SagaraS


Judul : SagaraS

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786239726256

Tebal : 386 Halaman

Blurb :


Akhirnya. Siapa orang tua Ali dijawab di buku ini.

Ali, bertahun-tahun, berusaha memecahkan misteri itu. Raib dan Seli tentu tidak akan membiarkan Ali sendirian, mereka sahabat sejati. Dan jangan lupakan, Batozar alias Master B, dengan segenap kalimat kasar, seolah tidak peduli, dia selalu siap membela.
Tapi bagaimana jika mister it terhadang tembok kokoh Sagaras?
Dan mereka harus bertarung hidup-mati lima ronde melawan Ksatria SagaraS?

Jangan khawatir, kalian akan tersenyum lebar (dan boleh jadi sambil menangis), saat tiba di halaman terakhir buku ini.

Buku ini adalah buku ke-13 dari serial BUMI.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Serial Abadi

Seperti rencana kemarin, selepas membaca Bibi Gill aku langsung capcus membaca SagaraS. Itulah keuntungan dari membeli dua buku sekaligus, tidak ada kata menunda-nunda. Lantas apakah kerugiannya? Uangku habes! Roman-romannya seri sebelah harus bersabar dulu sampai entah kapan, karena aku belum sanggup memulai siksaan seperti itu!

Omong-omong, SagaraS ini seri ke tiga belas dari ... entahlah, sepuluh-ribu-ratus seri barang kali. Seperti kata temanku di pesbuk, Pacc Tere tampaknya belum puas milking dari seri ini, jadi semakin banyak pastinya semakin bagus, h3h3.

Legenda mengatakan bahwa angka tiga belas merupakan angka keramat. Apakah novel ini juga akan bernuansa keramat? Kalau bagiku sih serial ini memang sudah keramat dari jauh-jauh hari.

Marilah kita bicarakan sampul SagaraS yang mungkin jadi favoritku sejauh ini, berdampingan dengan Si Putih. Warna Latar belakang biru kelihatan adem dan sejuk. Ditambah ilustrasi-ilustrasi memukau yang berhubungan dengan isi buku, seperti biasanya. Cheff Kiss!

Aku tidak tahu lagi mau menulis apa di pembukaan ini, jadi mari langsung saja kita mulai.

B. Plot

Kisah SagaraS tidak ada hubungannya dengan petualangan Bibi Gill, karena kita kembali bertualang bersama Trio Kwek-kwek tercinta. Ada sedikit perbedaan dari Serial Bumi sebelumnya, yaitu dari segi sudut pandang. Biasanya, serial yang mencangkup Trio Kwek-kwek pasti memakai sudut pandang orang pertama lewat Raib, tapi sekarang kita dipandu oleh sudut pandang orang ketiga. Ini bukan perbedaan yang signifikan, tidak mengganggu, tapi juga tidak membuatnya lebih menarique.

Awal cerita masih sama seperti novel-novel lainnya. Kehidupan sekolah Trio Kwek-kwek, dan Ali yang dijadikan kambing hitam karena melakukan hal-hal brekele. Kali ini, dia tidak masuk berhari-hari tanpa alasan jelas sehingga Raib dan Seli dipanggil Kepala Sekolah. Kenapa malah mereka yang dipanggil? Oh, tentu saja karena mereka SAHABAT SEJATI BANGET.

Sekaligus demi menyampaikan info tiba-tiba berkah bahwa Pak Kepala Sekolah ternyata orang keturunan Klan Bulan juga (bruuh). Aku pun plonga-plongo kenapa mendadak Kepala sekolah spill the tea kalo dia orang bulan padahal tidak berpengaruh apa-apa ke cerita. Ternyata, informasi tersebut dibuat semata-mata supaya Raib, Ali, dan Seli bisa bebas minggat dari sekolah kapan pun.

"Iye deh, Pacc! Terserah Elu!"

Raib dan Seli pun pergi ke rumah Ali untuk memberikan surat cinta dari Kepala Sekolah. Tapi eh tetapi, Ali ternyata sangat sibuk sampai tidak mau diganggu sama sekali. Rupanya, Ali tengah berusaha memecahkan maksud dari rekaman kotak hitam yang ditemukan saat kecelakaan kapal. Ali berharap, rekaman itu bisa menjawab apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Sebab, selama ini orang tua Ali tidak pernah ada.

Sumpah, ya! Cara Ali menggantikan posisi kedua orang tuanya dengan teknologi, begitu membuat hatiku terenyuh. Itu konsep yang sangat bagus untuk membuat pembaca nangis bombay.

Aku sangat mengharapkan adegan manis Ali dengan sang ibu buatan, entah sekadar obrolan basa-basi, atau Ali curhat tentang sekolah, bercerita penuh semangat tentang petualangannya di Dunia Paralel. Sang ibu buatan pun menanggapinya dengan antusias, dan bilang bahwa ia sangat bangga dengan Ali. Lantas, adegan selanjutnya Ali berubah sendu, kemudian menangis, karena tahu sesungguhnya sang ibu tidak nyata.

Oh-oh-oh! Aku bersumpah akan langsung memberikan bintang lima kalau saja adegan seperti itu benar-benar ada. Pacc Tere langsung aku jadikan penulis kesukaanku sepanjang masa!

Namun, sekali lagi Tere ‘Tell’ Liye mengacaukan segalanya!

Alih-alih MENUNJUKKAN adegan penuh emosi, belio malah MENGATAKAN hal tersebut lewat Ali secara terang-terangan dengan dialog. Pacc Tere, My Darling ... apa salahnya menggunakan teknik Show sesekali? Buatlah pembacamu menangis karena mereka ingin, bukannya karena paksaan!

You had one chance to be good, and you destroy it!

Satu lagi konsep yang semestinya BISA BANGET jadi adegan UwU penuh luapan emosi. Adegan yang pasti bisa membuat pembaca ikut bersimpati, tapi gagal karena penulisnya adalah Tere ‘Tell’ Liye. Yaitu adegan saat Raib dan Seli akhirnya bertemu Ali di tengah badai.

Pertemuan mereka bisa jadi sangat manis dan UwU. Banyak faktor yang mendukung untuk itu. Pertama, mereka sudah tidak bertemu selama berminggu-minggu. Kedua, mereka tahu Ali akan melakukan sesuatu yang berbahaya bahkan bisa merenggut nyawa. Ketiga, mereka sangat khawatir akan keselamatan Ali sebagai SAHABAT SEJATI BANGET.

Itulah yang membuatku sangat mengharapkan adegan manis antara mereka bertiga. Misalnya Seli yang memeluk Ali erat-erat secara spontan. Dilihat dari sifatnya, Seli cocok untuk melakukan hal-hal spontan semacam itu. Lalu, buat adegan Raib membentak Ali dengan sangat kasar, atau bahkan memukulnya. Karena dia begitu khawatir dengan keselamatan Ali, tapi Ali malah tidak peduli sama sekali.

Kalian mengerti maksudku? Seperti itulah adegan UwU dari persahabatan.

Puluhan novel bertema persahabatan sudah kulahap, dan percayalah adegan seperti itu selalu ampuh membuatku jatuh hati. Persahabatan yang jujur dan tulus. Ini kesempatan Tere Liye untuk pertama kalinya TUNJUKAN kalau Trio Kwek-kwek saling peduli! TUNJUKAN kalau mereka sahabat sejati! TUNJUKKAN kalau Raib dan Seli benar-benar memikirkan keselamatan Ali.

INI TIDAK! Mereka cuma ketemu, tatap-tatapan, dan saling bersapa “halo!”. Seriously? Mereka malah kelihatan seperti bukan sahabat sama sekali kalau dalam kondisi seperti itu malah bersapa “halo!”

Memang dikatakan mereka sedang ada di tengah badai saat itu, tapi kalau Batozar saja sempat mengomeli Ali karena mencuri catatannya, kenapa tidak ada waktu untuk menunjukkan bonding antar tokoh? Yang jelas membuat kita lebih bersimpati kepada mereka!

Ya Gusti! Aku benar-benar kesal saat membaca adegan itu. Harapanku dibanting begitu keras oleh Pacc Tere sampai pinggangku terasa encok.

Pacc Tere, please ... pekerjakan aku sebagai penasehat teknik Show-mu juga adegan UwU persahabatan. Aku yakin kita bisa membuat serial Bumi menjadi 1000x lebih baik dari ini (ditempeleng)

Baiklah kembali ke topick. Saat Ali menolak pulang dari amukan badai, tentu saja Raib dan Seli juga menolak, karena mereka SAHABAT SEJATI BANGET. Akhirnya mereka melewati segala rintangan itu bersama, demi menuju gerbang SagaraS.

Jujur saja, serangkaian rintangan di laut itu cukup membosankan. Hal yang paling aku tunggu dari Serial Bumi memang segala rintangannya saat akan menuju portal, karena Pacc Tere punya selera bagus untuk menunjukkan rintangan-rintangannya. Tapi di sini kita malah cuma berhadapan dengan tornado dan gurita raksasa.

Jangan salah, itu keren! Hanya saja gurita raksasa sudah pernah muncul di novel sebelumnya! Kalau tidak salah Komet atau Komet Minor (atau itu cumi-cumi?). Cara masuk portal pun sama dengan Komet Minor, yaitu dengan cara masuk ke perut hewan raksasa. Jadi, itu tidak membuatku semangat lagi, karena sudah pernah terjadi.

Ternyata, setelah masuk portal kita masih belum bisa langsung ke SagaraS, lantaran tempat itu benar-benar tidak menerima kedatangan tamu. Trio Kwek-kwek dan Batozar malah terjebak di ruangan berbentuk persegi serba putih.

Nah, ini yang menarik ... beberapa review mengatakan kalau mereka kecewa dengan latar tempat yang hanya ruangan putih, tapi aku pribadi malah suka. Bayangkan ruangan besar serba putih. Kosong, tanpa apa pun sejauh mata memandang. Itu mengerikan in a good way.

Lagi pula, bukannya itu semacam cara interogasi zaman modern, ya? Tahanan diletakkan di tempat yang serba putih, memakai baju putih, makan segala hal berwarna putih sampai mental mereka tidak kuat, dan akhirnya bersedia mengaku. Apa namanya? White Torture? Creepy!

Di ruangan putih-putih melati itu, mereka didatangi sebelas Kesatria SagaraS. Aslinya ada tiga belas, tapi yang dua lagi absen, h3h3.

Para kesatria pun bilang. “Kalau mau masuk SagaraS, kita tanding dulu duooong, xixixi!”

Maka mereka pun setuju untuk bertanding satu lawan satu, sebanyak lima ronde. Sesuai dengan jumlah pos keamanan di Sagaras. Lucunya, beberapa halaman lalu Kesatria SagaraS jelas-jelas bilang kalau mereka tidak suka kekerasan, tapi sekarang mereka malah mengusulkan untuk adu kekuatan yang secara harfiah juga berarti KEKERASAN.

Kesatria SagaraS ngeles kalau mereka bukannya mau bertarung, tapi hanya olah raga adu kekuatan seperti yang biasa dilakukan orang-orang Bumi yang rendahan itu. Masalahnye ... di mana-mana olah raga adu kekuatan seperti itu (tinju, silat, karate, dll) pasti memiliki WASIT! Supaya pertandingan berlangsung adil, dan tidak berakibat fatal untuk para peserta. Lah ini, kok mereka malah bertarung tanpa wasit dan sampai mati? Aku gak paham lagi sama logika buku ini!

Konsep satu lawan satu sebanyak lima ronde.

Terdengar seru dan menarik, bukan? Pastinya banyak aksi keren, juga jurus-jurus barokah dari para peserta. Sayangnya ... apa pun yang terjadi. Siapa pun lawannya. Tokoh utama kita PASTI MENANG!

Lebih parah, bukan itu yang membuatku kesal. Melainkan cara tokoh utama kita selalu menang dengan urutan adegan yang SAMA PERSIS! Aku akan buat seluruh adegan secara ringkas dan akurat untuk kalian, step by step ....

1. Tokoh Utama dan Lawan memperkenalkan diri

2. Tokoh utama dan Lawan saling melempar serangan

3. Tokoh utama kewalahan, nyaris menyerah

4. Lawan melemparkan kalimat-kalimat yang memicu kebangkitan Tokoh Utama

5. Tokoh Utama bangkit, dan menang

6. Tokoh Utama kehabisan tenaga, dan disembuhkan oleh Raib

7. Segmen makan-makan dan bercerita bersama Kakek Ban

8. Adegan tidur, tapi Raib dan Batozar tidak bisa tidur

9. Adegan Raib dan Batozar ngobrol, lalu Batozar menyuruh Raib tidur

10. Kembali ke nomor 1 di besok paginya

There ... I just save your time.

Bayangkan urutan tersebut terulang sebanyak LIMA KALI! Aku sampai melewati dua pertarungan terakhir, karena sudah tahu polanya bagaimana dan akan berakhir bagaimana, jadi apa gunanya dibaca lagi. Benar, ‘kan?

Meskipun begitu, ada satu hal yang menarik dari pertarungan ini, dan hanya bagian itu yang aku baca di setiap pertarungan karena memang bikin penasaran, dan juga sangat lucu. Hal itu adalah Nama para kesatria SagaraS.

Pertama namanya Ban, alias roda. Kedua Plat, alias pelat nomor. Ketiga Stir, alias setir.

Kalian menyadari pola itu? Dari sini aku mulai menebak-nebak. Apakah yang selanjutnya akan bernama Rem? Atau Persneleng? Atau Shock breaker?

Jeng-jeng-jeng! Nama petarung selanjutnya adalah Jok, hua-ha-ha-ha! This is so exciting! Tapi tebakanku masih salah ...

Lalu saat nama kesatria berikutnya disebut, aku pun berseru “Yes!” Karena namanya adalah Rem. Itu tebakanku!

Di akhir pun kita menemukan fakta dan twist yang tidak terlalu muluk-muluk, dan mungkin sudah bisa kalian tebak dari awal. Maka sampailah di adegan yang kita tunggu sekian lama, yaitu Ali bertemu dengan Ibunya, dan sekali lagi aku mengakhiri novel ini dengan kalimat.

“Udeh, gitu doang?”

(Menarik napas panjang ... buang perlahan)

Serius ... penulis-penulis ini harus belajar cara membuat adegan pertemuan keluarga yang sudah lama tidak bertemu, atau baru pertama kali bertemu. Adegan yang benar-benar menggambarkan emosi dan reaksi masuk akal sekaligus reletable.

Wow, aku kedengaran seperti Sok Sepuh kalau bicara begini. Tapi serius ... bagaimana mungkin penulis menggambarkan adegan pertemuan keluarga yang telah lama berpisah dengan cara paling brekele di seluruh dunia? Tanpa emosi, tidak menjelaskan apa hal kompleks yang dirasakan oleh para tokoh saat dihadapi dengan situasi tersebut.

Memangnya mereka tidak menempatkan diri sebagai tokoh sebelum menuliskan adegan yang mencangkup perasaan? Bagaimana emosi campur aduk antara rindu, kesal, bahagia, sedih, dan berbagai macam lainnya. Aku benar-benar kesal sama penulis yang tidak memikirkan perasaan tokoh-tokohnya. Dishonor on you! Dishonor on your cow!

Oh, ada satu hal lagi yang ingin aku bahas dari novel ini. Sesuatu yang membuatku terdengar seperti orang kepedan dan kege-eran.

DID PACC TERE GET INSPIRED BY MY STORY???

Bentar ... bentar ... jangan lempar baskom itu ke wajahku! Biar aku jelaskan dulu kenapa aku bisa berpikir begitu, Baybeh!

Jadi di ceritaku berjudul Phillip and Lillian, ada kisah pertemuan ayah dan ibu si tokoh utama. Singkatnya, si ibu bernama Ellinor alias Elli, nyaris tenggelam di danau, lalu diselamatkan oleh seorang pemuda bernama Harold, alias ayah si tokoh utama. Mereka pun saling bicara, dan tentu saja jatuh cinta, dan akhirnya menikah.

Nah, di novel SagaraS juga si wanita bernama Eli, dia juga tenggelam, dia juga diselamatkan seorang pemuda. Lalu mereka berbincang, jatuh cinta, dan menikah. Bedanya, latar SagaraS berlangsung di laut sementara ceritaku latar tempatnya di danau.

Ya, memang cuma itu kesamaannya, dan boleh dibilang adegan seperti itu sangat klise di kalangan penulis romantis UwU. Mungkin yang membuatku langsung kepikiran mirip adalah nama si wanita yang sama-sama Eli.

Jadi janganlah kita bahas ini lebih lanjut (or is it?) Segmen berikutnya!!!

C. Penokohan

Raib. Our favourite Mary Sue. Untuk masalah kemampuan jelas Raib meningkat, karena dia Mary Sue dan dia tidak mungkin mengalami penurunan dalam kemampuan. Namun, karena tidak lagi memakai sudut pandang orang pertama kehadiran Raib di sini malah jadi melempem.

Dia tidak banyak berperan, dan malah jadi bertukar tempat dengan Seli sebagai tokoh pasif. Istilahnya begini, berkali-kali Pacc Tere memaksa kita untuk menganggap Raib sebagai orang istimewa, tapi andilnya dalam novel ini (selain bertarung) tidak menunjukkan kalau dia istimewa.

Ali. Our Favourite Gary Stu. Ali boleh saja kehilangan kekuatannya akibat melawan Lumpu, tapi dia jelas masih sangat hebat dan masih seorang Gary Stu yang sempurna. Dia masih sangat pintar, bahkan kita diberitahu di sini bahwa Ali sudah menjadi Bos dan mengurus segala bisnis orang tuanya sejak usia sembilan.

Meski sangat mirip trope Watpat yang paling aku benci, aku tidak terlalu kesal atau keberatan. Mungkin karena dari awal Ali memang digambarkan genius. Jadi masih masuk akal kalau dia bisa melakukan segala hal sejak dini. Masalahnya ... orang bangsa mana yang mau diperintah-perintah sama bocil sembilan tahun?

Seli. My God, Seli berkembang sangat baik di sini! Thank you so much Pacc Tere! Finally my gorl get justice she deserve! Dia bukan lagi hewan peliharaan Raib dan Ali, di sini kepribadiannya yang ceria dan wholesome tergambarkan dengan baik, dan sering muncul ke permukaan.

Dari cara dia menangis untuk Ali, interaksi dengan Batozar dan Raib, caranya menyemangati teman-temannya yang bertarung. She is a sweetheart. Dari seluruh tokoh di serial Bumi, memang cuma Seli yang aku sukai, tidak sejak awal, tapi di sini. I like her a lot!

Aku sebenarnya heran kenapa banyak pembaca yang menjodohkan Raib dan Ali, padahal dari interaksi mereka sepanjang buku, Ali lebih ada kemistri mengobrol dengan Seli. Entah kenapa ya, Raib itu kebanyakan plonga-plongo, dan aku selalu benci tokoh yang plonga-plongo. Adegan UwU Ali dan Raib juga selalu dpaksakan oleh penulis, sementara Seli dan Ali lebih ke Effortlessly UwU. Tapi itu dari kaca mataku saja.

Batozar. Another Gary Stu. Sudahlah, dia itu maha sempurna luar-dalam. Selagi masih ada Batozar, petualangan Trio Kwek-kwek kita akan baik-baik saja. Oh, iya ... Batozar itu selalu mengingatkanku dengan musuh di Man in Black 3, alias Boris the Animal. Vibe menggeramnya sama persis. Bedanya, Batozar selalu digambarkan “Mata merah berputar-putar” Itu maksudnye gimane si? Kayak profesor Moody di harry potter, ‘kah?

Gambaran Batozar di Kepalaku. Alias, Boris the Animal

Ban. Tokoh yang tadinya tidak ada, tapi tiba-tiba ada demi kepentingan plot dan twist.

11 Kesatria SagaraS yang nama-namanya unik-unik, tapi selain itu kalian tidak terlalu berarti buatku.

D. Dialog.

Kalian tentunya tahu bagaimana tanggapanku tentang dialog buatan Pacc Tere. Dan pendapatku tidak berubah di novel ini. Masih kaku, masih menjelaskan hal-hal tidak perlu, masih tidak menampilkan emosi para tokoh. Namun, ada beberapa kesempatan aku menikmati dialognya tanpa protes atau memutar bola mata.

Misalnya di adegan mereka makan Pop-mih, dialog pada adegan itu tidak sekaku yang lain, dan mereka bicara dengan normal untuk pertama kalinya. Namun, alasan utama aku suka adegan itu adalah karena aku langsung ngidam mi rebus dan langsung mendapatkannya. I love mi rebus!

Oh, percakapan antara Raib dan Batozar juga sebenarnya sangat manis, apa lagi saat Raib bertanya tentang ayahnya. Straight to my soft spot, Baby!

E. Gaya Bahasa

Pendapatku untuk gaya bahasa Pacc Tere juga masih sama, dan kalian pasti bosan kalau harus membacanya lagi dan lagi. Itu sebabnya sebutan Tere ‘Tell’ Liye sudah bisa menjelaskan semua.

Namun, aku juga ingin menambahkan betapa dangkalnya cara Pacc Tere dalam membuat deskripsi, terutama untuk penggambaran para tokohnya. Misalnya Batozar yang selalu dideskirpsikan dengan ‘Menggeram’ dan ‘Mata merah berputar-putar’, atau Ali yang rambut berantakannya selalu disebut seolah cuma itu hal dari dirinya yang bisa dideskripsikan.

Saat tokoh bingung, Pacc Tere cuma menggambarkannya dengan ‘Mengusap wajah’ atau ‘Menepuk dahi’, benar-benar tidak ada ragam kalimat atau gestur lain dalam narasi novel ini, dan membuatnya semakin membosankan.

Pacc Tere juga berkali-kali menuangkan pendapat tentang politik di novel ini, yang tidak menambah kesan apa pun sebenarnya. Menurutku pribadi itu malah cringe. Sebenarnya bukan hanya di buku ini, Pacc Tere selalu menuangkan pendapat tentang politik di hampir semua bukunya, hanya saja tidak pernah aku sebut, karena aku kurang suka.

Masalahnya, cara belio menuliskan kritik politk benar-benar tidak smooth. Alih-alih unik dan kritis, aku malah merasa, “idih” gitu loh. Well ... maybe just me.

F. Penilaian

Cover : 4

Plot : 2,5

Penokohan : 2

Dialog : 2

Gaya Bahasa : 1

Total : 2,3 Bintang


G. Penutup

Dengan ini kita nyatakan Bibi Gill dan SagaraS telah selesai. Tapi pastinya seri ini akan terus berlanjut meskipun juntrungannya sudah tidak terlihat lagi. Di akhir novel ini ada secuil extra part yang sebenarnya tidak terlalu menarik, mungkin karena hasratku pada novel ini memang sudah tidak ada.

Di akhir buku pun kita sudah diwanti-wanti dengan kelanjutan seri yang berjudul Ily, dan Aldebaran. Juga Proxima Centaury 1, 2, 3. Oh, indahnya dunia ini jika dipenuhi buku-buku berkualitas dari Pacc Tere Tell Liye.

Baiklah, sekian dulu review dariku. Sampai jumpa di hari lain ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)