Mirror, Mirror on the Wall...


Judul : Mirror, Mirror on the Wall...

Penulis : Poppy D. Chusfani

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9789792240122

Tebal : 176 Halaman

Blurb :

Karin merasa dirinya biasa-biasa saja. Bahkan terlalu biasa, apalagi jika dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan pandai. Cita-citanya untuk menjadi penyanyi soprano dan mimpinya untuk menarik perhatian Andre, cowok paling keren di sekolahnya, tampaknya takkan tercapai, karena ia terlalu malu untuk melakukan apa pun. Sampai suatu ketika datang bala bantuan yang sama sekali tak diduganya, bagaikan anugerah yang diturunkan nenek moyangnya.

Karin dihadapkan pada dua pilihan: mendengarkan nasihat orang-orang yang memang mencintainya tapi tidak bisa membantunya, atau membiarkan dirinya dibimbing menuju kesuksesan dan puncak dunia oleh kekuatan yang sama sekali tak bisa dikendalikannya. Kekuatan yang seharusnya tetap menjadi rahasia gelap keluarga Kesultanan sejak ratusan tahun lalu.
MENGANDUNG SPOILER!!!

A. Novel Favorit Era Golden Decade

Hellow ... hellow ... Pembaca Review Impy di seluruh dunia ^o^/ (Ngimpi nih yee!)

Kalian pasti pernah mempunyai novel favorit dari masa lalu yang saat dibaca ulang di usia sekarang efeknya berbeda. Bisa jadi karena usia yang masih unyu sehingga mudah terhibur dengan hal-hal sepele, atau mungkin minimnya referensi bacaan. Namun, bisa juga novel favorit dari masa lalu, ternyata benar-benar layak dijadikan favorit bahkan sampai detik ini.

Itulah poin yang ingin aku buktikan pada novel Mirror, Mirror on the Wall...

Aku pertama kali membaca novel ini di perpustakaan SMP, dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana tidak, novel ini bergenre Teenlit, tapi bukan Teenlit biasa, melainkan berbumbu Fantasi! Menemukan genre fantasi di pernovelan Indonesia tergolong sulit, bahkan di era Golden Decade!

Memang, memang ... saat itu ada Vandaria Saga, yang menjadi pelopor fantasi epik Indonesia. Namun, Vandaria Saga bergaya RPG. Kalian tahu Impy dan RPG tidak pernah akur, kecuali di Harvestmoon Back To Nature!

Begitulah ... aku membanggakan novel ini ke mana-mana, merekomendasikan pada teman-teman, bahkan mengambil beberapa referensi untuk ditulis ke novelku sendiri. Ekhem ... novel yang sangat cringe kalau boleh kutambahkan! Aku juga memakai novel ini untuk tugas resensi. Bahkan penjaga perpus sampai heran kenapa aku meminjam buku yang sama sepuluh kali.

Bertahun-tahun kemudian, ratusan buku sudah dilahap, banyak novel baru menduduki kursi favorit. Aku pun mulai berpikir, apakah novel ini memang sebagus itu, atau karena aku belum ketemu novel semacam SGE? Dengan alasan tersebut, sekaligus nostalgia, aku memutuskan untuk membaca ulang Mirror, Mirror on the Wall... yang kebetulan ada di Gramedia Digital.

Dari segi sampul, klasik sampul era Golden Decade. Ilustrasi tokoh utama, serta adegan penting yang merangkum seluruh novel. Dahulu, sampul seperti ini membuatku sangat tertarik. Ya ... sebenarnya sampe sekarang sih, h3h3. Namun, harus aku akui perkembangan sampul novel era kini semakin oke dan artistik.

Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita jalan-jalan di novel era Golden Decade.

B. Plot

Awal kisah, kita diperkenalkan dengan seorang cewek cupu, canggung, dan insecure parah bernama Karin. Benar-benar cupu, loh! Bukan kayak novel sebelah yang mengaku cupu padahal punya TUJUH BEST FRIEND yang selalu suportif! Anyways ... rasanya aku harus bikin peringatan, bahwa akan banyak sekali perbandingan antar novel ini dengan novel zama now, terutama lulusanWatpat.

Sebab novel ini dieksekusi dengan sangat baik walaupun mengangkat tema mainstream. Setiap keputusan yang diambil Karin juga pasti berpengaruh pada kehidupannya, alias tidak ada yang namanya info dump. Biar kujelaskan lebih lanjoet!

Sebenarnya Karin punya satu sahabat sejak kecil bernama Shawn. Seorang cowok belasteran Belanda, ramah, dan mudah bergaul. Namun, mereka tidak satu sekolah di SMA, padahal Karin memang mendapatkan teman berkat ada Shawn di sampingnya. Tanpa Shawn, tentu saja Karin tidak bisa mencari teman sendiri, tidak tahu cara memulai percakapan dengan orang lain.

Lebih parah lagi, Karin tinggal bersama kakaknya yang perfeksionis, dan jauh lebih berprestasi. Dari situlah datangnya sifat insecure Karin. Belum lagi di sekolah Karin mendapat perundungan dari Lisa dan kroco-kroconya. Kenapa? Tentu saja karena Lisa sebenarnya iri pada Karin.

You see ... sejatinya Karin itu lumayan cantik, punya kelebihan suara bak malaikat, tapi dia tidak mau menunjukkan. Dari sifat malu-malu kocheng itu pun Andre (orang yang ditaksir Karin dan Lisa) mulai perhatian sama Karin, berusaha membuatnya percaya diri. Tentu saja Lisa jadi panas-dingin, berujung pembullyan pada yang lebih lemah.

Suatu hari saat membersihkan gudang, Karin menemukan cermin seukuran badan peninggalan nenek moyangnya. Nah, dari sinilah sub-genre fantasi/horor muncul, karena cermin itu berisi JIN!!!

Bukan Jin Ifrit apalagi Jin Tomang, tapi jin pelindung. Konon katanya Karin sekeluarga itu keturunan bangsawan Kesultanan Banten. Bukan cuma Jin di dalam cermin, tapi Karin sekeluarga juga punya macan ghaib sebagai pelindung dari hal-hal supernatural yang jahat. Termasuk juga Lis dan ayahnya. Dua macan untuk perempuan, satu macan untuk laki-laki.

Latar belakang simpel, tapi efektif kalau menurutku. Latar belakang seperti ini juga aman digunakan dalam novel yang fantasinya tidak begitu menonjol sehingga tidak perlu ada World Building atau sejarah muluk-muluk. Jin penunggu itu sudah ada sejak zaman dahulu, dan memang turun-temurun. Udeh, gak usah nanya macem-macem lagi!

Jin di dalam cermin pun menawarkan bantuan kepada Karin supaya hidupnya bisa lebih mudah tanpa harus bersusah payah. Bantuan seperti apa? Benar sekali ... Pertukaran tubuh, jiwa, dan raga. Kalau anak zaman now mungkin menyebutnya Transmigrasi, Imigrasi, Kultivasi, Migrasi, Irigasi, atau Reboisasi. Salah satu dari itulah, aku juga udah lupak! (digampar).

BUT! Setiap bantuan pasti ada bayarannya. Ternyata Nyi Rajadharma (Jin yang tukeran dunia sama Karin) menginginkan nyawa untuk kelangsungan hidup para jin dalam cermin. Yah, bahasa singkatnya sih tumbal.

Terdengar klise dan pasaran? Probably ....

But get this! Novel ini memiliki cerita yang lebih masuk akal daripada novel-novel remaja masa kini yang bahkan tidak memiliki sub-genre fantasi. Masuk akal dalam artian menerapkan rumus sebab-akibat, yang memang menjadi kunci kelogisan cerita.

Misalnya begini ... sifat dan dialog Karin benar-benar menunjukkan pribadi canggung, kecuali pada Shawn yang sejatinya sahabat sejak kecil. Itu saja sudah poin plus. Penerapan Show don’t Tell dengan baik pada penokohan. Karin baru benar-benar punya teman saat bertukar tubuh dengan Nyi Rajadharma, alias Nyi Rajadharma-lah yang sebenarnya disenangi banyak orang.

Perbedaan sifat keduanya pun tergambarkan dengan baik. Karin asli, tidak tahu cara bergaul. Jadi meskipun banyak teman, dia tetap canggung dan bicara seperlunya. Berbeda ketika Nyi Rajadharma sedang menjadi Karin, dialognya lebih banyak dan kharismatik.

Ketika Karin memiliki banyak teman, dia mulai sering main, banyak memikirkan cowok, lebih mementingkan ekskul paduan suara daripada belajar. Walhasil, apa yang dia dapatkan akibat perilaku buruk tersebut sepanjang cerita? Apakah dia menjadi SISWA TERBAIK SATU SEKOLAH, seperti Novel Brekele ini?

O-ho-ho tentunya tidak. Nilai Karin justru jeblok sampai dapat angka tiga! Dia terancam tidak naik kelas. Cangra dan Wulung (macan penjaga Karin) memberi omelan berisi nasehat yang malah dianggap Karin sebagai hal negatif. Ayah dan kakaknya kecewa. Sahabat baiknya merasa dikhianati. Intinya, Karin menghadapi konsekuensi akibat tingkah buruknya.

Kelogisan sederhana seperti itu yang sudah hilang dari novel-novel remaja zaman sekarang! Ada sebab, pasti ada akibat! Ada tindakan pasti ada konsekuensi!

Tidak perlu memikirkan konflik muter-muter ala detektif, mafia, psikologi gono-gini supaya cerita kelihatan cerdas. Tidak perlu pakai kalimat mendayu-dayu ala pujangga mabok diksi supaya cerita kelihatan mengena di hati. Cukup ambil hal sederhana, tapi dikembangkan dengan baik gitu, loh!

Seperti kata pepatah. Kisah yang baik ibarat sebuah danau, yang dilihat bukan seberapa luas, melainkan seberapa dalam danau tersebut. Percuma cerita melebar ke mana-mana, tapi berujung dangkal. Di sisi lain, konflik paling sederhana, kalau diperdalam bisa menjadi masterpiece. Contohnya novel ini.

Ya, temanya klise. Ya, boleh jadi pasaran. Boleh jadi ada ribuan kisah semodel ini di luar sana. Tapi eksekusi yang baik, serta konflik yang tersampaikan secara mendalam membuat Novel ini punya ciri khas sendiri, satu hal kecil yang membuatnya unggul dari novel-novel lain sejenisnya.

Novel ini tidak sampai 200 halaman, tapi lebih masuk akal, lebih menghibur, lebih to the point daripada I ... Ah, kenapa malah dibandingkan dengan novel itu! Konflik menjelang akhir memang terasa diburu-buru, tapi semuanya sudah mendapat porsi yang pas sehingga pembaca tidak dibuat bertanya-tanya.

Oh, di sini juga ada adegan Lis (kakak Karin) meminta izin untuk menikah kepada ayahnya. Saat itu juga aku mikir. NAH, BEGINILAH CARA ORANG DEWASA MEMBICARAKAN PERNIKAHAN! Serius dan khidmat, karena pernikahan bukan sesuatu yang boleh dipermainkan! Ini menyangkut komitmen dan kemanusiaan seseorang secara keseluruhan! Kagak kayak novel itu tuh!!!

Kalian yang setia membaca review-ku pasti tahu aku membicarakan novel apa. Novel Brekele yang membicarakan pernikahan, layaknya membicarakan baju obralan di pasar kaget. Haha-hehe kayak orang tablo, padahal ngakunya pinter, dan kalangan orang kaya terpelajar. CUIH! (Wadoh, jadi emosi gini sih, h3h3).

Dari situ aku mikir. Novel fiksi remaja di era Golden Decade MEMANG JAUH LEBIH BAIK kalau dibandingkan novel-novel era Watpat. Memang novel era Watpat mengusung tema yang lebih rumit dan variatif. Segala mafia, segala psikopat, penyamaran, perjodohan dini, kultivasi, reboisasi, dan kawan-kawannya.

Namun, semua kembali lagi pada eksekusi. Sebagus dan serumit apa pun tema yang diangkat, tidak akan jadi apa-apa kalau eksekusinya dangkal. Sebaliknya, tema paling sederhana kalau dieksekusi secara mendalam tentunya bisa jadi sebuah karya yang decent.

Kesimpulan dari segmen Plot ini adalah ... BRING BACK THE GOLDEN DECADE!

C. Penokohan

Karin. Tipikal remaja cupu yang insecure padahal punya potensi besar. Ya, penokohan Karin mungkin menyebalkan, terutama sifat insecure dan pemalasnya sepanjang novel. Karin selalu ingin sesuatu secara instan, tidak mau mendengarkan nasehat orang-orang yang peduli padanya. Mudah dirayu oleh sesuatu yang jelas mencurigakan.

But in her defense ... bayangkan kalian menjadi anak SMA yang tidak punya teman, cupu, insecure, dan canggung. Tiba-tiba seseorang (atau sesuatu) mengatakan bahwa mereka bisa mengubah itu semua 180 derajat. Membuat kita banyak teman, pintar, populer, dengan sekali jentikan jari. Jujur saja, kalau aku jadi Karin, aku pun akan termakan rayuan tersebut. It's introverts dream come true, c'mon!

Shawn. Comical Relief yang harus ada di genre fiksi remaja. Penulis berhasil membuatnya lucu, tapi tidak kelihatan bodoh. Sebab Shawn memang pintar, dia bahkan masuk International School berkat kepintarannya. Dia juga perhatian sama Karin, menghargai hubungan mereka yang sebatas sahabat.

Beberapa kali mungkin ada sindikasi kalau mereka berdua saling suka. Tapi tidak pernah diperdalam lagi, dan aku senang dengan keputusan itu. Lebih terasa reletable untuk teman sejak kecil. Maksudku, mereka sudah seperti saudara kandung. Pasti ada perasaan aneh kalau menyukai saudara sendiri.

Cangra & Wulung. Dua macan penjaga Karin. Mereka mengingatkanku pada Pollux dan Castor. Satu bijak, satu konyol. Aku berharap vibe mereka lebih kuno mengingat mereka berasal dari zaman keraton. Namun, sifat mereka yang kocak dan gaul ternyata tidak terlalu mengganggu. Apa lagi si Wulung yang memperkenalkan diri sebagai "Blackie" di awal, Xixixi ... kocag banget, Boend!

Lis. Kakak Karin yang judes. Karin membuat daftar kelakuan ektrim Lis yang menyuruh penghuni rumah cuci tangan 25 kali sehari, punya satu sendal untuk setiap ruangan, serta harus meletakkan benda sesuai tempatnya bahkan sampai ke sudut dan derajat. Apakah Lis seorang OCD? Kalau melihat daftar panjang itu sih kelihatannya demikian.

Sayangnya, pengetahuan kita tentang Lis itu tidak berpengaruh signifikan pada apa pun. Toh, sepanjang cerita tingkah Lis normal saja, tipikal kakak sulung pengganti sosok ibu yang meninggal. Tidak ada adegan spesifik di mana dia jadi ekstrim selain dari penjabaran Karin.

Lisa dan Kroco. Setiap novel fiksi remaja harus memiliki trope mean gorl, dan itulah peran Lisa. Yang aku suka dari hubungan Lisa dan Karin adalah, sampai akhir novel pun mereka tetap jadi musuh, sebab memang tidak ada alasan bagi keduanya untuk berteman.

Tiga Jin. Meski ketahuan kalau mereka hanyalah Jin masa lalu yang menginginkan tumbal demi bisa hidup, Aku berharap akan ada cerita lain tentang latar belakang mereka. Siapakah mereka di masa lalu, dan bagaimana sifat mereka masing-masing. Kalau dari sini sih jelas Nyi Rajadharma adalah pemimpin, Rajasita itu kaki tangan, dan Rajasurti adalah "si baik".

Ada lagi tokoh Ridha dan Andre sebagai pemanis yang UwU. Juga tokoh favoritku dari seluruh buku meskipun adegannya cuma beberapa halaman saja, yaitu Ki Belang. He is so chill and funny. I love him!

D. Dialog.

Dialog-dialog di novel era Golden Decade selalu menjadi kelebihan utama dari novel itu sendiri. Termasuk juga novel ini. Vibe yang dipakai jelas baku, tapi relate. Maksudku, susunan kata yang dipakai khas kehidupan sehari-hari, tapi tidak melenceng dari kaidah-kaidah dalam KBBI.

Dialog antar Karin dan Shawn sangat UwU, menandakan jelas kalau mereka bersahabat, juga sudah nyaman dengan diri masing-masing. Beberapa kali Shawn memakai bahasa belanda sebagai detail kecil penokohan. Sayangnya, tidak dicantumkan terjemahan. Untungnya, bahasa Belanda yang digunakan tergolong sapaan sehari-hari sehingga pembaca masih bisa ngeraba-raba.

Belum lagi adegan para macan pelindung melakukan meeting yang diketuai Ki Belang. Ya ampuuun! Di seluruh adegan itu dialog seriusnya ada, lucunya ada, tegangnya ada, dan manfaat untuk kelangsungan konflik pun ada. Heran, padahal cuma beberapa halaman, tapi bisa se-memorable ini!

Dialog kesukaanku di sini mungkin saat Kak Lis yang tengah memearahi Karin. Tegas, tapi tidak membuatnya jahat. Kata-katanya nusuk abis ke ulu hati, seolah aku sendiri ada di posisi Karin. Jawaban Karin sebagai pembelaan pun tidak lebay, melawan, tapi tidak juga kurang ajar. PERFECT!

E. Gaya Bahasa

Novel era Golden Decade punya satu kesamaan dalam gaya bahasa, yaitu mengalir, gaul, dan seolah membawa pembaca ikut mengalami adegan pada saat itu. Meskipun, novel ini beberapa kali mencampur antara gaya bahasa Golden Decade dan Terjemahan. Itu bukan berarti kekurangan yang fatal, cuma memang agak mengganggu untuk latar suasanan.

Selain itu tidak ada lagi yang aku komplain untuk novel ini, toh aku bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja. Tanpa keluhan, tanpa frustasi, dan catatatn review yang tidak sampai sepuluh baris. Bandingkan dengan terbitan watpat yang bisa sampai 100 catatan review. WOW!!!

F. Penilaian

Cover : 3,5

Plot : 4

Penokohan : 3

Dialog : 4

Gaya Bahasa : 3,5

Total :  3,8 Bintang

G. Penutup

Kalau ditanya, “Kapan novel-novel karangan penulis Indonesia mencapai puncak kejayaan?”

Rasanya setiap orang punya jawaban sendiri tergantung selera masing-masing. Namun, aku rasa kita semua setuju kalau puncak kejayaan novel Indonesia (terutama novel remaja) ada di tahun 2000-2010 yang juga kusebut Golden Decade. Novel remaja di Golden Decade benar-benar ditujukan untuk remaja. Kisah cinta wajar dan UwU, PDKT cringe ala abege, persahabatan, persaingan, dan hal-hal lain yang membuat pembaca remaja relate, sekaligus membuat pembaca dewasa nostalgia.

Coba bandingkan dengan novel sekarang yang belum UwU kalau belum ada romantisasi tindak kriminal. Belum keren kalau tokohnya bukan ketua genk mafia. Belum edgy kalau tidak ada adegan bobo bareng. Belakangan ini malah mewabah novel remaja yang meromantisasi pernikahan di bawah umur. Salah satu novel dengan konsep jahanam itu bahkan dijadikan film dengan rating penonton 13+

Um ... what happen to us?

Maksudku ... bukannya kemajuan zaman, berarti kemajuan peradaban, serta semakin meningkatnya kecerdasan umat manusia? Lantas kenapa kita malah semakin mundur?

Ah, sudahlah! Sudah dipastikan kalau Mirror, Mirror on the Wall ... karya Poppy D Chusfani memanglah novel teenlit semi fantasi yang tetap bagus dari waktu ke waktu. Atau bahasa kerennya Age like wine! Dan aku jadi tidak sabar membaca karya Buk Poppy yang lain berjudul Bookaholic!

Sudah ku-download juga di Gramedia Digital, xixixi ....

Sampai jumpa di review selanjutnya ^o^/

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ily

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Peter Pan

Laut Bercerita

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)