kalau ingin membuat seri bimbing terus sampai tamat, bukannya malah digantung begini!

Kejanggalan-kejanggalan lain dari novel ini yang membuat lobang idungku kembang-kempis adalah cara si penulis mempertemukan setiap tokohnya dengan tabrakan. (Pijat pelipis plus-plus)

Bayangkan! Di bab satu saja kita sudah diberikan TIGA ADEGAN TABRAKAN! Belum lagi di bab selanjutnya, kalau ditotal adegan tabrakan di sini mungkin ada seribu lebih. Enggak deng! Mungkin ada sekitar sepuluh! Sebanyak itu!!!

Awal tabrakan reaksiku memang, “Aw, cute ....”

Tabrakan kedua masih, “He-he ... silly gorl ....”

Yang ketiga aku mulai gondok.

Keempat kali, dadaku mulai kembang-kempis

Kali kelima, aku ngemil kamper kamar mandi! “Sekali lagi gua liat adegan tabrakan ....”

Giliran yang keenam aku pun lompat ke rawa-rawa terdekat!

Percayalah, novel ini sebenarnya memiliki potensi besar. Tapi kalau melihat eksekusinya, aku lebih memilih untuk mengubur buku ini di TPU terdekat. Hey, penulis, kalau bikin buku kedua plisss-plisss lakukan revisi ribuan kali. Ambil pembimbing naskah dan editor yang barokah untuk merealisasikan vision barokahmu itu.

C. Penokohan

Tokoh-tokoh di sini banyak, sayangnya mereka kurang tergali dan pada akhirnya tidak memiliki ciri khas. Ya, bagaimana mau punya ciri khas kalau porsi kemunculan mereka dibagi-bagi sebanyak itu, dan dalam durasi kurang dari 200 halaman!

Flaine. Harusnya menjadi tokoh utama. Sifatnya yang menonjol itu mungkin baik, dan tidak gampang takut. Dia keturunan Merfolk, alias Mermaid gitu (Major Alaia Flashback). Sebagai “Yang Terpilih” aku merasa peran Flain tidak terlalu banyak di sini.

Fiona. Putri dari kerajaan Air Spades, alias Guardian Elemen Udara. Sifatnya pemberani, dan digambarkan cantik beberapa kali, sangat mementingkan penampilan. Yah, aku sering ketukar antara Fiona dan Flaine kalau hal itu tidak selalu disebutkan, karena dialog serta sikap mereka tidak berbeda jauh.

Jake. Awalnya dia digambarkan dingin tapi sweet. Sayangnya ciri khas itu semakin pudar seiring cerita berjalan. Penokohannya jadi sama saja dengan tokoh laki-laki lain. Hambar.

Jayce. Kakak Fiona yang ternyata anak angkat. Ada satu adegan mirip Harry Potter yang aku pikir itu adalah Jayce (Taro bayi di depan pintu momen) Tapi versi ini teh si 'Bayi' udah remaja. Aku bingung ini benar Jayce atau bukan. Sebaiknya sih bukan, karena kalau benar, itu akan menjadi plot hole terbesar abad ini.

Verein. Satu-satunya yang membedakan dia dengan tokoh perempuan lain di sini cuma, dia seorang penari balet. Selebihnya, sama saja dengan Flaine dan Fiona. Bahkan kalian bisa sejajarkan dialog ketiga tokoh ini tanpa konteks, aku yakin kalian kebingungan siapa yang siapa.

Aaron. Ciri khasnya cuma memakai kaca mata. Tapi bagiku dia yang paling bisa dibedakan dari tokoh-tokoh lelaki lain. Yaitu pintar dan selalu mengeluarkan hipotesis-hipotesis brekele dari misteri yang sedang dia pecahkan.

Adrian dan Arianne. Kembar cowok-cewek, tapi yang lebih punya peran di sini si Arianne. Sikapnya periang, sementara si Adrian yang aku tangkap sih dia tipe Good Boy, karena selalu memperingatkan yang lain untuk menaati peraturan.

Leona dan dua Kroco. Literally Draco Malfoy dan dua kroconya. Dan tukang nabrak orang.

D. Dialog.

Lucu rasanya ... seaneh apa pun cerita novel ini, aku tetap bisa menikmatinya karena interaksi alami antar tokohnya. Yap, dialog-dialog di sini terkesan natural dan tidak membosankan. Aneh juga ... padahal ada beberapa yang terkesan filler, tapi karena penyampaian dan momen yang tepat, dialog filler itu malah jadi bumbu penyegar.

Aku paling suka saat Aaron menggombali Verein di perpustakaan. How smooth, Boi! Good job! Lalu adegan Flaine dan Jake di danau saat mereka mencari partner juga lucu. Bukan lucu yang bikin tertawa, tapi lucu yang ... aku tidak percaya akan mengatakan ini. Lucu yang UwU gitu. Harus kuakui kalau adegan itu UwU, dan itulah UwU yang masuk dalam standarku, Okhay!

Interaksi antar tokoh memang sepenting itu dalam kamus review-ku. Rasanya, tidak peduli cerita sebagus apa pun kalau interaksi tokohnya hambar dan kaku, aku tidak akan menyukainya, karena aku tidak memiliki simpati kepada mereka (lirik serial bumi). Sebaliknya, cerita brekele sekali pun, kalau interaksi tokohnya bagus, aku pasti bisa memaafkan kesalahan-kesalahan lain dalam novel tersebut.

E. Gaya Bahasa

Gaya bahasa novel ini standar, tidak bagus, tapi tidak terlampau jelek juga. Mungkin terlalu lugas dan singkat untuk ukuran fantasi. Di tambah World Building yang tidak terbangun dengan baik, rasanya aku tidak terlalu menyukai gaya bahasa novel ini, tapi juga tidak keberatan (kalian tahu maksudku, 'kan?)

Aku juga beberapa kali menemukan typo. Untuk novel setipis ini rasanya aneh kalau sampai ada typo. (Bilang begitu seolah dirinya sendiri tidak pernah typo!)

F. Penilaian

Cover : 3

Plot :2

Penokohan : 2

Dialog : 3,5

Gaya Bahasa : 2

Total : 2,5 Bintang


G. Penutup

Baru kali ini aku menemukan novel fantasi terbitan Watpat yang benar-benar fokus ke fantasinya alih-alih adegan romantis dua tokoh utama! Sayangnya buku ini juga sangat jauh dari kata matang, bahkan menurutku belum layak terbit. Masih banyak plot hole, adegan-adegan janggal, World Building tidak maksimal, bahkan penokohan yang tidak konsisten.

Novel ini perlu dipermak ulang, tambah porsi lembar, dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Aku yakin novel ini bisa setara dengan novel-novel terjemahan. Sekali lagi aku tanyakan ... Buku keduanya udah keluar apa belom, sih?

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)