KKN di Desa Penari


Judul : KKN di Desa Penari

Penulis : Simpleman

Penerbit : Bukune

ISBN : 9786022203339

Tebal : 256 Halaman

Blurb :

Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata. "Mbak... kita sudah sampai di desa."

Dari kisah yang menggemparkan dunia maya, KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Basi, Cin!

Jadi begini ... sebagai penderita sindrom Quirky Wannabe, aku tidak pernah menyukai sesuatu yang viral di internet. Entah itu film, video, novel, dan lain-lain sehingga saat thread KKN di Desa Penari viral di Twittah beberapa tahun lalu, aku malah sibuk menonton video julid artis-artis luar negeri yang pastinya tidak mempengaruhi apa pun dalam hidupku maupun sirkel-ku.

Kenapa tidak menyukai sesuatu yang viral?

Ibaratnya begini ... semakin banyak dibicarakan dan direkomendasikan orang-orang, aku malah semakin ogah melihat hal tersebut. Kalian paham maksudku? Entah ini sifat baik atau buruk, yang jelas sifat seperti ini membuatku sering dikucilkan sirkel, lantaran selalu plonga-plongo saat membicarakan hal-hal viral. Yah, sepertinya ini sifat buruk.

Makanya, aku baru membaca kisah KKN di Desa Penari sekitar seminggu yang lalu. Benar! Langsung novel, tanpa membaca thread-nya! Aku masih ogah-ogahan membaca versi thread sampai sekarang, sebab aku memang tidak aktif di Twittah. Ekhem ... Aku tidak tahu gimana cara pakai Twittah!

Meskipun basi banget, marilah kita tengok KKN di Desa Penari versi novel. Apakah kisah ini pantas mendapatkan ke-viral-annya yang aduhai itu?

Sampul novel ini? Nyeh ... tipikal penerbit Bukune. Cuma latar belakang yang ditempel font segede gaban. Aku ingat Danur juga sampulnya semodel ini di terbitan pertama. Maksudku ... ayolah Bukune! Kalian berkali-kali menerbitkan novel yang viral, dan kalian tidak bisa membuat sampul barokah untuk sekali saja???

B. Plot

Mengisahkan enam mahasiswa tingkat akhir yang akan melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah Desa bernama ... nama desanya apaan, aku lupa! Kayaknya tidak pernah disebut juga, jadi kita panggil saja Desa Penari. Mereka terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki, Ayu, Nur, Widya, Bayu, Anton, Bima.

Seperti tipikal horor, di awal cerita sudah banyak "tanda-tanda" kalau Desa Penari ini aneh, lokasinya jauh, tidak ada di GPS, masuk hutan belantara, serta banyak sekali kejadian aneh sepanjang perjalanan mereka menuju desa tersebut. Dari mulai suara gamelan di tengah hutan, sosok penari misterius, suara kidung misterius, aroma-aroma sayton, dan lain-lain.

Namun, untuk beberapa alasan mereka MENGABAIKAN segala keanehan tersebut dan melanjutkan KKN dengan alasan pengen buru-buru lulus. Klasik horor.

Maksudku ... aku belum pernah jadi Mahasiswa (maybe someday, tho ...) tapi apakah kalian para mahasiswa se-ngebet itu pengin lulus sampai membahayakan diri dan kawan-kawan? Apa salahnya menunggu beberapa tahun lagi, daripada tidak memiliki tahun lagi selamanya? (metong maksudnya)

Di Desa Penari pun mereka, terutama Nur dan Widya, mengalami hal-hal supernatural yang lumrah terjadi di cerita horor. Pergi ke perayaan gaib, kesurupan, diculik dedemit. Well ... you get the point. Hal itu juga yang membuatku bertanya-tanya kenapa cerita ini bisa sebegitu viral!

Sebenarnya aku tidak terlalu bertanya-tanya. Segala hal yang berbau horor dan embel-embel "kisah nyata" memang selalu mendapat panggung sendiri di kalangan masyarakat negeri. Apa lagi, aku dengar versi thread Twittah-nya mengandung unsur hot-hot-hot!

Sayangnya, adegan hot-hot-hot sepertinya tidak dicantumkan dalam novel, yang juga membuatku agak kecewa sebab memang ITULAH daya tariknya! Karena tanpa adegan hot-hot-hot mungkin kisah ini hanya akan menjadi kisah horor basic yang sering kita baca di majalah misteri. Bahkan cerpen-cerpen di majalah misteri lebih barokah karena ratingnya memang 21+++ (ekhem)

Namun, kembali lagi ke masalah selera. Aku pribadi sudah berhenti takut dengan hal-hal seperti ini sejak usia 15 tahun. Bukan berarti aku tidak percaya adanya dunia lain. Aku percaya, hanya saja aku punya prinsip bahwa 'Jangan mengganggu kalau tidak mau diganggu'. Sedangkan para mahasiswa ini memang melakukan sesuatu yang mengganggu. So ... they deserve it. Jk jk ....

Novel ini dibagi menjadi dua bagian yang mengambil dua sudut pandang (Widya dan Nur), tapi rasanya hanya mengulang cerita sama persis dengan secuil perbedaan sahaja. Aku tahu penulis ingin membuat pembaca penasaran di awal, dan menjelaskan semuanya di akhir. Akan tetapi, ada cara yang lebih baik untuk mengeksekusi dua kisah tersebut supaya menjadi novel konkret, bukannya dua cerpen sama persis yang digabungkan.

"Coba elu yang bikin kalo emang sepuh!!!"

Hell no! That is not my freakin job! Kecuali kalau dibayar, itu baru jadi job-ku, xixixi!

Satu hal lagi! Aku ingin protes ke satu kalimat di Blurb yang mengiming-imingkan sesuatu, padahal nyatanya tidak ada.

Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.

Bagian-bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya? Helooow, kalau adegan hot-hot-hot saja tidak ada, bagaimana mungkin ada bagian-bagian lain yang belum pernah dibagikan sebelumnya? Alih-alih senang, rasanya para pembaca malah dibuat kecewa saat mengetahui adegan hot-hot-hot justru tidak diperjelas di novel ini, dan malah dihilangkan.

Shame on you, Bukune! Mana hot-hot-hot yang kita nantikan???

Itu sarkas, aku benar-benar tidak tahu bagian mana yang baru dari novel ini, karena aku tidak pernah membaca Thread-nya, okhay!!!

Oh, iya ... meski seluruh kisah ini terbilang sangat basic, ada satu adegan yang membuatku merinding, karena memang merupakan hal terseram di dunia. Yaitu saat Widya mengintip dan Bima juga sedang mengintip, lalu mereka saling mengintip. Adegan itu mengingatkan para Urban Legend kesukaanku berjudul Key Hole, yang sampai sekarang membuatku merinding setiap membaca ulang.

C. Penokohan

Ini juga faktor yang membuat kisah KKN di Desa Penari tidak cocok dijadikan novel. Tokoh-tokoh yang terkesan cuma tempelan. Dari awal kita hanya diperkenalkan sekilas-sekilas dengan para tokoh di novel ini. Kita tidak tahu apa tujuan mereka, latar belakang mereka, motivasi, serta sifat dan sikap mereka. Jadi, setiap ada kejadian buruk yang menimpa mereka, aku tidak peduli sama sekali, alias hambar.

Kecuali mungkin Nur dan Widya. Itu pun karena mereka memandu kita sepanjang cerita. Tidak ada kepribadian yang mencolok dari mereka. Ibarat kalian membaca berita yang berjudul 'Seorang Anak Bernama Wati Ditempeleng Ibunya karena Nakal'.

Kalian tahu anak itu bernama Wati, kalian tahu dia nakal sehingga ditempeleng ibunya. Namun, semua informasi itu tidak membuat siapa pun peduli atau bersimpati dengan si Wati, karena kita tidak tahu alasan kenapa dia berbuat nakal, kita tidak tahu apa kepribadiannya selain 'nakal'. Kita tidak tahu bagaimana sifat si ibu sehingga menempeleng anaknya. Apakah si ibu tidak punya pilihan selain menempeleng Wati?

Kalian mengerti? Itu juga yang aku rasakan pada setiap tokoh di sini. Mereka diperkenalkan dengan cara paling tidak menarik sehingga tidak ada yang peduli ketika sesuatu menimpa mereka.

Jadi ... sepertinya aku tidak akan menjabarkan penokohan mereka satu per satu. Jujur saja aku bingung bagaimana menjabarkannya. Seperti menjabarkan tokoh-tokoh dalam cerpen.

D. Dialog

Cerpen ... cerpen ... cerpen. Dialog  dalam novel ini tidak ada bedanya dengan cerpen!

Tidak ada dialog yang memiliki ciri khas, lantaran intonasi serta susunan dialog setiap tokoh sama persis. Beberapa dialog bahkan hanya berisi basa-basi, dan tanya-jawab tentang penghuni gaib desa itu.

Nah, aku bingung harus nulis apa lagi :)

E. Gaya Bahasa

Aku akan menulangi pertanyaanku di Gudrid. SIAPA EDITOR NOVEL INI???

Ya, Gusti! Susunan kalimatnya begitu aduhai, seolah novel ini diedit oleh orang yang belum memahami kepenulisan sama sekali. Aku akan memberi satu contoh halaman dua. BENAR! Baru halaman dua saja susunan kalimatnya sudah sebegini aduhai!

Tiba-tiba kecemasannya teralihkan begitu getaran ponsel di kantong sakunya ada.

What the heel am I just read?

Pertama, kalimat tidak efektif karena menggunakkan kata 'Kantong' dan 'Saku' yang mana artinya sama! Kedua, getaran di sakunya 'ada'? Jadi karena sebelum bergetar, itu ponsel tidak bergetar berarti getarannya 'tidak ada', terus setelah ponsel bergetar akhirnya 'ada' getaran gitu?

Make sense, actually ... FOR A THREE YEARS OLD!

Belum lagi typo aduhai di salah satu dialog halaman 15 yang berbunyi, "Iya, masuk hutan. Palingan cuma sekitar tiga menit menitan."

Mohon maap nih, Pacc. Saya maunya menit beneran bukan menit menitan, h3h3 ....

Masih mau contoh yang lain? Halaman 18. Aneh, dari jauh Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup, seakan memasang pose sedang menari.

Darling ... kau berusaha menjabarkan apa sebenarnya? Tarian bangsa mana yang posenya menelungkup? Tarian bangsa ular bulu mungkin benar, tapi kita sedang tidak membicarakan ular bulu di sini!

Masih mau contoh yang lain? Ah, sudahlah ... kalau semuanya ditulis di sini kalian jadi tidak bisa mengernyit seperti aku saat melakukan proses baca. Jadi, untuk kesalahan-kesalahan lain silakan kalian cari sendiri. Mungkin saat pengerjaannya editor dikejar deadline yang sangat mepet. Mau tidak mau kita harus berpikir positip.

F. Penilaian

Sampul : 2

Plot : 2

Penokohan : 0,5

Dialog : 1

Gaya Bahasa : 1

Total : 1,3

G. Penutup

Kalian mungkin berpikir, "Idih ketinggalan jaman banget baru membahas KKN sekarang!"

Tapi kalian tahu? Aku tidak peduli, okhay!

Aku sedang senang sekarang, mood-ku sedang bagus-bagusnya, karena blog julid barokah ini akhirnya memiliki edsens. Meskipun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang, tapi setidaknya ini merupakan langkah baru menuju masa depan yang agak cerah.

Mungkin aku akan membuat review dari setiap novel yang aku baca di masa lalu, atau mungkin aku akan membuat intermezzo berisi berbagai tips barokah untuk kalian semua. Untuk yang menunggu novel keempat dari seri aduhai, sabar yah, aku sedang memulai LAGI proses baca, alias memulai proses menyiksa diri. Tunggu saja!

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)