Jurnal Mimpi dan Manfaatnya untuk Penulis


Jural Mimpi teh Naon?

Singkatnya Jurnal Mimpi sama dengan Jurnal Harian (Diary). Hanya saja segala hal yang kita tulis dalam jurnal itu adalah mimpi alias bunga tidur. Baik itu mimpi indah maupun mimpi buruk, bahkan mimpi absurd. Semua mempunyai keunikan serta pengaruh masing-masing.

Sering kali kita sebagai penulis merasa tidak kreatif, Writers Block, otak buntu, tidak ada inspirasi, brekele, dan sebagainya. Bagaimana kalau ternyata semua itu keliru? Mungkin kita memang kreatif, punya banyak inspirasi, dan tidak terjangkit writers block apa lagi brekele.

Mungkin otak kita hanya terlalu sibuk memikirkan hal lain, masalah-masalah dunia nyata yang membosankan. Sekolah, pekerjaan, keluarga, teman, pasangan, dan lain-lain sehingga tidak ada waktu untuk menggali sisi kreatifitas selain saat otak kita sedang beristirahat. Alias tidur.

Saat tubuh beristirahat sejenak dari kegiatan non-stop, otak pun bisa bekerja lebih santai. Maka dia mulai mengeluarkan pemikiran-pemikiran bawah sadar lewat mimpi. Mimpi-mimpi tersebut menjadi wadah kreatifitas, inspirasi, khayalan, dan harapan yang tidak sempat dipikirkan otak saat tubuh kita beraktifitas.

Sebagai penulis, tidak seharusnya kita menyia-nyiakan mimpi berharga itu. Maka hadirlah Jurnal Mimpi.

Manfaat Jurnal Mimpi untuk Penulis

Gudang Ide dan Inspirasi. Mimpi bisa jadi sangat indah, sebab mimpi indah terbuat dari khayalan, harapan, dan memori menyenangkan. Namun, mimpi juga bisa jadi sangat buruk, sebab mimpi buruk terbuat dari ketakutan terdalam, kegagalan, dan memori menyedihkan. Meski begitu, keduanya punya satu kesamaan ....

BISA JADI IDE CERITA!!!

Kalian juga pasti pernah bangun tidur sambil mengernyit dan berpikir, "Huanjay, mimpi barusan absurd banget!"

Percayalah, Antonio kalian baru saja diberi anugerah inspirasi oleh otak barokah kalian. Kalian seharusnya berterima kasih. Semakin absurd mimpi tersebut, semakin unik dan anti-mainstream cerita yang bisa kalian ciptakan.

Melatih Konsisten. Bagiku Jurnal Mimpi lebih ampuh melatih konsisten menulis daripada Jurnal Harian biasa (Diary). Entahlah, terkadang aku bingung apa yang harus kutulis dalam Diary. Lebih parah lagi kegiatan hari-hariku sangat monoton. Mungkin Diary cocok untuk Traveler atau Musafir. Jelas bukan untuk budak (ekhem ...) pekerja eight to five.

Di sisi lain Jurnal Mimpi bisa aku isi setiap bangun tidur tanpa harus ke mana-mana. Biarkan alam bawah sadarku berkeluyuran ke mana pun, dan aku tinggal menulis kesimpulan perjalanan itu saat dia pulang. Sangat efisien dan barokah.

Melatih Lucid Dream. Eh ... ini sebenarnya bukan manfaat, tapi lebih ke Tujuan Jurnal Mimpi. Menurutku cuma orang-orang bernyali besar yang menulis Jurnal Mimpi untuk tujuan Lucid Dream, sebab Jurnal Mimpi adalah tahap PALING DASAR dalam Lucid Dream.

Tahap selanjutnya adalah mengatur jam tidur teratur, lalu tahap lebih tinggi, yang juga membuatku memutuskan untuk berhenti mencoba Lucid Dream adalah Ereup-ereup, alias ketindihan, alias Sleep Paralysis. Aku takut gak bisa bangun lagi selama-lamanya!!!

Tips Menulis Jurnal Mimpi

Lakukan Persis Setelah Bangun Tidur. Secara harfiah begitu mata kalian melek, segera ambil ponsel, atau catatan, atau buka lektop dan tulis mimpi kalian sedetail mungkin.

"Bagaimana kalau tidak mimpi sama sekali?"

Bukan masalah besar, kalian bisa tulis "Semalam tidak mimpi apa-apa." atau "Boro-boro mimpi, baru merem langsung melek lagi."

Pokoknya tulis kesan pertama kalian saat bangun tidur, atau pendapat kalian tentang tidur malam itu. Apakah nyenyak, atau banyak nyamuk, atau malah tidak tidur sama sekali.

Usahakan Detail, bukan Rangkuman. Ini mungkin bagian paling sulit, karena terkadang kita bermimpi tanpa mampu mengingatnya sama sekali. Intinya cobalah sebisa mungkin, meskipun mimpi itu cuma kilasan acak yang tidak berhubungan sama sekali. Yang penting terperinci dan sertakan emosi kalian saat kilasan itu muncul. Misalnya begini ....

Semalam aku bermimpi masuk ke rumah hantu, aku berdebar tapi bukan takut. Tiba-tiba ada Gajah, dan aku naik gajah ke sirkus, seru dan menyenangkan. Tiba-tiba Squidward datang kasih liat lukisan Tampan dan Berani. Aku bilang lukisannya bagus. Tiba-tiba kepalaku ada dua, absurd abizzz.

Kalian paham maksudku? Tidak perlu formal, tidak perlu terstruktur apa lagi kalau mimpinya memang absurd. Namun, cobalah untuk menulisnya sesuai urutan.

PUEBI ke Laut aja Dolo. Untuk kali ini saja, kalian tidak perlu memikirkan PUEBI, susunan kalimat, tanda baca, pengulangan kata, serta hal gono-gini lainnya. Bahkan kalian tidak perlu merevisinya di kemudian hari. Kuncinya adalah tumpahkan dulu, dan tinggalkan untuk besok-besok.

Penutup

Setiap orang pasti punya cara untuk melatih hobi menulisnya, dan Jurnal Mimpi merupakan salah satu pilihan yang mungkin cocok bagi kalian. Aku pribadi menulis Jurnal Mimpi sejak 2017 dan jujur saja tidak terlalu konsisten, terutama kalau tidak dapat mimpi sama sekali saat tidur. Atau saat malas, h3h3 ....

Beberapa orang bahkan punya cara tersendiri agar bisa mendapatkan mimpi setiap tidur, lewat jam tidur teratur atau mengatur pernapasan sebelum tidur. Biasanya hal-hal tersebut dilakukan orang-orang yang ingin bisa melakukan Lucid Dream. Kita sebagai penulis brekele sebaiknya tidak perlu seperti itu, yekan? (Kecuali kalau kalian mau)

Cukup siapkan jurnal dan tunggu alam bawah sadar memberi inspirasi dan kreatifitas terpendam yang bisa kita tuang di dalamnya. Mungkin suatu saat salah satu dari mimpi itu bisa menjadi nyata. Secara harfiah menjadi nyata, karena kita jadikan ide cerita.

Sekian dulu pembahasan kali ini. Kita bertemu lagi di hari lain ^o^/

Seonggok Konten dari Jurnal Mimpi Pribadiku

09 Januari 2017

Malam ini aku kembali bermimpi, mimpi yang lumayan seram. Latar tempat di rumah ku di jakarta rumah yang sempit seperti rumah kontrakan hanya saja itu rumahku pribadi. Tidak banyak yang ku ingat, yang paling berkesan hanyalah, saat adikku menjadi hantu. Entah kenapa pada waktu tertentu adikku akan mendatangkan hantu-hantu seram ke rumah, yang bisa di gagalkan dengan 4 cara.

Cara pertama aku harus memancingnya ke kamar dan kemudian mencekiknya, kedua aku mengendap-endap kemudian memukulnya dengan palu, ketiga sepertinya kembali berurusan dengan palu, sampai tahap ke empat yang paling seram.

Di tahap keempat, akan ada sebuah kotak yang berisikan hantu wanita yang sangat menyeramkan, kotak itu harus dibuka, lalu segera ditutup karena saat kotak itu kembali dibuka hantu itu akan muncul dengan wujud yang sangat menyeramkan. setiap hari aku menjalani tahapan itu dengan lancar, karena setiap hari adikku berubah seperti itu.

Sampai suatu hari beberapa orang mendatangiku dan membuat ritualku itu kacau, mereka mengacaukan setiap tahap yang seharuskan ku jalani dan semuanya berhasil meskipun penuh kesulitan, tapi sayangnya tahap keempat gagal sehingga aku harus terus memukuli kepala adikku dengan palu.

aku merasa sedih tapi juga takut, hantu terakhir masih ada di dalam dirinya tapi kepala adikku sudah memar di beberapa bagian. Aku ingin menangis rasanya tapi di sisi lain aku juga harus menyelamatkan adikku dari serangan hantu. Akhirnya aku tidak pernah tahu apakah hantu itu berhasil ku keluarkan atau aku terus memukul kepala adikku sendiri.

(Seseorang tolong buat ini jadi cerita terpadu, karena ini terdengar sangat menakutkan dan seru, Cin!)

Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Matahari Minor

Naga Hijau (Legenda Ksatria Cahaya #4)

Nasehat Keliru yang Sering Diterima Penulis

Pembukaan Novel yang Harus Dihindari

My Perfect World

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu

Ranking Novel-novel Fredrik Backman