Ancika : Dia yang Bersamaku Tahun 1995

Judul : Ancika : Dia yang Bersamaku Tahun 1995

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit : Pastel Books

ISBN : 9786026716897

Tebal : 340 Halaman

Blurb :

Setelah putus dengan Milea, Dilan menjalin persahabatan dengan Ancika Mehrunisa Rabu, yang kemudian berkembang menjadi kisah cinta. Kisah Dilan bersama Ancika ini kemudian ditulis oleh Ayah Pidi Baiq dalam novel berjudul Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995.

Ancika akan menceritakan kisahnya bersama Dilan ketika Ancika berumur 17 tahun dan masih seorang siswi SMA. Dilan sendiri, saat itu, sedang berkuliah di ITB. Sosok Ancika tidak kalah menarik daripada Dilan. Dilan dan Ancika seolah-olah memang diciptakan untuk saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain. Apakah Ancika adalah alasan satu-satunya mengapa Dilan tidak bisa balikan dengan Milea? Baca kisah lengkap Ancika di dalam novel ini!
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Telat Setahun

Sekitar tahun 2016 atau 2017, ketika seorang Impy sedang getol membaca seri Dilan. Impy pernah bersumpah kalau suatu hari nanti novel Ancika sudah terbit, dia akan jadi yang paling depan untuk membeli! Empat tahun kemudian, dan kabar open PO novel Ancika pun keluar lewat Instagrem resmi penerbit.

“WAH NOVEL ANCIKA UDAH KELUAR!!!” seru Impy sampai digedor tetangga sebelah. “Akan kupesan malam ini juga!!!”

Malam harinya, Impy pulang dari aktifitas yang tidak terlalu melelahkan. Alih-alih memesan, dia malah molor sampai membuat tiga pulau berukuran sedang. Begitu juga besoknya, dan besoknya, dan besoknya, dan besoknya, sampai satu tahun hal brekele itu berlangsung. Maka suatu hari, bukannya membeli buku fisik, dia malah beli dari Gugel Buku (bruuh). Maka sampailah kita pada review barokah ini.

First of all ... GOD, I love the cover!!! Cika keliatan keren banget dan memberiku That Gorl vibe! Aku tidak sabar mau membacanya, jadi kita langsung saja nganu.

B. Plot

Sudah menjadi rahasia umum, kalau hubungan Dilan dan Milea tidak berjalan mulus. Maka Dilan pun lanjut mencari mangsa baru, dan kali ini nama cewek incarannya adalah Cika. Ekhem ... kenapa kedengaran seperti Dilan tuh playboy brekele. Percayalah, Dilan bukan playboy brekele, tapi cuma brekele!

Sebenarnya, keseluruhan buku adalah Cika yang sedang menceritakan masa lalunya. Yah, semodel seri-seri Dilan yang lain juga konsepnya. Seseorang di masa depan yang menceritakan masa lalu.

Pertama Cika memperkenalkan siapa dirinya, bagaimana kehidupannya, dan siapa saja keluarganya. Baru setelah itu, Cika membawa kita ke perkenalannya dengan Dilan, cara mereka bertemu, cara Dilan PDKT, dan bagaimana hubungan mereka selanjutnya, Kalian sudah tahulah garis besarnya.

Akan tetapi, aku melihat ada perbedaan yang cukup besar dari cara Cika bercerita kalau dibandingkan dengan Milea. Dari sudut pandang Milea, kita benar-benar dibawa mendalami perasaan sebagai seorang anak SMA yang kasmaran. Milea selalu menggambarkan secara detail apa saja keunikan Dilan, dan bagaimana perasaannya, serta caranya menanggapi segala keunikan tersebut.

Sedangkan Cika terkesan buru-buru, beberapa kali narasinya cuma menuliskan kalau dia tidak ingat bagaimana percakapan detail hari itu. Dia cuma mengatakan kalau Dilan itu lucu, modern, dan berwawasan luas tanpa benar-benar menunjukkan bagaimana lucunya, bagaimana modern-nya, bagaimana berwawasan luasnya.

Tadinya aku menganggap ini sebuah kekurangan, tapi kemudian aku sadar kalau Milea dan Cika merupaka dua orang berbeda dengan kepribadian yang juga berbeda. Cika yang cuek sering kali tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan, tentunya lain dengan Milea yang sentimentil. Sekarang aku malah menganggap ini kelebihan. Pacc Pidi Baiq bahkan bisa membuat penokohan yang konsisten lewat cara si tokoh bercerita!

Di sini juga menurutku Dilan tidak seikonik dua novel pertama. Dia tidak lagi sering membuat lelucon atau quote dari dialognya (bisa jadi juga karena Cika yang tidak menceritakan). Tingkanya juga tidak seunik dulu. Maksudku dia tetap punya cara-cara ajaib untuk memikat mangsa, tapi tidak seUwU dulu. Sekali lagi, ini bukan kekurangan, melainkan karena Dilan sudah dewasa, dan tentunya akan ada sisi dalam dirinya yang padam.

Kalau masalah cara-cara ajaib memikat mangsa sih sudah jelas Dilan ahlinya. Berbeda dari sikapnya kepada Milea yang gentleman, lemah-lembut, perayu, dan hal-hal UwU lainnya. Bersama Cika, Dilan malah lebih senang menggoda dan membuat kesal, terutama di awal-awal pertemuan. They are so cute, i just can't ....

Sebenarnya aku juga berpikir, mungkinkah Pacc Pidi Baiq membuat Cika tidak bercerita sedetail Milea karena belio ingin mengurangi porsi dialog dalam novelnya?

Karena kalau kalian belum baca, seri pertama dan kedua mendapatkan banyak kritik tentang terlalu banyak dialog yang tidak penting. Terutama banyaknya “Ha-ha” “He-he”, yang paling bikin para pembaca kesal.

Di novel ini, memang dialognya kadang mendominasi, tapi jelas tidak separah novel-novel sebelumnya. Dan itu membuatku ingin melakukan salut kepada Pacc Pidi Baiq yang mendengarkan kritik dan saran dari para pembaca, dan membuat kita semua bahagia. I respecc you, Pacc!

Lho ... segmen Plot kok malah membahas dialog!!!

Habis, plot dalam novel ini terlalu adem-ayem. Menurutku, tidak ada adegan mendebarkan seperti zaman-zaman Milea. Para “Antagonis” di sini tidak mendapat ganjaran sedramatis novel-novel sebelumnya. Mereka memang mendapat ganjaran yang setimpal, tapi tidak cukup dramatis buatku, tidak membuatku terus terbayang-bayang seperti saat Milea bermasalah dengan Yugo. Oh, itu adegan favoritku di novel Dilan.

Sekali lagi, semua itu sebenarnya karena sifat Cika yang memang cuek-bebek, jadi setiap kali Dilan melakukan sesuatu yang “buruk”, dia tidak akan terlalu panik seperti Milea. Dia memang penasaran, bertanya juga kenapa Dilan melakukan hal-hal buruk, tapi tidak benar-benar terpengaruh. Sekali Dilan menjelaskan, dia langsung paham. And I love her so much because of it!

Satu lagi hal yang aku suka dari novel ini adalah banyaknya kejadian-kejadian kecil yang sangat relate dengan kehidupanku pribadi. Misalnya Cika yang belajar menggambar angsa dari angka dua, bikin salad tomat (tomat mentah dicincang, dicampur gula, terus ditumbuk pakai sendok), terus malah merasa seram kalau ada cowok yang PDKT.

Dari semua hal relatable di atas, kita semua sudah bisa menebak bahwa ... Cika adalah aku (plak!)

Tapi serius .. detail kecil yang relatable seperti itulah yang membuatku sangat menyukai se-fruit novel.

Kesimpulannya sih, novel Ancika ini melengkapi novel-novel Dilan yang lain. Pokoknya menjawab pertanyaan kenapa pada akhirnya Dilan bisa langgeng sama Cika daripada sama Milea. Aku suka, tapi untuk beberapa alasan juga kecewa, sebab tidak begitu sesuai dengan ekspektasiku.

Namun, ini jelas rekomen bagi kalian yang mengikuti seri Dilan. Tidak peduli Tim Milea atau Tim Ancika, pada akhirnya pilihan ada di Pacc Pidi Baiq. Lagi pula, kita seharusnya tidak membanding-bandingkan Milea dan Ancika. Bahkan kita para pembaca juga dapat sindiran dari Bundanya Dilan karena melakukan itu. Ya, maaf, Boend!

C. Penokohan

Ancika. Tiga kata buat Ancika. I LOVE HER!

Dia itu anaknya dewasa, santai, cuek, mudah berteman, tapi juga pemalu dan agak introvert. Pokoknya dia itu tipe orang yang sebisa mungkin jauh-jauh dari drama, tapi juga tidak masalah kalau tiba-tiba terlibat drama. She’s always ready to fight! Dia juga punya sisi sarkas dan kekonyolan yang membuat dia dan Dilan tuh cocok banget.

Meskipun penokohan Cika sangat bagus, aku masih merasa agak kecewa karena dia tidak sesuai ekspektasiku pribadi, juga tidak sesuai dengan ilustrasinya di sampul. Aku pikir Cika akan jadi tipe yang pecicilan, blak-blakan, dan tomboy. Pokoknya sifat yang bisa mengimbangi keanehan Dilan.

Namun, di awal Cika malah mewanti-wanti kalau dia kurang suka disebut tomboy, karena dia masih menyukai segala hal yang menjadi “ciri khas” perempuan, seperti memasak dan bersih-bersih. Padahal memasak dan bersih-bersih bukan identik perempuan sahaja, ‘kan? Untuk yang satu ini aku benar-benar tidak suka jalan pikirnya.

Dilan. Seperti yang aku bilang di segmen Plot. Dilan tidak seikonik dirinya di dua seri pertama. Di sini hampir tidak ada dialog Dilan yang bisa dijadikan quote, sementara di dua novel pertama Dilan memang identik dengan dialognya yang quotable. Mungkin karena dia sudah dewasa juga, jadi tidak mau terlalu menggombali cewek. Yeah, good choice, Pacc Pidi! Daripada ujung-ujungnya malah jadi trope watpat yang umur setengah abad, tapi kelakuan bocah 5 tahun.

Indri. Sahabat Cika. Persahabatan mereka itu santai dan suportif, sama seperti sifat keduanya. Bahkan di satu kesempatan, Cika pernah bilang kalau dia suka sama gebetannya Indri, untuk memanas-manasi Bono. Tapi Indri paham kalau dia cuma pura-pura, dan mereka tidak menganggap hal itu dengan serius, malah menganggapnya lucu. Persahabatan mereka itu goal banget. Sayangnya tidak berakhir menyenangkan ToT.

Bono. Katakanlah dia Zuko-nya novel ini. Musuh yang berubah jadi aliansi. Meskipun perubahan itu tidak sepenuhnya dari hati, karena ada campur tangan Dilan. Coba kalian baca sendiri transisi Bono dari musuh jadi teman. Di satu sisi memang pantas, tapi di sisi lain juga kasian, dan aku sangat suka cara Cika menanggapi seluruh kejadian ini.

Yadit. Ya gusti ... dia itu tidak jahat sebenarnya, tapi sumpah semua sifat orang yang aku benci ada pada sebiji orang ini. Aku yakin kalian juga paham kenapa Cika benci Yadit, tidak peduli dia kaya atau ganteng. Yadit itu, tukan pamer, menganggap orang lain rendah, main kotor, dan banyak hal negatif lain.

Parahnya, dia tidak sadar kalau dirinya tuh ngeselin!!!. Cara penulis menggambarkan tokoh Yadit juga sangat natural. Memang ada manusia begini di dunia nyata, yang sifat dan kelakuannya persis seperti ini. Dan sepanjang buku aku ingin sekali menyumpel mulut Yadit dengan kulit duren.

Bi Opi. Ini juga salah satu tokoh yang ngeselin, tapi cara ngeselinnya natural karena kita memang sering bertemu manusia-manusia seperti ini di dunia nyata. Namun, Bi Opi juga ujung-ujungnya taubat kok. Dan sekali lagi, cara Cika menangani segala situasi ini benar-benar membuatku semakin mengagguminya.

Bunda. Bundanya Dilan ini masih sama, asik dan supel sama semua orang dari segala umur. Tapi melihat interaksi Bunda dengan Cika membuatku kangen sama Milea, gak tau kenapa (hiks ... hiks....)

D. Dialog.

Harus aku akui, novel ini terasa kurang nendank tanpa dialog unik dari Dilan. Di novel pertama dan kedua, porsi dialo secara keseluruhan sangat banyak, tapi juga secara tidak langsung memperkenalkan kita lebih dekat dengan para tokohnya. Di sini, yang biasanya dijelaskan dengan dialog, malah diganti dengan narasi dari Cika.

Seperti misalnya obrolan seru dengan Dilan, atau obrolan tidak menyenangkan dengan beberapa orang. Alih-alih ditunjukkan, malah diceritakan lewat Cika. Aku sebenarnya paham, mungkin penulis ingin mengikuti saran pembaca yang bilang kalau novelnya kebanyakan dialog, tapi di sisi lain ternyata memang dialog-dialog dari dua novel sebelumnyalah yang paling berkesan dari seri Dilan.

Akan tetapi, hanya itu keluhanku, untuk penggambaran tokoh lewat dialog masih tersampaikan dengan baik. Aku suka setiap kali Cika nyeletuk hal-hal aneh, tapi tanpa dosa. Aku suka (dan benci) dialog Yadit yang menunjukan kalau dia tuh narsistik, tukang pamer, dan straight up an a-hole!

E. Gaya Bahasa

Pertama, aku mau memuji betapa detailnya penjabaran latar dan suasana di novel ini sehingga pembaca bisa ikut merasakan apa yang tokoh rasakan. Kalau masih ada yang bingung dengan apa itu narasi yang mencangkup kelima panca indera, mungkin bisa membaca novel-novelnya Pidi Baiq.

Namun, kita semua tahu apa jadinya kalau penulis menjelaskan sesuatu secara detail ... Benar, jadi terkesan bertele-tele juga. Kadang, untuk menjelaskan suasana atau keadaan aja bisa sampai tiga paragraf lebih.

AKU MAU BURU-BURU PINDAH TOPIK!

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 3,5

Penokohan : 4

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 4

Total : 3,6 Bintang

G. Penutup

Aku suka Cika, tapi aku mengharapkan Cika yang berbeda, jadi aku rada kecewa saat dikasih Cika yang begini (Apaan si ....)

Jelas-jelas ini salahku, tapi juga bukan!!! Ini salah sampul bukunya yang menunjukkan seolah Cika itu cewek yang tomboy, blak-blakan, dan pecicilan yang bisa mengimbangi kekonyolan Dilan. Nyatanya, Cika anak yang rada introvert, kalem, tapi juga selalu siap melawan kalau ada yang berani macem-macem padanya.

Aku suka kepribadian dia yang seperti itu. SUKA BANGET! Tapi sekali lagi, karena dari awal aku mengharapkan Cika yang beda, jadinya aku rada mengembuskan napas kecewa gitu.

Nah, begitulah pendapatku tentang Ancika. Tidak julid, karena memang aku suka, h3h3 ... Sekian dulu dariku.

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman