Diary of a Wimpy Kid (1-17)


Judul : Diary of a Wimpy Kid (dan berbagai sub-judul)

Penulis : Jeff Kinney

Penerbit : Amulet Books

ISBN : 9780810993136 (Buku 1)

Tebal : Rata-rata 300 Halaman

Blurb :

Greg Heffley finds himself thrust into a new year and a new school where undersized weaklings share the corridors with kids who are taller, meaner, and already shaving.

Desperate to prove his newfound maturity, which only going up a grade can bring, Greg is happy to have his not-quite-so-cool sidekick, Rowley, along for the ride. But when Rowley's star starts to rise, Greg tries to use his best friend's popularity to his own advantage. Recorded in his diary with comic pictures and his very own words, this test of Greg and Rowley's friendship unfolds with hilarious results.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. MKKB (Masa Kecil Kurang Barokah)

Hai, hai, Pembaca Review Impy yang cantik dan tamvan bak Dewa Yunani ^o^/

Tahukah kalian apa unsur ekstrinsik yang paling Impy sukai dari se-fruit novel? Benar sekali tebakan kalian. ILUSTRASI!

Selain sebagai pemanis, ilustrasi membantu pembaca memvisualisasikan apa maksud penulis dengan lebih baik. Memang pada akhirnya imajinasi pembaca tetaplah penentu akan seperti apa novel tersebut. Namun, ilustrasi dengan porsi pas bisa juga menjadi keunggulan.

“Kok elu malah curcol pasal ilustrasi, seh!”

Karena, Gonzales ... novel yang akan kita bahas hari ini berjudul Diary of a Wimpy Kid. Serial novel yang populer di kalangan anak-anak Mamarica, lantaran menggabungkan novel dengan komik. Jadi di setiap satu atau dua lembar, pasti ada sisipan kartun dari situasi yang sedang diceritakan. Biarpun ditargetkan untuk anak-anak, novel ini ditulis oleh Bapacc-bapacc.

Mungkin belio berniat meningkatkan minat baca anak-anak usia SMP. Mengingat komik dan game (media yang sering disukai anak-anak SMP) tidak mengandung banyak susunan kata, alias sama saja tidak membaca apa pun.

Dengan menggabungkan novel dengan komik, tentu saja itu ide yang brilian. Para pembaca bocil disajikan lebih banyak paragraf untuk dibaca, tapi juga disuguhi banyak komik yang menghibur. Seandainya negeri tercinta juga memiliki sistim macam ini, supaya anak usia 10-15 tahun punya pilihan bacaan yang menarik.

Dulu aku ingat ada seri berjudlu Panggung Si Kancil yang juga berkonsep gabungan komik dengan novel, tapi rasanya buku itu sudah tidak diproduksi lagi. Another thing from my childhood has gone.

Dari segi sampul, serial Diary of a Wimpy Kid juga menarik, terlihat seperti jurnal atau buku anak sekolahan. Font yang digunakan cocok, ditambah ilustrasi kartun dari si penulis yang juga akan banyak kita temukan sepanjang novel. Lebih baik lagi, sampunya konsisten dari awal sampai akhir. Keseragaman sampul dari novel berseri juga sebuah keunggulan di mata banyak pembaca, lhoo.

B. Plot

Diary of a Wimpy Kid berjumlah 16 buku untuk seri utama dan beberapa buku tambahan. Seperti judulnya, novel ini berkonsep diary, atau si tokoh utama (Greg) lebih suka menyebutnya ‘jurnal’. Sebab menurut Greg, Diary identik dengan perempuan, dan itu jelas akan membuatnya terlihat cemen di sekolah. Greg berusia 12 tahun, anak kedua dari tiga bersaudara. Dia punya kakak bernama Rodrick dan adik bernama Manny.

Tiga bocah brekele ini jauh dari kata akur, sebab Rodrick itu tipikal problem child, sementara Manny tipikal bontot-cengeng-manja. Greg di sisi lain juga tidak terlalu berbakti, dia egois, sombong, jahil, bahkan ada potensi jadi tukang bully. Namun, karena diary ini punya Greg, tentu saja dia selalu memosisikan diri sebagai si paling benar. Padahal, kelakuan Greg tidak kalah brekele dari kedua saudaranya.

Novel ini menceritakan keseharian Greg sebagai anak SMP. Faktor ini juga yang membuat novel Diary of a Wimpy Kid menarik, sebab kisah anak SMP tidak diceritakan sesering kisah anak SMA. Padahal, masa SMP boleh jadi masa paling berat, tapi krusial bagi setiap orang.

Peralihan dari anak-anak menuju remaja, di mana semuanya serba nanggung. Terlalu tua untuk manja, tapi terlalu muda untuk melakukan hal-hal dewasa. Akibat rasa ingin tahu yang terlampau besar, tak jarang anak-anak usia segini melakukan tindakan spontan penuh risiko.

Dari situlah konflik bergulir. Greg berkali-kali terkena masalah, karena bertingkah tanpa memikirkan konsekuensi. Dia punya sahabat, yang mungkin lebih cocok disebut Frienemies bernama Rowley. Sebenarnya cuma Greg yang menganggap hubungan mereka Frenemies. Greg berpikir Rowley tuh anak brekele, dan dia bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Padahal, Rowley tulus menganggap Greg sebagai sahabat.

Greg sebagai tokoh utama memang nyebelin, bahkan kadang licik. Banyak juga komen negatif di Goodreads tentang betapa unlikeable-nya Greg sebagai tokoh utama. Namun, aku jadi mikir ... ini buku harian PUNYA GREG, dia menulis segala sesuatu lewat sudut pandangnya sebagai anak bangor berusia 12 tahun.

Menurutku, penulis justru sangat berhasil menunjukkan penokohan Greg tanpa mendeskripsikan secara terang-terangan. Penulis tidak pernah menyuruh pembaca untuk menyukai atau membenci Greg, penulis cuma MENUNJUKKAN kepribadian anak itu. Sayangnya, kepribadian Greg memang nyebelin setengah mati.

Novel pertama fokus ke perkenalan diri dan tokoh lain, serta segala kegiatan Greg, termasuk suka-duka menjadi anak SMP. Basic tapi asik, apa lagi dibantu kartun-kartun lucu. Greg bercerita tentang selembar keju busuk di lapangan basket sekolahnya. Barang siapa yang menyentuh keju busuk itu, akan terkena kutukan Cheese Touch. Akibatnya, orang-orang menjauhi si pemegang Cheese Touch.

Balada Cheese Touch

Kutukan Cheese Touch bisa dipindahkan dengan menyentuh anak lain, dan satu-satunya cara terhindar dari Cheese Touch adalah dengan menyilangkan jari. Semenjak Cheese Touch mewabah, Greg menyilangkan jari ke mana pun dia pergi, bahkan melakban dua jarinya jadi satu supaya terhindar dari kutukan. Suatu hari si pemegang Cheese Touch pindah sekolah membawa kutukan tersbut. Maka damailah sekolah dari teror untuk sementara.

Sumpah itu konflik absurd dan sepele abis, tapi masuk akal di kalangan anak-anak SMP yang otaknya masih rada-rada blo’on. Greg bahkan mengatakan itu adalah masa paling suram dalam kehidupan sekolahnya. Anehnya, aku bisa relate dengan cerita-cerita sepele semacam itu. Ayolah ... anak SMP (apa lagi kelas 7) secara teknis masih bocil, tidak ada bedanya dari anak SD yang otaknya masih dipenuhi imajinasi absurd tentang dunia.

Di novel kedua, Greg memperjelas hubungannya dengan Rodrick dan Manny. Lebih ke sisi negatif, sebab mereka memang tidak akur. Apa lagi Rodrick akhirnya tahu kalau Greg membuat Diary, dan mengejeknya habis-habisan. Di novel ketiga, kita mulai diperkenalkan dengan love interest Greg bernama Holly Hills. Juga usaha ayah Greg untuk menghabiskan waktu dengan anak-anak, atas suruhan sang istri.


Jadi begitulah, setiap novel punya fokus utama yang berbeda, diselingi buanyak sekali sub-konflik ringan. Susunan alurnya pun acakadut, kadang malah tidak ada benang merah atau kesimpulan sama sekali. Mungkin itu kekurangan novel ini. Namun sekali lagi, konsep novel ini adalah diary seorang anak 12 tahun! Kalian mau lihat diary-ku zaman SMP? Boro-boro masuk akal, bisa dibaca saja sudah syukur.

Hal lain yang membuatku kurang sreg pada novel ini adalah minimnya perkembangan setiap tokoh. Misalnya di novel ke-9 yang berjudul The Long Haul. Ceritanya, Greg sekeluarga hendak pergi berlibur ke Disney World. Kalian tahu apa yang terjadi? Perjalanan mereka GAK ADA BAROKAHNYA dari awal sampai akhir! Dan semua musibah itu terjadi karena Greg sekeluarga menyepelekan banyak hal!

Sebelum perjalanan, tidak ada persiapan, walhasil rempong setengah modar. Di perjalanan mobil rusak, kagak langsung dibenerin, malah diakal-akalin doang, walhasil mobil mati total. Koper dan tas-tas tidak diperiksa ulang, main taro-taro aje, walhasil ketuker sama tas orang. Segala kunci ilang, baju terbang, babi lepas, Manny kabur.

SUMPEH! Kalau Greg dan sodara-sodaranya brekele aku masih maklum karena mereka anak-anak. Masa sampai ke emak-bapak juga brekele? Ini udah keterlaluan namanya!!!

Sudah ditentukan kalau The Long Haul menjadi novel paling brekele dari seluruh seri. Sebab segala musibah yang terjadi kayak terlalu dipaksakan. Para tokoh dibuat sebodoh dan sebrekele mungkin supaya musibah-musibah itu terjadi. Padaha seharusnya Ibu Greg (Susan) bisa mengantisipasi hal-hal tersebut sejak awal. Dia itu kan tipikal emacc-emacc terencana.

Nah, lain halnya dengan The Melt Down (novel ke-13) yang mungkin menjadi favoritku dari seluruh seri. Di sini Greg fokus menceritakan lingkungan rumah, berserta para tetangga. Komplek tempat tinggal Greg terbagi menjadi dua bagian yaitu, komplek di Puncak Bukit (Greg dan Rowley termasuk), dan komplek di Dasar Bukit. Untuk beberapa alasan, anak-anak di Puncak Bukit dan Dasar Bukit adalah MUSUH BEBUYUTAN.

Tidak boleh ada yang memasuki teritori dari komplek masing-masing, atau konsekuensinya serangan fisik. Anak-anak Dasar Bukit berjaya di musim panas, berkat tanah datar mereka bisa memainkan berbagai macam olah raga. Itu sebabnya, anak-anak Dasar Bukit lebih lincah dan kuat secara fisik.

Tapi eh tetapi, Anak-anak Dasar Bukit tidak berdaya di musim dingin, sebaliknya Anak-anak Puncak Bukit berjaya, karena mereka bisa bermain seluncuran dan ski. Sedangkan anak-anak Dasar Bukit cengok akibat tanah bersalju.

Suatu hari, cek-cok sederhana berubah menjadi panas, sampai berakhir perang. Benar-benar perang dahsyat antar kubu Anak-anak Dasar Bukit dan Puncak Bukit!

Ya ... memang cuma perang bola salju, tapi sumpah sepanjang adegan itu rasanya jauh lebih epik dari adegan perang di novel fantasi sungguhan! Banyak twist seru, pengkhianatan, manipulasi, dan strategi-strategi mutahkir dari kedua kubu. Ditambah gaya bercerita mengalir, serta Ilustrasi lucu.

Padahal, sebelumnya Greg bercerita kalau anak-anak Puncak Bukit pun tidak akur satu sama lain. Namun, saat musuh sesungguhnya datang dari jauh, mereka semua menyatukan kekuatan demi kemenangan. That was so great.

Apa lagi kedatangan Safety Patrol di puncak pertempuran yang membuat perang jadi kacau-balau. Tidak ketahuan lagi mana kawan, mana lawan, sebab Safety Patrol terdiri dari campuran anak-anak Dasar Bukit dan Puncak Bukit.

Belum selesai sampai di situ! Muncul lagi rombongan lain dari dalam hutan, bernama Mingo Kids dengan sangkakala perang mereka. Dan Mingo Kids adalah segerombol anak-anak berbadan bongsor yang memang ditakuti oleh SELURUH ANAK KOMPLEK.

Wah, wah, wah ... aku tidak pernah sesemangat ini membaca adegan perang dalam sebuah novel. Dan itu malah aku dapatkan dari NOVEL ANAK-ANAK!

Yah, sesi plot ini malah merembet ke mana-mana! Memang Diary of Wimpy Kid, bukan novel untuk dianggap serius. Tidak memiliki unsur intrinsik yang konkret, bahkan kadang acak-acakan. Namun, melihat target pembacanya yang memang bocah-bocah, novel ini jelas sudah mencapai tujuannya.

Novel ini seru, tokoh-tokoh di dalamnya asik, reletable. Pengalaman-pengalaman Greg pun sedikit-banyak relate ke anak-anak SMP. Bukan cuma di mamarika, tapi juga dalam negeri. Tentu saja aku merekomendasikan serial ini kepada kalian semua pembaca budiman!

C. Penokohan

Greg. Tokoh utama kesayangan kita. Anak 12 tahun yang cita-citanya menjadi kaya dan terkenal, tapi ogah berusaha. Sepanjang novel, kita diajak melihat segala hal lewat sudut pandang Greg sehingga selalu ada pembelaan untuk setiap tingkah buruknya.

Tidak peduli sebrekele apa pun hal tersebut, kalau Greg merasa tindakannya benar, ya dia akan menyalahkan orang lain atas konsekuensi akibat ulahnya. Itulah yang membuat banyak pembaca gedeg sama ini bocah. Aku pun kadang gedeg banget ama ni anak!

Greg juga tipikal anak Nolep yang hobi main game. Bagi Greg interaksi antar manusia itu sia-sia, karena toh di masa depan dunia akan didominasi oleh robot. Makanya dia sering bertingkah manis ke alat elektronik di rumahnya. Kalau suatu saat pasukan robot menyerang manusia, para elektronik itu akan balas budi dan melindunginya. Sumpah, ini anak jalan pikirnya absurd abis.

Kalian tahu ... sedikit banyak sifat Greg ini mirip sama adik laki-lakiku. Mungkin itu sebabnya aku seperti mengenal Greg di suatu tempat.

Rodrick. Kakak Greg yang usianya mungkin 15 atau 16 tahun. Tipikal abege pemberontak dan tukang cari masalah. Jahil ke saudara-saudaranya, paling parah sih Greg sebab Manny selalu dilindungin emak-bapak. Rodrick punya rock band bernama Loaded Diaper, yang dieja “Loded Diper” bukan biar keren, tapi karen Rodrick memang memble dalam mengeja sesuatu. Dia bahkan mengeja “Sweety” jadi “Sweaty”.

Satu hal yang aku suka dari Rodrick, tidak peduli sebandel dan se-edgy apa pun, dia tetap menuruti perkataan emak. Ikut ke mana pun keluarganya pergi, apa pun kegiatannya. Walaupun mukanya asem sepanjang perjalanan, tapi dia tidak benar-benar protes atau menolak. He's actually a good buoy!

Manny. My favourite Character so far. Karena apa? Manny usianya baru tiga tahun, dan si penulis bikin ilustrasi dia tuh kecil dan unyu banget! Like ridiculously smoll.

Kalau sifatnya sepanjang novel sih ngeselin parah. Greg berharap dengan punya adik, dia bisa melepas stress setelah dibully Rodrick dengan membully Manny. Alih-alih membully, malah Greg mulu yang kena Bully Manny. Karena Manny anak kesayangan, orang tuanya pasti membela Manny dalam situasi apa pun.

Tapi serius ... karena ilustrasinya yang begitu smoll and cute and tiny, aku jadi tidak tega sebel ke Manny. Untungnya kelakuan Manny tidak begitu ngeselin di novel The Meltdown, yang menjadi alasan lain kenapa novel itu jadi favoritku.

Bapak-Ibu Greg. Ibu Greg (Susan) adalah bu-ibu semi sosialita yang mementingkan kebersamaan keluarga dari segalanya. Dia juga tipe ibu yang selalu memanjakan anak, tidak peduli berapa usia mereka. Tujuan hidup Susan sebenarnya mudah saja. Dia ingin anak-anaknya akur, saling jaga, dan kompak. Namun, melihat sifat ketiganya yang aduhai, rasanya mustahil.

Di sisi lain bapak Greg (Frank) tipikal bapa-bapa kantoran yang canggung. Jadi, Susan juga tidak bisa meminta bantuan suaminya untuk mewujudkan keharmonisan anak-anak. Padahal Frank pun ingin anak-anaknya akur, setidaknya melakukan kegiatan fisik bersama. Itu sebabnya Frank sering judes pada anak-anaknya dan membanding-bandingkan mereka dengan anak tetangga yang lebih hijau.

Rowley. Meski berstatus sebagai sahabat, Rowley lebih sering jadi kacung Greg. Rowley ini tipikal anak telat dewasa, alias sifatnya masih manja, masih cengeng. Orang tuanya pun kelewatan memanjakan Rowley, sebab dia memang anak tunggal. Namun, Rowley ini tipikal anak yang sifatnya effortlesly Funny. Tingkahnya lucu tanpa harus ngeucu, dan dia jadi populer di sekolah. Tentu saja fakta itu membuat Greg iri setengah mati.

Tokoh-tokoh lain termasuk keluarga besar Greg dan teman-teman satu sekolah yang tidak mungkinlah kusebut satu-satu!

D. Dialog.

Tahoo-kah kalian ... NOVEL INI TIDAK MEMILIKI DIALOG!

Ya sebenarnya masuk akal juga, siapa yang mau menulis suatu kejadian ke dalam diary terlampau detail sampai ke diaog-dialognya?

Mungkin beberapa orang, dan mungkin kalau percakapan saat itu bermakna banget sampai harus ikut ditulis. Dialog di novel ini cuma muncul dalam bentuk komik, dalam artian menggunakan gelembung dialog. Bahkan kadang tidak ada sama sekali.

Tapi toh, posisi dialog sudah digantikan dengan komik-komik seru. Makanya, aku tidak akan membuat ini sebagai kekurangan, meskipun sebenarnya dalam lubuk hati terdalam juga mengharapkan dialog yang haqiqi.

E. Gaya Bahasa

Rasanya Diary of a Wimpy Kid tidak pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Namun, susunan kalimat yang digunakan penulis sangat simple seperti basic english, hampir-hampir kayak buku cerita anak-anak (emang buku cerita anak-anak, et dah!). Jadi untuk kalian yang ingin mulai membaca novel berbahasa inggris, aku sarankan mulai dari novel ini.

Selain gaya bahasa yang terlampau mudah, font yang digunakan juga non-formal, ukurannya juga besar-besar sehingga tidak membebani mata. Seolah kita tengah melihat tulisan tangan Greg sendiri. Ditambah lagi selipan kartun-kartun lucu yang bikin minat baca semakin besar.

F. Penilaian

Cover : 4

Plot : 3,5 (rata-rata)

Penokohan : 3

Dialog : 3

Gaya Bahasa : 3,5

Total : 3,5 Bintang

G. Penutup

Aku membaca serial Diary of a Wimpy Kid dalam kondisi yang saat itu tengah stress berat. Terutama masalah pekerjaan yang toxic. Tanpa disangka dan diduga, novel ini memberiku ketenangan sekaligus membuatku terhindar dari reading slump.

Dengan membaca novel ini, aku tidak perlu memikirkan apa pun selain kisah dalam novel itu sendiri. Tidak memikirkan unsur-unsur yang seharusnya aku perhatiakan setiap kali ingin mereview novel. Sebaliknya malah ikut menertawakan tingkah konyol tokoh-tokoh yang aduhai, juga dihibur komik-komik yang style-nya lucu.

Kalau menuruti kata hati, aku ingin memberikan novel ini bintang lima lantaran sudah menemaniku di saat-saat paling sulit. Tapi eh tetapi, kita harus adil duooong!!! Lagi pula aku sudah lebih baik sekarang, Thanks to this book. Dan aku siap membaca dan menjulid ... maksudku mereview novel-novel yang lebih barokah.

Yaps segitu dulu untuk hari ini.

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Kompilasi Manny Being Smoll and Cute




Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman